Antara Kutub Utara Dan Selatan (You & Me)

Antara Kutub Utara Dan Selatan (You & Me)
BAB 132. ISTRI KEDUA _ YOU & ME


__ADS_3

Mischa benar-benar menjadikan Kasih sebagai panutannya.


Di pertemuan berikutnya mischa mulai mendekati para wanita yang seumuran dengannya dan mengajak mereka berbicara. Kemarin hal itu terlihat mustahil. Tetapi sekarang menjadi lebih mudah. Semua orang menerimanya dengan tangan terbuka. Dalam sekejap Mischa sudah berhasil mendekati sebagian orang di perkumpulan.


"Kita bikin grup obrolan yuk, kita-kita aja." usul Mariska salah satu teman baru Mischa di perkumpulan.


"Apa nggak masalah? kalau yang lain khusus yang lain lebih tua nggak ikutan?" tanya yang lainnya.


"Sudah nggak apa-apa, tenang saja. Kalau mereka masuk grup juga, yang ada nanti obrolannya nggak nyambung dong." jawab Mariska.


Mischa tersenyum. Ini adalah salah satu tujuannya, seperti saran dari Kasih. "Buatlah kubu di dalam perkumpulan yang akan membelah dirinya.


"Kamu hamil ya? udah berapa minggu Mischa?" tanya Sinta.


"Sembilan minggu Ate." jawab Miska tersenyum


"Asik juga ya, di usia muda sudah punya anak." ucap Shinta menanggapi


"Iya, mana suaminya juga mapan banget." sahut Mariska


Mischa sadar kalau dirinya memang harus segera beradaptasi dengan keadaan ini. Jika dia merasa obrolan para wanita ini tidak masuk dengannya, maka dialah yang harus menambah wawasan untuk bisa merespon dengan baik.


"Kamu bilang nggak hobi belanja? tanya Gavin saat menemani istrinya ke mall.


"Memang enggak, ini tuh sebagai upaya untuk memahami produk-produk apa yang hits di antara orang-orang kaya, berapa harganya, merk apa yang diminati, dan lainnya." jawab Miska Seraya mencoba sebuah tas dan melihatnya di cermin.


Gavin tertawa. Mischa memang selalu saja penuh kejutan.


"Jadi kamu cuman mau survei, nggak beli?" tanya Gavin lagi


"Beli juga, tapi nggak usah banyak-banyak. setiap pertemuan akan bakalan pakai produk baru, biar ada bahan obrolan dengan membahas produk itu." jelas Mischa


"Kamu mulai nyaman bergaul sama mereka?


"mau nggak mau Kuya, Kuya juga mau nggak mau kan punya istri kampungan?" aku yang harus beradaptasi sama perkumpulan itu."


Gavin manggut-manggut. Dia senang karena Mischa sudah mulai berinteraksi dengan banyak orang. Dia memang tak salah memilih istri.


"Oh ya, teman kamu itu jadinya kerja di mana sayang?"


"Di Bima digital marketing Kuya, ada posisi yang sesuai dengan ijazah yang Riska memiliki."


"Kamu minta sama Bu Kasih ya?"


Mischa cengengesan. "Itu namanya memanfaatkan relasi Kuya."

__ADS_1


Gavin tertawa, lalu mengacak pelan rambut istrinya.


"Jadi lusa kamu mau nemenin dia interview


ya?"


"Boleh kan? sekalian aku mau makan siang sama Bu Kasih."


"Boleh kok, asal hati-hati aja ya, sayang."


"Siap Pak Bos." ucap Mischa Seraya memberikan salut.


Keduanya kembali tertawa.


Mungkin Ini pertama kalinya Mischa menghabiskan puluhan juta untuk belanja. Namun, dengan begitu dia punya bahan obrolan dengan kubu perkumpulan di pertemuan, hari ini. Setidaknya hal itu cukup setimpal.


"Nanti kalau kamu udah lahiran dan si baby udah bisa naik pesawat, kamu ke Paris deh, lihat produk branded branded besar langsung dari toko resminya. Pasti nggak tahan pengen beli semua. saran Mariska.


"Iya itu beda, walaupun produknya sama. Tapi susah nahan godaan untuk nggak beli, kalau di sana." sahut Sinta.


Mischa manggut-manggut dan mencatat hal tersebut dalam pikirannya.


"Okey target berikutnya ke Paris, dan membagikan pengalaman berlibur dan belanja di sana."


"Kamu jangan mau kalah sama Larissa dong, Mischa." ucap teman perkumpulan lainnya


"Iya kamu tuh, cukup improvisasi style dikit lagi. Aku yakin pasti kamu kelihatan lebih keren dari Larissa." jawab Sinta.


Larissa jelas paham mode terbaru, karena dia jualan pakaian. Tapi kamu juga bisa kok untuk ngelakuin kayak dia, biar nggak sombong banget tuh anak." ucap Mariska.


Mischa menyadari kalau perkumpulan ini bukan diisi oleh orang-orang yang punya hubungan baik, tampaknya semua orang hanya menampilkan yang baik-baik saja di depan. Sedangkan di belakang mereka akan menceritakan keburukan orang lain.


"lagaknya kayak putri saja. Padahal rela ikut sana-sini supaya bisa sukses." sambung Mariska.


Mariska, Sinta ,Stefani dan yang lainnya menyetujui kata-kata Sinta.


"Tapi dia dekat banget sama mertua Mischa. aneh banget, harusnya tante Aurora itu duduknya sama kamu. Kan, kamu menantunya. Tapi dia malah duduk sama si Larissa." ucap Shinta.


"Kamu kayaknya nggak akur ya sama tante Aurora?" tanya Mariska pada Mischa


dengan berat hati, Mischa mengangguk.


"Sudah aku duga. Soalnya waktu yang lain jelek-jelekin kamu pas pertama gabung, dia sama sekali nggak ada belain kamu. Padahal kalau kamu jelek, dia sebagai mertua kamu juga ikutan jelek, kan? suami kamu itu anaknya, bakalan ikut jelek juga heran." seru Stefani.


"Sebenarnya mertua Aku itu orangnya gimana ya Ate?" tanya Mischa pada yang lain

__ADS_1


"Hmmm... apa ya kalau aku bilang. ngomongnya selalu ninggi dan nggak pernah mau kalah dari yang lain. Apa yang dibuat sama orang, dia pasti mau juga. Kaya tante Marina waktu itu ke Paris, buat borong banyak banget tas branded. Eh bulan depannya dia ke Paris juga terus memborong tas juga. Padahal kan bisa beli yang lain gitu." jawab Stefani.


"Oh gitu deh, namanya juga istri konglomerat." sahut Mariska


"Eh tapi ini aku ada rahasia, nggak tahu benar apa nggak. Kamu jangan marah ya Mischa, Aku pernah dengar kalau Papa mertua kamu itu pernah punya istri sebelum Tante Aurora." bisik Mariska.


Mischa benar-benar terkejut mendengarnya. Gavin saja tidak tahu soal itu bagaimana mungkin orang lain bisa.


"Husss kamu Mariska, jangan bikin gosip yang nggak-nggak." sergah Sinta


"Iya lho sin, kamu dengar dari mana emang?" tanya Stefani


"Aku dengar dari Oma. Ia kan, aku bilang nggak tahu benar apa nggak ." jawab Mariska.


"Oh iya, Oma Kamu temanan sama neneknya Gavin, kan?" tanya Sinta


"Iyaa tapi pas aku nanya soal itu, Oma malah marah. Terus bilang kalau itu bukan urusan anak-anak."jawab Mariska.


Mischa kembali teringat obrolan dengan Gavin saat di hotel waktu itu. Kenapa dia bisa lupa tentang itu? Kini dia malah mendapatkan petunjuk baru yang memang belum dapat dipastikan kebenarannya.


"Kalau itu benar, berarti tante Aurora istri kedua dong." sahut Stefani jadi penasaran.


Mariska mengangguk. "Aku rasa sih gitu, ya."


"Gush ingat obrolan ini cuman diantara kita aja ya, Kamu juga jangan coba-coba nanya itu ke Tante Aurora Mischa, bisa berabe kalau dia marah." ucap Stefani mengingatkan.


"Iya benar, kita di sini memang nggak semua saling suka. Tapi kita juga nggak saling mencampuri urusan masing-masing." sambung Stefani.


Mischa mengangguk paham. lagi pula dia tidak cukup tak dekat dengan Nyonya Aurora untuk menanyakan perihal itu.


Sesampainya di rumah, mischa kembali mengingat rahasia yang belum pasti benar atau tidak. Dia pun memandangi definisi dan asyik menonton serial netflix.


"Kuya tahu kalau kuya ganteng, tapi jangan dilihatin gitu terus dong."


Mischa tersentak membuat Gavin tertawa


"Kamu mikirin apa sih, dari tadi?


Mischa memilih kata-kata yang tepat agar tak menyinggung Gavin


"Kuya kalau misalnya Mama Aurora itu bukan mama Kuya bagaimana respon kuya? Kuya bakalan gimana?


Bersambung.....


hai hai redears dukung terus karya author agar outhor lebih semangat untuk berkarya trimakasih 🙏💓🙏

__ADS_1


JANGAN LUPA TEKAN, FAVORIT, LIKE, COMMENT, VOTE, DAN HADIAHNYA YA TRIMAKASIH 🙏💓


JANGAN LUPA MAMPIR KE KARYA EMAK YANG LAIN


__ADS_2