
Mischa hampir saja terlelap saat mereka tiba di sebuah hotel mewah. Sejak tadi Gavin terus fokus pada ponsel dan tidak mengacuhkannya. Padahal mereka baru saja menikah. Entah kenapa malah jadi tidak mesra, pikirnya. Namun,dia tak ingin bersungut-sungut.
Sebab, menikah itu harusnya mengecilkan masalah yang besar dan meniadakan masalah yang kecil.
Jadi Mischa menganggap ini hanyalah masalah kecil dan tidak pernah terjadi. kalaupun Gavin terus seperti ini mereka bisa membicarakannya nanti.
"Pak barang-barangnya nanti dibawa sama bellboy aja ya."ucap Gavin kepada sopir yang mengantar mereka hingga sampai ke hotel.
"Baik Tuan," jadi saya sudah bisa langsung pulang? tanya Pak sopir kepada Gavin.
"Sudah Pak, hati-hati,ya."
"Baik Tuan, mari!"
Gavin dan Mischa duduk di ruang lobby Hotel sembari menunggu Ballboy mengantarkan koper-koper mereka ke kamar. Setelah bellboy kembali dan mengabarkan kalau semua koper sudah diantar, Gavin berjalan begitu saja tanpa mengajak Mischa yang sedang asyik menikmati keindahan interior Hotel. Wanita itu hampir saja tertinggal menaiki lift yang akan membawa mereka ke kamar yang telah dipesan.
Meski merasa agak kesal, Mischa tetap bersikap seakan tidak terjadi apa-apa. Apa betul mitos yang mengatakan kalau sudah menikah si pria akan langsung berubah? tidak lagi romantis seperti saat berpacaran?
lift berdeting dan pintunya terbuka. Gavin keluar membuat Mischa menghela nafas dan mengikutinya. Setidaknya genggam tangannya kek, atau apalah. Pria itu benar-benar cuek dan mulai membuat Mischa sebel.
"Kuya nyiapin apa sih?" tanyanya berusaha untuk tidak menunjukkan kekesalan dalam nada suaranya.
"Bentar lagi sampai di kamar kok."
rasanya Mischa ingin sekali menggeram kesal. Dia melihat kanan dan kiri Entah kenapa lantai ini begitu sepi. Apa memang sedang tidak ada yang menginap atau bagaimana?
Gavin kemudian berhenti di depan sebuah pintu. Dia tersenyum pada Mischa sebelum membukanya. Sejak berangkat dari rumah hingga sampai di sini, Baru kali ini suaminya itu memberikan senyum padanya.
Mischa yang masih kesal telah mendapat senyuman mengekor di belakang Gavin. Sang suami kemudian memberi akses pada istrinya untuk melihat ke dalam kamar.
Mischa terperangah tak percaya.
"Ini apa ,Kuya?"
Gavin menutup pintu dan suasana kamar terjadi remang-remang. Pria itu sengaja tak memasukkan kartu kunci ke tempatnya agar lampu tak menyala. Dia pun memeluk tubuh istrinya dari belakang membuat Mischa terkejut akan perlakuan manis suaminya yang tiba-tiba.
"Kejutan..."bisik Gavin di telinga Mischa.
Seluruh kamar dihiasi dengan nyalanya lilin dan taburan kelopak bunga mawar merah dan putih. Harumnya bahkan tercium dari seluruh penjuru ruangan. Kamar yang begitu luas dengan pemandangan lampu-lampu dari gedung-gedung yang tampak dari kamar mereka.
Mischa mematung terlalu terkejut dengan perubahan sikap Gavin dan apa yang membuatnya.
"Kamu pasti kesal, kuya cuekin dari tadi, kan?
Mischa mendelik. Kuya sengaja, ya?
Gavin tertawa pelan.
__ADS_1
"Iya, kayaknya berhasil, ya?"
Mischa memukul pelan lengan Gavin.
"Ih Kuya, Aku sudah kesel banget dari tadi tahu! Kuya jahat, ih sebel!"
Gavin justru tertawa melihat Mischa yang merajuk.
"Ayo masuk, kamu belum lihat sesuatu di atas ranjang, kan?" ajak Gavin.
Gavin melepas pelukan, lalu merangkul bahu Mischa untuk berjalan bersama.
Mischa kembali terkejut melihat hiasan kelopak mawar yang berbentuk I love you. lalu setangkai bunga mawar yang masih utuh tergeletak di atas sofa tepi ranjang.
Gavin mengambil bunga tersebut. Lalu berlutut di depan Mischa untuk memberikannya.
"Kuya, nggak perlu sampai kayak gini. Ayo berdiri kuya!" ucap Mischa tak enak hati.
Gavin menolak untuk bangkit. Dia tetap pada posisinya saat mengatakan.
"Kuya cuman bertekuk lutut, di hadapan kamu. Kalaupun suatu hari nanti kuya melakukannya di hadapan perempuan lain, yakinlah itu adalah saat kuya memakaikan sepatu anak perempuan kita."
Mischa tak sanggup lagi. Dia pun meneteskan air mata merasa begitu terharu. Seumur hidup, baru kali ini ada seorang pria selain ayahnya yang menyanjungnya dengan tulus.
"Kuya Kenapa sih cinta ini sama aku? tanya Mischa pelan. Benar-benar tak percaya kalau Gavin melakukan ini semua untuknya.
"Kuya suka, dengan segala apa yang ada di diri kamu. Kecantikan, kebaikan hati, kecerdasan, kesabaran, semuanya kalau dibahas satu persatu kita nggak bakalan tidur sampai besok pagi."
Mischa tertawa mendengarnya. Dia pun menerima bunga mawar dari sang suami lalu menghirup aromanya. Begitu segar dan wangi seperti baru saja dipetik. Gavin kemudian menghapus jejak air matanya.
"Sudah jangan menangis, ya. Kuya akan terus berusaha mencegah air mata ini tumpah lagi."
"Ini air mata bahagia lho, Kuya." balas Mischa
"lembut banget sih hati istri Kuya ini," Puji Gavin membuat mereka mencubit pelan lengannya karena malu.
"Aduh kok dicubit? disayang dong, suaminya pinta Gavin manja.
Mischa yang belum terbiasa malah membuang mukanya, yang sudah merona parah dan berjalan menuju dinding kaca.
"View Nya bagus banget Kuya." ucapnya mengalihkan pembicaraan.
"Kamu mau lihat view yang lebih bagus?"tanya Gavin.
Mischa menatap Gavin dan bertanya. "Di mana Kuya?
bukannya menjawab, Gavin malah berjalan menuju ranjang dan menanggalkan celana panjangnya.
__ADS_1
Mischa membulatkan mata. Padahal Gavin sudah resmi menjadi suaminya. Tetapi dia masih terperanjat melihat Gavin melakukan hal itu.
Kini Gavin hanya mengenakan kaos dan celana pendek setelah melepas jas juga.
"Kamu juga pakai baju kaos sama celana pendek aja. Soalnya nggak ada persiapan bawa baju renang kan? tanya Gavin
"Baju renang? tanya Mischa bingung
Gavin kembali mendekati Mischa. "Kamu mau buka celana sendiri atau Kuya yang bukain?"
Mischa malah mundur dan punggungnya menabrak dinding kaca. Gavin tertawa melihat tingkah polos istrinya itu.
"Bu...buka sendiri saja,Ku.... kuya."
Mischa segera berlari menghampiri koper untuk mencari celana pendek yang biasa dipakai untuk tidur. Meski dengan wajah merah padam Mischa mengganti celana di depan Gavin. Membuat sesuatu dari pria itu bergelora dengan hebat.
"Tahan Gavin, jangan sekarang." ucapnya dalam Hati.
"sudah, kuya.
ucapan Mischa membuyarkan imajinasi Gavin. Dia kemudian mengajak istrinya keluar dari kamar menuju kolam renang pribadi di lantai yang sama.
Mischa Bahkan tak merasa malu lagi ketika rahangnya hampir jatuh saat melihat pemandangan dari luar sini. Kolam renang tampak sepi membuat suasana semakin intim di antara mereka.
"Cuma ada kita di sini, Kuya?" tanya Mischa.
"Iya, Kuya bukan cuman Pesan kamar kita. tapi seluruh kamar di lantai ini, jadi nggak ada tamu yang bisa pakai kolam renang ini kecuali kita." jawab Gavin
Mischa kembali tercengang untuk kesekian kalinya malam ini. Mungkin saat bangun besok pagi, rahangnya akan terasa begitu pegal.
"Kuya, Aku benar-benar bahagia" ucap Mischa
"karena kamu istimewa," Kuya juga harus siapin semua yang istimewa buat kamu."
Gavin berjalan mendekati Mischa,mau mendekat Jan jarak di antara mereka. keduanya kini hanya berjarak kurang dari sejengkal.
Gavin menghapus jarak di antara mereka saat mencium bibir istrinya.
Bersambung.....
hai hai redears dukung terus karya author agar outhor lebih semangat untuk berkarya trimakasih 🙏💓🙏
JANGAN LUPA TEKAN, FAVORIT, LIKE, COMMENT, VOTE, DAN HADIAHNYA YA TRIMAKASIH 🙏💓
JANGAN LUPA MAMPIR KE KARYA teman emak.
__ADS_1