
"Iya maksud bapak, kayak nggak mungkin saja orang kaya raya begitu bisa suka sama kamu, Mischa. Dia bisa dapat yang lebih dari kamu. kamu yakin, nggak cuman dimainin sama beliau?"tanya Pak Komo cemas.
Mischa sadar, tidak mudah meyakinkan orang tuanya akan ketulusan Gavin.
"Pak, Bu. Kalau Kuya Gavin nggak serius sama Mischa, Dia nggak akan mau jauh-jauh mengantar Mischa pulang. Terus, lebih memilih tidur di rumah om pare ketimbang di hotel. Mischa tahu, Kuya Gavin itu sebenarnya nggak nyaman. Tapi, dia merasa jauh lebih nggak nyaman kalau nggak bersikap sopan kepada bapak sama ibu,"jelas Mischa.
Pak Komo dan ibu gupita terdiam. Bukannya mereka tidak senang dengan kedatangan seorang calon menantu yang begitu mapan dan rupawan. hanya saja, mereka merasa tidak pantas berbesanan dengan orang hebat.
"Nak, Ibu beneran senang kamu mau nikah. tapi...."
Ibu gupita menjeda kalimatnya. Apa tidak bisa sama yang selevel dengan kita saja?"
Mischa tidak menjawab. Ia memilih menatap Pak Komo dan Ibu Gupita secara bergantian.
****
"Loh, Kuya di sini ternyata."
Mischa menghampiri Gavin yang sedang duduk di atas dangau sambil melihat hamparan sawah di depan mata.
"Iya tadi pagi Kuya ke rumah kata bapak kamu lagi bantu ibu. Jadinya Kuya ikut bapak ke sini,"jawab Gavin.
Mischa melihat sekeliling mencari sosok sang ayah. ternyata pak Komo sedang membetulkan orang-orang sawah yang hampir tumbang.
"Apa Pak Daniel sudah balik, Kuya?
Gavin mengangguk. "sudah, tadi habis nganterin Kuya langsung balik."
"Kuya mau ngapain ikut bapak ke sini?"tanya Mischa bingung.
"Kuya mau cobain menanam padi."
Mischa tertawa, mengira Gavin sedang berkelakar.
"Kuya serius, loh."
Mischa terdiam. "Pantas saja Gavin hanya mengenakan kaos dan celana training. ternyata sudah ancang-ancang mau terjun ke sawah.
Tak lama kemudian, Pak Komo menghampiri dua muda-mudi di dangau. "Oh, kamu di sini juga nak?"
"Iya Pak. Ibu lagi istirahat di rumah jadinya Mischa ke sini. Mischa kira Kuya Gavin masih di rumah Om pare."jawab Mischa.
"Ponsel Kuya tinggal di rumah om pare."
"Oh, pantesan nggak ngangkat telepon."
__ADS_1
Pak Karyo memperhatikan percakapan antara anaknya dan Gavin yang terlihat begitu nyaman.
Mereka memang tidak tampak seperti bos dan karyawan. Keduanya seperti sudah berteman sejak kecil. Apakah mungkin itu yang disebut dengan kecocokan?
"Kuya memang udah persiapan dari Manila, mau turun ke sawah?"tanya Mischa.
"Iya. mumpung sudah di sini, masa nggak ikut menanam padi. Sia-siakan?"balas Gavin.
"Pasti kuya ngiranya enak nih, menanam padi."terka Mischa
Gavin mengedipkan bahu. "Kalau belum dicoba, kan nggak bakalan tahu.
benar kan, pak? tanya Gavin pada Pak Komo.
Pria paruh baya itu tersenyum. "Iya Kuya, semuanya juga belajar dulu nggak ada yang langsung bisa."
"Nah itu. ayo pak! keburu siang,"ajak Gavin.
"Mari! sahut Pak Komo
Gavin menggulung celana training dan mengikuti langkah Pak Komo memasuki tanah berlumpur. rasanya geli sekali. Dia sempat merasa jijik beberapa namun, semakin jauh melangkah dia menjadi semakin terbiasa.
Mischa hanya memperhatikan dari dangau, melihat betapa senyum di wajah Gavin terlihat begitu tulus.
Gavin memperhatikan dengan seksama cara membenamkan tunas padi ke dalam tanah yang berair. Dia pun mencoba saat Pak Komo mengangsurkan sebuah tunas padanya. seketika kukunya dipenuhi oleh tanah. Merasa jijik lagi, dia berjanji akan segera memotong kuku begitu sampai di rumah.
Gavin menurut. "Ternyata begini caranya, menanam padi dimulai dari depan lalu mundur ke belakang Bukan sebaliknya.
"Petani itu paling susah diajak maju Gavin,"Ucap pak Komo.
Gavin mendelik heran. "Kenapa gitu Pak?"
"Iya iya! kalau petani maju ketabrak ini tunas-tunas yang baru ditanam mesti ngulang lagi."
Gavin tertawa terbahak-bahak tak menduga kalau itu adalah sebuah kelakar. Mischa sampai terheran-heran melihat Gavin dan Pak Komo tertawa bersama. Sebenarnya apa yang mereka bicarakan sampai bisa tertawa begitu?
Menjelang siang, tunas tunas padi sudah tertanam rapi. Begitu kembali ke danau makan siang sudah tersaji. Perut Gavin merancau." tepat sekali pikirannya."
"Ayo makan dulu Kuya, ajak Ibu gupita pada Pak Komo dan Gavin.
Seperti biasa, Mischa mengambilkan nasi sekaligus lauk untuk Gavin. Pria itu tidak mengeluhkan sendok lagi. Dia pun merasa memang lebih nikmat jika makan dengan tangan seperti ini.
"Mischa ini kalau kerja Bagaimana Kuya?"tanya Pak Komo setelah selesai makan.
Mischa dan ibu gupita sedang membawa semua sisa makanan dan piring kotor kembali ke rumah.
__ADS_1
"Dia hampir saja direkrut ke kantor pusat Pak, sangkin bagusnya hasil kerjanya."jawab Gavin jujur
"Mischa itu dari kecil memang sudah terlihat berbeda dari anak-anak,"kenang Pak Komo.
Gavin mendengarkan dengan serius.
"Anak-anak lain baru pada mau mulai belajar baca tulis dan hitung, dia sudah bisa semuanya. Guru-guru pada heran lihatnya. padahal, saya sama istri juga nggak ngajarin yang gimana-gimana. Istri cuman mengarahkan dasarnya, sisanya Mischa belajar sendiri sampai bisa."
Gavin tak bisa berhenti terpukau pada calon istrinya itu. Dia memang tidak salah menilai orang. Gadis itu punya kualitas dan di atas rata-rata.
"Kami selalu berharap bisa tidak berakhir seperti kami. Istri saya dulu mau lanjut kuliah, tapi nggak diizinkan sama orang tuanya. terus, dijodohkan dengan saya yang baru saja balik dari perantauan ikut kerja borongan. Beda dengan Mischa yang tumbuh dengan banyak keberuntungan.
Pak Komo terdiam sejenak menikmati semilir angin menyapa keringatnya.
"Setiap Mischa juara kelas, menang olimpiade, dapat beasiswa, bahkan kerja ke Jakarta,"dia pasti akan selalu kehilangan teman yang iri sama dia."
Gavin terdiam. Mischa belum pernah bercerita tentang ini padanya.
"Sekarang Mischa udah nggak punya teman lagi di sini. Ada, tapi nggak kayak dulu. adakah khawatiran di diri saya semua orang akan menjauh kalau misca dapat keberuntungan lagi. Iya itu menikah dengan kamu Nak."
Baru kali ini Pak Komo tidak memanggil Gavin dengan sebutan Kuya. mungkin karena mereka sedang berbicara dari hati ke hati, sehingga pria itu Ingin Lebih dekat Dengan Gavin.
"Bapak nggak usah khawatir Mischa punya teman-teman yang baik di Manila,"ucap Gavin
"Benar nak Gavin? tanya Pak Komo dengan mata berbinar.
"Saya kira, dia nggak punya siapa-siapa di sana."
Tampaknya Mischa juga tidak banyak bercerita tentang kehidupannya di Manila pada orang tuanya.
"Gavin memang belum bisa jamin Mischa diterima dengan baik di keluarga besar Gavin. tapi, Gavin bisa janji untuk selalu jaga Mischa pak. Gavin benar-benar suka sama anak bapak," ucap Gavin jujur.
"Apa nanti setelah nikah, Mischa nggak kerja lagi? tanya Pak Komo penuh harap
Gavin menggeleng. "Gavin nggak mungkin kasih Mischa kerja Pak. Gavin bisa kasih dia uang berkali-kali lipat dari gaji yang dia dapat di kantor."Pak Komo menunduk, memikirkan Bagaimana nasib mereka berikutnya.
"Bapak nggak usah khawatir. Semua biaya hidup biaya pengobatan ibu dan apapun itu, akan jadi tanggung jawab Gavin setelah menikah dengan Mischa. Bapak nggak perlu ke sawah Lagi fokus saja Ibu dijaga,"janji Gavin.
"Tapi, kalau begitu bukannya Mischa Jadi terlihat menikah dengan uang?"Pak Komo merasa tidak enak hati.
"Pak, Gavin tau betul Mischa itu bagaimana. dia terlalu polos untuk bisa mikirin hal-hal kayak gitu. Dia nggak pernah meminta dibeliin apapun, selalu Gavin yang inisiatif untuk beli. Dia nggak pernah mau dibeliin barang mahal. nggak usah pedulikan omongan orang-orang yang nuduh Mischa itu matre. Yang penting adalah bagaimana hubungan Gavin sama Mischa."Gavin mencoba meyakinkan Pak Komo.
Bersambung.....
hai hai redears dukung terus karya author agar outhor lebih semangat untuk berkarya trimakasih 🙏💓🙏
__ADS_1
JANGAN LUPA TEKAN, FAVORIT, LIKE, COMMENT, VOTE, DAN HADIAHNYA YA TRIMAKASIH 🙏💓
JANGAN LUPA MAMPIR KE KARYA MORATA YANG BARU TERBIT." MENJANDAKAN ISTRI DEMI JANDA