Antara Kutub Utara Dan Selatan (You & Me)

Antara Kutub Utara Dan Selatan (You & Me)
BAB 16. DI RESTORAN _YOU & ME


__ADS_3

Sebenarnya ayahku ngasih aja waktu aku bilang tentang beasiswa itu. Tapi, kalau aku pergi, Ayah dan ibuku bagaimana? apalagi Mischa tidak ingin menikah sama Tito Burhan. Makanya aku lari ke kota ini."ucap Mischa sambil menundukkan kepalanya.


Regina tampak sedih."sayang banget ya Mischa, punya peluang untuk melanjutkan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi. Tapi nasibmu malah nggak mendukung."


Tidak ingin berlarut-larut dalam kesedihan, Miss Kak melambangkan senyum hangatnya. "Nggak apa-apa Ate. Mungkin nggak sekarang, Mungkin nanti. Kalau belajar nggak ada batasnya usia."


Belum pernah sekalipun dalam hidupnya, Gavin merasa begitu tiba pada seseorang. Dia tahu Mischa adalah karyawan berbakat, tetapi tidak tahu jika Gadis itu benar-benar hebat. dia membuang mimpi besarnya demi membantu keluarga. jadi merasa bersalah sudah sering berbicara kasar pada karyawannya itu.


Miska masih mengobrol dengan Regina ketika tak sengaja melihat Gavin. Gadis itu segera bangkit dari duduknya membuat Regina keheranan.


"Maaf, Bos! Saya kasihkan ngobrol."ucap Mischa panik. Regina bangkit dan turut mengucap maaf. Gavin hanya mengangguk dan mengajak mischa untuk kembali ke ruang meeting.


"Ini kartu namaku. kalau sempat hubungi aku ya. biar kita saling komunikasi. Jika kau butuh bantuanku jangan sungkan-sungkan mengatakannya kepadaku."ucap Regina sebelum Mischa benar-benar pergi dari sana.


"Baik Ate, jawab Mischa sambil langsung mengikuti langkah Gavin masuk ke ruang meeting.


Gavin menjadi tidak fokus selama kelanjutan rapat. berbeda dengan Mischa yang tetap sigap dengan iPad di tangannya. Setidaknya memang itu fungsi membawa sekretaris bersamanya.


"Gavin, kita duduk ngobrol bentar yuk! sama papa kamu juga."ajak Tito Aris setelah rapat selesai.


Tuan Carlos Antonio memang tampak sibuk sejak tadi. Gavin bahkan belum menyapa sang ayah dengan baik saat rapat hari ini meskipun mereka sempat sarapan bersama pagi tadi.


"Hari ini nggak bisa, Tito. Gavin ada urusan lain."Gavin menolak ajakan Tito Aris.


"Oh ya sudah nggak apa-apa. soalnya Titu belum dapat karyawan desain yang bagus."


Gavin bergeser untuk menutupi Mischa yang berada di belakangnya. untungnya tinggi badan Gavin bisa menghalangi pandangan ke tubuh mungil gadis itu. jangan sampai Tito Aris tahu kalau karyawan yang diincarnya sedang berada di dekat Gavin. Bisa-bisa dia merekrut misca untuk bekerja di kantor pusat hari itu juga.


"Iya Tito, nanti Gavin bantu carikan yang sesuai dengan kriteria Tito."janji Gavin.


"Gavin duluan ya Tito."


"Okey Vin, hati-hati ya!" ucap Dito Aris.


"Ayo cepat!

__ADS_1


Gavin berbalik dan berjalan cepat, membuat Mischa kembali mengejarnya dengan setengah berlari. Gadis cantik itu heran kenapa bosnya selalu melangkah terburu-buru seakan dikejar hantu. dDa hanya tidak tahu kalau bosnya sedang mengkhawatirkan sesuatu.


Gavin belum siap kehilangan karyawan yang dianggapnya kampungan. Entah mengapa Gavin merasa dirinya tidak ingin kalau Mischa meninggalkan kantor yang ia Pimpin. Gavin merasa tidak rela jika Mischa dipinang oleh kantor pusat.


"Bos, saya pulang ya,"pamit Mischa Gavin terus saja berjalan menuju tempat parkir. Apa mungkin bosnya lupa kalau Mischa masih ada di situ?


"Kenapa pulang?''tanya Gavin


Mischa mengerutkan keningnya merasa bingung mendengar pertanyaan sang Bos. "Masih ada kerjaan ya Bos?


"Kita cari makan dulu, Saya lapar. Ayo naik."


Gavin kembali berjalan menuju mobil sedangkan Mischa malah tidak bergeming. Apa benar Gavin mengajaknya untuk naik ke mobil mewah itu? dia kan bisa menyuruh mischa untuk naik kendaraan umum seperti ojek online atau becak. Gavin sudah membuka pintu mobil kembali memanggil Mischa.


"Ayo Mischa!''


"Iya Bos!"Mischa pun segera berlari menaiki mobil sebelum bosnya mengomel.


mobil yang dia naiki bagus sekali! misca cuman pernah naik mobil minibus biasa, tidak pernah mobil mewah seperti mobil yang dimiliki Gavin. Di desa Pao Poo punya mobil biasa saja sudah membuat mereka angkuh. mereka tidak akan percaya kalau Mischa pernah mendudukkan diri dalam mobil orang-orang kaya seperti ini.


"Pakai sabuk pengamannya,"titah Gavin


Gavin menghela nafas berat, membuat Gadis itu takut. Pria itu melepas sabuk pengamannya lalu memakaikan milik Mischa.


Wangi parfum pemilik Gavin segera terhirup, membuat Anis kasih akan terbang melayang sesaat. Mereka sudah beraktivitas Sejak pagi. tetapi Gavin tetap terlihat segar seperti habis mandi. Tidak ada bau keringat sama sekali, pria ini benar-benar uang!"


"Sudah ya, kita jalan."


Mischa hanya mengangguk karena gugup. jantungnya berdetak tak beraturan. Dia sudah sering berinteraksi dengan teman laki-laki saat di sekolah maupun di kampus. akan tetapi, Baru kali ini dia merasakan yang seperti ini.


Keduanya turun dari mobil saat tiba di sebuah restoran mewah. lagi-lagi Mischa merasa canggung karena menganggap dirinya tidak pantas berada di tempat tempat seperti ini. Meja untuk berdua sudah penuh sehingga mereka duduk di meja untuk empat orang.


"Ini menunya Nona, Tuan."seorang pelayan restoran menyerahkan daftar menu ke hadapan Mischa dan juga Gavin.


Sepertinya Gavin sudah sering makan di sini karena dia langsung menyebutkan pesanannya kepada pelayan itu.

__ADS_1


Berbeda dengan Mischa yang masih harus melihat-lihat terlebih dahulu. netralnya membulat saat melihat harga makanan yang tertera di sana. tidak ada yang di bawah seratus ribu. Bahkan minimum paling murah saja harganya. Seratus lima puluh ribu


"Pesan saja yang kamu mau, saya yang bayar."ucapkan yang sepertinya tahu isi pikiran Mischa.


"Beneran tidak apa-apa Bos? Tanya Mischa meyakinkan.


"iya. atau mau saya pilihkan yang enak?"tawar Gavin.


"Boleh juga bos, saya ikut pilihan Bos saja."


"Jadi masing-masing porsinya dua ya." ucap Gavin kepada pelayan itu.


"Baik Tuan, Nona silakan ditunggu."


Mischa duduk dengan gelisah. sebenarnya sudah sejak tadi dia menahan keinginan untuk buang air kecil.


"Kenapa?


Lagi-lagi Gavin seperti tahu apa yang dialami oleh Mischa.


"Saya mau ke toilet,Bos."


Gavin memberitahu Di mana keberadaan toilet yang ada di restoran itu.


"Terima kasih bos, saya permisi sebentar."


Mischa segera meninggalkan meja dengan membawa tas menuju toilet. Gavin pun mengambil ponsel dan melihat-lihat notifikasi yang masuk. sampai tiba-tiba bulu kuduknya memang ketika mendengar suara seorang wanita memanggilnya.


"Vin, makan sendiri?


"Waduh, Kenapa Larissa bisa ada di sini? Gavin mengangkat kepala perlahan dan berpura-pura terkejut. "Larissa? kamu juga sendirian aja?"


"Iya, aku baru saja sampai. kebetulan banget! mejanya sudah penuh semua. Aku duduk di sini saja. ya?"


Bersambung.....

__ADS_1


hai hai redears dukung terus karya author agar outhor lebih semangat untuk berkarya trimakasih 🙏💓🙏


JANGAN LUPA TEKAN, FAVORIT, LIKE, COMMENT, VOTE, DAN HADIAHNYA YA TRIMAKASIH 🙏💓


__ADS_2