
"Barang kamu sudah ada semua? nggak ada yang ketinggalan di kos? coba periksa lagi."
Sepulang dari melihat matahari terbenam di lantai paling atas gedung kantor, Gavin mengantarkan Mischa pulang ke apartemen. Tidak lagi ke kos. Pagi tadi, Gavin meminta untuk mengepak seluruh barangnya. Mobil pengangkutan barang berangkat bersamaan dengan mereka pergi bekerja.
"Aku heran, kok bisa ada orang pindahan tetapi pergi kerja. Ternyata tinggal terima bersih saja." kata Mischa.
"Hari gini kalau ada uang, semuanya jadi gampang Mischa." balas Gavin
Mischa mengangguk setuju, dia memeriksa dengan seksama barang-barangnya yang memang tidak banyak. Namun dia tidak ingin ada satupun barang pembelian Gavin yang tertinggal di kos. Dia sangat menghargai semua yang diberikan oleh pria itu untuknya.
Kayaknya sudah lengkap tuh, ya. Nggak ada yang ketinggalan." Mischa memberitahu.
"Okey, mau Kuya bantuin beresin perabotannya. Semua lengkap di dalam kamar, ada ranjang sama kasur, lemari dan meja rias. Ada kamar mandi juga."
"Lengkap banget ya, biasanya Kuya sewain apartemen ini berapa sebulan?"
"Sekitar 10 juta."
Rahang Mischa seraya Ingin jatuh, saat mendengarnya.
"Berarti gaji aku nggak cukup dong buat bayar sewa."
Gavin tertawa. " Iya berarti kamu nggak bisa bayar kan, tunggu! kamu kira ini gratis?"
Mischa terdiam. Bukannya Gavin menyuruhnya untuk tinggal di sini secara gratis? Apa maksudnya dia harus membayar sewa?waduh bagaimana ini? Dia tidak punya uang sebanyak itu.
Gavin tersenyum geli melihat ekspresi takut di wajah Mischa. Gadis itu pasti merasa tak mampu membayar uang sewa.
"Maksud Kuya, bukan bayar pakai uang,
"Jadi?" tanya Miska bingung
"Bayar pakai cinta." goda Gavin
"Iih Kuya, geram Mischa seraya memukul pelan dada Gavin yang tertawa terpingkal-pingkal.
"Gemas banget lihat muka takut kamu." Gavin mencubit pipi Mischa yang memerah karena malu.
"Udah ah, males, lapar ngak? aku lihat ada dapurnya, berarti aku bisa masak.
"Tapi kan nggak ada bahannya." Gavin berjalan menuju dapur dan hanya menemukan kulkas dan kabinet dapur yang kosong.
"Kita beli aja sebentar. Sekalian buat stok makanan aku juga." ajak Mischa
"Oh iya, benar juga. Ya sudah, kamu ganti baju dulu sana."
"Okey."
__ADS_1
Keduanya kini sedang berkendara menuju swalayan terdekat. Ini pertama kalinya, Mischa berbelanja bahan makanan dan itu tidak di pasar. Alhasil Mischa kembali hampir jatuh Saat memasuki surga belanja bagi ibu-ibu rumah tangga berkantong tebal.
"Ya ampun, kuya. Aku nggak ngerti belanja di sini." gumam Mischa pelan. Dia tidak ingin membuat malu Gavin, Jika ada yang mendengar
"Kamu mau beli apa?" tanya Gavin.
semua bahan makanan yang bisa disimpan untuk beberapa hari kuya." jawab Mischa.
"Ya sudah, gini aja. Kamu sebutin mau beli apa, Nanti kita cari sama-sama." saran Gavin.
"oke, kita cari ikan ayam sama daging dulu kali ya." usul Mischa.
Gavin mengangguk. "Okey coba kita lihat petunjuk arahnya."
Mereka pun membaca tulisan penunjuk arah di bagian langit-langi swalayan, dan mengikutinya. Keduanya berhasil menemukan etalase yang berisi banyak sekali jenis Sari laut di dalamnya, mulai dari ikan, udang, cumi-cumi, kepiting kerang dan lain-lainnya.
Mischa pun mulai memilih ikan-ikan segar sesuai dengan yang diajarkan oleh ibunya. Dia memperlihatkan warna mata yang masih tampak cerah, insang yang masih berwarna merah darah. Dan kulit yang masih berkilauan.
"Gak mau ikan yang ini?" ucap Gavin
Mischa melihat sekilas selalu berbisik. "Jangan Kuya, itu udah nggak segar. Yang aku pegang ini yang lebih baru.
Gavin membentuk huruf o dengan mulutnya.
"Kuya nggak pernah nemenin mama Kuya belanja, ya?" tanya Mischa saat melihat ayam di etalase yang lain.
"Mama Kuya, aja nggak pernah belanja Mischa semua urusan makanan diatur oleh asisten rumah tangga. jawab Gavin.
"Kenapa begitu?"
"Biar romantis."
Gavin cuman bisa diam. Kalau dipikir-pikir kegiatan belanja bersama seperti ini memang cukup menyenangkan.
"Tapi kan, udah ada asisten rumah tangga yang belanja Miska." Gavin mengingatkan.
"Belanja yang lain juga bisa kok Kuya. Kayak keperluan pribadi aku, terus cemilan-cemilan, apa aja deh."
"Oh iya, oke." Gavin akhirnya paham.
mereka menghabiskan waktu setengah jam untuk mengumpulkan semua bahan makanan yang dibutuhkan. Untungnya kasir sedang tidak ramai, sehingga belanja malam itu bisa diselesaikan dengan cepat. Keduanya kembali ke apartemen dan Mischa mulai mengisi kulkas dan kabinet dapur dengan bahan makanan yang sudah dibeli.
"Kuya mau aku Masakin apa?" tanya Mischa
"Apa saja. Kuya juga penasaran sama hasil masakan kamu." jawab Gavin.
Mischa cengengesan. Rasa masakan aku biasa aja sih, biasa aku masak untuk makan sendiri aja.
__ADS_1
Gadis itu memang tidak terlalu lihai. Tetapi Gavin akui, dia cukup terhibur melihat Mischa mengolah bahan makanan. Dia membuat sajian ayam asam manis saja, untuk malam ini. Karena mereka sudah cukup lapar, nasi matang bersamaan dengan lauk yang akan dihidangkan.
Gavin mencoba suapan pertama. "Rasanya tidak buruk. Tetapi juga tidak terlalu luar biasa."
"Lumayan." ucapnya
Mischa tersenyum. "Yang penting masih bisa dimakan kan?"
Dengan mulut penuh makanan, Gavin menjawab. "Bisa kok."
Keduanya telah menyelesaikan makan, dan sekarang terduduk kekenyangan di depan televisi.
"Habis makan gini, enaknya nonton di di netflix nih. Gavin mengambil remote televisi dan menyalakannya.
"Kuya ini kayak mau nginep di sini saja, pakai acara cari tontonan segala."
"Nggak kok, ntar kalau perutnya udah enakan Kuya balik. Ini masih kekenyangan. Lagian kamu masak untuk berdua kayak mau kasih tetangga, sangking banyaknya.
Mischa tertawa. "Kan aku nggak suruh Kuya buat habisin."
"Kalau kamu yang masak, harus kuya habisin dong. Bikinnya aja pakai cinta. Masa nggak kuya makan sampai habis.
Entah sudah berapa kali Gavin membuat Mischa tersipu hari ini. Pria itu memang tidak menggombal ala para buaya. Dia juga tidak suka menjanjikan yang macam-macam, dia hanya mengucapkan kata-kata sederhana. tetapi mampu membuat Mischa semakin terpesona.
"Pantas saja Larissa mengejar Kuya, sampai segitunya.
"Kok tiba-tiba jadi bahasa Larissa?"
maksudnya aku emang se_worthed itu untuk dimiliki
Gavin mengalihkan pandangan dari televisi untuk menatap mischa.
Semua usaha yang dilakukan untuk mendapati ku yaitu worthed karena Kuya Memang worthed untuk dimiliki lanjut Mischa.
"Kamu lagi gombalin aku? ya, ya tanya Gavin tersibuk
Mischa tertawa emang. "Iya Kuya kan, kayak gini cuman di depan kamu. Di depan Larissa aja nggak pernah. " Apa perbedaan antara berusaha sama berambisi kalau Larissa ambisius." jelas Gavin.
"Bukannya Kuya suka cewek ambisius ya
emangnya kapan Kuya pernah bilang gitu.
Mischa yang merasa salah tingkah memalingkan wajah. Gavin udah mending lanjut nonton aja. Gavin pun menurut dan mulai memutar salah satu episode dari sebuah serial drama Korea.
Bersambung.....
hai hai redears dukung terus karya author agar outhor lebih semangat untuk berkarya trimakasih 🙏💓🙏
__ADS_1
JANGAN LUPA TEKAN, FAVORIT, LIKE, COMMENT, VOTE, DAN HADIAHNYA YA TRIMAKASIH 🙏💓
JANGAN LUPA MAMPIR KE KARYA MORATA YANG BARU TERBIT." MENJANDAKAN ISTRI DEMI JANDA"