
Larissa memegangi pipi kirinya.
Mischa terkejut lalu memandangi tangan kanannya.
Dia baru saja menampar seseorang. Seumur hidupnya, baru kali ini dia melayangkan tangan kepada orang lain.
Semua wanita di dalam kafe terkejut. terutama Riska teman Mischa. Dia sangat tahu kalau Mischa adalah orang berhati lembut. Pasti Mischa sudah merasa sangat terdesak hingga melakukan hal seperti itu.
"Kurang ajar!" lirih Larissa tak terima diperlakukan sedemikian rupa.
"Berani banget kamu menampar aku!"
Larissa berteriak seperti orang gila
tetapi teman yang lainnya menahannya.
"Larissa udah, Larissa."
"Aku gampar balik kamu, ya." ancam Larissa.
Teman Larissa berhasil menyeret Larissa menjauhi pintu. Riska teman Larissa hanya terdiam melihat kejadian di depannya.
"Kamu ingat ya, kamu bakalan nerima balasan dari tamparan ini. Aku bakalan merebut suami kamu. Kamu ingat itu." teriak larissa
"Ayo Riska, Mischa memanfaatkan kesempatan itu untuk mengajak temannya keluar.
Mereka berjalan cukup cepat mencari tempat yang lebih aman. Di mana saja asalkan jauh dari kafe tersebut. Mischa merasakan nyeri di perutnya, membuatnya terduduk di tangga depan sebuah gedung.
"Mischa, kamu nggak apa-apa?" tanya Riska panik
Mischa menggeleng. Kemudian tersenyum. "Nggak apa-apa Ris, kayaknya cuma syok aja."
Riska merasa bersalah. "Ini semua gara-gara aku Mischa, kamu jadi berantem sama orang lain buat lindungi aku."
Mischa menggenggam tangan Riska. "Kamu nggak boleh datang lagi ke Cafe itu, masih banyak tempat untuk makan dan minum. kalau ada apa-apa, kamu harus segera kasih tahu aku, janji?
Riska merasa tidak enak, telah membuat Mischa masuk ke dalam lingkaran masalah yang dia ciptakan.
Namun Riska tidak menjawab. Ya teman itu pasti akan terus merasa khawatir padanya.
"Iya, aku janji ." jawab Riska hampir menangis "Kamu beneran nggak apa-apa, kan?
"Iya , nyeri di perutnya sudah hilang. Mischa harus lebih berhati-hati lagi lain kali."
Akan tetapi Mischa terus saja memandangi tangan kanannya, tetap ada perasaan bersalah, meski hal itu dilakukan untuk menolong dirinya dan temannya keluar dari masalah.
"Apa aku sudah berbuat jahat sama orang lain ya? Lirihnya.
Apalagi teriakan Larissa sebelum mereka keluar, terus berputar-putar dalam benaknya
__ADS_1
"Aku bakal merebut suami kamu!"
Mischa selalu percaya bahwa setiap perbuatan baik, dan buruk akan menerima balasannya. Mendadak merasa stress karena kejadian pagi tadi.
"Hai..." lama menunggu?"
Mischa tersentak Kasih muncul di depannya, dengan senyuman hangat.
"Maaf ya, tadi harus tanda tangan beberapa dokumen dulu baru bisa istirahat. Teman kamu mana?" tanya kasih yang tahu kalau Mischa menemani temannya wawancara tadi.
"Sudah pulang Bu, katanya ada urusan lain." jawab Mischa
"Oh ya udah, Kamu udah pesan makanan kan?"
Mischa menggeleng. Mischa nungguin Ibu datang dulu.
"loh, nggak boleh gitu sayang. Kamu tuh harus makan tepat waktu, ibu hamil nggak boleh nunda-nunda makan lain kali. Kamu pesan duluan aja, ya. jangan nungguin Ibu." kasih mengomel layaknya seorang ibu kepada anaknya.
Mischa tersenyum mendengarnya. Ia Bu, lain kali bakalan pesan makanan lebih dulu.
"Ya sudah, kita pesan sekarang yuk, biar cepat."
Mischa kembali diam setelah pramusaji mencatat seluruh pesanan Kasih meminta izin untuk membalas beberapa pesan dari kolega bisnisnya. mischa kembali memandangi tangan kanannya, seakan-akan Dia baru saja menghilangkan nyawa seseorang.
"Kamu Kenapa? Ibu baru sadar dari tadi kamu kelihatan sedih."
"Kamu lagi berantem sama suami kamu?
Mischa Magelang. "Nggak bu, Kuya Gavin selalu baik sama Mischa.
"Terus ada apa?"
mischa terdiam sejenak. Dia kembali melihat tangannya sebelum bercerita.
Tadi Mischa habis nampar orang Bu,
Kasih terkejut. Dia tidak percaya kalau Mischa bisa melakukan hal seperti itu. Akan tetapi dilihat dari ekspresinya sepertinya Mischa merasa menyesal telah melakukannya.
"Siapa?" tanya Kasih berusaha untuk tidak menuduh yang tidak tidak.
"Teman kuya Gavin. Dia suka sama Kuya Gavin udah lama.
"Kamu nampar dia karena Gavin?"
mischa menggeleng. Dia pun berceritakan kejadian yang sebenarnya.
"Mischa cuman mau membelah diri Bu, tapi kayaknya Mischa udah keterlaluan nya?" tanya sedih.
Kasih tersenyum, kamu udah ngelakuin hal yang benar. Kalian dalam posisi terpojok dua lawan empat itu aja udah nggak imbang. Ibu malah dukung, kalau kamu tuh berani banget.
__ADS_1
"Tapi Bu, Larissa ngotot kalau dia bakalan balas Mischa dengan merebut suami Mischa hatinya benar-benar berdenyut saat mengatakan itu.
Selama ini, Gavin ada nunjukin gelagat suka sama dia juga nggak? tanya Kasih. Meskipun Gavin adalah putranya, dia tidak akan langsung membela, karena memang tidak mengenal lebih jauh putranya tersebut.
Mischa menggeleng dan menjawab. Justru Kuya Gavin selalu berusaha menjauhi dia, kuya Gavin gak suka Bu, Larissa yang selalu dekatin kuya Gavin."
Kasih ingin sekali mengucap syukur dengan lantang. Tetapi dia hanya bisa meluapkannya di dalam hati.
"Kalau gitu, kamu nggak usah terlalu khawatir semua masalah akan terlupakan dengan berjalannya waktu." percaya sama ibu.
Ya seperti dirinya yang sudah mengikhlaskan segalanya menjadi milik Aurora.
"Terima kasih ya, Bu.Micha jadi ngerasa lega udah cerita sama ibu. Mama mertua Mischa nggak bisa diajak ngobrol, Ibu Mischa jauh di Desa Pao Pao Antipolo, dan sakit-sakitan. Mischa nggak berani ceritain masalah Mischa Ke Ibu, takut Ibu kepikiran dan semakin sakit.
Kasih berdiri untuk menghampiri Mischa dan memeluk menantunya itu, dia percaya Mischa adalah anak baik. Tak akan menyakiti orang lain, Jika bukan karena terpaksa.
Keduanya telah menyelesaikan makan, dan sedang duduk di depan restoran menunggu Gavin menjemput Mischa.
"Kamu bakalan ceritain masalah ini ke Gavin nggak?" tanya Kasih
"Menurut Ibu bagaimana bagusnya?" tanya mischa benar-benar tak tahu harus apa.
"Jika saja ini adalah wanita lain, pasti sudah mengadu pada suaminya untuk bertindak. akan tetapi ini adalah mischa dia tak ingin memperpanjang masalah."
"Di dalam rumah tangga, kita harus berbagi segala hal dengan pasangan. Debab biduk rumah tangga itu dijalankan oleh dua orang. nggak bisa satu saja, layaknya pesawat kalau kamu yang berusaha sendirian pasti pesawatnya bakalan oleng. Menurut Ibu, Gavin perlu tau masalah ini. Tapi kamu bisa bilang kalau semuanya udah selesai. Kamu cuman pengen cerita, nggak pengen dia melakukan apa-apa." jelas kasih.
Mischa merasa mendapatkan wawasan dari seseorang yang sudah lama menjalani bahtera rumah tangga. Kasih memang bukan wanita biasa, meski hidup sendiri. Dia tetap bisa menasihati Mischa seperti itu.
"Ibu pernah menikah?" tanya Mischa hati-hati.
Kasih tak langsung menjawab, tatapannya seakan menerawang jauh ke depan.
"Dulu, Sudah lama banget."
Mischa cukup terkejut Mendengar hal itu, lalu bagaimana? Kasih diam setelahnya membuat Mischa tak tahu bagaimana kelanjutan pernikahan wanita itu, sebelumnya.
"Itu Gavin sudah datang."
Mischa mengalihkan pandangan dan ternyata benar, Gavin tersenyum pada kedua wanita itu dari jendela mobil. Mischa berpamitan pada Kasih. Namun, sebelum itu Kasih mengatakan sesuatu padanya.
"Lain kali Ibu bakalan cerita tentang pernikahan ibu."
Bersambung.....
hai hai redears dukung terus karya author agar outhor lebih semangat untuk berkarya trimakasih 🙏💓🙏
JANGAN LUPA TEKAN, FAVORIT, LIKE, COMMENT, VOTE, DAN HADIAHNYA YA TRIMAKASIH 🙏💓
JANGAN LUPA MAMPIR KE KARYA EMAK YANG LAIN
__ADS_1