
"Masuk saja Gavin, gak dikunci." teriak Nyonya Aurora dari dalam.
Gavin menghembuskan nafas panjang, lalu membuka pintu dan masuk ke dalam. Dia berjalan menuju balkon tempat ibunya berada. Wanita itu sedang duduk sambil minum teh.
"Ma, maafin Gavin ya pergi nggak bilang-bilang. Mama sakit? Gavin khawatir banget Ma." ucap Gavin
Nyonya Aurora tidak menjawab. Dia bangkit dari duduk, kemudian menghampiri putranya. wajahnya terlihat begitu kusut tak seperti biasanya.
"Mama sakit?"tanya Gavin lagi semakin khawatir.
Nyonya Aurora menggeleng. Dia kemudian merapikan jas putranya yang sedikit berantakan akibat berlari-lari.
"Mama nggak sakit kok Sayang, Mama cuman takut kehilangan kamu,"lirih Nyonya Aurora.
"Mama kenapa ngomong gitu?"walaupun udah nikah Gavin tetap anak mama."
"Mama tahu...".
hening sejenak. Nyonya Aurora kemudian menatap Sang putra tepat dalam matanya.
"Kamu harus janji sama mama. Apapun yang terjadi kamu nggak boleh pindah dari rumah ini. Kamu nggak boleh ninggalin mama."
****
"Nyonya Riana beli cincin baru ya bagus banget." Puji teman sosialita mereka ketika melihat cincin berlian super mewah di jari Manis Nyonya Riana saat meminum teh.
Nyonya Riana tersenyum anggun. "Iya nih Jeng, kemarin dibeliin sama papanya sebagai hadiah ulang tahun pernikahan."
"Oh so sweet, banget andai papanya anak-anak seromantis Itu." ucap Nyonya Karina.
"Iya papanya anak-anak juga nggak romantis. apa-apa Aku disuruh beli sendiri. Walaupun dikasih duitnya, kan aku pengen juga dikasih hadiah atau surprise gitu." sahut teman yang lain.
Ketiga wanita itu kemudian sibuk memamerkan apa yang bisa mereka pamerkan. Kemudian mereka heran karena nyonya Aurora dan Larissa tidak nibrug dalam obrolan.
"Nyonya Aurora sama Larissa Kenapa kok diam saja?tanya Nyonya Riana.
Larissa tersadar dari lamunan. Dia kemudian tersenyum dan berucap."Oh maaf Tante, aku jadi tuan rumah yang nggak baik ya hari ini."
"Nggak gitu kok Larissa, Kita diundang ke sini untuk minum teh aja sudah senang. Apalagi dapat voucher perawatan dari kamu double-double senangnya." balas nyonya Karina.
" Iya Larissa, tapi kalau kamu lagi nggak enak badan kamu bisa pulang saja kok. Terus balik Lain kali, kalau kamu sudah enakan." sambung Nyonya Riana.
Larissa menggeleng. Nggak kok Tante, nggak apa-apa. lanjut aja, tadi aku cuman kepikiran sesuatu Aku beneran baik-baik saja kok.
"Hm.... Ya sudah, kalau gitu. kalau Nyonya Aurora kenapa.
Nyonya Aurora tampak menghela nafas dan memijat pelipis. "Pusing aku mikirin Gavin.
__ADS_1
"Nyonya Riana, Nyonya Karina, dan lainnya bingung.
"Memangnya kenapa Nyonya? anak baik kita Kenapa?" tanya Nyonya Riana.
"Dia bawa orang miskin ke rumah." jawab Nyonya Aurora
"Hah? Siapa nyonya? tukang minta-minta? tanya Nyonya Karina
"Bukan, perempuan gatal yang godain Gavin. sekarang Gavin ngotot mau nikah sama dia." geram Nyonya Aurora.
ekspresi keterkejutan tampak begitu jelas di wajah Nyonya Riana, Nyonya Karina dan yang lain.
"Anak baik kita mau nikah sama orang miskin? Nyonya Aurora nggak kasihkan? tanya Nyonya Riana khawatir.
Nyonya Aurora kembali menghela nafas. sesak sekali rasanya membahas tentang ini. "Aku nggak bisa nolak, karena papanya Gavin setuju.
Ketiga wanita itu kembali terkejut. Larissa hanya bisa membuang nafas merasa sudah kalah telak dalam peperangan yang bahkan belum dimulainya dengan baik.
"Tapi kan Restu Nyonya Aurora juga penting loh. Gavin harusnya mempertimbangkan itu." protes nyonya Karina.
"Papanya Gavin mengancam aku, kalau aku nggak kasih Restu, Gavin bakalan keluar dari rumah. Aku kan nggak mau pisah sama Gavin." jawab Nyonya Aurora dengan suara bergetar.
Ketiga wanita tersebut merasakan kesedihan yang dialami oleh Nyonya Aurora. Sebab tak biasanya dia seperti ini. Wanita itu selalu terlihat bahagia dan percaya diri di berbagai kesempatan.
Nyonya Karina sebagai anggota tertua pun menghampiri Nyonya Aurora, dan menangkup tubuh wanita itu di kedua lengannya dia mencoba menenangkan temannya itu.
Sabar ya Nyonya Aurora, ini cobaan buat keluarga nyonya. Tapi Nyonya nggak boleh dengan mudah kasih kelonggaran untuk Gadis miskin itu. Nyonya harus bersikap tegas dan nggak menunjukkan belas kasihan sama sekali Nyonya. Nyonya Riana memberi nasehat.
Larissa pun mendengarkan dengan serius.
Kalau Gavin tetap ngotot, ya sudah Nyonya kasih saja mereka nikah. Tapi setelah itu, Nyonya siksa Dia setiap hari sampai dia nggak tahan terus minta cerai deh sama Gavin." jelas nyonya.
Nyonya Aurora seketika berbinar.
"Benar juga ya Nyonya, ide Nyonya berlian!"
Nyonya Riana kemudian menunjuk pada Larissa. Setelah itu Nyonya tinggal masukin Larissa ke dalam permainan. Nyonya kasih ultimatum ke Gavin kalau istrinya minta cerai duluan dia harus mau menikahi Larissa setelah menduda, simple kan!"
Nyonya Aurora dan Larissa saling bertatapan. Kenapa ide itu tidak terpikirkan oleh mereka sama sekali.
"Cuma ya, nggak bisa instan. Emang harus sabar, tapi usaha nggak akan menghianati hasil, kan?" tanya Nyonya Riana.
Nyonya Aurora mengangguk dengan antusias, benar juga Ya Nyonya, paling dalam setahun atau dua tahun setelah itu Gavin bisa menikah sama Larissa.
Membayangkannya saja sudah membuat keduanya senang.
"Ya sudah, Nyonya kalau gitu Kami bertiga mau perawatan dulu ya. Biar enak berdua bahasa rencananya." pamit Nyonya Riana seraya tertawa
__ADS_1
"Iya nyonya,
"Iya tante.
Nyonya Aurora dan Larissa menyahut bersamaan.
Nyonya Aurora kemudian menatap Larissa dengan senang. Tante nggak enak banget sama kamu, soal kemarin kamu nggak angkat telepon dan membalas chat Tante, Tante, kan jadi khawatir.
"Maaf ya Tante, habisnya aku kena mental banget. Tapi mudah-mudahan bakalan ada secerca harapan lagi ya Tan, Larissa tertawa girang.
Sesampainya di rumah, Nyonya Riana menemukan putranya sedang bermain PlayStation di ruang tengah.
"Mana yang lain?" tanya Nyonya Riana pada putranya.
"Main ke rumah tetangga sebelah tadi katanya ma, kayaknya mereka ada peliharaan baru kucing apa gitu." jawab Calvin tanpa mengalihkan pandangan dari monitor.
"Oh ..."
Nyonya Riana kemudian duduk di sebelah putranya setelah mengambil segelas air dingin dari kulkas.
"Kamu tahu Gavin mau nikah?
Calvin tertawa. "Bercanda saja Mama ini, pacar aja nggak punya itu anak."
Nyonya Aurora loh yang bilang. Mama kira kamu tahu. Sama orang miskin." bisik Nyonya Riana.
Calvin menjeda permainan dan menatap ibunya. "Serius ma?"
Nyonya Riana berdesak.
"CK, Sejak kapan sih gosip dari Mama nggak sesuai dengan fakta?
Calvin terdiam sesaat antara tidak percaya atau ibunya sedang mengerjainya.
Tante Aurora tadi kusam banget, beneran beda dari biasanya stress banget dia. Mau punya menantu orang miskin. "Nyonya Riana kemudian tertawa.
"Senang banget Mama melihat dia nggak bisa pamer menantu, biasanya kan dia suka pamer-pamer juga."
"Gavin kok nggak ada cerita, ya?"
"Itu juga Mama pikir. Kalau Gavin punya pacar, kan kamu pasti kasih tahu mama. Jadi pertanyaan kan, kenapa Gavin juga nggak ngenalin pacarnya ke kalian, apa dia merasa malu punya pacar orang miskin? tapi udah kudu jatuh cinta? terka Nyonya Riana.
"Benar juga, pikir Celvin . Dia paham betul Bagaimana seorang Gavin yang sudah dikenalnya sejak kecil. Pria itu punya selera yang tidak main-main, bahkan di antara mereka berlima Gavin lah yang punya selera paling baik.
Bersambung.....
hai hai redears dukung terus karya author agar outhor lebih semangat untuk berkarya trimakasih 🙏💓🙏
__ADS_1
JANGAN LUPA TEKAN, FAVORIT, LIKE, COMMENT, VOTE, DAN HADIAHNYA YA TRIMAKASIH 🙏💓
JANGAN LUPA MAMPIR KE KARYA MORATA YANG BARU TERBIT." MENJANDAKAN ISTRI DEMI JANDA"