
"Wah mau dong, Tante juga udah Berapa hari nih nggak ke salon.
"Ya sudah, sekarang saja yuk Tante." ajak Larissa
"Sekarang nggak bisa." ucap Nyonya Aurora sedikit kecewa.
"Kenapa nggak bisa Tan?" tanya Larissa bingung.
Nyonya Aurora kemudian berbisik di telinga Larissa. "Tante nyuruh kamu datang untuk jalan sama Gavin hari ini."
Senyum Sumringah terpatri jelas di wajah larissa. "Oh gitu, Aku kira ada apa Tante nyuruh aku ke sini."
Nyonya Aurora mengedipkan matanya. "Itu Gavin Lagi sarapan, Kamu sudah sarapan belum? Kalau udah temenin saja Gavin sarapan."
"Siap tante, gampang."
Kedua wanita berbeda generasi itu berjalan dengan riang menuju ruang makan. Gavin sudah menyelesaikan sarapan. Dia sedang meminum segelas besar air putih, hingga kandas.
"loh cepat banget kamu makannya Gavin? tanya Nyonya Aurora yang kali ini benar-benar kecewa.
"lapar banget ma, Hai Larissa." sapa Gavin pura-pura ramah.
Larissa tersenyum dan menjawab,
"Hai...!!
"Ya sudah, sekarang kamu ganti baju ya Gavin, terus ajak larissa jalan-jalan." perintah Nyonya Aurora.
"Oh jadi ini permintaan Mama? aku nggak bisa nolak nih."
"Okey Ma, sebentar ya Larissa."
Gavin meninggalkan kedua wanita berbeda generasi itu menuju kamar. Dalam hati dia menggerutu. Sepertinya sang Ibu benar-benar ingin memasukkan putranya ke dalam pelukan ular. Tetapi dia tak bisa berbuat apa-apa.
Meski membawa mobil sendiri, Larissa harus pergi bersama Gavin. Pria itu tidak punya pilihan lain, selain mengajak wanita itu semobil dengannya
"Kita mau kemana?" tanya Gavin
"Hemmm....Larissa tampak berpikir. Aku ikut saja deh ke mana kamu mau bawa aku.
Dasar wanita, tidak bilang terserah. Tetapi memakai kata-kata lain yang artinya kurang lebih sama. Jadi bingung mau ke mana.
Apalagi ini masih pukul 11.00 siang, dia juga baru sarapan. Tidak mungkin langsung mengajak Marissa makan siang kan?"
Akhirnya Gavin hanya melajukan mobil tanpa tahu arah.
"Kalau kamu pikir suatu tempat sambil jalan, bilang aja ya." kata Gavin
__ADS_1
Larissa tidak menjawab. Dia sibuk memainkan ponselnya, ternyata dia mengambil foto Gavin diam-diam, dan pria itu tidak menyadarinya. Saat ini dia sedang mengirimkan foto tersebut ke grup perkumpulannya.
Larissa tersenyum-senyum. Bahkan sesekali tertawa pelan saat memainkan ponsel di tangannya. Gavin menyetir dengan malas. Apa wanita di sebelahnya ini berpikir kalau Gavin adalah supirnya?" bikin kesel saja.
Gavin kemudian ingat membeli pakaian ganti. Siapa tahu besok Gadis itu sudah diperbolehkan pulang oleh dokter. Dia pun melajukan mobil ke mall terdekat. Larissa yang sejak tadi sibuk dengan ponselnya, sampai tak menyadari kalau mereka sudah memasuki area parkir. Dan mesin mobil telah dipadamkan. Gavin keluar tanpa mengajaknya membuat Larissa gelagapan mengikuti Gavin
Gavin hanya memperlambat langkah, tidak benar-benar berhenti. Keduanya kini berjalan bersisian.
Kenapa kita ke sini? tanya Larissa
"Aku ada urusan bentar." jawab Gavin sekedarnya.
Keduanya memasuki mall, yang belum terlalu ramai. Saat melihat kesana kemari mencari toko pakaian wanita yang bagus. Setelah menemukannya dia masuk ke sana begitu saja. Tampa mengajak Larissa. Wanita itu pun menghela nafas, lalu mengikuti langkah Gavin.
Di dalam terlihat Gavin sudah memilih milih pakaian. Larissa terdiam. "Apa Gavin membelikannya pakaian? namun untuk apa, dia kan punya butik sendiri. lagi pula harga-harga baju di toko ini, terlalu murah tidak sesuai seleranya.
Larissa mengirimkan pesan Whatsapp ke grup perkumpulannya. Membuat pesan Whatsapp dari grup itu langsung rame, banyak yang memberikan komentar untuk larissa.
Setelah berbalas pesan di grup WhatsApp perkumpulannya, Larissa pun menyimpan ponsel di tas dan akan mengecek grup lagi. Saat ingin menyampaikan sesuatu kepada teman-temannya.
Di sini nggak ada kita cari di toko lain aja Gavin.
"Wajah Larissa kembali sumringah Dia pun memberitahukan tentang hal itu pada teman-temannya.
Saat mendapat saran dari para teman-temannya di grup whatsapp-nya, Larissa pun kembali menuruti saran teman-temannya. Dia mengejar Gavin dan menarik dengan pria itu membuat langkahnya terhenti.
"Kenapa? tanya Gavin heran
"Oh, okey. di mana?"
Larissa pun menarik dengan Gavin agar mengikutinya. Sejenak kemudian dengan sopan Gavin mencoba melepaskan tangannya dari genggaman Larissa. Wanita itu tidak bertahan, ingat akan nasehat temannya.
"Di situ bajunya bagus-bagus." ucap Larissa Serayu menunjukkan ke sebuah toko di depan mereka.
Keduanya pun memasuki tokoh tersebut. Dan Gavin segera berkeliling. Hal pertama yang cek adalah harga pakaian tersebut. Pantas saja Larissa bilang bagus. Hanya saja Mischa sudah berpesan tidak ingin dibelikan pakaian yang mahal." jadi bingung.
"Ini bagus loh. ucap Larissa menganjurkan sebuah pakaian pada Gavin.
Dahi pria itu berkerut, imajinasinya segera bermain saat membayangkan memakai gaun di atas lutut, dengan punggung terbuka Seperti itu. Gavin menggeleng kuat. Mana mungkin Dia memakainya, dan Gavin tolong kendalikan pikiranmu.
Gavin berdehem. Jangan yang seksi begini."
"Oh sebentar."
Padahal baju itu sangat sesuai dengan selera Larissa. Akan tetapi Mungkin ia pun ingin melihatnya dengan pakaian yang sedikit tertutup. Dia pun memberikan beberapa potong baju dan kembali menunjukkannya pada Gavin.
Gavin memilih tiga diantaranya, lalu berjalan ke kasur dan membayarnya. Setelah itulah Larissa menjulurkan tangan meminta bungkusan tersebut dari Gavin.
__ADS_1
"Kenapa? tanya Gavin heran
"Itu buat aku kan? jadi biar aku yang bawa." jawab Larissa.
Gavin menggeleng. Kini larissa lah yang terheran-heran.
Baju-baju ini bukan buat kamu. Tapi buat Mischa.
"Mischa?
" Siapa itu? jadi aku dari tadi sibuk beliin baju buat cewek lain? tanya Larissa tak terima.
"Iya benar." jawab Gavin santai. Dia kemudian berjalan keluar dari toko.
Larissa mengikuti langkah Gavin dengan cepat. Kita ini lagi jalan berdua, tapi kamu malah mikirin cewek lain.
"Kan tadi udah aku tanya sama kamu mau ke mana. Tapi kamu jawab mau ikut ke mana saja aku pergi. Ya sudah, aku emang mau beliin baju buat Mischa." jelas Gavin.
Larissa mencoba menahan amarah. Aku harus rileks, harus rileks.
"Berarti sekarang aku sudah bisa nyaranin mau pergi ke mana?
Gavin mengedipkan bahu, terserah saja.
"Aku mau kamu nemenin aku nongkrong sama teman-teman aku."
Gavin berpikir sejenak. lebih baik iya kan saja, supaya cepat selesai. Dan dia bisa kembali ke rumah sakit.
"Ya sudah." jawab Gavin
"Okey aku kabari teman-teman aku dulu."
Larissa dengan cepat mengirimkan pesan ke grup perkumpulan. Dan mengajak semua teman-temannya untuk berkumpul di butik. sekalian dia ingin mempromosikan Cafe dan salon yang baru buka di lantai dua dan tiga butik itu.
"Okey, sekarang kita ke butik aku." ajak Larissa
Gavin mengangguk.
"Okey."
teman-teman Larissa pun segera meluncur. tak ingin kehilangan kesempatan, bertemu dengan Gavin yang terkenal dan diidamkan banyak wanita.
Bersambung.....
hai hai redears dukung terus karya author agar outhor lebih semangat untuk berkarya trimakasih 🙏💓🙏
JANGAN LUPA TEKAN, FAVORIT, LIKE, COMMENT, VOTE, DAN HADIAHNYA YA TRIMAKASIH 🙏💓
__ADS_1