Antara Kutub Utara Dan Selatan (You & Me)

Antara Kutub Utara Dan Selatan (You & Me)
BAB 133. ADU MULUT _ YOU & ME


__ADS_3

Gavin terdiam mendengar pertanyaan Mischa.


Gavin kemudian menjeda tayangan, membuat mischa menyerah kalau suaminya marah, karena pertanyaannya.


"Kalau dilihat dari foto-foto Kuya kecil, memang ada kemungkinan Mama bukan mama kandung Kuya. Kuya juga udah pernah mikir kayak gitu."jelas Gavin.


Mischa rasanya ingin sekali bernafas lega karena ternyata Gavin tidak marah padanya.


"Tapi, lebih baik kita nggak usah membahas hal yang gak pasti."


Mischa mengangguk patuh. "Maaf ya, Kuya. aku malah nanyain hal yang nggak-nggak."


Gavin tertawa pelan. "Nggak apa-apa kok. kamu tidur aja duluan. besok mau keluar lagi kan? istirahat yang cukup."


"ya kuya."


Mischa menuruti perintah Gavin dan segera berbaring di ranjang. Benar saja, Tak lama kemudian dia pun langsung terlelap.


Esok paginya dia tidak bangun kesiangan. sebab Dia akan menemani Riska untuk menjalani proses interview.


"Kuya antar, atau sama sopir?"tanya Gavin


"Habis makan siang Kuya bisa jemput?"


"Bisa kayaknya. Hari ini nggak terlalu sibuk."


"Kalau gitu aku ikut Kuya saja ya."


Gavin mengangguk. Mereka berdua kemudian menuruni tangga dan menemukan Tuan Carlos Antonio sedang sarapan sendirian. Pria itu tampan senyum-senyum sendiri saat memainkan ponsel.


"lihat apa pah, tanya Gavin membuat Tuan Carlos Antonio sedikit terperanjat


"Oh ini, ada video lucu." jawab Tuan Carlos Antonio kikuk


Gavin mengerenyit. Tak biasanya Tuan Carlos Antonio membuang-buang waktu untuk hal seperti ini.


"Mama mana pa?


Tuan Carlos Antonio mengedikkan bahu.


Gavin semakin merasa heran. Ke mana pasangan Tuan Carlos Antonio dan nyonya Aurora yang selalu harmonis? yang setiap pagi selalu sarapan bersama dan yang selalu tahu di mana posisi masing-masing sedang tak bersama.


"Mischa mau keluar? tanya Tuan Carlos Antonio.


"Iya pa, mau nemenin teman interview di Bima digital marketing."jawab Mischa


Tuan Carlos Antonio mendelik.


"Kantor kasih?"


"Betul pa."


"Apa-apaan ini?" pikir Gavin.


"Papa kayaknya kenal juga ya sama Bu Kasih?" tanya Mischa Seraya menyuapkan nasi ke mulut.


"Teman lama." jawab Tuan Carlos Antonio singkat. Tetapi tidak padat apalagi jelas.


Gavin tau ayahnya berbohong. "Teman dari mana?

__ADS_1


"Kalau misalnya Bu Kasih main ke sini, nggak masalah kan, pa? tanya Mischa.


Tuan Carlos Antonio mendengarkan dengan antusias. "Kamu minta dia ke sini?"


"Iya Pa, tapi katanya dia sibuk banget. makanya Mischa yang datang ke kantornya buat makan siang bareng."jawab Mischa


"Oh gitu?"


Gavin menangkap nada kecewa dalam suara ayahnya. Tidak, Dia sedang tidak ingin berprasangka yang aneh-aneh. Namun, renggangnya hubungan Tuan Carlos Antonio dan nyonya Aurora semakin menguatkan prasangkanya.


"Bu kasih itu, ada suaminya nggak sayang?" tanya Gavin dalam perjalanan.


"Setahu aku enggak Kuya, dia pernah bilang kalau dia single." jawab Mischa.


Gavin kembali diam,dia Banyak diam sejak berangkat dari rumah.


"Kenapa Kuya, Kok diam saja? lagi ada pikiran?


Gavin menggeleng. "Kuya cuman penasaran. Bu Kasih ini memang belum pernah nikah atau bercerai?


"Nggak pernah cerita detail tentang kehidupan pribadinya sih kuya. Aku cuma tahu dia udah lama hidup sendirian. Kayaknya nggak punya keluarga gitu."


Gavin mencoba mengenyahkan pikiran yang tidak perlu. lebih baik menyibukkan diri saja dengan pekerjaan.


"Lama nunggu Riska? tanya Mischa saat menghampiri Riska yang sudah lebih dulu tiba di depan gedung.


"Enggak kok, Mischa. Aku juga baru sampai. "Langsung masuk yuk, ajak Riska


"Okey


keduanya pun memasuki gedung dan menyampaikan maksud kepada resepsionis. Riska boleh masuk, tetapi Mischa harus menunggu di lobby. Mereka pun berpisah sementara. Sampai Riska menyelesaikan wawancara kerjanya.


Keduanya kini duduk di sebuah kafe, tak jauh dari gedung Bima digital marketing.


"Kayaknya sih diterima, aku yakin banget." jawab Riska senang.


"Wah, syukurlah mudah-mudahan bisa cepat masuk kerja ya."


"Amin, berkat kamu juga nih Mischa, Terima kasih ya."


Mischa mengangguk senang.


"Sama-sama Ris. Oh ya, aku ke toilet dulu ya."


Riska duduk sendirian sembari memainkan ponsel. Sampai tiba-tiba rambutnya dijambak hingga dia mengadu kesakitan.


"Dasar pelakor! berani banget kamu menginjakkan kaki di kafe aku!"


Riska terkejut. Itu kan anak dari pria yang menjadikan simpanan!


"Kamu mau ngeledek aku apa gimana?Hah! rasain kamu aku gampar habis-habisan di sini!"


Riska mendengar beberapa wanita tertawa.


"Hajar aja Ris, Jangan kasih ampun.


"Eh Ada apa ini?"


Mischa melepaskan Jambakan dari rambut Riska yang sudah menangis sesungguhkan.

__ADS_1


"Kamu siapa? Kenapa jambak teman aku?" tanya Mischa


"Teman kamu ternyata."kata wanita itu.


Mischa mengalihkan pandangan dan menemukan wajah kesal.


"Dasar kumpulan orang kampung! kalian ini ada paguyuban kali ya, punya rencana merantau ke kota untuk godain pria pria kaya tuduh Riska teman Larissa.


"Ini sebenarnya ada apa?" tanya Mischa lagi


"Nggak usah pura-pura bego, ini teman kamu sudah godain Ayah aku!" pekik Riska teman larissa. Mana namanya sama lagi sama aku, jijik banget! sumpah."


Mischa terkejut. Kenapa lingkaran pergaulan orang-orang kaya sekecil ini? dia benar-benar tak menyangka akan terjadi hal seperti ini.


Kalian ini punya pelet kali, ya? aku aja heran kok Gavin bisa mau sama orang kayak kamu? padahal dibandingkan sama Larissa kamu itu tidak ada apa apanya." ucap Riska teman Larissa Seraya memandangi Mischa dari atas hingga bawah.


"Kamu boleh hina aku, tapi jangan hina teman aku." ucap Riska teman Mischa bersuara.


Mischa menaikkan sebelah tangan meminta temannya untuk diam.


"Kami bakalan pergi, kita nggak usah ribut-ribut begini." ucap Mischa.


larissa mendesah. "Ternyata Kamu pengecut ya, nggak punya nyali?


Bukan Tak punya nyali. Namun, Mischa sedang dalam keadaan hamil. Dia tidak ingin memasukkan hal negatif ke dalam dirinya.


"Ayo kita pergi Ris." ajak Mischa


beberapa wanita menghalangi pintu, membuat Mischa dan temannya tidak bisa keluar dari sana.


Mischa melirik pada barista dan pramusaji yang menyingkir ke toilet. Kebetulan pun hanya ada mereka berdua sebagai pelanggan tadi. Mischa sadar dia tidak bisa meminta tolong pada siapapun, malah temanya harus dia lindungi di sini.


"Kalian bisa melabrak temanku, tapi kalian bakalan tetap melabrak aku, walaupun tahu aku siapa?" tantang Mischa.


Memanfaatkan kekuatan relasi, itulah yang sedang Mischa lakukan sekarang. merdeka seharusnya takut berhadapan dengan menantu salah satu konglomerat di negeri ini.


Benar saja, dua wanita yang menghalangi pintu segera menyingkir Karena memahami posisi mereka. Namun, ternyata tidak semudah itu. Kini Larissa berdiri di hadapan Mischa tepat sebelum dia dan temannya sempat melangkah keluar dari kafe.


"Aku nggak takut, sama kamu soalnya. Aku bisa ngadu ke Tante Aurora. Dia pasti bakalan ngelunjak kalau aku aduin kelakuan kamu yang belain pelakor." ancam Larissa


"Mungkin lain kali, nggak sekarang."


Mischa ingin melangkah ketika tangan Larissa menahannya. Bahkan cenderung agak mendorongnya.


"Baru nikah sama Gavin saja udah berlagu banget kamu, ya. kalau Upik abu mah, tetap aja Upik abu, nggak usah sok-sokan jadi orang kota." ledek Larissa.


"Setidaknya, Aku nggak pernah ngotot buat dapatin Kuya Gavin." mischa mencoba melawan.


Mischa dan Larissa kemudian terlibat adu mulut. lalu semua orang di dalam kafe terkejut ketika sebuah tangan melayang ke wajah seseorang.


Plak....


Bersambung.....


hai hai redears dukung terus karya author agar outhor lebih semangat untuk berkarya trimakasih 🙏💓🙏


JANGAN LUPA TEKAN, FAVORIT, LIKE, COMMENT, VOTE, DAN HADIAHNYA YA TRIMAKASIH 🙏💓


JANGAN LUPA MAMPIR KE KARYA TEMAN EMAK YANG LAIN.

__ADS_1



__ADS_2