
Tuan Carlos baru saja tiba di rumah. Ketika sang istri menyambutnya dengan senyuman yang begitu hangat.
"Sudah pulang, Kuya? ayo, sini, aku bantu buka jasnya,"ucap Nyonya Aurora.
Tuan Carlos Antonio merasa heran, tetapi tetap menurut. Sudah berapa lama istrinya tidak melakukan hal itu? Setahun? dua tahun? Entahlah, dia pun sudah lupa.
"Capek banget pasti, ya."
kini Nyonya Aurora menanggalkan dasi dari leher sang suami.
"Aku sudah siapin air hangat di bathtub untuk Kuya. Mandi saja dulu. Habis ini kita makan malam bareng sama Gavin dan juga Mischa."
"Oke,"jawab Tuan Carlos Antonio.
Dia pun melangkah ke kamar mandi dengan heran. Tidak mungkin pertengkaran semalam membuat Nyonya Aurora langsung berubah drastis seperti itu. Pasti ada hal yang lain, tetapi apa?
Gavin dan Mischa menuruni anak tangga bersama-sama karena makan malam sudah disiapkan. Setelah menikah, Baru kali ini nyonya Aurora ikut makan malam bersama mereka. Wanita itu sudah duduk dengan anggunnya di meja. Lalu menyapa anak dan menantunya.
"Gavin, Mischa, Ayo makan!"
"Tumben Mama di rumah?"tanya Gavin.
" Ih, kok, gitu anak mama. Mama kan pengen makan malam sama kalian juga,"jawab Nyonya Aurora sambil tersenyum manis.
"Papa mana, ma?"tanya Gavin lagi Seraya melihat ke arah kamar orang tuanya.
"Papa masih mandi. Bentar lagi juga turun kok,"jawab Nyonya Aurora.
"Ya udah, kalau begitu kita tunggu papa dulu,"ucap Gavin
hening sesaat sampai Nyonya Aurora kembali membuka suara.
"Gimana persiapan resepsinya? Maaf ya, Mama nggak bantu kalian. Salah Mama juga,"ucap Nyonya Aurora dengan nada menyesal.
Gavin tersenyum. "Nggak apa-apa kok Ma." Gavin dan Mischa juga nggak mau ngerepotin Papa dan Mama. Lagian semuanya juga udah beres kok. Kemarin sempat ada masalah sama gaun Mischa, Tapi sekarang sudah beres."
Nyonya Aurora tidak bisa membayangkan sikapnya saat resepsi nanti. Melihat Mischa memakai gaun itu selama berjam-jam Pasti akan sangat mengganggunya.
"Kalau mama boleh tahu Kenapa Mischa pakai gaun itu ya? Apa kalian nggak pesan gaun lain?"Nyonya Aurora berusaha memuaskan rasa penasarannya. Gavin dan Mischa saling bertatapan sesaat.
Mischa udah pesan gaun di Kuya Herman ma,"jawab Gavin
__ADS_1
"Nah, Terus kenapa nggak jadi?
Bukannya kalau kalian jahit di Kuya Herman bagus? kebaya akad nikah Mischa saja pesan di situ juga." Tanya Nyonya Aurora tak paham.
"Soalnya waktu fitting kemarin Larissa nyobain gaun itu tanpa izin dari Mischa Ma."jawab Nyonya Aurora terkejut kemarin dari usahanya bilang kalau Gavin memulangkan gaun yang sudah jadi dan dibayar kepada Herman. Namun, dia tidak ada menyebutkan alasannya.
"Tahu dari mana Larissa nyobain gaun itu?"tanya Nyonya Aurora
"Mischa yang memergoki langsung ma jawab Gavin.
Nyonya Aurora gini menatap menantunya dengan tatapan menyelidik. "Kamu emang memergoki langsung, atau cuman ngarang cerita? buktinya ada?
"Ma, tegur Gavin."please jangan mulai lagi.
"Kalau Mischa cuman ngarang cerita, mana mungkin Kuya Herman diam saja waktu Kuya Gavin mulangi gaun itu ma. Pasti dia nggak terima hasil kerjanya diberlakukan kayak gitu. Dia juga merasa bersalah karena ngasih izin Larissa pakai gaun itu." jelas Mischa
Nyonya Aurora terdiam. Menantunya selalu bisa membalas perkataannya dengan fakta. dia pun berdeham.
"Ya udah kalau emang kejadiannya begitu, Terus kenapa kalian pulangin gaunnya? Larissa kan cuma nyobain bentaran doang, bukan pakai seharian." cacar Nyonya Aurora.
"Kamu kenapa sih bela si Larissa itu terus?"
Tuan Carlos Antonio tiba-tiba muncul di ruang makan membuat Nyonya Aurora terperanjat karena tak menduganya.
"Itu sama saja kamu belain orang yang udah nggak sopan nyentuh barang yang bukan punyanya."tegas Tuan Carlos.
"Kalau Mischa yang di posisi itu, pasti kamu udah ngomel-ngomel kan?"
Nyonya Aurora kembali terdiam. Sebenarnya Gavin merasa tidak enak melihat kedua orang tuanya seperti ini. Apalagi di hadapan Mischa yang baru saja masuk ke keluarga mereka keluarga ini begitu harmonis. Tetapi sayang yang tampak di mata Mischa yang seperti ini.
"Sudah pa, Ma, makan yuk." ajak Gavin
Mereka pun mulai makan dalam diam. Tidak ada canda tawa seperti biasa. Gavin benar-benar menyayangkan Kenapa hal ini sampai terjadi.
Selesai makan malam, Gavin dan Mischa memilih untuk kembali ke kamar. Gavin duduk di balkon Seraya menatap air kolam renang yang tenang.
"Kuya Kenapa?" tanya Mischa menghampiri Gavin
"Duduk sini sayang." Gavin mengulurkan tangan dan menarik tubuh Mischa untuk duduk di pangkuannya.
"Aduh kenapa kayak naik angkot begini?" canda Mischa
__ADS_1
Gavin tahu sesaat lalu kembali muram sudah sejak saat di meja makan tadi Mischa merasakan sikap Gavin begitu berbeda.
"Kuya sedih ya lihat Papa sama Mama selisih paham terus?".
Gavin mengangguk. "Mereka nggak pernah kayak gini sebelumnya.".
"Kuya sudah tanya sama papa ada masalah apa?"
Gavin kembali mengangguk. "Kata Papa Mama tiap hari main sama Larissa sampai pulang malam. Tapi masa cuman karena ini sih?"
Mischa pun ikut heran. Harusnya masalah itu bisa diselesaikan dalam satu kali perdebatan. Tidak perlu sampai berlarut-larut.
Mama juga biasanya sering main sama teman-temannya. Tapi papa pain pain saja. Kuya rasa Memang ada masalah lain, tetapi Papa nggak mau cerita.
Mischa pun berusaha untuk menghibur suaminya. Setidaknya itu adalah hal yang bisa dilakukannya sebagai seorang istri. Dia pun mengalungkan kedua tangan di leher sang suami membuat Gavin kini menatapnya.
"Ya udah kuya, aku yakin nanti papa bakalan cerita sama kuya. Kalau waktunya sudah tepat. Semoga masalah Papa sama Mama juga cepat selesai, supaya mereka kembali akur.
Gavin meraih tubuh Mischa. Kemudian tanpa membuang waktu, Gavin segera dihapus lipstik merah sang istri dengan bibirnya.
Sementara itu Nyonya Aurora berusaha perbaiki hubungannya bersama Tuan Carlos Antonio dengan berbagai cara.
"Kuya mau aku pijatin? kemarin aku beli minyak pijat relaksasi ini kayaknya sih bagus." tawar Nyonya Aurora.
Tuan Carlos Antonio menyetujui. Itu ide bagus siapa tahu tubuh dan pikirannya lebih rileks setelahnya di pijat nyonya Aurora.
"Kuya kan, Bos. kalau kerja tuh Jangan semuanya mau terjun ke lapangan. Kasih kesempatan untuk yang muda tanggung jawab."
"Iya iya Aurora, Kuya kayaknya terlalu kuatir. Padahal banyak juga yang kompeten. Tapi belum eksportir kemampuannya.Carlos Antonio mengiyakan, Nyonya Aurora tersenyum Tuan Carlos Antonio memang sering mendengarkan saran-saran darinya. Itu artinya hubungan mereka akan kembali sedia kala.
"Sudah enakan Kuya?"
"Sudah ." jawab Tuan Carlos Antonio.
"Ya udah, aku bikinin teh ya, biar makin rileks."
Bersambung.....
hai hai redears dukung terus karya author agar outhor lebih semangat untuk berkarya trimakasih 🙏💓🙏
JANGAN LUPA TEKAN, FAVORIT, LIKE, COMMENT, VOTE, DAN HADIAHNYA YA TRIMAKASIH 🙏💓
__ADS_1
JANGAN LUPA MAMPIR KE KARYA TEMAN EMAK