
Larissa Ngapain kamu di sini? tanya Gavin yang melihat ular bisa berdiam diri bagai patung di depan pintu masuk kafe.
"Mischa itu siapa? Larissa justru bertanya balik rasanya bagaikan dikhianati di belakang.
kening Gavin berkerut kenapa nanyain Mischa?
Karena sejak tadi kamu terus menyebut nama dia! pekik larissa, tak peduli Apakah teman-temannya di dalam bisa mendengarnya atau tidak.
"Kenapa kamu marah? tanya Gavin tak paham.
"Harusnya hari ini waktu kamu buat aku Gavin. Kamu sudah janji sama mama kamu mau bawa aku jalan. tapi kamu malah beliin baju untuk Mischa. Terus, makanan dari sini juga mau kamu bawa untuk Mischa kan?"suara Larissa kini tak selantang tadi.
Larissa tertawa miris. "kamu pikir tante Aurora bakalan diam saja kalau tahu masalah ini? dia nggak bakalan biarin kamu berhubungan sama cewek sembarangan. kalau kamu tetap nekat jalanan hubungan sama cewek itu, Jangan harap dia bisa hidup tenang. Tante Aurora bakalan ngelakuin hal yang belum pernah kamu bayangin sebelumnya."
Gavin terdiam. Seluruh tubuhnya Seperti mati rasa mendengar ancaman larissa.
"Mischa bakalan hidup menderita di tangan Mama kamu.
"Mischa bakalan hidup menderita di tangan Mama kamu.
Ucapan Larissa terngiang-ngiang di benak Gavin. Jika orang lain saja berpikir seperti itu tentang ibunya maka begitulah adanya. Dia sudah tahu konsekuensi perbuatannya. namun Entah kenapa dia terus saja semakin mendekat pada Mischa.
Gadis itu tidak salah apa-apa. Dia berhak hidup tenang. Gavin harusnya tidak membawa masalah ke dalam kehidupan gadis polos itu. sudah banyak orang yang ingin menyakitinya, Gavin tidak boleh menambah daftar panjang itu.
"Ya Tuhan...."
sejak tadi Gavin hanya bisa memandangi bungkusan pakaian yang awalnya ingin dia berikan pada Mischa. Akan tetapi, ancaman Larissa berhasil membuatnya mengurungkan niat dan batal kembali ke rumah sakit.
Gavin tidak akan pernah kembali ke rumah sakit.
Gavin tidak akan pernah lagi mendekati Mischa.
****
Sudah pukul 02.00 dini hari dan Mischa masih belum memejamkan mata.
mungkin karena siang tadi Dia terlalu banyak istirahat. Dia kemudian memeriksa ponsel tidak ada notifikasi apapun.
"Kenapa bos nggak jadi datang,Ya?" tanyanya pada dirinya sendiri.
__ADS_1
sejak tadi dia ingin menghubungi bosnya, tetapi akhirnya selalu urung. Mungkin bosnya sedang sibuk. Itu sebabnya tak bisa memenuhi janjinya untuk kembali ke rumah sakit. akan tetapi tak bisakah mengabari agar dia tidak merasa khawatir?"
"Mischa, kamu itu bukan siapa-siapa. harusnya udah cukup merasa jadi beban buat Bos. Padahal dia sibuk banget, tapi nyempatin untuk nganter ke rumah sakit dan nemanin. kamu berharap apa lagi,sih? Bos sudah cukup baik. Jangan ngarep lebih." Mischa bermonolog sendiri.
Bahkan sampai keesokan harinya pun Gavin tak kunjung datang.
"Semuanya sudah dalam keadaan baik. Jadi kamu sudah boleh pulang ya. tetap jaga pola makan dan istirahat yang cukup." ucap dokter kepada Mischa yang selama ini menangani Mischa selama berada di rumah sakit.
"Baik dokter, Terima kasih sudah merawat saya,"ucap Mischa.
"Sama sama, Mischa."
Dokter meninggalkan ruangan lebih dulu karena harus mengecek kondisi pasien yang lain. para perawat masih membantu melepas infus dan juga memberikan baju yang Mischa pakai ke rumah sakit tempo lalu. Baju itu sudah dicuci bersih dan bisa dikenakan kembali.
"Terima kasih banyak suster"
"Sama sama Mischa."
bisa jadi ingat dengan janji bosnya yang ingin datang membawa baju ganti. Ya sudah, pakai yang ini saja lagi pun tak mengapa. Setelah semuanya selesai Dia berjalan ke meja resepsionis dan menyerahkan kartu untuk membayar semua biaya perawatnya.
"Tagihan Rumah Sakit Miska semuanya sudah dibayar atas nama Tuan Gavin."ucap resepsionis memberitahu.
Mischa aku dia cukup terkejut Mendengar hal itu. Sebab bosnya tidak jadi muncul sesuai janji. Namun dia tetap menepati janji yang satu ini membayar biaya rumah sakitnya.
"Oh,ya? maaf, saya nggak tahu." ucap Mischa.
Resepsionis menggeleng dan tersenyum ramah. "nggak apa-apa, kamu sudah bisa langsung pulang saja semuanya sudah dibayar kok.
"Baik, Bu. Terima kasih."
"Sama sama."
Mischa pun beranjak pulang menaiki bus. dia sudah mulai hafal rute rute bus dan memang rumah sakit ini tidak terlalu jauh dari kosnya. sepertinya Bos membawanya ke rumah sakit terdekat saja.
Waktu berjalan begitu cepat dan pameran NINE MEDIA COPERATION GROUP telah berakhir. Semuanya kembali ke pekerjaan semula. Mischa melangkah memasuki kantor dan orang-orang masih saling menceritakan pengalaman mereka di luar kota.
"Habis pameran pada jalan-jalan nggak? tanya Andika.
"Mischa, Irma, Valen dan Andika semuanya mendapat tempat tugas yang berbeda-beda. itu sebabnya pagi ini mereka saling bertukar cerita.
__ADS_1
"Jalan-jalan, dong! kesempatan bisa liburan tanpa ambil jatah cuti, tuh, sesuatu banget!"jawab Valen.
"Iya, aku sampai puas mengelilingi kota Antipolo terus berbelanja belanja." sahut Irma
Semua teman-teman Mischa saling bercerita pengalaman mereka masing-masing selama pameran.
bisa tidak punya pengalaman untuk dibagikan karena tetap berada di kota Manila. Jadi, jadi dia hanya mendengarkan rekan-rekannya bercerita sampai waktu kerja tiba.
"Pagi,Bos! sapa Mischa saat berpas-pasan dengan Gavin yang baru saja sudah di kantor.
jangankan membalas sapaan, Gavin terus berjalan dengan menatap ke depan. Seakan-akan Mischa hanyalah serangga yang tidak sengaja lewat.
Hal itu terus berlanjut. Gavin dan Mischa mendadak seperti orang asing, seakan-akan kemarin tidak terjadi apa-apa. Gavin tidak menggenggam tangan Mischa, Gavin tidak memasuki daerah kosnya, Gavin tidak mengantarnya ke rumah sakit. dan menemaninya semalaman di sana.
"Kenapa Mischa? kok kayaknya murung gitu? tanya Irma dalam perjalanan kembali ke kantor setelah makan siang.
"Tidak apa apa, Ate. mungkin masih lemas saja. aku kemarin sempat masuk rumah sakit." ucap Mischa.
"Oh ya? sakit apa? kok, ngak bilang?" cecar Irma.
"Soalnya kemarin masih waktu pameran. kalian semua masih pada di luar kota. tapi sudah sembuh kok tenang saja." jelas Mischa.
"Oh, syukurlah!" ucap Irma.
Padahal sebenarnya Mischa murung, karena sudah tidak pernah lagi berinteraksi dengan Gavin. bahkan saat rapat atau kegiatan lain pun Gavin selalu menghindar bertatapan dengan Mischa. Dia akan melihat ke siapa saja, yang pasti bukan Mischa.
"Pameran kemarin berjalan dengan lancar. laporannya baru masuk semua hari ini. tidak ada masalah yang timbulkan oleh karyawan ALC. semuanya merasa puas dengan hasil kerja kita,"ucapkan saat rapat bersama seluruh karyawan.
Gavin bertepuk tangan dan para karyawan terlihat bingung. Namun perlahan semuanya ikut bertepuk tangan juga. Tak biasanya Bos memberikan penghargaan seperti itu. tidak dimarahi saja rasanya sudah syukur.
"Mungkin ada yang ingin disampaikan?"tanya Gavin membuat para karyawan kembali terheran.
Gavin tidak pernah menerima saran dan masukan apapun dari karyawannya. Jadi, rasanya canggung sekali ingin menyampaikan sesuatu. Mischa mengangkat tangan, tetapi Gavin sepertinya sengaja tidak mengacuhkannya.
"Baik, Kalau tidak ada, silakan kembali bekerja!" titah Gavin.
Hati Mischa terasa remuk hancur berkeping-keping. bahkan sekarang Gavin seperti sekarang menganggapnya lagi sebagai karyawan. Dia hanya seperti pelengkap penderita dalam berjalannya ALC . keahliannya sudah tidak dihargai Begitu juga dengan kehadirannya.
Bersambung.....
__ADS_1
hai hai redears dukung terus karya author agar outhor lebih semangat untuk berkarya trimakasih 🙏💓🙏
JANGAN LUPA TEKAN, FAVORIT, LIKE, COMMENT, VOTE, DAN HADIAHNYA YA TRIMAKASIH 🙏💓