
"Gavin...." panggilnya seraya mengguncang pelan tubuh Gavin.
Sepertinya pria itu sudah tertidur lelap. senyuman larissa mengembang.
malam ini Gavin akan menjadi miliknya seutuhnya.
Sebelumnya.
Larissa pulang lebih awal dari butik untuk menyambut kedatangan Nyonya Aurora di apartemen miliknya. Dia tak menyangka keinginan Gavin untuk menikahi seorang gadis kampung, berefek sangat besar pada wanita itu.
Padahal Nyonya Aurora baru saja melakukan perawatan dari ujung kepala hingga kaki kemarin. Namun yang Larissa lihat hari ini seperti seorang wanita yang tak pernah menginjakkan kaki di salon sama sekali.
"Tante baik-baik saja? tanya Larissa seraya menyajikan secangkir teh.
Nyonya Aurora tidak langsung menjawab. Dia menyeruput teh terlebih dahulu merasakan ketenangan, setelah aroma memasuki penciumannya.
Teh ini yang membuat tante ngerasa lebih baik. Sebelumnya tante benar-benar stress!" ucap Nyonya Aurora.
Larissa mencoba menenangkannya.
"Tante sudah coba ngomong lagi?"
"Sudah Larissa. Bahkan tante juga sudah ngasih banyak pandangan ke dia. Tapi dianya tetap ngotot mau nikah sama perempuan kampung itu;"Nyonya Aurora mendecus sambil melipat kedua tangan di depan dada.
Larissa menghela nafas."tante yakin sama rencana ini?"
Wajah Nyonya Aurora seketika melunak.
"Maafin Tante iya Larissa, Tante kebawa emosi. Bisa-bisanya Tante malah nyaranin hal begituan,"sesal Nyonya Aurora
Larissa menggeleng. "Enggak kok, kan sejak awal aku nggak pernah nolak itu tante."
"Kamu yakin?" tanya Nyonya Aurora serius.
Larissa mengangguk mantap."Demi dapatin Gavin aku rela ngelakuin apa aja Tan. Sangkin tulusnya perasaan aku buat Gavin."
Nyonya Aurora berdecak kesal. "Gavin benar aneh bisa-bisanya membuang berlian kayak kamu, demi batu kerikil begitu. Ih sumpah, tante tuh, kesal banget!"
"Makanya itu Tan, kita harus berusaha supaya Gavin gak kesandung si batu kerikil yang bikin orang jatuh itu. Bukan batu-batu gede tapi batu-batu kecil, yang membuat jatuh Gavin bakalan sadar Nanti kalau udah lecet-lecet." sahut Larissa.
"Benar kamu Larissa. Gavin ini masih belum sadar, kalau dia cuman mau di porotin. Aduh mau dikatain bego, Tapi anak sendiri."
"Ya sudah tan, tante nggak usah khawatir. Aku bersedia kok jalanin saran dari Tante. Tapi gimana caranya menjebak Gavin? dia kalau ketemu aku saja, langsung menghindar." tanya Larissa bingung.
Kedua wanita berbeda generasi itu kemudian memikirkan apa yang harus mereka lakukan. Setelah beberapa puluh menit kemudian berlalu, barulah Nyonya Aurora menemukan sebuah ide.
"Tante tau gimana caranya supaya Gavin ke sini." seru Nyonya Aurora. Larissa menegakkan tubuh dari posisi bersandar untuk mendengarkan dengan seksama. "Bagaimana caranya tante? tanya Larissa penasaran
__ADS_1
"Besok pagi tante bakalan pura-pura minta dijemput ke sini. Tante bilang aja kalau kamu ngundang tante dan yang lain buat minum."Nyonya Aurora kemudian mengangkat cangkir tehnya. Pas Gavin udah datang, kamu kasih Gavin minum teh yang udah dicampur sama obat tidur. Setelah Gavin tidur....."
Tidak perlu dilanjutkan pun Larissa sudah tahu ke mana arah pembicaraan ini. Seringai muncul di wajah kusut Nyonya Aurora, mendadak dia Jadi terlihat lebih segar.
Karena telah mendapatkan ide menjebak putranya sendiri.
Larissa merasa ada celah direncana tersebut. "Tapi Tante, Gavin gak mungkin mau minum gitu saja. Dia aja masuk juga pasti dia bakalan langsung nolak." Aku yakin.
"Hm .. betul juga ya." sahut Nyonya Aurora
"Atau... Larissa mencoba menyampaikan usul."aku bilang saja tante lagi di toilet, dia pasti mau masuk sambil menunggu tante. cuma, ya,itu. Gavin mau minum apa nggak, itu untung-untungan."
"Iya iya gitu juga bisa. Mudah-mudahan Gavin mau minum ya, supaya lebih meyakinkan tante taruh saja tas tante di atas meja. Biar dia percaya kalau Tante memang lagi ada di sini,"sahut Nyonya Aurora
"Wah ide bagus nih Tan," Larissa menyetujuinya.
"Kalau begitu tante keluarin saja dompet sama ponsel Tante, tasnya biar tinggal di sini."
"Tapi Gavin tahu kan, kalau ini tas tante?" tanya Larissa
"Tahu kok, tas ini dia yang beliin. Soalnya oleh-oleh dari dinas di Thailand." jawab Nyonya Aurora yakin.
"Wah pas banget Tante, bawa tas yang ini." Larissa berseru semangat.
"Iya kan, kayaknya semesta juga mendukung rencana kita deh."
Kini... adalah saatnya eksekusi.
Larissa tersenyum licik saat menatap Gavin yang sedang tertidur pulas. Seorang Gavin yang hebat ternyata bisa tumbang juga karena obat tidur.
"Gak bisa sombong lagi kamu Gavin, gak bisa kabur. Sekarang kamu adalah milik seorang Larissa." Larissa bermonolog sendiri.
Namun dia tidak ingin terburu-buru. Obat tidur itu cukup kuat dan mampu membuat seseorang tidur selama lebih dari 8 jam. Dia pun memilih berendam terlebih dahulu.
Air hangat telah disiapkan di dalam bathtub. Larissa menuangkan sabun beraroma terapi lalu berendam di dalamnya. Meski akan melakukannya dengan Gavin yang tertidur, dia tetap ingin membuat malam ini berkesan.
Dia ingin kulitnya terasa lembut dan harum. membayangkannya saja sudah membuatnya tersenyum malu. Malam ini akan menjadi malam yang panjang baginya.
Sementara itu Mischa mengirim pesan pada Gavin, untuk menanyakan apakah pria itu sudah sampai di rumah atau belum. Namun pesan yang dia kirim hanya menunjukkan centang satu. Dahinya mengernyit. Tak biasanya ponsel Gavin tak aktif.
"Apa mungkin sinyalnya, ya?" gumam Mischa dalam hati
Tak lama kemudian sebuah panggilan masuk ke ponselnya. Dia kira itu Gavin Ternyata Dari orang tuanya. Mischa pun menekan tombol hijau dengan senyum terkembang.
"Hello bapak." sapa Mischa ketika wajah sang ayah muncul di layar ponselnya
"Hello anak bapak, apa kabar nak? tanya sama ayah
__ADS_1
"Baik Pak."Baik banget malah" jawab Miska begitu senang.
"Wah syukurlah, senang banget Bapak mendengarnya. Bapak kira kamu bakal stress bekerja di Manila."
"Awalnya iya, tapi sekarang sudah jauh lebih baik."
"Nggak kok pak, semua baik-baik saja di sini. Mischa kemudian teringat pada Gavin. Apa dia perlu memberitahukan tentang Gavin pada orang tuanya sekarang.
"Bentar nak, ibumu mau ngomong." ucap sama ayah
"Hallo nak, sapa ibunya Mischa
"Ibu, apa kabar Bu?sakitnya sudah mendingan?" tanya Mischa khawatir
sang ibu terbatuk sebentar membuat raut wajah Mischa berubah cemas.
"Nggak apa-apa Nak, kamu fokus kerja saja. jangan terlalu mikirin ibu, kan ada Bapak di sini yang jagain ibu."
Mischa pun mengurungkan niat untuk bercerita tentang Gavin saat ini. Belum tepat dia ingin bertanya lebih banyak tentang kesehatan sang ibu.
Sementara di apartemen milik Larissa Wanita itu sudah memakai satu set pakaian seksi, dan sedang menyemprotkan parfum dari merk ternama di dunia, berharga puluhan juta. Parfum yang khusus dipersiapkan untuk acara-acara penting dan malam ini adalah salah satunya.
"Walaupun kamu nggak bakalan ingat, setidaknya wangi parfum aku bakalan tinggal di tubuh kamu." gumam Larissa serasa.
DUAR!!!
Larissa terkejut hingga menjatuhkan lipstik yang baru saja ingin dia oleskan ke bibir.
suara apaan tuh?
KRINGGGG!!!
"Hah.., kok alarm kebakarannya nyala? tanyanya bingung.
Dia kemudian ingat kalau lupa mematikan kompor saat menyeduh teh untuk Gavin.
"AMPUN, MATI AKU!"serunya seraya berlari ke arah dapur. Api sudah menjalar di atas kompor membakar teko di atasnya.
"AAKKK!"teriak Larissa panik.
Bersambung.....
hai hai redears dukung terus karya author agar outhor lebih semangat untuk berkarya trimakasih 🙏💓🙏
JANGAN LUPA TEKAN, FAVORIT, LIKE, COMMENT, VOTE, DAN HADIAHNYA YA TRIMAKASIH 🙏💓
JANGAN LUPA MAMPIR KE KARYA MORATA YANG BARU TERBIT." MENJANDAKAN ISTRI DEMI JANDA"
__ADS_1