Antara Kutub Utara Dan Selatan (You & Me)

Antara Kutub Utara Dan Selatan (You & Me)
BAB 11. TRAKTIR _YOU & ME


__ADS_3

Gavin mengerutkan kening saat melihat Mischa terus memeluk sebuah map di depan dadanya. Untuk apa dia membawa map seperti ini?


"Itu map apa? perasaan saya tidak ada minta laporan. Lagian di kantor ini semua laporan dikirimkan via email tidak pakai berkas."


Bukannya menjawab. Mischa malah makin mengeratkan pelukan pada map malam tersebut. Bentuknya sudah mulai berkerut di sana-sini.


Gavin hanya bisa menghela nafas berat. bukan hanya gula darah. Kolesterol, asam urat, asam lambung, dan tekanan darah pun bisa naik kalau terus berbicara dengan sekretaris cangkokan ini.


"Saya baru saja mentransfer uang ke rekening kamu untuk keperluan besok."


"Baik, bos!"


"Ya sudah, silakan pulang."


Mischa mengangguk dan bergerak cepat keluar. Entah kenapa dia jadi takut sekali berdua saja di ruangan Bos. Apalagi karyawan lain sudah banyak yang pulang lebih dulu.


"Sudah selesai Mischa? tanya Irma yang ternyata masih berada di kantor.


"Sudah ate, ini aku mau pulang."


"Cari makan yuk! aku traktir, aku tahu kau belum gajian jadi kali ini aku yang mentraktir kamu sekalian ngobrol-ngobrol dikit supaya kita lebih dekat."ajak Irma.


"Oh boleh Ate, ayo!"


kedua karyawati itupun berjalan bersama keluar dari kantor dan mencari restoran yang cukup terjangkau. Irma memesan beberapa makanan untuk mereka makan berdua dan juga memesan satu bungkus untuk dibawa pulang oleh Mischa.


"Banyak banget, Ate. makan di sini aja sudah cukup loh."Mischa merasa tidak enak.


"Ngak apa-apa, mana tahu kau merasa lapar tengah malam. di dekat kos kamu ada warkop yang buka sampai pagi. Ada juga penjual ayam Adobo. Tapi, kamu pasti masih mirip karena belum menerima gaji pertama, kan?"tebak Irma.


Mischa tersenyum hangat. "Terima kasih banyak Ate sudah perhatian sama aku. awalnya aku takut pas berangkat ke Manila karena nggak punya siapa-siapa di sini."


Irma membalas dengan senyuman. "sudah, kamu tenang saja. Kamu boleh kepadaku Jika kamu membutuhkan apa-apa. Anggap saja aku di sini sebagai kakakmu."ucap Irma kepada Mischa yang masih diam menatap Irma.

__ADS_1


"Tapi, gaji Ate, nggak habis kalau traktirin kayak gini?"


"Aku ini anak paling kecil di keluarga. jadi papa sama kakak kakak aku sudah ngasih duit buat aku. ngak usah khawatir aku bekerja di sini untuk menghabiskan waktuku sembari menghasilkan uang sendiri."ucap Irma.


"Wah, enak ya Ate, punya saudara. amAku hanya anak tunggal tidak ada kakak dan adikku.


"Oh ya? seperti si Bos dong. bos kita juga anak tunggal. bayangin sebanyak apa duitnya jadi pewaris tunggal usaha orang tuanya."


"iya ya , Ate. sama-sama anak tunggal, tapi berbeda nasib.


Irma dan Mischa terkekeh. Irma benar-benar tidak menyangka bahwa gadis polos seperti Mischa juga bisa melontarkan candaan. mungkin dengan sering ngobrol berdua seperti ini, dia bisa semakin mengenal karyawan baru itu.


"Oh ya Mischa. jangan dimasukin ke hati ucapan Andika tadi ya. Dia cuman bercanda. Bos emang orangnya super nyebelin, sering sekali membuat kita kesal karena mendapat hinaan darinya. Jarang sekali Bos memuji cara kerja kita. Paling Jika ia merasa puas dengan hasil kinerja kita, Ia hanya diam saja tidak mengomel.


Belum pernah ada kasus karyawati yang dilecehkan baik secara fisik maupun verbal kok,


penjelasan Irma bagaikan angin segar untuk Mischa. lagi pula konyol sekali Jika dia sampai berpikir akan diapa-apakan oleh sang Bos. mana mungkin bos berselera melihat gadis kampung seperti dirinya.


Irma kemudian mengecek ponsel terasa getaran di atas meja. Dia menunjukkan sebuah foto yang dikirimkan oleh Mateo kepada Irma.


Mischa melihat foto bosnya yang tampak sedang bersiap-siap untuk bermain basket. Dia kemudian melihat nama pengirim foto.


"Ate dekat sama Kuya Matteo ya?"


"Dekat sebagai teman aja. dia dulu Kakak senior aku waktu SMA. Terus, kita juga aktif di ekstrakurikuler di sekolah. Sehingga kami kenal baik.


Tetapi saat kami kuliah, kami berbeda jurusan. Di samping berbeda jurusan, kami juga berbeda kampus. Matteo satu kampus sama si Bos.


"Oh, pantas saja Kuya Matteo kadang ngomong santai dengan si Bos. Ternyata si Bos sahabatnya ya?"


"Iya, di gengnya si Bos, hanya Matteo yang orang biasa. yang lainnya anak orang kaya semua. Tapi, Kamu lihat sendiri kan? Matteo itu penampilannya oke banget tidak terlihat ekonomi menengah justru ia terlihat berpenampilan seperti orang kaya. Jadi bagi yang nggak tahu pasti Mira Dia itu orang kaya. makanya masuk-masuk aja sama gengnya si Bos.


Mischa menganggukkan kepalanya. sepertinya hal yang diceritakan oleh Irma ini sangat jauh dari jangkauannya. Bukan lagi jauh, tetapi juga tampak mustahil. Dia penasaran, wanita seperti apa yang menjadi pasangan dari bosnya. sudah pasti cantik dan berkelas pula..

__ADS_1


Namun Mischa tidak tahu saja, bahwa yang sekelas Larissa sekalipun, cukup kesulitan untuk menaklukkan hati seorang Gavin.


"Woi, lihat siapa yang datang."


para pria dengan setelan bermain basket mengalihkan pandangan kepada seorang wanita yang baru saja memasuki arena permainan. Wanita itu berjalan dengan anggun dan memberikan senyuman kepada para pria.


"Hai, Larissa!"sapa salah satu pria.


Larissa mengangguk sebelum membalas," Hai!


wanita itu kemudian memasuki salah satu bilik dan bersiap untuk memasukkan bola basket. bahkan ancang-ancang yang dilakukannya saja tetap terlihat anggun. tidak ada celah sedikitpun yang dapat dijumpai dari tampilan seorang Larissa.


"Gavin, Matteo dan para pria yang lain menanti dengan sabar. begitu bola dimasukkan ke dalam keranjang,suara tepuk tangan terdengar membuat Larissa tersenyum merasa tersanjung.


"Gila.. ! sudah cantik, pintar jago main basket karir oke."Puji salah satu anggota geng Gavin.


"Kamu beneran nggak mau sama dia Gavin? kalau kau nggak mau, biar aku yang dekatin nih,."tanya temannya yang satunya.


"Memangnya dia mau sama pengangguran kayak kamu yang hanya mengharapkan uang orang tua saja?"sindir Gavin kejam.


Para pria tertawa terbahak-bahak mendengarnya. Temannya juga tidak tersinggung karena mereka sudah biasa saling melemparkan candaan seperti itu.


"Tapi, Aku beneran penasaran Vin. kamu sudah kenal Larissa dari SMP. masa sih nggak pernah sekalipun kamu merasa tertarik sama dia? yang baru pertama kali bertemu saja banyak yang jatuh cinta pada pandangan pertama."


"Matteo dan temannya yang lain menunggu Gavin menjawab pertanyaan temannya itu. Tampaknya bukan hanya galio saja Yang penasaran akan hal itu.


"Ngak tau, aku sudah anggap dia teman saja."jawab Gavin sekedar.


"Memangnya cewek seperti apa yang kamu suka sebenarnya? tanya galio penasaran.


Gavin tampak berpikir. Dia sendiri juga bingung kenapa belum ada wanita yang benar-benar menarik perhatiannya. Tentu ada beberapa yang sempat terlintas di benaknya, Tetapi dia belum merasa ingin berhubungan serius dengan siapapun.


Bersambung.....

__ADS_1


hai hai redears dukung terus karya author agar outhor lebih semangat untuk berkarya trimakasih 🙏💓🙏


JANGAN LUPA TEKAN, FAVORIT, LIKE, COMMENT, VOTE, DAN HADIAHNYA YA TRIMAKASIH 🙏💓


__ADS_2