
Ini adalah pertama kalinya Tuan Carlos Antonio menyerahkan pekerjaan bulat-bulat kepada bawahannya.
"Ini beneran Tuan Carlos Antonio? nggak salah nih? apa beliau mau ngetes kita ya?"
"Beliau lagi ada urusan mendadak kayaknya."
"Ah kemarin waktu menantunya masuk rumah sakit saja, semua pekerjaan nggak dikasih sepenuhnya ke kita."
Sebenarnya para bawahan Tuan Carlos Antonio merasa senang diberikan kepercayaan sebesar ini. Akan tetapi di sisi lain Mereka takut kalau Tuan Carlos Antonio sedang menguji kemampuan mereka. Itu artinya mereka harus melakukan yang terbaik hari ini.
Tuan Carlos Antonio berjalan mondar-mandir di ruangannya.
"Aku datang pakai baju apa ya? apa pulang dulu ganti baju?ah nggak bisa. Nanti ditanyain Aurora dan akhirnya malah nggak jadi pergi. Tapi kalau pakai setelan ini kayaknya terlalu resmi, atau beli baju aja ya? nanti juga kelamaan.
Tuan Carlos Antonio bermonolog hanya untuk meributkan pakaian apa yang harus dikenakan untuk ke apartemen kasih.
Pintu di ketuk. Dan sekretaris Tuan Carlos Antonio muncul.
"Setelah tanda tangan ini semua selesai, kan? saya bisa langsung pergi." tanya Tuan Carlos Antonia menandatangani dokumen dengan terburu-buru.
"Benar Pak. Berarti Bapak tidak balik lagi ke kantor sore, kan?" tanya sekretaris Tuan Carlos Antonio.
"Iya, kamu pantau saja pekerjaan anak-anak. Kalau tidak ada masalah, berarti jangan hubungi saya, ya."
"Baik Pak."
Sekretaris Tuan Carlos Antonio pun ikut bingung. Tak biasanya pria itu menolak untuk dihubungi. Kalau biasanya setiap satu jam sekali dia harus melaporkan semua yang terjadi di kantor pada pimpinannya itu.
Tuan Carlos Antonio tiba di apartemen milik Kasih. Tepat sebelum jam makan siang, pria itu tampak gugup meskipun sudah beberapa kali bertemu dengan Kasih.
"Oh, aku kira Kuya datang sore." ucap kasih saat membuka pintu dan menemukan Tuan Carlos Antonio sebagai tamunya.
"Kan kuya kira ada hal urgent, makanya Kuya buru-buru ke sini." jawab Tuan Carlos Antonio.
Kasih tersenyum. " Ayo masuk Kuya."
Tuan Carlos Antonio memasuki apartemen dengan jantung yang berdetak tak karuan. Apartemen Itu tampak bersih, wangi dan tertata rapi. Kasih memang suka bersih-bersih sejak dulu.
"Pas banget Kuya datangnya jam segini. Aku baru selesai masak. Sini Kuya ke dapur."
Tuan Carlos Antonio menurut. Kasih tidak punya ruang makan khusus. Dapur dan ruang makan menyatu hingga setiap selesai memasak dia bisa langsung menghidangkannya kemeja. Dengan cekatan wanita itu menyalin makanan dari wajan ke dalam piring, dan dalam satu langkah sudah berpindah ke meja makan.
"Sudah lama sekali Tuan Carlos Antonio tidak merasakan merasakan Kasih yang luar biasa. aromanya saja sudah begitu memikat. Apalagi rasanya.
"Kamu masih pintar masak kayak dulu." puji Tuan Carlos Antonio.
"Kok bisa langsung ngomong gitu, padahal kan belum ngerasain." tanya Kasih.
"Ini mau Kuya rasain."
__ADS_1
Hanya dengan makan saja, rasanya seperti kembali ke masa lalu. Kasih selalu memasak sendiri makanan yang akan dinikmati Tuan Carlos Antonio, bahkan saat hamil.
"Masih sama enaknya kayak dulu." ucap Tuan Carlos Antonio. Jika saja tidak menahan diri Mungkin dia sudah menangis sekarang.
Kasih tersenyum pahit.
Dua cangkir teh dan sebuah hidangan penutup menemani mereka di ruang tengah. kini Kasih meletakkan sebuah kotak di tengah meja membuat Tuan Carlos Antonio penasaran.
"Apa itu kasih?"
"Masa lalu kuya."
Tuan Carlos Antonio tak paham apa maksudnya. Dia hanya melihat saja saat Kasih membuka kotak itu dan mengeluarkan semua isinya.
"Ini surat-surat yang dikirimkan sama Aurora waktu aku terapi dulu." jelas Kasih
Tuan Carlos Antonio mendengarnya. "Aurora mengirim surat ke kamu?"
Kasih menggereyit heran. "Kuya nggak tahu? Aku kira Kuya yang nyuruh dia untuk mengirim surat ke aku."
Tuan Carlos Antonio menggeleng. "Nggak pernah. Waktu itu Dokter bilang kamu harus fokus untuk menjalani terapi. Jadi nggak boleh ada keluarga yang mengunjungi ataupun menghubungi kamu."
Kini Kasih yang terkejut. "Iya kuya, Aku juga kayaknya sempat dengar dokter ngomong gitu. Tapi karena Aurora ngirim surat makanya aku berharap juga Kuya bakalan datang.
Tuan Carlos Antonio mendelik pelan. "Waktu itu juga Kuya sibuk banget bangun perusahaan. Kuya buru supaya waktu kamu pulih, Kuya bisa pergi jemput kamu."
"Astaga!" seru Kasih
"Isi suratnya apa?" tanya Tuan Carlos Antonio ingin tahu.
Kasih menyerahkan beberapa surat untuk Tuan Carlos Antonio baca dan juga foto-foto saat Gavin balita.
"Aurora cerita tentang Gavin ya?" ucap Tuan Carlos Antonio.
Memang sebenarnya tidak ada yang salah dengan surat dari Nyonya Aurora. Hanya saja dia sudah melanggar protokol yang ditetapkan oleh dokter demi kesembuhan Kasih.
"Semua surat dari Aurora isinya tentang Gavin." tanya Tuan Carlos Antonio.
Kasih menggeleng. "Ada dua surat yang isinya berbeda kuya."
Kasih pun mengambil salah satu surat yang berisikan foto Tuan Carlos Antonio dan nyonya Aurora yang sedang tidur berdampingan.
"loh kapan Aurora mau ngambil foto ini?"
"Masa Kuya nggak ingat waktu nidurin dia?" sindir Kasih.
"Sumpah! Kuya nggak pernah nyentuh dia selama kamu terapi, Kasih." ucap Tuan Carlos Antonio membelah diri.
"Tapi itu ada bukti fotonya Kuya."
__ADS_1
Tuan keras Antonio menghela nafas panjang.
"Waktu itu, Kuya pulang tengah malam dari tempat proyek. Walaupun kecapean, Kuya sempatin buat lihat Gavin seingat kuya, ini kuya ketiduran sangking capeknya. Sumpah! Kasih, percaya sama Kuya."
Kasih terkejut Bukan main. Ternyata ini semua hanya salah paham.
"Kuya baru benar-benar menganggap Aurora sebagai istri, setelah setahun kamu menghilang dan nggak ada kabar. Kamu harus percaya sama Kuya kasih Kuya nggak pernah nyentuh Aurora selama kamu sakit." lirih Tuan Carlos Antonio
Kasih terduduk. "Iya duduk di lantai, bodoh sekali. Kenapa dia bisa langsung percaya pada ucapan Aurora, dan bukannya meminta penjelasan dari Tuan Carlos Antonio lebih dahulu.
Pasti kamu kecewa banget waktu lihat foto ini kan? maafin Kuya Kasih. Kuya nggak bisa jaga perasaan kamu." ucap Tuan Carlos Antonio Seraya merengkuh kasih di dalam pelukan.
Kasih Pun menangis sekuat-kuatnya dalam pelukan Tuan Carlos Antonio.
Bodoh! bodoh! bodoh!
Harusnya dia bersabar sedikit lagi untuk bertemu Tuan Carlos Antonio dan menanyakan segalanya. Kenapa dia malah menelan mentah-mentah perkataan Aurora.
Kasih melepaskan semua rasa sakit hati dan kekecewaan, yang faktanya dibuat sendiri. Tuan Carlos Antonio tak pernah menyakitinya selama ini prasangkanya lah yang telah membunuh perasaannya secara perlahan.
"Jadi kamu kabur karena foto ini?" tanya Tuan Carlos Antonio setelah tangis Kasih mereda.
Wanita itu menggeleng. Dia pun mengambil surat terakhir yang dikirimkan oleh Aurora dan memberikannya pada Tuan Carlos Antonio.
"Aku yang salah kuya, aku yang memutuskan untuk pergi setelah baca isi surat ini. Kuya yang nggak salah Gavin apalagi. Justru aku yang bersalah udah ninggalin Kuya dan Gavin." lirih kasih.
Tuan Carlos Antonio kembali memeluk Kasih "Sudah nggak apa-apa Kasih. Kuya juga salah kita sama-sama salah. Tapi syukurnya Sekarang semua udah jelas udah nggak ada salah paham lagi.
Kasih mengangguk dalam pelukan Tuan Carlos Antonio. Saat pelukan merenggang keduanya tertawa seperti orang bodoh.
"Butuh waktu selama ini kuya, bodoh banget kita."
"Nggak apa-apa deh, kalau bodohnya barenan kamu, kuya ikhlas."
Keduanya kembali tertawa.
ponsel Tuan Carlos Antonio kemudian bergetar. Pria itu mengambil benda canggih tersebut menunjukkan pada Kasih.
Gavin nelepon.
"Halo Gavin."
Di seberang sana Gavin berbicara seraya menangis sesungguhkan. Membuat jantung Tuan Carlos Antonio berdegup tak karuan.
"Pak Miska pa..
Bersambung.....
hai hai redears dukung terus karya author agar outhor lebih semangat untuk berkarya trimakasih 🙏💓🙏
__ADS_1
JANGAN LUPA TEKAN, FAVORIT, LIKE, COMMENT, VOTE, DAN HADIAHNYA YA TRIMAKASIH 🙏💓
JANGAN LUPA MAMPIR KE KARYA EMAK YANG LAIN