
Perjalanan menuju bandara pun dirasakan tak begitu lama. Mungkin karena semua misi telah selesai dilaksanakan. Daniel menurunkan semua barang dan menaikkannya ke troli.
"Terima kasih banyak, Pak Daniel. sampai ketemu lagi,"ucap Gavin.
"Sama-sama, Tuan Gavin. kalau datang ke sini lagi, telepon saya saja ya, pak. pasti saya jemput." janji Daniel.
Gavin tertawa. "Baik, Pak!"Kami balik dulu ke Manila. mari Pak!"
"Hati-hati di jalan Tuan Gavin, Nona Mischa,"ucap Daniel seraya melambaikan tangan. Mischa pun balas melambai, selalu berjalan berdampingan dengan Gavin.
"Oh, iya kuya aku mau nanya ini lupa melulu. mama kuya nggak ada telepon?"tanya Mischa penasaran.
"Nggak ada. cuman ngirim chat, nanya udah sampai apa belum. itu saja,"jawab Gavin.
"Apa nggak aneh?"tanya Mischa lagi.
Gavin mengangguk-angguk.
"Sebenarnya sih, Kuya kira saja bakalan diomelin terus diteleponin tiap hari. Tadi Kuya chat, ngabarin mau pulang sore ini. Mama cuman balas hati-hati di jalan. Aneh ya?"
"Apa ada sesuatu kuya?"
"Kalau ada apa-apa,Papa pasti ngasih tahu. Papa juga anteng aja. Ya, mudah-mudahan memang nggak ada apa-apa. Soalnya ini beneran bukan kayak Mama.
Mischa mencoba mengenyahkan pikiran-pikiran buruk Selama perjalanan pulang. Restu dari orang tuanya sudah dikantongi Maafkan. Kini, tinggal meyakinkan Ibu Gavin. Dia bahkan tak menghabiskan makanan yang disajikan oleh pramugari karena telah memikirkan hal tersebut.
"Kamu kenapa? nggak selera makan?"tanya Gavin.
Mischa hanya menggeleng sebagai respon.
"Entar gitu sampai, ada makanan yang pengen kamu makan nggak?"biar kita singgah dulu sebelum pulang." tawar Gavin
"Nggak apa-apa Kuya. langsung pulang aja. besok juga kita sudah harus masuk kantor, kan?"tolak Mischa.
__ADS_1
"Iya, sih."Gavin mengiyakan.
hari sudah gelap saat Gavin dan Mischa keluar dari bandara. Sopir keluarga Antonio sudah menunggu mereka berdua di pintu keluar.
"Kuya Gavin, kemarin sebelum pergi ke Surabaya gak dengar Nyonya manggil-manggil dari luar ruang tunggu?"bukannya menyambut kedatangan Gavin, sopir tersebut justru menanyakan tentang Nyonya Aurora.
Gavin Mengernyit heran."Memangnya Mama ke bandara kemarin?"
"Wah, parah kuya! nyonya besar memaksa saya antarin beliau ke bandara untuk mencegat Kuya supaya nggak pergi.
Bukan hanya Gavin, Mischa pun ikut terkejut.
" Pak Deni nganterin Mama ke bandara? Terus bagaimana?
"Nyonya teriak-teriak, kuya. Tapi kayaknya Kuya sama sekali nggak mendengarnya?" tanya sopir bernama Deni itu.
"Ngak pak, Gavin kemudian bertanya pada Mischa "Kamu dengar, ngak?"
Mischa menggeleng . " Ngak dengar kuya."
"Nyonya diseret sama satpam bandara, Kuya. Saya nggak bisa bantu jadinya langsung nelpon Tuan Carlos Antonio buat datang. untungnya Tuan Carlos Antonio datang buat jemput nyonya." jelas Deni.
"Hah? Ya ampun." seru Gavin , benar-benar terkejut.
"Jadi masalahnya sudah selesai pak?" tanya Mischa khawatir.
"Sudah, non. Kayaknya Tuan Carlos Antonio bayar mereka untuk nggak memperpanjang masalah,"jawab Deni
Gavin menepuk jidat. Lalu, Kenapa Ibunya tidak menghubunginya dan menyuruhnya untuk pulang? kenapa sikapnya kontras sekali? Gavin benar-benar bingung dibuatnya.
"Terus, selama Kami pergi Mama di rumah di mana?"tanya Gavin lagi.
"Diam saja, Kuya. Pokoknya Nyonya ngurung diri di kamar terus. Keluar kamar cuman buat makan doang. Biasanya pergi keluar. belakangan ini di rumah saja."jawab Deni.
__ADS_1
Gavin dan Mischa saling bertatapan.
"Mama sakit pak?"Gavin tiba-tiba merasa khawatir
Deni menggeleng. "enggak kok,Kuya. Nyonya sehat-sehat saja. cuma iya, itu. nggak banyak ngomong saja.
Pasti ada sesuatu, pikir Gavin.
"iya sudah, kita antar Mischa pulang dulu ya pak. habis Itu kita langsung pulang ke rumah." ajak Gavin.
"Baik, Kuya! Mari."
Gavin mendadak diam saja Selama perjalanan. terlihat jelas di wajahnya kalau dia sedang khawatir. Miska pun tidak berani bersuara, takut membuat Gavin marah.
"Kuya nggak mampir, ya. nggak apa-apa kan?"tanya Gavin.
Mischa mengangguk Dan tersenyum.
"nggak apa-apa kok, Kuya. hati-hati ya."
"iya Sampai jumpa besok," Kuya jemput.
Mischa kembali mengangguk.
Sesampai di rumah, Gavin segera berlari mencari ibunya. Gavin mengetuk pintu kamar dengan cepat sambil memanggil sang ibu.
"Ma..., ini Gavin sudah pulang."katanya dengan suara agak meninggi agar Nyonya Aurora bisa mendengarnya.
Bersambung.....
hai hai redears dukung terus karya author agar outhor lebih semangat untuk berkarya trimakasih 🙏💓🙏
JANGAN LUPA TEKAN, FAVORIT, LIKE, COMMENT, VOTE, DAN HADIAHNYA YA TRIMAKASIH 🙏💓
__ADS_1
JANGAN LUPA MAMPIR KE KARYA MORATA YANG BARU TERBIT." MENJANDAKAN ISTRI DEMI JANDA"