
Manager restoran yang kebetulan ada di sana segera turun tangan untuk menangani kejadian tersebut.
"Maaf ada apa Ya?" tanyanya
Gavin segera kembali ke restoran setelah selesai. Awalnya dia ingin ke toilet restoran, kemudian teringat kalau dompetnya tertinggal di kamar. Dia pun memilih memakai toilet kamar sehingga memakan waktu cukup lama, itu sebabnya dia heran melihat keramaian di restoran saat berbalik ke sana
"Ada apa Kuya?" tanyanya pada salah satu pramusaji
Pramusaji itu mengenali Gavin yang sudah beberapa kali memesan makanan di restoran mereka. Dia pun tahu siapa Gavin sebenarnya seorang pewaris perusahaan ternama di Manila.
"Maaf Pak, Ada keributan sedikit. Mari saya antar ke meja yang lebih sepi." tawarnya.
Gavin melihat sekeliling. "Tapi istri saya nggak kelihatan Kuya, terus itu kayaknya ribut-ribut di tempat istri saya duduk."
Gavin berjalan mendekat meski dilarang oleh si pramusaji, dia pun terkejut melihat orang-orang mengerumuni istrinya.
"Ada apa ini?" tanya Gavin dengan suara lantang.
Mischa melihat Gavin dengan tatapan meminta tolong. Manajer restoran juga mengenali Gavin segera menghampiri.
"Ini Pak, perempuan ini menyakiti salah satu pelanggan kami jadi kami harus memprosesnya."
Mendadak emosi menguasai Gavin. "Ini istri saya, kalian kira istri saya bakalan kayak gini kalau bukan diganggu lebih dulu???? manajer restoran itu terkejut.
"Maaf Pak Gavin, Saya benar-benar tidak tahu. dia kemudian menghadap Mischa. "Maaf Ibu, sudah menuduh yang tidak tidak."
"Oh Jadi beneran ada suaminya?" pekik pria asing yang bangkit dengan susah payah. "Kalian nggak tahu siapa saya, hah!!! bapak saya anggota dewan di Manila habis riwayat kamu semua.
Mischa mendesis tak percaya. "Kalau kelakuan anaknya kayak begini, berarti bapaknya tukang korupsi
Pria asing itu ingin membantah. Tetapi dilarang oleh manajer restoran. Gavin pun menghampiri istrinya dan bertanya apa yang barusan terjadi.
"Ini bekas ditarik sama dia." tunjuk Mischa pada lengannya.Terus dia bilang aku PSK.
Habis sudah kesabaran Gavin. Dia pun mendekati pria itu dan segera melayangkan tinju ke rahangnya. Pria asing itu kembali jatuh terduduk sambil mengadu. Beberapa orang melihat kejadian itu sepertinya tontonan menjadi semakin asyik.
"Awas kamu ya! Ayah aku bakalan ngancurin kamu berdua. Lihat aja."
"Kamu panggil semua keluarga kamu ke sini! aku nggak takut. Istri aku pakai baju sopan, Kenapa kamu bisa mikir Dia perempuan kayak gitu? memang dasar otak kamu yang nggak beres. Karena makan hasil uang korupsi." tuduh Gavin.
__ADS_1
"Okey, aku telepon ayah aku sekarang, kamu lihat aja entar."
Manajer restoran itu menggiring pria yang sedang marah tersebut, dan menjelaskan beberapa hal. Dia sibuk memegang ponsel dan sudah siap menghubungi ayahnya.
"Pak, mending tidak usah. Pak Gavin itu bukan orang biasa." jelas manager restoran.
"Ayah aku juga bukan orang biasa, dia anggota dewan." pria asing itu masih ngotot.
Manager restoran kembali menjelaskan dengan sabar. Perusahaan Pak Gavin itu salah satu yang terbesar di Filipina ini, beliau bukan cuman memesan satu kamar tapi seluruh kamar di satu lantai untuk honeymoon sama istrinya. Bapak anda tidak ada apa-apanya dibandingkan keluarga mereka. Justru mereka yang akan menghancurkan karir politik Bapak anda.
Pria asing itu kemudian terdiam. Ternyata dia mencari masalah dengan orang yang salah. Dia pun segera pergi dengan ketakutan. manager restoran hanya bisa menghela nafas.
"Maaf Pak Gavin, saya dan seluruh karyawan restoran mewakili permintaan maaf untuk Anda dan istri anda." ucap manajer itu kepada Gavin. Karena mereka merasa tidak enak melihat Gavin dan juga Mischa.
"Mana orangnya?" tanya Gavin seraya mencari
"Sudah pergi Pak, Sepertinya dia tidak mau memperpanjang masalah."
"Dia belum minta maaf sama istri saya!"
Mischa menahan Gavin. Sudah Kuya nggak apa-apa Yang penting dia udah nggak ganggu aku lagi
"Nggak perlu! batalin saja. Saya mau bawa istri saya balik ke kamar saja." tolak Gavin.
Manajer restoran itu tak berkutik melihat kepergian Gavin dan istrinya. Mischa berusaha menahan diri Selama perjalanan kembali ke kamar.
Namun pertahanannya runtuh setelah duduk di atas ranjang. Mischa menangis sejadi-jadinya. Gavin terkejut dan sempat terpaku bingung harus melakukan apa. Dia kemudian mengambil segelas air putih, dan memberikannya kepada sang istri. Sepertinya sedang shock.
"Minum dulu sayang." ucap Gavin pelan. Mischa mengambil gelas dan meminum isinya sampai habis, namun dia masih juga menangis.
Gavin benar-benar tak menyangka sebab Mischa terlihat begitu kuat saat di restoran, tadi wajahnya menunjukkan perlawanan bukan ketakutan. Dia pun masih terlihat tegar dalam perjalanan kembali ke kamar. Gavin hanya bisa duduk berlutut di depan Mischa mencoba menenangkannya.
"Kenapa Kuya... "Mischa mencoba berbicara di antara tangisnya. "Kuya sudah angkat derajat aku tapi masih ada orang-orang yang menilai rendah diri aku."
Tangis Mischa semakin pecah. Jadi itu alasannya," pikir Gavin.
"Sayang jangan menangis dari awal derajat kamu itu nggak pernah rendah. Karena kamu dari keluarga miskin bukan berarti derajat kamu rendah. Kamu harus ingat itu perlakuan orang lain ke kamu itu, murni karena mereka yang kurang ajar. Bukan kamu yang salah.
Gavin mengambil tissue dan memberikannya pada Mischa. wanita itu pun menghapus air matanya dan mencoba tenang.
__ADS_1
"Please jangan nangis sayang, Kuya bingung harus ngapain Kalau kamu nangis." Pinta Gavin.
Untung saja tadi Kuya datang tepat waktu. kalau nggak, aku gimana Kuya?lirih Mischa
"Bukan sayang, Justru tadi kamu udah berani untuk melawan. Kamu harusnya sadar kalau kamu itu kuat, bisa kepikiran buat nyerang." bantah Gavin. "Makanya Kuya kaget lihat kamu nangis. Kamu adalah perempuan paling kuat yang pernah kuya lihat.
Gavin kemudian mengecek lengan Mischa ada bekas merah di sana. Darahnya serasa menggelegak. "Berani sekali pria asing Itu menyakiti fisik dan Mischa. Akhirnya Mischa terlelap Karena kelelahan menangis. Gavin menyelimutinya dan memastikan sang istri istirahat dengan aman dan nyaman.
Dia tak habis pikir kenapa ada orang menuduh istrinya yang tidak tidak. Padahal Mischa memakai dress dengan setengah lengan tertutup.
Gavin menelepon pihak restoran dan meminta berbicara dengan sang manager.
Maaf pak Gavin, saya sendiri sangat menyayangkan ada kejadian seperti ini. Padahal Hotel kita juga bintang lima bertaraf internasional, bukan hotel yang menyediakan jasa seperti itu.
Setelah saya tanyakan ke beberapa pramusaji, ternyata pria itu tadi baru saja menegak minuman beralkohol. Kemungkinan dia sudah dalam keadaan setengah mabuk tadi." jelas manajer restoran.
"Saya boleh minta informasi pribadinya?" tanya Gavin
Manajer restoran itu terdiam sejenak.
"Itu privasi Pak."
"Iya saya paham, Tapi kalian tahu kan tanpa kalian kasih tahu pun saya tetap akan bisa tahu siapa laki-laki itu." ucap Gavin.
Manager restoran itu merasa dilema. di satu sisi informasi pribadi pria yang membuat keributan adalah privasi. Di sisi lain keluarga Gavin bisa merusak reputasi restoran bahkan Hotel mereka, apalagi dirinya sempat juga menuduh istri sang konglomerat yang tidak tidak dan berpihak pada si pria pembuat onar.
"Baik Pak, saya akan memberitahukannya.
Gavin menutup telepon. Tak lama kemudian sebuah pesan masuk berisikan nama lengkap si pria asing. Gavin segera berselancar Di Internet mencari informasi.
"Hmmm!!!! gumam Gavin.
Bersambung.....
hai hai redears dukung terus karya author agar outhor lebih semangat untuk berkarya trimakasih 🙏💓🙏
JANGAN LUPA TEKAN, FAVORIT, LIKE, COMMENT, VOTE, DAN HADIAHNYA YA TRIMAKASIH 🙏💓
SAMBIL MENUNGGU KARYA INI UP, YUK MAMPIR KE KARYA TEMAN EMAK.
__ADS_1