
Valen berdiri dan menghampiri Mischa dengan setengah merengek."Mischa ku, Kenapa Malang banget nasi kamu, Kirain kamu beruntung karena batal dipecat. Ternyata ada kesialan lain sama kamu, hu.... hu....hu...., Gadis itu kemudian memeluk Mischa. Membuat Mischa tampak bingung dengan pelukan Valen. Saat melihat wajah rekannya yang lain, sepertinya memang ada yang tidak beres.
Memangnya kenapa kalau aku merangkap jadi sekretarisnya bos Ate, Kuya? tanya misca polos yang belum mengetahui apa-apa tentang bosnya itu.
Semua rekannya menghela nafas mendengar pertanyaan itu Valen pun. Valen masih tetap merengek di bahunya.
"Cuma jadi karyawan kaya kita saja sudah stres menghadapi kelakuan si Bos. Apalagi merangkap jadi sekretaris? Irma kembali merinding membayangkannya.
"Gavin itu banyak banget maunya, terus kerjaan sekretaris kaya ada aja yang kurang atau salah. Tidak pernah ada benar di matanya. Sebelum Kayla yang cuti, karena ingin menikah, si bos berkali-kali ganti sekretaris. bisa dibilang Kayla kerjanya hampir sesuai sama ekspektasi Gavin jelas Matteo.
Apalagi kamu yang nggak ada dasar jadi sekretaris Mischa. Aduh bakalan gimana ya nasib kamu? hu.... hu....hu rengek Vallen semakin menjadi.
"Aku kira si Bos udah berubah jadi lebih baik. sampai aku kira mau buang tabiat. Eh taunya malah makin mengerikan." geram Valen.
"Jangan gitu dong, kita harus menyemangati Mischa. lagian kan cuman gantiin selama 2 minggu saja, ngak bakalan terasa kok itu." ucap Irma.
"Kalau bosnya Baik sih, nggak bakalan terasa Irma, kalau seperti Tuan Gavin kita mah berasa banget." bantah Andika.
Irma melemparkan tisu kepada Andika.Ya. Mischa makin pesimis loh.
"Udah Ate,Kuya, nggak apa-apa. Udah resiko pekerjaan juga." ucap Mischa agar rekan kerjanya tidak melanjutkan perdebatan mereka
Malam itu Matteo, Irma, Valen, Andika menyemangati Mischa untuk menghadapi dua minggu ke depan. Berharap Mischa dapat bertahan menghadapi Bos Arogan mereka seperti Gavin. Mereka tidak ingin Mischa jika melakukan kesalahan, Apalagi itu tidak di bidangnya. Membuat rekan-rekan kerja Mischa merasa khawatir akan kemampuan menggantikan Kayla sebagai sekretaris Gavin.
***
Gavin baru saja bergabung di meja makan, untuk menikmati makanan malam bersama ayah dan ibunya. Meski tidak setiap malam bisa makan bersama, tetapi mereka mencoba mengusahakan setidaknya satu pekan sekali.
"Wah enak nih, Mami yang masak? tanya Gavin saat menyendok ayam Adobo ke dalam piringnya
"Iya dong, semuanya malam ini Mami yang masak." jawab nyonya Aurora. Kebetulan Mami juga di rumah aja hari ini. Jadi sempat masakin ini semua untuk kalian.
"Terima kasih ya mom." ucap Gavin
__ADS_1
"Sama-sama sayang."
meski di hadapan orang lain Gavin terlihat menjengkelkan, di rumah dia akan menjadi anak baik dan manis yang suka memuji dan mengucapkan terima kasih kepada kedua orang tuanya.
"Kemarin kamu bertemu sama teman-teman kamu ya mom?" tanya Tuan Carlos Antonio pada istrinya
"Iya Pi, biasa lah ibu-ibu sosialita.
"Ngobrolin apa saja?
kebetulan sekali Tuan Antonio menanyakan hal ini. Nyonya Aurora pun menyampaikan isi obrolan tersebut karena Gavin juga ada di sini.
"Jadi begini Gavin, kemarin Mami bertemu bersama dengan Larissa juga. Dia sudah resmi gabung di perkumpulan mami. Terus teman-teman Mami semuanya setuju kalau kamu nikah sama Larissa.
Gavin terdiam sejenak Tuan Antonio menatap Gabin yang tidak langsung menanggapi ucapan Nyonya Aurora.
"Larissa itu teman Gavin Mi, gak lebih." kata Gavin pada akhirnya
Tuan Carlos Antonio kembali melanjutkan makannya. Dia tahu betul Bagaimana putranya. Jika tidak mau, maka tidak akan ada yang bisa memaksanya.
Setiap pria hebat juga butuh wanita hebat di sisinya. benar Kan suamiku sayang? Nyonya Aurora mencari dukungan dari suaminya.
"Benar kok, Tapi biarin aja Gavin menentukan pilihannya sendiri." sahut Tuan Carlos Antonio.
Gavin kamu itu sering dituduh homo loh sama orang-orang. Kamu ngak tahu Mami sampai risih dengarnya." keluh nyonya Aurora ketika mengingat teman-teman sosialitanya mengejek Gavin yang tak kunjung menikah.
Gavin dan Tuan Carlos Antonio hanya tersenyum jenaka mendengar apa yang dikatakan oleh Nyonya Aurora.
"Kamu ngerasain deg-degan nggak sih kalau di dekat Larissa? atau di dekat perempuan lain gitu, lanjut Nyonya Aurora.
Gavin kembali teringat kejadian di kantor sebelumnya. Dia juga heran kenapa bisa dirinya merasa deg-degan saat menangkap tubuh sih karyawan baru yang hampir terjatuh. Kalau saja kesadarannya rasanya tidak segera mengambil alih, entah apa yang akan terjadi selanjutnya.
Gavin pasti sudah gila selama beberapa detik. Gavin menggeleng dan berusaha menepis bayang-bayang kejadian itu dari pikirannya.
__ADS_1
"Mami Tenang saja Nanti, kalau udah tiba saatnya pasti Gavin bakal nikah.
"Tapi Mami pengennya kamu sama Larissa, Gavin, please jangan sampai Larissa keburu dilamar orang lain. Nanti kamu bakalan nyesel.
"Benarkah itu, benarkah Gavin akan merasa menyesal saat Larissa sudah menikah dengan orang lain? selama ini dia hanya menganggap Gadis itu sebagai teman namun apa mungkin penyesalan itu bisa benar-benar terjadi?
****
Pagi-pagi sekali Mischa sudah mendapat pesan dari bos, yang sepertinya berniat untuk menyiksanya mulai hari ini. Bukannya langsung berangkat ke kantor, dia harus pergi ke beberapa tempat terlebih dahulu demi memenuhi Permintaan si Bos. Beliin saya sarapan sandwich dan kopi barako panas.
Mischa memasuki sebuah restoran cepat saji dan menyampaikan pesan yang diinginkan. Setelah menunggu beberapa menit dia melanjutkan perjalanan berikutnya. lalu tiba-tiba saja Ia mendapatkan pesan dari Gavin, untuk membelikan sesuatu keperluan kantor.
Mischa menghela nafas panjang, ia benar-benar tersiksa pagi ini, dibuat oleh Gavin. Belum juga ia selesai membeli sarapan pagi untuk Gavin. Tapi dia sudah disuruh untuk membeli peralatan kantor. Tangannya mulai penuh Ketika pesan dari bos kembali masuk. Bos meminta kepada dirinya agar segera membeli burger yang ada di cafe dekat kantor.
Mischa menghembuskan napas. lelah mau bagaimana lagi, dia membawanya tangannya cuman ada dua. Apa bosnya tidak tahu akan hal itu?
Namun tetap saja Mischa tidak bisa menolak permintaan si Bos. dia susah payah menekan tombol lift, apalagi harus memindai label namanya, supaya bisa memencet tombol lantai yang dituju. Begitu sampai, tidak ada satupun karyawan yang berniat membantunya. Semua orang sudah sibuk dengan pekerjaan masing-masing.
Mischa kesusahan mengetuk pintu ruangan Bos. syukurnya sang bos cepat merespon dan mempersilakannya masuk
"Kamu sudah telat 10 menit." Kata Gavin begitu Mischa memasuki ruang kerjanya.
"Maaf Bos, saya belum cukup hafal jalanan di sini." ucap Mischa
"Tidak heran, pasti di tempat kamu tinggal tidak banyak gedung dan kendaraan kan? kampung-kampung pedalaman seperti kampung Pao Pao, Gavin membuat Mischa langsung tertunduk
Mischa sebenarnya tidak tersinggung. Ia menundukkan kepalanya, karena khawatir kalau Gavin akan semakin emosi. Ia tidak akan tersinggung, sebab yang dikatakan bosnya memang berkata apa adanya. Desa pao pao memang cukup jauh dari kota Antipolo provinsi Rizal. Desa pao pao memang benar-benar sulit untuk diakses.
Apalagi di desa itu, belum difasilitasi dengan angkutan umum juga. Hanya memiliki akses Jalan bebatuan dan angkutan di sana, hanya menggunakan becak bermotor ataupun pick up, yang akan meninggalkan Desa itu jika ingin pergi ke pasar. Selebihnya masyarakat pao pao berjalan ke kaki terlebih dahulu sejauh 2 km baru mendapatkan angkutan umum.
Bersambung.....
hai hai redears dukung terus karya author agar outhor lebih semangat untuk berkarya trimakasih 🙏💓🙏
__ADS_1
JANGAN LUPA TEKAN, FAVORIT, LIKE, COMMENT, VOTE, DAN HADIAHNYA YA TRIMAKASIH 🙏💓