
Gavin menghela nafas. Meski penasaran akan apa yang terjadi, yang penting saat ini Mischa sudah tenang. Dia melonggarkan dasi dan memilih untuk mandi. Setelahnya dia melihat bagian ranjang yang kosong, di sebelah Mischa, akan tetapi dia tidak mungkin tidur di situ. Dia pun memilih untuk membaringkan diri di sofa dan berharap bisa tidur di sana.
Mungkin karena dirinya juga lelah, alam mimpi pun segera menjemput. Keesokan paginya Gavin tersentak ketika Mischa membangunkannya.
"Kuya, kita sudah kesiangan. Nggak berangkat ke kantor?" tanya Mischa. Gadis itu sudah tampak jauh lebih baik pagi ini.
Gavin mengucek mata, lalu bangkit ke posisi duduk. "Hari ini, nggak usah kerja kamu istirahat saja dulu."
"Nggak apa-apa ?tanya Mischa tak enak, bagaimanapun dialah penyebab hal ini terjadi.
"Nggak apa-apa. Sebentar kuya, bikin kopi.
Gavin membuat kopi seadanya, lalu menelepon pihak hotel untuk memesan sarapan
"Ini," katanya seraya menyerahkan secangkir kopi. Dia kemudian menghadap Mischa. "Kamu kenapa semalam?"
Mischa menghela napas panjang, sebelum memulai bercerita. Rasa sakit kembali menjalar di hatinya, meski tidak separah semalam.
"Kamu nangis karena itu?" tanya Gavin.
Mischa mengangguk.
"Kenapa semua orang mengira hidup aku sudah enak dari lahir. Mereka cuman tahu baik-baiknya saja. Mereka nggak pernah tahu kalau aku sama bapak dan ibu sering makan sehari cuma sekali, waktu Bapak gagal panen.
"Mereka bisa beli baju sekolah setiap naik kelas, sedangkan aku beli baju baru kalau sudah benar-benar enggak muat atau koyak. mereka nggak tahu kalau aku nggak pernah bawa uang saku ke sekolah. lalu mereka kira hidup aku selalu baik-baik saja." lirih Mischa.
Gavin menggenggam tangan Mischa. Baru kali ini dia melihat gadis itu begitu sedih seperti ini. Bahkan saat ayahnya tak kunjung memberikan restu untuk pernikahan mereka, tetap terlihat ceria.
"Apa salah aku kalau hidup mereka kayak gitu Kuya?" tanya Mischa seraya menatap ke dalam mata Gavin.
Gavin menggeleng. "Nggak Mischa itu bukan salah kamu please jangan sedih lagi Kuya, bingung harus ngapain.
Mischa menyandarkan kepala di dada bidang Gavin, meski tidak menangis lagi. Tetapi dia menemukan kenyamanan di sana. Gavin mengelus lengannya memberikan ketenangan.
"Kamu sekarang mandi ya, habis itu sarapan. kalau makanannya udah datang. Jangan mikirin soal semalam lagi." ucap Gavin.
Mischa mengangguk. "Baik Kuya."
tak lama setelah Mischa masuk di kamar mandi, Nyonya Aurora menghubungi Gavin
"Iya Ma." tanya Gavin
"Kamu nginep di hotel sama perempuan kampung itu? Nyonya Aurora bertanya balik dengan nada marah.
Gavin terkejut Bagaimana bisa ibunya tahu akan hal itu
"Jawab Gavin!" teriak Nyonya Aurora
"Iya Ma." jawab Gavin jujur tanpa mengelak.
"Sekarang Kamu masih sama dia?
__ADS_1
"Masih ma."
"Kamu bawa perempuan itu sekarang ke rumah, mama mau bicara sama kalian berdua!"
Nyonya Aurora memutuskan panggilan. Gavin mengusap wajah dengan gusar, mau tak mau dia harus menuruti perintah ibunya.
Gavin tidak memberitahu apapun kepada Mischa, sampai Gadis itu menyelesaikan sarapannya, barulah saat gadis itu minta diantar pulang, Gavin mengatakan bahwa mereka harus mampir lebih dulu ke rumahnya.
"Mama Kuya tahu dari mana kita ada di hotel?" tanya Mischa terkejut.
Gavin menggedikkan bahu. "Kuya juga nggak tahu, mending kita pergi sekarang sebelum Mama makin marah."
Mischa pun tidak punya pilihan. Lagi pula mereka memang tidak melakukan hal yang tidak baik selama berada di hotel. Meski hanya berdua saja, itu sebabnya dia bersikap lebih tenang. Karena merasa tidak bersalah.
"Maaf ya, harusnya aku ya nggak bawa kamu ke hotel semalam. Habisnya Kuya lihat kamu rapuh banget. Kuya nggak bisa ninggalin kamu sendirian di kos. Kuya harus segera tahu kabar kamu setelah baikan." ucap Gavin.
Mischa menggeleng, aku juga bingung banget semalam Kuya. Jadinya pasrah aja waktu Kuya Bawa aku.
Rasa cinta di hati Mischa kepada Gavin semakin berkembang. Karena sikap baik gavin kepadanya. Meski punya kesempatan, pria itu tetap tidak mau menyentuh Mischa. Keduanya tiba di kediaman megah Gavin. Gavin kemudian terkejut melihat Tuan Carlos Antonio ada di rumah, bukankah seharusnya sang ayah pergi bekerja?
"Papa nggak kerja?" tanya Gavin heran
"Mama nyuruh Papa untuk nggak kerja hari ini." jawab Nyonya Aurora dengan penuh penekanan.
Gavin mengajak Mischa duduk. Tetapi Nyonya Aurora melarangnya
"Gak ada yang nyuruh kalian duduk!
"Ngapain kalian ke hotel?" tanya Nyonya Aurora tanpa basa-basi.
"Ini nggak kayak yang Mama pikirkan, kami nggak ngapa-ngapain kok Ma." jawab Gavin
"Terus kamu harap mama percaya?" ucap Nyonya Aurora
"Sudahlah Aurora, namanya juga anak muda Bella Tuan Carlos Antonio.
Nyonya Aurora tidak mengindahkan ucapan suaminya sama sekali. Dia kini bangkit dan berjalan pelan menuju Gavin dan Mischa
"Di dunia ini banyak orang yang rela membuang kehormatan demi mendapatkan apa yang mereka mau." langkah Nyonya Aurora semakin mengintimidasi. Dia kemudian berhenti di hadapan Mischa. " kamu nggak usah pakai topeng polos lagi. karena kamu udah nggak suci lagi."
"Ma...., kan tadi Gavin udah bilang kami nggak ngapa-ngapain.
"Diam!!! mama nggak ngomong sama kamu,
Gavin diam. diam menatap pada ayah yang menggeleng, seakan ingin mengatakan turuti saja apa kata ibunya.
"Kamu pakai pelet apa sih, kok bisa bikin anak saya jadi begini banget ke Kamu?" tanya Nyonya Aurora pada Mischa.
Mischa yang sudah dari tadi menunduk, mengangkat kepala untuk menatap Nyonya Aurora
"Nggak ada tante, jawabnya pelan.
__ADS_1
jangan bohong. Kamu kira anak saya bisa mau sama perempuan kampung, dan miskin kayak kamu kalau nggak di pelet."
Mischa menggeleng. Mischa nggak pakai pelet apapun, dan semalam memang nggak ada apa-apa tante."
PLAK..
Sebuah tamparan mendarat di wajah cantik Mischa. Gavin terkejut, Tuan Carlos Antonio bahkan sampai berdiri dan berusaha menahan Nyonya Aurora.
"Tante tante!!! kamu kira kapan saya nikah sama Om kamu? hah!! pekik Nyonya Aurora yang mendadak emosi.
Mischa menyentuh bekas tamparan di pipinya, dan segera ditenangkan oleh Gavin
"Kamu ini apa-apaan sih Aurora !" bentak Tuan Carlos Antonio
mata Mischa memanas sekuat tenaga menahan diri untuk tidak menangis. Dia sama sekali tidak ingin terlihat lemah.
"Orang kayak kam, nggak pantas untuk nikah sama anak saya. Saya mau kalian putus!!! pekik Nyonya Aurora seperti orang gila.
Mischa teringat pada ucapan Riska semalam dia menyingkirkan tangan Gavin, lalu masuk beberapa langkah. Dengan tegas dia pun membuat sebuah ikrar.
"Sekuat apapun Anda berusaha, saya akan tetap menikah dengan Kuya Gavin Anda harus terima keputusan itu suka atau tidak!
Nyonya Aurora terdiam terperangah dengan ucapan Mischa, yang memukulnya telak. Gavin dan Tuan Carlos Antonio juga tak berkutik seakan-akan ini memang pertarungan antara gadis muda dan wanita yang lebih tua itu.
"Kuya, kamu lihat itu Gavin, lirih Nyonya Aurora. "Dia ngelawan mama."
Gavin menarik Mischa untuk mundur menjauhkannya dari jangkauan sang ibu
"Iya, kamu juga mukul anak orang sembarangan. jelas aja dia bisa melawan." ucap Tuan Carlos Antonio.
Nyonya Aurora mencoba melepaskan diri dari cengkraman suaminya. Kuya kok belain anak kampung itu sih? dia itu ngelawan aku Kuya!"
"Kamu harus sadar, di sini posisinya kamu yang bisa dilaporkan ke polisi, karena udah mukul anak orang lain." balas Tuan Carlos Antonio
"Aku nggak takut." dan udah pasti ku ya bakalan bebasin aku ucap Nyonya Aurora aku..
Enggak! kalau kamu semena-mena kayak gini kuya nggak akan urus, Kamu di polisi." vonis Tuan Carlos Antonio
Nyonya Aurora mengeram kesal. "Kuya nggak sadar, kalau anak kita udah diperalat sama perempuan gatal ini, sampai diajak ke hotel segala."
"Ma...!Gavin yang bawa Mischa ke hotel bukan Mischa yang menyuruh dan sudah Gavin sudah bilang berkali-kali Kalau kami nggak ngelakuin apa-apa, Mama udah nggak percaya lagi sama anak sendiri. ucap Gavin.
"Mama percaya sama kamu. tapi nggak sama dia tunjuk nanya Aurora kepada Mischa.
Bersambung.....
hai hai redears dukung terus karya author agar outhor lebih semangat untuk berkarya trimakasih 🙏💓🙏
JANGAN LUPA TEKAN, FAVORIT, LIKE, COMMENT, VOTE, DAN HADIAHNYA YA TRIMAKASIH 🙏💓
JANGAN LUPA MAMPIR KE KARYA MORATA YANG BARU TERBIT." MENJANDAKAN ISTRI DEMI JANDA"
__ADS_1