
"Jadi ini tadi yang aku bilang kuya, Aku butuh bantuan Kuya, untuk meyakinkan Gavin agar mau menandatangani kontrak pemindahan karyawan atas nama Mischa ke sini." jelas Tuan Paris.
Tuan Carlos Antonio terkejut. Mischa jauh lebih terkejut tanpa basa-basi Tuan Aris langsung menjelaskan maksud dari memanggil Mischa
"Kamu udah ngomong sama Gavin?" tanya Tuan Carlos Antonio masih cukup kaget.
"Belum Kuya, makanya aku mau minta tolong sama Kuya. Anak ini punya bakat besar, dia harus mendapat jenjang karir yang lebih menjanjikan di sini. Mau sampai kapan Gavin nahan dia di kantor kecil itu Kuya." cecar Tuan Aris kepada Tuan Carlos Antonio.
Tuan Carlos Antonio tak bisa berkata-kata. memang sudah sejak pertama kalau ALC didirikan Gavin, Akan mengirim karyawan yang lebih senior untuk berbakat ke perusahaan induk. Hal itu sudah terjadi beberapa kali. Namun tampaknya memang ada yang aneh dengan Gavin. Dia menahan Mischa terlalu lama dengan kemampuan sebesar itu.
Saya sudah lihat hasil kinerja Kamu berkali-kali. Bahkan saat pameran kemarin bawahan saya sampai mem bully kamu kan? kalau kamu sudah sampai di perlakukan seperti itu, artinya kamu sudah menjadi ancaman bagi karir mereka." ucap Tuan Aris kepada Mischa.
Mischa masih bungkam. Otaknya masih memproses segala hal yang dijelaskan dengan cepat dan tanpa jeda ini.
"Ini Kamu bisa baca dulu Tuan Aris memberikan sebuah berkas kepada Mischa.
Mischa membuka dan membaca seluruh isi sampai terdengar dia akan mendapat gaji emat hingga enam kali lipat sebulan, jika bekerja di bawah divisi Tuan Aris. Sebab dia akan menjadi pemimpin dari tim desain.
"Bakat Kamu perlu dihargai lebih kalau kamu tetap berada di ALC bayaran kamu akan segitu segitu saja. Jenjang karir pun akan biasa-biasa saja kamu datang jauh-jauh ke Jakarta untuk mencari peluang yang lebih baik kan?" tanya Tuan Aris.
Tuan Carlos Antonio hanya bisa menyaksikan Tuan Aris meyakinkan seperti orang agen asuransi atau multi level marketing. Dalam hati, ia bertanya apa sudah memberitahukan tentang panggilan ini jawabannya antara dua sudah. Karena Gavin memang ingin melepasnya atau belum, karena setahunya Gavin tidak akan melepas begitu saja.
"Ini semua beneran Pak?" akhirnya Mischa pun bersuara setelah beberapa waktu.
"Tentu saja perusahaan kami selalu menghargai bakat karyawan." jawab Tuan Aris yakin.
Mischa memandangi nominal gaji yang ditawarkan oleh Tuan Aris. Jika dia mendapatkan uang sebanyak itu dalam sebulan. Maka ayahnya sama sekali tidak perlu pergi ke sawah lagi. Ibunya juga bisa mendapatkan pengobatan yang lebih baik sejak meninggalkan kampung untuk berangkat ke Jakarta. Dia sudah berjanji akan berjuang sekuat tenaga demi kedua orang tuanya.
"Apa saya boleh pikir-pikir dulu Pak?" tanya Mischa
Tuan Aris tampak tidak terima. "Kalau bisa, kita tuntaskan hari ini juga secepatnya.
Mischa tidak mungkin membuang kesempatan emas ini kan, lagi pula jika dia pindah ke sini, dia tidak akan sering bertemu lagi dengan Gavin. Toh Bosnya itu seperti sudah tidak menganggapnya lagi jadi buat apa bertahan di sana kan.
"Baru saja Mischa ingin menjawab, tiba-tiba suara Gavin mengalihkan atensi. Gavin datang menghampiri Mischa lalu menarik tangan Gadis itu, sampai dia berdiri dan menjatuhkan berkas tawaran kontrak ke lantai.
Gavin gak akan pernah kasih Mischa pindah ke sini Om, nggak akan pernah."
****
Kamu bawa mobil, tumben? tanya Irma
kan mengajak kamu jalan jawab Matteo.
__ADS_1
"Idih, gombal."
Matteo hanya tertawa sambil keduanya memasuki mobil. Irma Yang penasaran dengan perbincangan Matteo dan Mischa sebelumnya pun berinisiatif untuk bertanya.
"Tadi ngomong apa sih sama Mischa, serius banget kayaknya? dia nggak ada bikin masalah kan?
Matteo sudah berjanji akan bercerita pada Irma. Jadi dia harus menepati sekarang.
Apapun yang aku bilang, ini nggak boleh kamu ceritain ke siapapun, janji?
"Termasuk Andika, Valen tanya Irma
Matteo mengangkut termasuk ke mereka.
Irma pun menyanggupi syarat tersebut.
"Okey, aku janji."
Matteo menghembuskan nafas bingung harus mulai dari mana.
"Jadi bos sama Mischa itu pernah beberapa kali jalan
"Hah?"pekik Irma benar-benar terkejut. Serius Kok bisa? Mischa nggak pernah cerita sama aku. Kamu nggak bohong kan?"
Matteo sudah mengantisipasi pertanyaan Irma yang bertubi-tubi. Lagi pula mereka punya banyak waktu jadi dia akan bisa menjelaskan semuanya pada wanita itu.
"Nah kalau Mischa sakit, dia ada cerita. Tapi dia nggak ada bilang diantar sama bos ke rumah sakit." sahut Irma.
"Terus yang lebih bikin kaget, Bos nginap satu malam Untuk jagain. tambah Mateo. Irma kembali terperanjat. "Serius itu bos, bukan orang lain?
"Aku juga berpikir sama kayak kamu. Tapi itu beneran bos kita.
Irma tercengang mendengarkan penuturan Matteo. Rasanya seperti menonton sinetron banyak adegan tidak masuk akal. Tetapi memang begitulah faktanya.
"Terus terus selain itu apalagi? " tanya Irma semakin penasaran
"Mischa juga pernah beberapa kali diajak makan bareng, terus diantar pulang ke kos. pernah diajak nonton bioskop juga." lanjut Matteo.
"Jika saja rahang tidak menyatu dengan wajah, mungkin rahang Irma sudah jatuh sekarang. Dia bahkan tidak sadar mulutnya sedang menganga begitu lebar.
Aku sih nggak tahu. Bos ada rasa sama Mischa atau ngak?" ucap Matteo
"Kenapa gitu? tanya Irma
__ADS_1
Matteo tidak tahu apakah boleh menceritakan tentang ini pada Irma atau tidak. Namun karena sudah terciprat air lebih baik basah saja sekalian.
Bos dikasih ultimatum sama papanya, untuk nikah dalam waktu enam bulan. Aku benar nggak tahu bos memanfaatkan Mischa atau nikah sama dia. Untuk memang benar suka sama Mischa." jelas Mateo
Irma menutup mulut, semakin lama semakin banyak hal yang membuat terkejut. Dengan cepat dia mengirimkan pesan Whatsapp pada Mischa dan menceritakan apa yang baru saja dia dengar dari.
Mischa perlu tahu tentang hal ini harus.
****
Gavin baru saja menyelesaikan pekerjaan dan kini sedang bersandar di kursi beristirahat. Kopi panas yang baru dia pesan pada Kayla sudah tersaji di atas meja. Pikirannya begitu penat. Tetapi dia sedang tidak ingin menyendiri di restoran favoritnya.
Sebab restoran itu akan mengingatkannya pada Mischa.
Gavin mahela nafas. Merasa bersalah pada Mischa Sudah hampir dua pekan sejak Gadis itu pulang dari rumah sakit. Dan mereka benar-benar telah menjadi orang asing. hubungan mereka kini tidak lebih dari sekedar atasan dan karyawan saja.
Perasaannya hari ini tidak enak. Terlebih setelah jelas-jelas tidak mengacuhkan saat rapat tadi. Apa Gadis itu kecewa padanya? Entahlah, Gavin tidak bisa menebaknya
"Bos mau pulang?" tanya Kayla
"Sebentar lagi. Kamu kalau mau pulang duluan saja." Jawab Gavin. Kayla tidak beranjak keluar dia justru semakin masuk ke dalam ruangan dan menutup pintu.
"Tadi Tuan Aris menghubungi Bos, katanya ingin memberitahu.
Dahi Gavin berkerut. Om Aris mau apa?
"Beliau mencari Mischa." jawab Kayla singkat
Gavin segera menegakkan tubuh, entah hanya perasaan kayla saja atau memang mendadak bosnya terlihat tegang.
"Terus mencari Micha untuk apa?" tanya Gavin
"Tadi Mischa bilang, kalau dia dipanggil ke kantor utama untuk menemui Tuan Aris langsung, cuman itu Bos." jelas Kayla.
Mata Gavin membulat. Bagaimana mungkin Om Aris menyuruh Mischa langsung ke sana, tanpa berkoordinasi dengan yang terlebih dahulu. Bagaimanapun dia masihlah pimpinan Mischa. Tidak bisa sembarangan seperti itu.
"Saya mau ke kantor utama ." ucap Gavin seraya mengambil jas.
"Baik bos, hati-hati di jalan." ucap Kayla Sepertinya dia melakukan hal yang tepat dengan memberitahu Gavin soal itu.
Bersambung.....
hai hai redears dukung terus karya author agar outhor lebih semangat untuk berkarya trimakasih 🙏💓🙏
__ADS_1
JANGAN LUPA TEKAN, FAVORIT, LIKE, COMMENT, VOTE, DAN HADIAHNYA YA TRIMAKASIH 🙏💓
JANGAN LUPA MAMPIR KE KARYA MORATA YANG BARU TERBIT." PERJUANGAN ABIMAYU."