
Kebetulan sekali jadwal bermain golf dilakukan di hari libur. Itu sebabnya, Gavin ikut menemani Mischa dan menjadi satu-satunya, pria di antara para wanita di perkumpulan.
"loh, ikut nganterin istrinya nih?"
"Dia nggak bisa main golf tante. Jadinya biar Gavin yang ngajarin,"jawab Gavin
Tidak seperti kemarin, tampaknya para wanita itu tidak berani mengejek Mischa saat Gavin ada. Padahal Mischa tahu mereka meremehkannya yang tak bisa melakukan olahraga itu.
Setelah beberapa orang memukul bola, giliran Mischa yang melakukannya. Gavin ikut ke lapangan untuk membantu Mischa.
"Kamu berdiri yang tegak, kakinya direnggangkan sedikit pegang tongkatnya, pakai dua tangan, rileks aja. Jangan kaku."
Mischa menuruti kata-kata Gavin. Setelah itu Gavin berdiri di belakang istrinya, dan ikut meletakkan kedua Tangannya di atas tangan.
"Aduh romantisnya, jadi ingat waktu pertama nikah dulu." respon seseorang
"Okey, ikuti arah gerakan tangan kuya, ya. fokus ke bola. Jangan sampai meleset.
Mischa melayangkan tongkat, sesuai gerakan Gavin dan bola pun melambung jauh setelah mengenai pukulan tongkat.
Para wanita di perkumpulan bertepuk tangan.
Nyonya Aurora dan Larissa saling bertukar pandang. Niat untuk mempermalukan Mischa jadi kacau karena kehadiran Gavin.
Masih Ada kesempatan lain Larissa, kamu tenang saja. Nggak akan tante biarkan dia hidup dengan tenang jadi istri Gavin.
****
Oh Mischa ini lulusan RTU ( Rizal Technological University) "dari program beasiswa ya?"
Mischa mengangguk. " Benar tante."
"Mischa juga lolos seleksi untuk lanjut S2 ke California." lanjut Gavin yang sejak tadi terus membanggakan sang istri di depan anggota perkumpulan ibunya.
Mereka sedang makan siang bersama setelah selesai bermain golf. Para wanita di sana pun tampak terkejut dengan fakta yang dipaparkan oleh Gavin.
"Berarti kamu lulusan dari California juga?" Tanya seseorang ingin tahu.
Kali ini Mischa menggeleng Seraya tersenyum. "Mischa lebih memilih bekerja Tante, Mungkin lain kali."
"Wah keren banget ya, nggak kayak anakku ini kerjanya main mulu. Kuliah S1 aja kalau nggak disogok dosen-dosennya, nggak bakalan lulus."
"Ih Mama, apaan sih bikin malu aja."
Ibu dan anak itu pun sempat berdebat sesaat. Namun, obrolan kembali pada Mischa yang tiba-tiba mencuri perhatian di perkumpulan.
"Apa sih rahasianya bisa sepintar itu?
ya apalagi, Kamu kan dulunya susah. Nggak sering makan makanan bergizi, tapi bisa pintar gitu, ya.
"Iya, jeng. Anak kita nggak kurang nutrisi apa dari lahir. Tapi nggak bisa juga kayak si Mischa ini."
__ADS_1
Larissa mendengus. Nyonya Aurora pun sejak tadi sudah kehilangan selera untuk makan. keadaan berbalik 180 derajat. Kini orang-orang di perkumpulan malah mengagumi sosok Mischa.
"Kamu bisa nggak jadi guru privat anak saya? sekarang Dia kelas 2 SMP, anaknya nggak bandel. Cuman nggak pintar belajar aja." pinta seseorang.
"Ide bagus tuh, mengajar anak saya sekalian bisa nggak?"
Keadaan tiba-tiba saja menjadi riuh, karena para ibu-ibu meminta Mischa untuk menjadi guru belajar untuk anak-anak mereka.
"Sekarang kayaknya belum bisa." ucap Gavin berhasil mendiamkan semua orang.
"Mischa lagi hamil muda, kalau bisa jangan terlalu banyak aktivitas dulu."
"Oh lagi hamil muda, kok nggak bilang? selamat ya."
Ini para anggota perkumpulan bergantian memberikan ucapan selamat kepada Gavin dan Mischa.
"Terima kasih tante, Ate, teman-teman ." ucap Mischa senang.
"Kalau setelah lahiran nanti boleh kan, Gavin?"
Gavin mengangguk. "Kalau memang Mischa udah pulih, dan dia bersedia, boleh aja kok Tante. Kalau ngajarnya kan waktunya lebih fleksibel dari kerja kantoran."
"Tapi Mischa belum punya pengalaman mengajar." ucap Mischa. Kalau pintar kayak kamu gini mah, sekali yang mengajar pasti langsung bisa. Jangan merendah gitu dong, cantik."
Larissa memutar bola mata. Perkumpulan jadi tidak asik, sejak Mischa bergabung. awalnya dia kira akan bersenang-senang Saat semua orang di perkumpulan menyepelekan Mischa. Namun, yang terjadi malah justru sebaliknya.
"Kami akui, memang kami kaya. Tapi anak Kami jarang ada yang berprestasi. Kayaknya cuman Gavin dan beberapa aja yang punya trak record bagus. Makanya saya pengen anak saya yang masih kecil, nggak ikutan jejak kakak-kakaknya yang suka hura hura
"Iya ya, Jeng. Harus ditanami sejak dini kalau belajar dan berprestasi itu penting."
"Makanya itu, Mischa bisa jadi contoh yang baik buat mereka. Bukannya tante mau jelek-jelekin kamu ya sayang, tapi biar jadi motivasi buat anak-anak Tante. Kalau anak orang susah pun bisa sukses, bukan cuman anak orang kaya saja."
Mischa hanya manggut-manggut saja, tidak banyak berkomentar. Dia baru bersuara saat para ibu-ibu menanyakan motivasi apa yang bisa dia berikan untuk anak-anak mereka semua. Orang pun mendengarkan dengan tekun, tidak seperti Nyonya Aurora dan Larissa yang bersikap acuh.
"Jeng Aurora, ternyata punya menantu hebat ya." Puji seseorang
"Hah! Nyonya Aurora tersentak saat namanya disebut.
" Oh ha....ha...ha, iya jeng."
Nyonya Aurora melirik pada Mischa dengan malas. Mischa benar-benar berada di atas awan. Semua orang yang biasa memuji-muji Larissa, kali ini justru mengeluk-elukan Mischa. Mischa benar-benar berterima kasih atas kehadiran Gavin. Kalau saja bukan Gavin yang membahas lebih dulu, pastilah anggota perkumpulan masih memandang rendah pada dirinya. Suaminya adalah penyelamat baginya.
"Kuya, tadi sengaja ya bahas prestasi Aku di depan mereka?" tanya Mischa saat dalam perjalanan pulang.
"Kuya dikabari sama salah satu anggota perkumpulan, kalau di pertemuan sebelumnya kamu disindir-sindir." jawab Gavin.
"Loh Kuya punya teman ya di sana?
"Ada teman kuliah Kuya dulu, nggak dekat banget sebenarnya. Cuman kemarin dia hubungan Kuya, dan adu soal itu. Makanya Kuya ikut hari ini, buat temani kamu. Nah, setelah ini, mereka pasti nggak akan berani gituin kamu lagi."
Mischa tersenyum lalu memeluk lengan suaminya.
__ADS_1
"Kuya adalah suami terbaik, nggak terhitung udah berapa kali kuya belain aku kayak gini."
"Kan, memang itu tugas seorang suami. Mana mungkin Kuya diam aja, lihat kamu dihina sama orang."
Mischa merasa begitu senang, sangking senangnya dia sampai menceritakan hal tersebut pada Kasih melalui telepon.
"Oh ya, Kasih tertawa di seberang. Itu makanya Ibu malas ikut, berkumpul-perkumpulan kayak gitu. Isinya cuman ibu-ibu tukang pamer, bukannya bahas hal yang lebih penting dan berguna.
"Iya kan bu, tapi Mischa meski ikut buat bangun relasi. Mischa kan sama sekali nggak punya teman dari kalangan atas."
"Ibu juga nggak punya kok. Tapi ya, Ibu kan single. Kalau istri dari bos besar kayak kamu, memang harus bergaul dengan orang-orang seperti itu."
"Beneran nggak masuk sama Mischa Bu, obrolannya nggak bisa ngomongin apa yang kita mau. Terus nggak bisa tertawa sembarangan, banyak aturan."
Mungkin karena kamu belum nemu teman ngobrol yang cocok dari mereka, yang seusia kamu. Coba dekatin yang seusia kamu dulu, kalau yang ibu-ibu udah jelas pasti beda bahasanya. Mereka itu lebih cocok ke mama mertua kamu." usul Kasih.
"Oh gitu ya, Bu?"
"Iya, terus Gavin bilang ada teman kuliahnya kan? nah, itu juga kamu dekatin. Kamu harus buat kubu di dalam perkumpulan itu, supaya kalau terjadi apa-apa ada yang belain kamu."
Mischa mengangguk-angguk. Dia benar-benar tidak paham tentang ini, sampai Kasih yang menjelaskannya.
"Iya Bu, Mischa paham. Ibu main-main dong ke rumah kuya Gavin. Mischa nggak boleh terlalu sering keluar nih, nggak dikasih izin sama Kuya Gavin." pinta Mischa.
Kasih terdiam. "Ke rumah Gavin artinya rumah Carlos Antonio, kan?
"Bu!" Panggil Mischa
"Eh kayaknya dalam waktu dekat ini belum bisa Mischa, Ibu lagi agak sibuk nih. Ini aja ibu untuk belanja, harus jam isteri makan siang."
"Kalau gitu nanti Mischa minta izin ke kuya Gavin untuk main ke kantor Ibu boleh?"
"Gimana Kalau ketemuan di restoran aja? sekalian makan siang bareng, Soalnya kadang Ibu emang cuman punya waktu di jam makan siang aja."
"Baik bu, gitu juga boleh. Mischa menyetujui dengan senang.
"Ya sudah ya Mischa, Ibu mau bayar di kasir dulu."
"Iya Bu, sampai jumpa."
Kasih menutup telepon sambil tersenyum. Dia kemudian berjalan menuju kasir dan berniat untuk membayar. Namun, ternyata dia lupa membawa dompet.
Pakai QR aja deh, kalau gitu.
Baru saja dia ingin bertanya, ketika itu sebuah kartu kredit berwarna hitam telah diterima oleh kasir. Kasih menoleh ke samping dan terkejut saat melihat pemiliknya.
Bersambung.....
hai hai redears dukung terus karya author agar outhor lebih semangat untuk berkarya trimakasih 🙏💓🙏
JANGAN LUPA TEKAN, FAVORIT, LIKE, COMMENT, VOTE, DAN HADIAHNYA YA TRIMAKASIH 🙏💓
__ADS_1
JANGAN LUPA MAMPIR KE KARYA EMAK YANG LAIN