
"Bu Kasih pernah nikah? tanya Gavin
"Iya Kuya, tapi katanya dulu, udah lama banget." jawab Mischa.
"Terus bagaimana? dia cerai hidup atau mati?" tanya Gavin lagi.
"Nah, Bu kasih,nggak cerita sampai sana Kuya. Dia cuman janji bakalan cerita tentang pernikahannya. Tapi nggak tahu deh kapan."
Jika sudah begini, Gavin semakin was-was. kalau ayahnya akan mendekati Kasih, atau sebaliknya. Sebab tidak jelas, Apa status yang disandang oleh wanita itu.
"Masih bersuami, atau sudah janda.
Sementara itu Nyonya Aurora sedang memandangi mobil, Mobil yang melaju. Dari jendela sebuah restoran, saat Larisa datang dengan kesal. Wanita itu memaksa untuk bertemu. Padahal hari ini Aurora sedang ingin menikmati kesendiriannya.
"Ada apa?" tanya Nyonya Aurora tanpa basa-basi.
"Menantu Tante tadi tampar aku!" seru Larissa sebel dia juga menunjukkan bekas tamparan pada pipi kirinya.
"Loh kenapa kalian? ngeributin apa? ngeributin Ga?" tanya Nyonya Aurora kaget.
"Bukan Tante, aku ketemu sama menantu tante dan simpanan papanya Riska. Kita adu mulut, terus Mischa menampar Larissa tante." jelas laris dengan menggebu-gebu.
Larissa pikir Nyonya Aurora akan marah besar, saat mendengarnya. Akan tetapi wanita itu justru diam saja.
"Sudahlah Larissa, lain kali jangan ribut-ribut begitu ya. Kamu itu perempuan elegan, gimana kalau ada orang lain yang lihat kamu begitu?
Larissa melongok. "Kenapa malah jadi dia yang dinasehati oleh Nyonya Aurora? dia kan maunya Nyonya Aurora memarahi menantu kurang ajar itu.
"Tante kok gitu, responnya?
Bukannya dekat Larissa, malas semakin kesal.
Nyonya Aurora tak menjawab. Dia benar-benar ingin melepaskan penat, bukannya malas disuguhi cerita drama Korea di sore hari ini.
"Maaf ya Larisa, gimana kalau kita refreshing aja sambil belanja? atau apa gitu." ajak Nyonya Aurora.
Larissa mendengus pelan. Tetapi tetap menyetujui ide tersebut.
"Oke deh, Tan ayolah."
Nyonya Aurora sudah berpikir. Apa yang harus dia lakukan agar semua tetap pada tempatnya? Kasih Boleh kembali, tetapi baik Tuan Carlos Antonio maupun Gavin tidak boleh pergi dari sisinya.
Akan tetapi rasanya cukup sulit mempertahankan Tuan Carlos Antonio perasaan memang tak bisa dibohongi. Tuan Carlos Antonio tak pernah mencintainya hanya berutang Budi saja.
Berbeda dengan Kasih. Tuan Carlos Antonio masih punya cinta untuk wanita itu. Seandainya saja dulu Saat kuliah, dia tidak berulah pasti kasih tidak akan pernah ada dalam hidup Tuhan Carlos Antonio. Jujur Nyonya Aurora masih menyalahkan dirinya sendiri karena hal itu.
Dua bulan, sudah berlalu seperti pekan pekan sebelumnya saja. Nyonya Aurora terus berusaha mendekat pada Tuan Carlos Antonio. Tetapi pria itu merespon biasa saja. Terkadang Nyonya Aurora tak sengaja melihat Tuan Carlos Antonio tersenyum-senyum saat memainkan ponsel.Benar-benar tidak seperti diri Tuan Carlos Antonio yang biasa.
Akan tetapi sejauh ini tampaknya mereka hanya berkomunikasi saja. tidaklah ada hal lain seperti bertemu atau makan bersama.
Nyonya Aurora semakin yakin soal itu. Karena sudah tak pernah ada lagi yang mengirimkan foto Tuan Carlos Antonio berdua dengan Kasih.
__ADS_1
Gavin dan Mischa pun sedang berbahagia dengan penantian anak pertama mereka. hasil USG dokter mengatakan bahwa janin tumbuh dengan sehat, jenis kelaminnya belum terlihat. Tetapi bayi sudah mau menunjukkan rupanya.
"Mirip kuya deh, kayaknya." ucap Mischa
"Bukannya mirip kamu, ya?" tanya Gavin.
Mischa tertawa.
ponsel Mischa berdering seseorang memanggil.
"Aku angkat teleponnya dulu Kuya." izin Mischa
"Okey sayang"
Mischa pun menuju balkon dan duduk di sana.
"Halo Ris,apa kabar?
"Baik Mischa. Baik banget malah, enak banget kerja di sini. gajinya juga lumayan ." awab Riska di seberang.
"Syukurlah kalau begitu,
keduanya kemudian berbincang banyak hal termasuk mengenai pekerjaan yang sekarang ditekuni oleh Riska.
"Oh ya Mischa kemarin aku ketemu sama si Riska itu."
"Oh ya? terus gimana?" tanya Mischa khawatir.
"Diam-diam aja, cuman melirik bentar, abis itu buang muka. Kayaknya dia benar takut sama kamu deh Mischa, gara-gara kejadian waktu itu. Kayaknya mereka nggak nyangka kalau kamu seberani itu."
"Begitu Riska mengakhiri panggilan telepon, pesan dari Kasih masuk dan mengajaknya untuk bertemu.
"Bu Kasih: Ibu mau tukar pikiran sama kamu boleh?
Bukannya tidak mau. Namun, apa mischa pantas memberikan pendapat untuk wanita yang penuh wawasan seperti Kasih? akan tetapi bisa jadi Kasih tidak punya teman untuk berbagi cerita sehingga mengajak Mischa untuk bertemu.
"Mischa: ketemu di mana Bu?"
"Bu Kasih : di apartemen ibu."
Kasih selalu tertutup tentang kehidupan pribadinya. Namun, tiba-tiba dia minta mischa untuk datang ke apartemennya.
Mischa hanyalah manusia biasa yang punya rasa penasaran. Jujur dia memang selalu ingin tahu tentang Kasih. Akan tetapi wanita itu selalu menutup rapat diri jika mereka sudah terlalu dekat.
Mereka bahkan sudah sebulan tidak bertemu. masih selalu beralasan sibuk, tetapi Mischa malah merasa wanita itu menarik ulur hubungan mereka.
Apa sebenarnya yang membuat Kasih seperti itu?
Itu sebabnya Mischa tak membuang waktu untuk mengiyakan ajakan tersebut. Dia malah dengan senang hati menerimanya. Dia bahkan rela pergi diantar oleh sopir karena Gavin sedang sibuk
"Halo, ayo masuk." sapa Kasih begitu membuka pintu
__ADS_1
"Terima kasih Bu."
Mischa langsung terpukau saat masuk ke dalam, hanya ada dua warna krem dan putih bahkan peralatan makan dan memasak juga berwarna krem atau putih.
"Ibu dekor sendiri?" tanya Mischa masih melihat ke sana sini.
Kasih tertawa pelan. "iya bagus kan?"
"Bagus banget Bu." Mischa Bahkan tak menutupi kekagumannya. Dia kemudian menghirup sesuatu. "ibu masak apa?wangi banget."
"Ayo duduk dulu, sebentar Ibu sajikan.
Mischa menurut lalu duduk di salah satu kursi makan. Tak lama kemudian sepiring pasta telah tersaji di hadapannya.
"Ibu nggak tahu kamu udah makan apa belum, Tapi harus cobain ini ya. Ibu bikin sendiri resepnya."
"Oh ya?" Mischa senang. Dia pun segera mencoba pasta rasanya Memang luar biasa itu.
"Enak kan?"
Mischa mengangguk senang.
"Enak banget Bu."
Kasih tertawa melihat Mischa yang apa adanya seandainya saja. Dia bisa menikmati pemandangan anak dan menantunya, menikmati masakan buatannya seperti ini.
"Ibu kok udah lama banget nggak ada kabar ya? Mischa kangen loh.
Kasih juga merasakan hal yang sama, terlebih pada Gavin. Dia sangat merindukan putranya, sejak acara beberapa bulan lalu, dia tak pernah lagi bisa berbincang panjang lebar dengan anaknya itu. Tidak pernah lagi ada momen yang tepat.
"Iya, Ibu beneran sibuk belakangan ini.
terkesan kayak alasan ya, tapi memang begitu." awab kasih.
Mischa mengangguk paham.
"Kok tumben Ibu nyuruh Mischa ke sini? biasanya kan kita selalu ketemu di luar?" tanya Mischa.
"Ibu kan udah janji mau cerita sama kamu."
Mischa terdiam. Sekian lama dia menunggu Akhirnya hari ini tiba juga.
"Tapi kamu selesaikan dulu makanya ya, Ibu mau ambil sesuatu."
Mischa pun kembali menikmati makanannya dengan lahap. Kasih kembali dengan membawa selembar foto di tangan
"Ini foto ibu waktu nikah dulu."
Bersambung.....
hai hai redears dukung terus karya author agar outhor lebih semangat untuk berkarya trimakasih 🙏💓🙏
__ADS_1
JANGAN LUPA TEKAN, FAVORIT, LIKE, COMMENT, VOTE, DAN HADIAHNYA YA TRIMAKASIH 🙏💓
JANGAN LUPA MAMPIR KE KARYA EMAK YANG LAIN