
Bagi Papa selama kamu bahagia dengan siapapun kamu jatuh cinta, papa akan terima. Gavin kini menatap sang ayah meski pria paruh baya itu masih memandangi keramaian.
"Kamu anak Papa satu-satunya. Papa nggak mau kau menikah dengan orang yang gak kamu suka. Bagi Papa selama anaknya baik berasal dari keluarga baik-baik, udah cukup. Dia tidak mesti kaya Gavin, karena yang paling penting adalah perasaan kamu pada gadis itu.
Apa yang di katakan Tuan Carlos Antonio kepada Gavin, bagaikan jendela yang terbuka. Sepertinya obrolan tempo lalu benar-benar membuka jalan baginya, untuk mencari kebahagiaan sendiri. Apa benar dia boleh menikah dengan gadis manapun yang dia sukai?
"Tapi Pak kalau Mama nggak suka, bagaimana?
Tuan Carlos Antonio tersenyum. Ternyata anaknya itu memang tidak mau langsung berterus terang. Harus dipancing terlebih dahulu dengan kail yang bagus dan kuat.
Mama bisa berkomentar dan menentang kamu. Itu sudah pasti, tapi Mama nggak bisa menentang persetujuan papa kan?
Benar juga, selama ini nyonya Aurora memang tidak pernah tidak patuh pada Tuan Carlos Antonio dalam urusan apapun.
Papa nggak tahu ini rencana kamu untuk bisa nikah dalam 6 bulan apa nggak tapi papa berharap kalau kamu memang sungguh-sungguh jangan memainkan perasaan anak orang yang dibesarkan dan dengan sepenuh hati kamu sebagai lelaki yang menikahinya harus bisa menggantikan peran orang tuanya dan dalam menyayanginya ingat pesan Bapak Gavin Tuhan keras Antonio memberikan nasehat.
Gavin mengangguk paham dia tidak lagi mengelak membuat Tuan Carlos Antonio yakin kalau anaknya sudah mengalami pergolakan perasaan akan tetapi semoga nasehatnya tadi bisa memberikan gambaran terhadap apa yang akan dilakukan Gavin selanjutnya.
Kalau gitu, Papa mau menyapa beberapa rekan dari perusahaan lainnya, pamit Tuan Carlos Antonio.
"Iya pa."
Tuan Carlos Antonio meninggalkan Gavin sendirian dengan pikirannya lelaki itu kembali melihat Mischa yang tampak sedang beristirahat sambil mengobrol dengan Matteo dan Kayla.
Ngak, aku Ngak boleh gegabah. Bisa aja ini cuman perasaan sesaat, Aku nggak suka sama Mischa, Iya kan? tanya Gavin kepada dirinya sendiri.
***
Hari kedua pameran semua karyawan DI NINE MEDIA COPERATION GROUP dan seluruh cabangnya kembali sibuk Matteo dan Kayla pun sudah hadir Sejak pagi. Kali ini tugas mereka hanya memantau saja, tidak sebanyak yang kemarin.
Gavin tiba dan melangkah cepat menuju stan tempat karyawannya berada. Dia kemudian menatap Matteo dan Kayla bergantian
"Mischa mana?" tanyanya heran
"Sakit Bos." jawab Kayla cepat.
"Sakit apa?" tanya Gavin lagi. Heran kenapa Mischa tidak memberitahunya langsung
"Tidak tahu Bos, tapi amit-amit jangan sampai tipes. Karena sudah sepekan ini dia sibuk sekali." jawab kayla khawatir.
__ADS_1
"Kamu tahu dia sakit apa Matteo Matteo mengedipkan bahu. Aku juga baru tahu ini dari Kayla.
Gavin mengambil ponsel dari saku jas dan mencoba menghubungi Mischa.
"Nggak aktif lagi." gerutu Gavin
Kayla mengira Bos marah. Karena tidak dihubungi oleh Mischa untuk memberitahu perihal sakitnya.
Tadi saya sudah menyuruhnya untuk menghubungi Bos. Tapi dia minta disampaikan saja.
Padahal bukan itu sebenarnya isi pikiran Gavin. Percuma juga kalau mau dijelaskan, Matteo memberikan tatapan menyelidik dan Gavin menyadarinya.
"Kalian berdua saja bisa? tanya Gavin
"Kamu mau ke mana?" tanya Matteo penasaran.
"Mau tau aja Bos ada urusan apa?" sindir Gavin
"Iya Bos....iya." ledek mateo
Gavin tertawa aku cabut dulu ya Kayla Kamu di sini sama Mateo ya.
Matteo merasa ada yang aneh dengan Gavin. dia tahu bosnya itu memang punya banyak pekerjaan, namun tepatnya bukan itu. Yang menjadi tujuan sekarang.
"Dia nggak mungkin khawatir, Mischa sakit kan? gumamnya.
Kayla yang bisa mendengar gumamannya tertawa. Kuya Matteo ini nggak peka ya pantas Irma dianggurin terus.
Mateo terheran. "Hah ? kok jadi Irma, kayla?.
Tuh kan Kuya ini, nanti baru kepikiran kalau Irma sudah punya pacar baru deh sadar sama perasaan sendiri jelas Kayla.
Matteo terdiam. Rasanya seperti disambar oleh aliran listrik ribuan volt.
"Mungkin karena aku sudah menikah, aku jadi mudah memahami perasaan orang-orang. Kalau pendapatku ditanya, menurutku Bos itu ada rasa sama Mischa. Begitu juga dengan Kuya. Kuya sama Irma sama-sama ada rasa, Tapi kayaknya sama-sama gengsi juga." papar Kayla.
Bukan begitu sih, mungkin karena aku sama Irma, sudah kenal lama. Jadinya terlihat lebih dekat, ketimbang sama karyawan yang lain." bantah Mateo.
"Justru itu Kuya, cinta itu bisa karena biasa. malah lebih mudah jadinya, kalau udah sama-sama kenal. Dan tahu kepribadian masing-masing loh. Percaya deh sama aku." ucap Kayla mencoba meyakinkan Matteo.
__ADS_1
Matteo terduduk di kursi sambil meminum kopi dari cangkir kertas. Kenapa dia jadi kepikiran begini? dia bahkan tak pedulikan Kayla yang sedang menertawakannya saat ini.
Sementara itu Gavin meninggalkan semua tugas, dan memilih untuk mendatangi Mischa. Sepanjang perjalanan dia sudah mencoba menghubungi Gadis itu. Tetapi nomornya tetap tidak aktif. Hal itu membuatnya sedikit kesal bercampur panik.
"Kalau beneran tipes gimana coba? mana nggak ada yang bisa nganterin ke Rumah Sakit pula." gerutu Gavin.
Dia pun tiba di lingkungan kos-kosan Mischa dan hanya bisa memarkirkan mobil di depan gang. Kakinya melangkah dengan hati-hati ke tempat yang tidak terlalu bersih itu. Melihat ke kanan dan ke kiri. Gavin bingung di mana kost Mischa berada. Kepada siapa dia bertanya?
"Maaf Pak. numpang tanya, kos-kosan di dekat sini di mana ya Pak?" tanya Gavin pada seorang pria paruh baya yang sedang melintas.
"Oh yang itu jalan saja dikit lagi, di sebelah kanan nanti pagarnya ada tertulis kos-kosan kok." jawab bapak itu.
"Oh iya, Trimakasih Pak!" ucap Gavin.
Gavin Kembali melangkah. Gavin pun menemukan kost yang dimaksud pria paruh baya itu, sepertinya cuman ada satu saja kos-kosan di gang ini. Dengan perasaan tak karuan, dia menolak pintu pagar dan masuk saja ke dalam. Suasana begitu sepi, mungkin karena semua penghuninya sedang keluar untuk bekerja.
"Kamarnya Yang mana lagi?" gumam Gavin. dia tidak bisa bertanya karena Mischa tak bisa sama sekali dihubungi.
Tiba-tiba sebuah pukulan ringan mendarat di punggungnya. Gavin terkejut Bukan main, seraya berbalik dia melihat seorang ibu-ibu membawa sebuah sapu lidi di tangan.
Main masuk-masuk aja. Kamu nggak tahu laki-laki nggak boleh masuk ke sini?" tanya ibu paruh baya yang merupakan pemilik kos-kosan Mischa dengan galak
Gavin menyadari dirinya, sudah membuat kesalahan. "Oh maaf bu, saya beneran nggak tahu saya kemarin menjenguk teman saya yang sakit.
Saya nggak pernah lihat kamu tuh. Memangnya teman kamu siapa? atau jangan-jangan kamu kira ini kos buat tempat gituan ya?tuduh Ibu paruh baya itu
"Eh ngak Bu, Bukan gitu. sumpah deh!" elak Gavin panik.
Mischa mendengar suara ribut-ribut dari dalam kamar, rasanya Dia mengenali suara itu penasaran. Dia menyingkap selimut dan berjalan membuka pintu. Matanya membelalak saat melihat Gavin hampir dipukul dengan sapu lidi oleh ibu kos, segera dia berlari dan berdiri diantara kedua orang itu.
"Jangan Bu, ini Bos Mischa
pagi ini hampir saja Gavin dikeroyok oleh warga setempat.
Bersambung.....
hai hai redears dukung terus karya author agar outhor lebih semangat untuk berkarya trimakasih 🙏💓🙏
JANGAN LUPA TEKAN, FAVORIT, LIKE, COMMENT, VOTE, DAN HADIAHNYA YA TRIMAKASIH 🙏💓
__ADS_1
sambil menunggu karya ini up kembali, yuk mampir ke karya baru emak " PERJUANGAN CINTA ABIMAYU"