
Tidak ada lagi waktu luang. Begitulah hari-hari yang dijalani Kasih belakangan ini. Setumpuk kerjanya menanti setiap hari, karena kebijakan baru yang dia buat. Beberapa karyawan juga sampai lembur dan tak sedikit yang mengeluh. Namun, hasilnya memang sesuai dengan apa yang direncanakan oleh Kasih untuk perusahaan itu.
"Masuk."
Fitrisia muncul dari balik pintu, lalu memberikan sepucuk undangan pada Kasih.
"Lah hari gini masih bikin undangan yang tidak paperless? tanya Kasih keheranan. Tetapi tetap membuka dan membaca isinya
"Saya juga tidak paham Bu, mungkin mereka takut kalau kita tidak memeriksa kotak masuk email." jawab Fitrisia.
Nonsense. Aneh banget!
"Ibu bakalan datang kan, soalnya pimpinan sebelumnya selalu datang ke acara itu setiap tahun."
"Biasanya ada banyak perusahaan yang diundang, tidak?
"Banyak Bu, hampir rata perusahaan yang bergerak di bidang marketing promosi, copywriting, dan lain-lain."
Kasih tampak berpikir. Sejujur males sekali menghadiri acara-acara seperti itu. Pasti nanti dipenuhi oleh orang-orang yang suka memamerkan kelebihan perusahaan masing-masing. Dia sangat tidak tertarik mendengarnya.
"Oh ya Bu, daftar perusahaan yang diundang bisa dilihat di websitenya. Siapa tahu ibu tertarik." fitricia memberitahu.
Kasih pun mengecek komputer dan berselancar ke website milik penyelenggara acara. Ternyata memang banyak sekali yang diundang. Dia membaca dengan teliti dan menemukan nama perusahaan ALC di sana.
"ALC." gumamnya
Kasih membuka tab baru dan mengetik ALC. di kolam mesin pencarian ternyata benar itu adalah perusahaan milik Gavin.
"Okey, saya bakalan datang." ucap Kasih bersemangat.
"Baik Bu, Fitrisia mencatat jadwal pimpinannya itu ke iPad
Kasih memang tidak yakin kalau gavin akan menghadiri acara itu. Namun, tidak ada salahnya untuk datang. Kalau Gavin memang datang, dia bisa melihat putranya itu dari kejauhan.
Saat hari pertama acara tiba Gavin sedang bersiap-siap untuk pergi ke sana.
Rapiin dulu dasi kuya dong ,Sayang." minta Gavin
"kok hari ini agak beda setelannya Kuya?" tanya Mischa.
"Iya Kuya mau hadirin event tahunan. Nanti ada banyak pimpinan perusahaan yang hadir. kuya harus pakai setelan terbaik." jawab Gavin.
"Oh gitu, nah udah selesai."
"Makasih ya sayang." ucap Gavin seraya mengecup kening istrinya.
__ADS_1
"Oh ya, Bima digital marketing juga diundang, kemungkinan CEO baru bakalan hadir.'
"Oh ya, Kuya harus ketemu sama dia Mischa bersemangat.
Gavin tertawa. Sebenarnya dia tidak akan penasaran jika istrinya tidak bercerita banyak. Itu sebabnya saat tiba di tempat acara, papan nama Bima digital marketing adalah yang paling pertama Gavin cari. Dia bahkan tidak mengunjungi stand ALC terlebih dahulu.
Seorang wanita berdiri membelakangi Gavin. dilihat dari pakaiannya Sepertinya dia adalah ceo-nya.
"Bu Kasih." sapa Gavin
Kasih mendengar seseorang memanggil di tengah riuhnya acara. Dia pun berbalik
jantungnya berdegup tak karuan. Saat melihat wajah Gavin sedang tersenyum padanya.
Senyuman Gavin memudar. Dia pernah melihat wanita ini sebelumnya. Kalau tidak salah, saat resepsi pernikahannya wanita yang pergi terburu-buru setelah menggumamkan sesuatu.
Kasih melongok. Bagaimana bisa Gavin menyapanya dari sekian banyak orang di tempat ini? Apalagi jarak mereka cukup dekat nafasnya sampai terasa sesak, karena debaran jantungnya begitu kuat.
"Ibu, Kalau tidak salah yang datang ke resepsi saya, bukan? tanya Gavin mencoba meyakinkan kedua wanita itu orang yang sama atau bukan.
"Oh itu, saya kebetulan menginap di hotel tempat resepsi diadakan. Jadi saya penasaran, terus mampir. Maaf ya saya masuk tidak diundang." jawab Kasih.
Gavin tersenyum. Ternyata dia memang tidak salah orang. "Iya tidak apa-apa Bu, resepsinya juga tidak dibatasi. Makanya siapa saja bisa masuk.
"Oh ya maaf bu, saya suaminya Mischa dia memenangkan lomba desain logo yang diadakan oleh Bima digital marketing. Pasti ibu heran, kenapa saya menyapa Ibu. harusnya saya memperkenalkan diri terlebih dahulu. Maaf Bu nama saya Gavin Antonio ucapnya mengulurkan tangannya.
"Mama tahu nak, karena mama sama papa kamu yang ngasih nama itu."
Kasih mendadak gelisah, melihat tangan Gavin yang tergantung di udara. Ia mencoba bersikap tenang. Dia pun menjabat tangan pria yang dilahirkannya itu. Getaran yang begitu mendebarkan. dia kembali teringat saat menimang Gavin waktu bayi dulu. rasanya masih sama begitu luar biasa.
"Kasih." jawabnya
Gavin tersenyum hangat. lalu menari tangannya. Kasih merasa belum puas, tak cukup hanya berjabat tangan dia ingin memeluk anaknya juga. Namun, dia tak bisa melakukannya.
Mischa menyuruh saya untuk menghampiri Ibu. sepertinya dia begitu mengagumi ibu.
"Oh ya, tapi istri kamu juga sangat berbakat. saya langsung suka dengan desain logonya. dan saat itu juga memutuskan menjadi pemenang."
"Sepertinya semua orang mengakui bakatnya ya. Saya jadi merasa bersalah tidak mengizinkannya bekerja.
Kasih melihat Tuan Carlos Antonio dalam diri anaknya. Dulu dia juga tak diizinkan bekerja sama sekali oleh Tuan Carlos Antonio entah apa sebabnya.
"Kenapa kamu tidak izinkan dia bekerja?" tanya kasih penasaran
"Mmmm....Bagaimana kalau kita ngobrol sambil minum kopi Bu, saya jadi merasa tidak sopan mengajak Ibu bicara sambil berdiri seperti ini." ajak Kevin.
__ADS_1
"Oh boleh, Ayo silakan!"
Gavin berjalan lebih dulu dan Kasih mengekori. Wanita itu tersenyum begitu senang seakan-akan sedang kencan pertama dengan pria idaman. siapa sangka dia bisa ngobrol sambil minum kopi dengan Gavin. padahal tujuan awalnya hanya ingin melihat anaknya itu dari kejauhan.
Ternyata mendekati Mischa adalah keputusan terbaik yang diambil.
"Di sini tidak apa Bu?" tanya Gavin menunjukkan sebuah stand kopi di antara ratusan yang ada di lapangan besar tersebut.
"Iya tidak apa-apa, di mana saja boleh." jawab kasih yang masih merasa agak canggung.
Di pinggir jalan pun nggak masalah, asal bisa dekat sama kamu Nak." batin Kasih
"Silakan Bu."
Gavin menarik sebuah kursi untuk Kasih dan dia pun duduk di kursi yang lain.
"Baik banget anakku, memperlakukan wanita." Puji Kasih dalam hati.
"Ibu mau pesan kopi apa?" tanya Gavin
"Kopi susu." jawab Kasih singkat.
Gavin pun memesan dua cangkir kopi susu pada barista.
"Oh ya, tadi ibu tanya apa ya?
"Itu kenapa kamu tidak izinkan Mischa bekerja?"
"Oh iya, mungkin karena dia bisa melampaui diri saya." Gavin jujur
Kasih mengernyit heran. Kamu insecure ? tanyanya tak percaya.
"Orang-orang sering bilang,Mischa yang beruntung bisa mendapatkan orang kaya seperti saya. Tapi saya malah merasa sebaliknya. Mischa itu bisa sukses dengan atau tanpa menikah dengan saya. Saya yakin itu. Saya takut dengan bekerja membuatnya jadi mandiri dan tidak butuh Saya lagi."jelas Gavin.
Kasih terperangah sesaat. lalu tersenyum. "Sepertinya kamu yang lebih dulu suka pada Mischa ya?"
Gavin tertawa malu. Kasih merasa hatinya menghangat. Rasanya seperti mendengarkan anaknya sedang bercerita tentang wanita pujaannya. Mereka tidak seperti orang asing. Tetapi ibu dan anak yang sedang membicarakan hal-hal pribadi.
Bersambung.....
hai hai redears dukung terus karya author agar outhor lebih semangat untuk berkarya trimakasih 🙏💓🙏
JANGAN LUPA TEKAN, FAVORIT, LIKE, COMMENT, VOTE, DAN HADIAHNYA YA TRIMAKASIH 🙏💓
JANGAN LUPA MAMPIR KE KARYA EMAK YANG LAIN
__ADS_1