Antara Kutub Utara Dan Selatan (You & Me)

Antara Kutub Utara Dan Selatan (You & Me)
BAB 118. SURAT TERAKHIR _ YOU & ME


__ADS_3

Kasih duduk memandangi lampu-lampu gedung yang terlihat dari dinding kaca apartemennya. Di pangkuannya ada sebuah kotak yang telah dia simpan selama bertahun-tahun lamanya. Dia lupa kapan terakhir kali membuka kotak itu. Sebab, terlalu banyak kenangan dan kesakitan saat melihatnya.


Kasih membukanya pelan, melihat tumpukan surat dan foto di sana. Foto-foto Gavin saat kecil selalu membuatnya tersenyum. Anaknya telah tumbuh menjadi pria yang tampan. Aurora membesarkannya dengan baik, dia akui itu.


Seandainya saja mama bisa menyapa kamu sayang. Tapi, Mama nggak punya nyali. Apalagi dulu waktu kecil kamu nggak pernah mau ada di dekat mama."lirihnya


Kasih bisa saja memajang foto-foto itu. Namun, dia lebih memilih menyimpannya saja di dalam kotak itu. Dia tak punya kenangan apapun dengan anaknya selain waktu saat melahirkannya saja.


"Apakah dia ibu yang buruk?


Kasih kemudian mengeluarkan surat yang berada di tumpukan paling atas. Itu surat terakhir yang dikirimkan oleh Aurora untuknya. Awalnya dia kira isi surat tersebut akan sama dengan ceritanya mengenai Gavin dan juga foto-foto terbaru putranya.


Akan tetapi kasih salah besar.


"Hampir setahun Sejak pertama kamu kecelakaan dan proses untuk sembuh. keluarga Kuya Carlos sudah terbiasa tanpa kamu kasih. Sekarang Kuya Carlos lebih sering bermalam di kamarku, dia hampir nggak pernah lagi tidur di kamar kalian. Gavin juga lengket banget sama aku, dia benar-benar enggak ingat sama kamu walaupun fotomu sering ku tunjukkan ke dia.


Aku tahu, mungkin ini terdengar egois. Tapi, please kasih. lebih baik kamu pergi saja. kayaknya aku nggak sanggup harus berbagi suami dan anak dengan mu. Aku bisa saja punya anak dengan Kuya Carlos, tapi rasanya nggak akan sama dengan rasa sayangku ke Gavin. Dia itu anugerah dalam hidup aku. Walaupun nggak lahir dari rahimku, akan tetapi aku tetap ibunya, Kasih. Kamu cuma melahirkannya saja. Aku yang tahu segala proses tumbuh kembangnya, bukan kamu.


Ini, aku kasih kamu modal hidup untuk tinggal di sana, sementara kamu cari kerja untuk menyambung hidup. Tolong, jangan rusak kebahagiaan yang mati-matian aku bangun bersama Kuya Carlos dan Gavin. Kamilah keluarga yang sebenarnya. Jangan masuk ke dalam lingkaran ini dan merusaknya.


Kamu paham, kan? kamu itu lulusan terbaik di angkatan mu. Pasti kamu paham maksudku."


Kasih Memejam, menahan semua rasa sakit agar tak tumpah ke dalam tangisan. sudah dua puluh delapan tahun lebih, tetapi isi surat ini selalu mampu mencabut-cabik hatinya.


"Aurora bisa dapatin semua yang dia mau, sedangkan aku harus kehilangan segalanya. Aku bahkan nggak punya apa-apa dari lahir."


Kasih mengambil ponsel dan mengirimkan pesan untuk seseorang.


Setidaknya, biarkan aku bisa dekat dengan menantuku yang baik hati."


CEO Bima digital : "Besok sore kamu senggang? kita minum teh, yuk!


Mischa tersenyum. Dia pun membalas pesan tersebut dan mengiyakannya.


"Kuya, besok aku ngeteh sama ceo-nya Bimo digital ya,"izin Mischa.


"Jam berapa sayang? tanya Gavin


"Sore, beliau pulang kerja."


"Hmmm... Kuya nggak bisa antar kalau gitu. pulangnya saja Kuya jemput, ya."


Mischa mengangguk setuju. "okey, Kuya!"

__ADS_1


****


Mischa tiba tepat waktu dan menghampiri Kasih yang sedang berdiri di depan pintu Cafe.


"Oh, Ya ampun! kaget saya. Baru saja mau masuk, terus kamu datang,"ucap kasih.


"Mischa nggak telat kan, Bu?


Kasih menggeleng Soraya tersenyum. "Nggak kok. Saya juga baru sampai. yuk masuk!"


Kedua wanita itu pun memasuki cafe yang tampaknya sederhana dan tak terlalu ramai pengunjung. Sebenarnya Miscja merasa sedikit aneh melihat seorang CEO seperti Kasih tidak memilih tempat yang mewah, seperti cafe-cafe pilihan Ibu mertuanya.


"Kita duduk di sini saja ya. Jangan di dekat jendela," Kasih yang sudah lebih dulu duduk.


"Baik bu."Mischa menurut dan duduk di seberangnya.


"Kamu nggak masalah di sini, kan? Soalnya tempatnya agak fancy,"tanya Kasih.


Baru saja Mischa kepikiran tentang itu


"Nggak apa-apa kok, Bu. Ini juga sudah bagus."Mischa memang tidak mempermasalahkan, hanya agak heran saja.


"Di sini tempatnya memang biasa, tapi kopinya enak." Kasih memberitahu


"Coba deh kalau nggak percaya. Saya ke cafe ini dari hari pertama balik ke Manila. iseng aja sih awalnya, tapi ternyata kopinya memang enak. jadi ketagihan deh ke sini." jelas Kasih.


"Ya sudah Bu, Mischa juga pesan kopi yang kayak ibu pesan."


"Okey."


Kasih memanggil seorang pramusaji dan memesan dua cangkir kopi susu.


"Kamu nggak pesan kopi yang lain, biasanya kan, anak-anak muda suka pesan coffee latte


Mischa menggeleng. "Nggak bu, Mischa nggak suka ngikutin tren." jawab Miska yang manis walaupun sedikit.


Kasih tersenyum. Mereka pun mulai mengobrolkan banyak hal. Bahkan sebelum kopi disajikan


"Tadi ibu bilang ngopi di sini pas pertama kali balik ke Manila, sebelumnya Ibu di mana?"


"Banyak." jawab kasih. Saya sudah pernah di beberapa negara. Awalnya di Malaysia, kemudian Australia, terus pernah di Kanada dan juga di Swiss terakhir sebelum ke sini aku bekerja di California.


Mischa terperangah. "Keren banget Bu."

__ADS_1


Kasih tertawa pelan mendapati pujian itu. "Ya begitulah."


"Terus ibu Kenapa balik ke sini? maksudnya kan biasanya orang kalau udah betah kerja di luar negeri, nggak mau lagi balik ke sini."


"Kontrak saya di sana sudah expired terus saya ditawari sama Bima digital, Ya udah daripada cari-cari tempat lain, mending terima saja."


Mischa manggut-manggut paham, merasa takjub dengan segudang pengalaman kerja milik wanita di depannya.


Tak terasa hari sudah malam. Gavin pun sudah tiba di depan cafe untuk menjemput Mischa.


"Bu, suami Mischa sudah datang jemput, mischa balik duluan ya." pamit Mischa


Jantung Kasih berdegup cepat saat mengetahui putranya berada tak jauh darinya


"Okey hati-hati di jalan ya, Lain kali kita ngopi bareng lagi."


Mischa keluar dari Cafe dan menghampiri mobil Gavin. Kasih mengintip dan sempat melihat wajah putranya yang sedang tersenyum pada Mischa, ketika pintu mobil dibuka.


Kasih ikut tersenyum. "Begini saja sudah cukup baginya, tak perlu saling berpelukan atau mengobrol hangat. Melihat dari jauh saja sudah mampu memekarkan bunga-bunga dalam hatinya.


Kasih keluar dari kafe setelah mobil Gavin melaju. Dia melihatnya sampai kejauhan sampai mobil itu berbelok di depan sana.


"Carlos sedang menyetir, saat tanpa sengaja melirik ke sebelah kanan


"Kasih." gumamnya


Carlos melihat dari kaca spion. Tetapi wanita yang dia sangka sebagai Kasih itu telah memalingkan wajah. Tak sabar dia menginjak gas dan melaju lebih cepat untuk berputar arah di depan.


Begitu tiba di tempat yang dia kira melihat Kasih, Carlos terus dan mencari kesana kemari.


"Tak ada."


Pria itu mendesah Frustasi, apa dia salah lihat? Namun, Kenapa wanita itu mirip sekali dengan kasih


Carlos tidak tahu bahwa kasih telah menaiki mobilnya dan meninggalkan tempat itu.


Bersambung.....


hai hai redears dukung terus karya author agar outhor lebih semangat untuk berkarya trimakasih 🙏💓🙏


JANGAN LUPA TEKAN, FAVORIT, LIKE, COMMENT, VOTE, DAN HADIAHNYA YA TRIMAKASIH 🙏💓


JANGAN LUPA MAMPIR KE KARYA EMAK YANG LAIN

__ADS_1


__ADS_2