
"Sepertinya Aurora nggak suka sama Mischa ya?" ku ya harus melindungi menantu kita."
Tuan Carlos Antonio mendelik. "Menantu kita?"
"Ya, kan dia memang menantu kita. kalau urusan anak dan menantu, nggak akan bisa putus kuya. Beda sama suami istri."
Tuan Carlos Antonio mendengkus. "iya iya." jawabnya apa tuh.
Kasih ibu menahan tawa sekuat tenaga. ternyata, Tuan Carlos Antonio masih belum berubah selalu saja tak bisa memenangkan debat dengannya.
" Aurora nggak mungkin aneh-aneh. dia harusnya memperhatikan tingkah lakunya setelah kamu balik kayak gini." ucapkan Carlos Antonio.
"Kamu kerja di mana?" tanya Tuan Carlos Antonio penasaran.
"kalau kuya tahu, Terus mau ngapain?" tentang kasih.
Tuan Carlos Antonio diam saja. "Setidaknya berikan kuya kartu nama kamu."
Kasih mengalah. Dia pun menarik sebuah kartu dari dalam dompet dan memberikannya pada Tuan Carlos Antonio. Pria itu pun segera keluar setelah menerimanya.
Melihat dari kejauhan, Gavin merasa bingung kenapa sang ayah berbicara dengan Kasih.
"Ada susu almond juga nih." ucap Mischa saat melihat isi dari keranjang anyaman yang diberikan oleh Kasih kepadanya.
"Baik banget ya, Bu Kasih. Padahal baru kenal." ucap Gavin
"iya, rasanya kayak punya Ibu ketemu gede gitu." Mischa menyiakan.
Ponsel berdering, telepon dari kantor pusat.
"Sebentar ya ,sayang. Kuya angkat telepon dulu."
"iya, kuya."
Gavin keluar dari ruang rawat.
"Hello!"
"halo Pak Gavin, apa Tuan Carlos Antonio sedang bersama Bapak"
"Ya, ada apa?"
"saya sudah menghubungi Tuan Carlos Antonio berkali-kali, tapi tidak diangkat. Saya mau menanyakan perihal jadwal pengganti untuk janji-janji yang dibatalkan hari ini. Soalnya ada beberapa relasi yang sudah menanyakan untuk pembuatan ulang janji temu."
"Oh, begitu. baik sebentar saya beritahu pada bapak."
"Baik ,Pak Gavin. Terima kasih banyak."
__ADS_1
Gavin melihat kanan dan kiri. Dia juga tidak sadar kapan ayahnya keluar. Dia berjalan menuju toilet terdekat dan mencari di sana, tidak ada juga.
"Apa papa sudah jalan balik, tapi nggak bilang-bilang, ya?"
meskipun kecil kemungkinan seperti itu, Gavin tetap turun untuk mencari ke parkiran. namun, saat baru saja keluar dari pintu depan rumah sakit, dia melihat ayahnya keluar dari mobil Kasih.
"Loh, ngapain Papa ngobrol sama Bu Kasih? di dalam mobil pula. kan bisa ngobrol di tempat."gumam Gavin dalam hati.
Gavin terburu-buru kembali ke dalam karena tak ingin terkesan memergoki ayahnya. dia menunggu tuan Charles Antonio kembali ke kamar rawat Mischa dengan sabar.
"Papa dari mana?"tanya Gavin penuh selidik.
entah perasaannya saja atau tidak, tetapi tuhan Carlos Antonio tampak terperanjat mendengar pertanyaan sederhana dirinya.
"Dari toilet."jawab Tuan Carlos Antonio.
dahi Gavin berkerut. Kenapa ayahnya harus berbohong? saat ulang tahun perusahaan, dia masih bisa maklum kalau Kasih menyapa ayahnya. hal itu biasa dilakukan oleh para petinggi perusahaan saat bertemu. Namun, untuk apa mereka berbicara berduaan di dalam mobil seperti tadi?
"Kenapa?" tanya Tuan carlos Antonio karena sejak tadi Gavin terus menatapnya.
"Oh, Gavin sadar. "tadi sekretaris Papa nelpon Gavin karena Papa nggak angkat telepon. katanya minta jadwal ganti untuk janji-janji yang sudah dibatalin hari ini."
"Oh, oke. Papa telepon dulu dia ya, sebentar."
Mischa menatap bingung suaminya.
Gavin menggeleng lalu tersenyum.
"Nggak apa-apa sayang. Kuya tanya dulu ke dokter kamu sudah boleh pulang apa belum, ya."
Mischa baru saja mengandung. Jadi Gavin tidak ingin membahas tentang hal yang bisa membuat istrinya kepikiran.
"Mama kamu mana Gavin?"tanya Tuan Carlos Antonio setelah selesai menelepon.
Gavin pun sudah kembali dari ruangan dokter.
"Gavin juga nggak tahu Pa. dari tadi nggak kelihatan. ini Mischa sudah boleh pulang. Papa mau ikut pulang apa balik ke kantor?
"pulang aja deh. toh semua kerjaan sudah Papa batalin karena ngira Mischa kenapa-kenapa.
"Okey. kalau gitu Sampai ketemu di rumah ya pa."
Tuan Carlos Antonio menghubungi nomor ponsel Nyonya Aurora untuk mengajak pulang.
"Di mana kamu Aurora?"
"Di cafe Larissa, aku ya kenapa!
__ADS_1
"loh, kamu pergi nggak bilang-bilang?"
"Mischa kan, nggak kenapa-kenapa. Jadi ngapain Aku lama-lama di sana?"
Tuan Carlos Antonio menghilang apa Soraya mengusap usap wajah. "lain kali kamu tetap harus kasih tahu, jangan main pergi begitu saja."
"Sudahlah kuya. aku pusing ketemu Kasih. mau menenangkan pikiran."
Tuan Carlos Antonio malas berdebat. dia matikan saja telepon secara sepihak. Gavin dan Mischa masih bersiap-siap. Tuan Carlos Antonio pun pergi ke parkiran lebih dulu dan bersandar sejenak di kursi kemudi.
Tuan Carlos Antonio mengeluarkan kartu nama milik Kasih dari dalam saku jas. Ada nama lengkap, jabatan dan nomor ponsel Kasih tertera di sana. itu artinya, dia bisa menghubungi wanita itu kapanpun, kan?
Namun, ternyata tidak semudah kasih cenderung mengabaikan telepon dan pesan dari Tuhan Carlos Antonio. Padahal kata Gavin, Mischa cukup sering berbincang dengan kasih lewat telepon.
"Papa ada urusan sama Bu Kasih ya?" tanya Gavin
"Hah?"enggak cuma nanya aja." Elak Tuan Carlos Antonio.
Sejak usianya menginjak dewasa, ayahnya tak pernah menyimpan rahasia apapun darinya. apalagi dirinya memang sudah dididik sejak dini untuk menjadi pewaris. Maka, setelah tamat SMA, Tuan Carlos Antonio selalu berbagi tentang apa saja padanya. hal itu untuk melatih dirinya mengatasi masalah dan mencari solusi. akan tetapi, kali ini Gavin merasa Tuan Carlos Antonio menyimpan sesuatu darinya.
"Kuya ..." tegur Mischa.
"Ya, sayang!"lamunan Gavin buyar. kemudian merasa bersalah karena sejak tadi tidak mengajak Mischa berbicara.
"Hmmmm .." gumam Mischa
Gavin Mengernyit heran. "kenapa?
Mischa melirik jam. sudah hampir pukul 09.00 malam. Sepertinya memahami maksud istrinya.
"Kamu ngidam sesuatu?"tapi segan bilang ke Kuya karena sudah jam segini?"tebak Gavin tepat sasaran.
Mischa mengangguk. "Aku pengen makan sate madura."ucapkan kepada Gavin memelas.
Ya sudah kamu tunggu di sini ya, kuya akan mencarinya untukmu. Gavin segera bergegas keluar mengambil kunci motor miliknya. mencari penjual sate Madura berharap masih buka di jam 09.00 malam. ia menghampiri seorang pemuda yang sedang nongkrong di pos kamling dekat komplek. "permisi Kuya, boleh nanya nggak? tanya Gavin kepada para pemuda yang lagi nongkrong itu.
Eh ada Kuya Gavin. ucap seorang pemuda yang kebetulan kenal dekat dengan Gavin. Iya aku ya mau cari sate madura, khas dari Indonesia apa kalian mengetahui di mana penjual sate Madura di kota Manila ini?
Sate madura ada dijual sekitar 1 km dari komplek ini Kuya. Jika Kuya mau, Ayo saya antar. Mungkin itu masih buka biasanya dia tutup sampai puku sepuluh malam." ucap pria itu memberitahu. Entah mengapa Mischa ingin sekali memakan sate madura, masakan khas Indonesia itu. Entah karena Mischa menontonnya melalui jejaringan YouTube, sehingga dirinya tergiur untuk memakan sate madura masakan khas Indonesia."
Bersambung.....
hai hai redears dukung terus karya author agar outhor lebih semangat untuk berkarya trimakasih 🙏💓🙏
JANGAN LUPA TEKAN, FAVORIT, LIKE, COMMENT, VOTE, DAN HADIAHNYA YA TRIMAKASIH 🙏💓
JANGAN LUPA MAMPIR KE KARYA TEMAN EMAK YANG LAIN
__ADS_1