Antara Kutub Utara Dan Selatan (You & Me)

Antara Kutub Utara Dan Selatan (You & Me)
BAB 102. SELALU TERGODA _YOU & ME


__ADS_3

Dua hari menjelang resepsi Gavin dan Mischa berada di bandara untuk menjemput Pak Komo dan ibu gupita. Micha memeluk erat ibunya dengan senang, meski baru saja berbicara rasanya sudah rindu sekali.


"Bagus banget bajunya dipakai sama ibu." Puji Mischa


"Ibu Gupita tertawa. "Semua yang kamu kirim bagus dan cantik cantik. Jadi ngak malu hadirin resepsi kamu."


Mischa ikut tertawa.


"Kita mau langsung ke hotel atau Bapak mau lihat kantor NINE MEDIA COPERATION GROUP dulu?"tanya Gavin.


"Kuya Carlos ada di kantor?"tanya Pak Komo


"Ada, pak. Papa masih kerja sampai hari ini,"jawab Gavin.


"Kita jumpai Kuya Carlos dulu ya pita, Kamu belum lapar kan?" tanya Pak Komo kepada istrinya.


"Nggak kok Kuya, mana aja boleh." jawab ibu Gupita


Keempatnya pun meluncur ke kantor NINE MEDIA COPERATION GROUP, sedangkan barang-barang Pak Komo dan ibu gupita diurus oleh asisten Tuan Carlos Antonio. Mereka akan langsung mengantarkan barang-barang itu ke hotel.


"Bagaimana penerbangannya Pak, Bu?" tanya Gavin sambil melihat kaca spion depan.


"Perdana naik pesawat nak Gavin, jadi ibu agak takut-takut pas mau terbang." ucap ibu gupita jujur.


"Kalau Bapak sudah pernah naik pesawat sebelumnya?" tanya Gavin lagi.


"Belum juga nak Gavin, Baru ini. Dulu merantau ke Manila pergi pulang naik bus." jawab Pak Komo.


Gavin tersenyum merasa bangga pada mertuanya. Mereka mendidik putrinya dengan baik, sehingga mendapat banyak prestasi dan sering pergi ke sana kemari. Sudah punya pengalaman terbang naik pesawat. Bahkan sebelum menikah dengannya.


Tuan Carlos Antonio yang sudah dikabari oleh Gavin menyambut kedatangan besannya.


khususnya Pak Komo yang membantu desain bagian dalam dan luar kantor megah tersebut.


"Kamu tahu Gavin, ruang VIP itu juga dibuat atas saran Bapak mertua kamu." tuan Carlos Antonio memberitahu.


"Oh ya." kemudian melirik Mischa. Dia jadi ingin mengucapkan terima kasih pada sang ayah mertua, karena ruangan itu menjadi saksi pernyataan cinta Gavin pada istrinya.


"Kayaknya nggak ada perubahan ya, Kuya." tanya Pak Komo


"Nggak, Kita cuman renovasi beberapa bagian yang udah rusak aja nggak ada mengubah model atau desain bangunan." jawab Tuan Carlos Antonio.


Pak Komo mau ngangguk-angguk paham.


"Ibunya Mischa, mau ikut keliling atau mau di cafe saja?" tanya Tuan Carlos Antonio.

__ADS_1


"Di sini saja Kuya." jawab Ibu Gupita. Dia tak mampu berjalan-jalan terlalu lama."


"Oke, saya ajak Kuya tur gedung dulu ya.


Kedua bapak-bapak itu pun mulai tur. Mereka sembari mengobrol dan sesekali bercanda. Gavin membawa Ibu mertuanya ke kafe, di dalam kantor. Ini pun adalah setempat Gavin menarik tangan sebelum sempat menandatangani kontrak dengan NINE MEDIA COPERATION GROUP."


Gavin kemudian sadar bahwa di kantor ini juga ada pengalaman istimewa antara dirinya dengan sang istri.


"Rasanya beda banget ke sini lagi, setelah kita nikah." bisik Gavin pada Mischa.


"Kenapa Kuya?" tanya Mischa bingung.


"Ruang VIP Cafe ini." ucap Gavin


Mischa menutup mulut dengan kedua tangan. "Benar juga pikirnya. Mereka kemudian saling tersenyum malu-malu.


Gavin kemudian membawa mertuanya menikmati sajian lezat di sebuah restoran mewah, sebelum mengantar keduanya ke hotel untuk beristirahat.


"Maaf ya nak, Ibu nggak bisa jalan lama-lama. padahal jarang-jarang bisa ke Manila tapi nggak bisa terlalu kemana-mana." ucap Ibu Bu Gupita pada Mischa.


"Nggak apa-apa bu. Yang penting Ibu sehat pas resepsi. Buat apa jalan-jalan Kalau nanti pas hari H, tumbang." balas Mischa.


Ibu Gupita kembali memeluk putrinya yang begitu baik dan pengertian. Didikannya yang baik atau memang hati anaknya yang luar biasa. Entahlah dia pun tak tahu yang mana.


"Baik nak Gavin. Hati-hati di jalan pulang." Ucap pak Komo.


Keduanya mengalami tangan ayah dan ibu sebelum beranjak. Sesampainya di rumah, Mischa segera menanggalkan pakaian, untuk menggantinya dengan gaun tipis yang biasa dipakai saat berada di kamar berdua saja dengan Gavin.


"Kita kok nggak nginep dari malam ini Kuya?" tanya Mischa


Gavin duduk di sofa dan memperhatikan kegiatan istrinya hampir tanpa berkedip.


"Kamarnya masih ada yang pakai. Baru check out besok siang." jawab Gavin.


"Oh begitu?"


Entah hanya perasaan Gavin saja atau memang tubuh istrinya. Kini lebih berisi Mischa memang langsing. Tetapi beratnya cukup ringan. Sekarang beberapa bagian tubuhnya terlihat lebih montok.


Nafas Gavin mulai memburu dengan tidak santainya. Bahkan hanya dengan melihat Mischa mengikat atau menyanggul rambut dan menampakkan tengkuknya, sudah mampu membuat gairahnya membara.


Belum lagi saat melihat Mischa merubah hiasannya,waktu itu benar-benar menepati janjinya untuk berhias sesuai keinginan. Gavin saat berada di kamar dia tidak pernah memakai riasan seperti itu saat keluar rumah.


Mischa selalu berhasil memuaskan hasratnya.


Gavin pun mulai Tak sabar. Ada hal yang harus dipenuhi saat ini juga.

__ADS_1


Bunga-bunga cinta bermekaran semakin subur setiap harinya. Dua insan yang saling menyatu itu, meski tak selalu lepas bersama.


Tetapi tetap bersemut merah setelah melakukannya. Bibit bibit kehidupan baru, telah tumbuh dengan bahagia di dalam tubuh Sang wanita yang begitu dicintai. Bahkan sebelum lahir ke dunia.


"Kenapa aku yang nggak pernah cukup sekali ya?"selalu saja mau dan mau lagi." goda Gavin.


"Kalau udah nikah, mau berapa kali juga bebas Kuya. Nggak dosa." balas Misch berkelakar.


"Iya juga, ya." Gavin tertawa.


"Besok malam emang tetap mau?


"Nggak istirahat aja?"tanya Mischa.


Gavin tampak berpikir.


"Iya, lagian ada bapak sama ibu juga. Siapa tahu mereka butuh apa-apa."


"Oke deh, aku mandi duluan ya, Kuya."


Gavin mengangguk. Kali ini, Gavin tak ikut mandi bersama. Awalnya saat pulang tadi dia berniat untuk mengecek pekerjaan. Namun, hal itu harus tertunda sesaat.


Sebenarnya tidak ada masalah. Berarti selama Gavin meninggalkan kantor Matteo dan Kayla mampu mendengar pekerjaan dengan baik. Dia pun berpikir untuk memberikan insentif kepada kedua karyawan yang sudah bekerja keras itu.


Mischa keluar dari kamar mandi, mengalihkan atensi Gavin dari laptopnya. Sial! harusnya Gavin fokus kerja saja. "Jangan terdistraksi seperti ini.


Bulir-bulir air menurun leher sang istri, membuat Gavin menelan ludah menahan diri. Ia menyingkirkan laptop. Dia turun dari ranjang menghampiri Mischa yang ingin mengeringkan diri.


"Kerjanya sudah selesai Kuya?


tanya Mischa. Mischa yang tak menyadari kalau Gavin sedang menuju ke arahnya, dengan tatapan nanar.


"Kamu mandi lagi aja nanti, ya."


membuat Mischa menghela nafas. Tetapi tetap ikut kembali keranjang bersama suaminya."


Bersambung.....


hai hai redears dukung terus karya author agar outhor lebih semangat untuk berkarya trimakasih 🙏💓🙏


JANGAN LUPA TEKAN, FAVORIT, LIKE, COMMENT, VOTE, DAN HADIAHNYA YA TRIMAKASIH 🙏💓


JANGAN LUPA MAMPIR KE KARYA TEMAN EMAK


__ADS_1


__ADS_2