
Mischa melongo. Dia kira bosnya akan mengomel karena dirinya dan Irma menghabiskan hampir 25 juta untuk membeli bajunya. Tak disangka respon bosnya seperti habis membeli permen atau kerupuk yang ada di warung. Takut diomeli, Mischa pun mengikuti langkah cepat bosnya dengan setengah berlari.
"Kenapa tidak beli sepatu dan tas juga?"tanya Gavin saat mereka menaiki lift menuju NINE MEDIA COPERATION."yang mana Di sana sudah ada Tuan Carlos Antonio menunggu mereka.
"Ate Irma bilang cuman beli baju, Bos. Lagian kami sudah banyak menghabiskan uang bos. harga baju sepasang di sana, Sama persis dengan biaya kehidupan Mischa Selama 2 bulan."ucap Mischa sambil nyengir kuda.
Tapi terlihat tidak cocok kamu berpakaian seperti itu, dengan tas dan sepatumu. aturan kau belikan tas dan sepatu yang cocok digunakan memakai pakaian itu. Tapi ya sudahlah, Tidak apa-apa. Sudah cukup terlihat bagus."kali ini Gavin memuji Mischa.
Mischa tersenyum."Terima kasih bos!"
lift kembali terbuka. Dan mereka disambut dengan banyaknya orang yang sudah lebih dulu datang untuk menghadiri rapat tahunan. akhirnya misca paham Kenapa bos menyuruhnya membeli pakaian bagus. Sebab semua orang yang hadir di sini memakai pakaian yang terbaik.
Sejujurnya Mischa merasa minder. melihat penampilan orang-orang yang hadir di sana tampak perfect.
"Hai, Vin! sapa Tito Aris
"Tito....." Gavin menyapa balik seraya menyalami Tito Aris.
Mereka kemudian berbincang sejenak sampai seseorang dari dalam ruangan memanggil peserta rapat untuk masuk. Gavin memberi kode pada misca untuk mengikutinya. Gadis itu pun duduk di sebelah Gavin dan menyiapkan iPad untuk mencatat seluruh hal-hal penting yang disebutkan dalam rapat.
"Ini bos, bahan untuk Bos bawakan nanti." Miska memberikan iPad kepada Gavin.
bahan yang akan ditampilkan di layar sudah diberikan pada operator rapat. Gavin membutuhkan iPad untuk berjaga-jaga Jika ada yang perlu ditambahkan.
Ternyata membutuhkan waktu yang cukup lama. Waktu istirahat makan siang tiba dan rapat akan dilanjutkan setelahnya. Mischa mengikuti Gavin ke ruangan makan prasmanan yang sudah disediakan oleh kantor pusat.
"Kamu boleh makan sepuasnya. pasti kamu belum pernah makan yang seperti ini,kan? Tapi tolong jangan bikin malu."ucap Gavin kepada Mischa karena ia tidak ingin Mischa mempermalukan dirinya.
"Baik bos!
__ADS_1
Bos jangan khawatir. Walaupun Mischa kampungan, tetapi Mischa pernah mempelajari table manner. Saat Mischa masih SMA dan juga kuliah. Walaupun misca kuliah hanya karena mendapatkan beasiswa."ucap Mischa sambil nyengir.
"Baguslah, sekarang kau makan sepuasnya."
Miska mengambil piring dan melihat menu makanan yang tersaji. Dia tidak ingin mencoba semuanya karena pasti perutnya tidak muat. Dia hanya mengambil beberapa saja yang sesuai dengan porsi makannya.
Mischa ingin kembali menghampiri Davin ketika pria itu menghentikannya.
"Kamu makannya di meja itu. meja ini khusus untuk para petinggi perusahaan."ucap Gavin dengan nada kecil.
"Oh baik bos!"Mischa menurut lalu duduk diantara para peserta rapat yang lain. dikarenakan tidak mengenal siapapun, dia hanya fokus makan tanpa melihat kemana-mana. barulah setelah selesai makan, ada seseorang yang menghampirinya.
"Mischa!!!!
Miska mendongak dan mendapati seorang wanita berparas cantik berdiri di dekatnya. dia bingung kenapa wanita berparas cantik itu memanggil namanya dan sepertinya ia mengenal Mischa.
"Kamu beneran Miska, kan?"tanya wanita itu yang terlihat berpenampilan elegan.
"Sebenarnya aku sudah sedari tadi memperhatikan kamu saat berada di ruang meeting. Seperti aku pernah kenal tapi lupa di mana. kamu Miska yang dari RTU, kan? wanita berparas cantik itu mencoba kembali memastikan bahwa dia tidak salah orang.
"Benar, Ate. saya Mischa lulusan dari RTU."
dikarenakan ruang makan masih ramai dan orang-orang mengobrol di sana-sini, tidak ada yang menghancurkan seruan wanita yang melakukan kenal pada mischa tersebut. bisa sempat merasa khawatir kalau orang-orang memperhatikan mereka, ternyata tidak ada.
"Kamu ingat sama aku?"tanya wanita itu.
Mischa benar-benar kurang mengingat. dia tidak mengingat Siapa wanita yang datang menghampirinya dan duduk di sebelahnya.
Gavin baru saja ingin memanggil Miska ketika dia melihat karyawannya itu sedang mengobrol dengan seseorang. Sepertinya Gadis itu bisa dengan mudah mendapatkan teman di antara banyak manusia di sini.
__ADS_1
Sayangnya mereka harus segera meninggalkan ruangan itu. Tetapi, Gavin tak sengaja mencuri dengan obrolan kedua karyawan itu.
"Kok kamu bisa ada di sini? bukannya kamu harus lanjut S2 di California?
langkah gabung terhenti. Matanya mendelik dan seketika dia merasa penasaran dengan kelanjutan obrolan tersebut. Dia pun menunda niatnya untuk memanggil Mischa.
"Ya ampun aku sampai lupa. Aku regina salah satu panitia penyelenggara beasiswa yang diadain di RTU. Dan kamu salah satu kandidat yang layak mendapatkan beasiswa ke California. Kenapa kau bisa berada di sini? Apakah kau tidak mengambil beasiswa untuk mengambil S2 ke California? seharusnya kau sekarang berada di sana." ucap wanita berparas cantik itu kepada Mischa.
Mischa hanya tersenyum miris. Ceritanya panjang Ate, aku memilih bekerja di kota Manila. Aku bekerja di ALC setelah lulus interview saat itu. Kebetulan ada masalah sedikit di kampung.
"Apa kedua orang tuamu masih tinggal di desa Pao Pao?"Mischa menganggukkan kepalanya pertanda tebakan regina benar adanya.
"Berarti kamu salah satu karyawan Tuan Gavin,ya? tanya Regina penuh selidik.
Mischa menganggukkan kepalanya.
Wajah regina sumringah berubah bingung.
"Sayang sekali, beasiswa ke California itu tidak kamu ambil. Kamu tinggal berangkat saja. Semuanya sudah beres diurus kok malah kerja di sini?
Mischa terdiam sejenak. Dia pun mendadak menjadi murung."Aku nggak bisa pergi Ate, ibuku di kampung sudah sakit-sakitan. jadi ayahku nggak bisa pergi ke ladang lagi tiap hari karena menjaga ibuku. Makanya aku harus bekerja untuk membantu keluarga. Apalagi ada sedikit masalah keluargaku kepada seseorang yang meminjamkan uang kepada ayahku. Saat ibuku masih berada di rumah sakit.
Ceritanya panjang sekali sehingga aku sampai di kota Manila ini. Berat rasanya meninggalkan Ibu dan ayahku di desa Pao Pao. Sedangkan Saat kuliah saja aku masih agak dekat ke desa itu. Aku selalu mengkhawatirkan mereka.
Tapi aku tidak memiliki pilihan lain selain aku harus menerima pekerjaan ini. Karena jika aku tidak bekerja maka kami akan kesulitan ekonomi. Dan aku tidak mau menikah dengan pria yang sudah beristri lima."mendengar penjelasan membuat Regina terhenyak.
Regina memeluk Mischa. Berniat untuk menenangkan dan menguatkan Mischa. Gavin tidak kalah terkejut mendengar apa yang dikatakan oleh Mischa kepada Regina. "Jadi itu sebabnya Mischa tidak memberi pakaian baru meski mendapat gaji yang cukup banyak?"
Bersambung.....
__ADS_1
hai hai redears dukung terus karya author agar outhor lebih semangat untuk berkarya trimakasih 🙏💓🙏
JANGAN LUPA TEKAN, FAVORIT, LIKE, COMMENT, VOTE, DAN HADIAHNYA YA TRIMAKASIH 🙏💓