
"Ini rumah kakek Kuya. Arisan diadain tiga bulan sekali. Katanya biar sekalian kumpul keluarga. Karena semua anak cucu dan cicit kakek pada sibuk." jelas Gavin.
Mischa manggut-manggut ekspresi terpesonanya sudah disimpan. Dia tidak ingin mempermalukan Gavin di sini.
Gavin dan Mischa memasuki rumah. Membuat banyak pasang mata tertuju pada mereka. Beberapa orang kaget, karena belum pernah sekalipun melihat Gavin membawa seorang gadis ke arisan keluarga.
"Ini beneran Gavin? aku nggak salah lihat nih?
sama siapa itu?
"Itu pacarnya. Aku kira selama ini dia suka dengan sesama jenis."
Gavin dan Mischa bisa mendengar bisik-bisik tentang mereka. Tetapi memilih untuk tidak acuh dan bergegas menghampiri sang kakek dan nenek yang duduk di ruang utama.
"Kek.....nek...."sapa Gavin Begitu tiba.
sepasang orang tua yang dihormati itu melihat kepada Gavin dan Mischa. Kebetulan sekali Tuan Carlos Antonio dan nyonya Aurora juga ada di sana. Mereka juga baru saja tiba dan sedang berbincang sesaat dengan Tuan dan nyonya Antonio.
"Oh ini ya, calon istri Gavin?" kakek udah dengar dari bapak kamu." kata Tuan Antonio.
"Betul kek," kenalin namanya Mischa." ucap Gavin
Gavin memberi akses pada mischa untuk mencium tangan pasangan sepuh Itu. Tuan Antonia tertawa menatap Mischa dengan seksama dan mengusap kepala Mischa sedangkan Nyonya Antonio mengelus tangan Mischa dan tersenyum lebar.
"Anak baik ini, kalian dapat menantu anak baik darimana?" ucapnya pada Tuan Carlos Antonio dan nyonya Aurora.
Nyonya Aurora mendelik kesal. Mertuanya itu belum pernah tersenyum selebar gitu padanya. Namun Mischa langsung mendapatkannya di pertemuan pertama.
Dalam hati dia berpikir, jangan sampai mendapatkan dukungan dari keluarga besar Antonio.
Nyonya Aurora berdehem. Untuk menarik atensi.
"Bapaknya cuman petani, Pak...Ma...."
Tuan Carlos menyenggol lengan Nyonya Aurora. "Kenapa dia harus mengatakan hal tersebut di acara keluarga yang dihadiri banyak orang seperti ini. Tampaknya dia memang berniat untuk mempermalukan Mischa
Mischa merasakan orang-orang mulai berbisik-bisik. Tak lama kemudian ucapan Nyonya Aurora pun telah sampai ke seluruh penjuru rumah.
"Gavin ini kan, susah nemu wanita yang cocok. Kalau dia udah bawa acara keluarga kayak gini, berarti dia serius. Benar kan Gavin?" tanya Nyonya Antonio.
Gavin mengangguk sopan. "Bener Nek."
"Ya sudah, yang penting baik-baik saja ya. Nyonya Antonio kemudian menatap Aurora. yang penting itu anakmu suka. Percuma nikah sama yang sesuai mau kamu, Tapi dia nggak suka."
Nyonya Aurora terdiam. Dia sadar sang ibu mertua sedang menyindirnya. Karena kejadian di masa lalu, seharusnya dari awal dia memang tidak perlu mengatakan apa-apa.
"Baik ma." jawab nyonya Aurora menurut.
"Ajak makan ya Gavin, udah waktunya makan siang ini." ucap Tuan Antonio
"Baik kek." kalau gitu Gavin sama Mischa permisi dulu ya." pamit Gavin.
__ADS_1
Pasangan sepuh itu mengangguk seraya tersenyum. Gavin pun mengajak Mischa untuk memilih beberapa makanan di salah satu sudut rumah. Beberapa sepupu Gavin sedang berbincang.
"Apa? pacar Gavin yang dia bawa itu orang miskin?" tanya salah satu kerabat Gavin.
"Katanya sih gitu, Tante Aurora yang bilang kalau bapaknya cuman petani." jawab Sania.
"Pantasan dia dandan gi mana pun tetap kelihatan kayak Upik Abu." komentar Rita
Tamara tertawa sarkas menarik atensi semua orang yang ada di situ.
"Cewek itu orang miskin? Iya memang fakta. tapi please dia itu lebih cantik dari kamu semua yang ada di sini." sindirnya.
"dih.." masa kamu samain kita sama cewek miskin itu sih." komentar Sania tak terima
"Aku yakin cewek itu wajahnya masih asli nggak kayak kamu semua yang sudah dipermak sana sini." ucap Tamara.
"Semuanya terdiam. ucapan Tamara tidaklah salah. Namun tetap saja
"Iya, tapi masa sih Gavin memilihnya yang kayak begitu. kayak nggak ada yang lain saja." ucap Sania.
"Tau tuh, Padahal tante Aurora sibuk jodohin Gavin sama Larissa. Jauh lebih cocok loh." komentar Rita.
"Hah !! Larissa tukang ngancurin usaha orang itu? cih.... jauh lebih mending sama inilah, heran banget aku lihat kalian. Kok malah ngefans sama Larissa tuh." bantah Tamara.
"Tam, aku tahu usaha Kamu tutup karena punya Larissa lebih maju. Tapi nggak bisa dipungkiri kalau Larissa itu adalah seorang pekerja keras . Sania mengemukakan pendapatnya.
"Kerja keras buat ngancurin usaha orang kali ya, maksud kamu." Tamara tetap pada pendiriannya.
"Udahlah, males bahas gini sama kamu nggak objektif." kata Rita
Ucapan Tamara tersebut berhasil membungkam ketiga wanita yang lain.
"udah udah, kita lihat saja sampai mana hubungan Gavin sama cewek itu. Entar kita ribut-ribut ternyata nggak sampai ke pelaminan." ucap Rita.
"Memangnya Kalian mau ikut kalau aku nikah?" tanya Gavin yang tiba-tiba saja muncul di belakang dan mengagetkan mereka.
"Eh Gavin, kamu mau nikah?" tanya Sania canggung
"Iya, satu pekan dari sekarang. Kamu mau ikut?" tanya Gavin lagi
Tamara tersenyum jahil melihat ekspresi ketiga sepupunya saat ditanyai oleh Gavin Jangankan orang lain, para sepupu sering merasa terintimidasi dengan kata-kata dan tindakan.
"Eh kita ambil makanan dulu ya, laper nih." seru Sania yang kemudian mengajak Rita dan yang lain untuk menjauh dari sana.
Tamara tertawa. Dia kemudian melihat Mischa yang masih berdiri di samping Gavin
"Duduk di sini." panggilnya pada Mischa
Mischa merespon. " Oh iya,"
Gavin pun menunjuk tempat di sebelah Tamara dan mereka kini duduk bertiga.
__ADS_1
"Tamara," wanita itu mengulurkan tangan untuk berkenalan
"Mischa menyambut dan menjawab. "Mischa,"
"Cantik banget pacar kamu Gavin." Puji Tamara membuat Mischa tersipu malu.
"Selera aku nggak kaleng-kaleng kan Tamara." balas Gavin
Gavin dan Tamara tertawa sedangkan Mischa cuman bisa tersenyum malu, ketiganya kemudian membicarakan banyak hal.
"Oh, jadi Mischa ini karyawan kamu?" tanya Tamara.
"Iya, tapi sebentar lagi dia berhenti." jawab Gavin.
"Gimana rasanya punya bos kayak Gavin?" tanya Tamara pada Mischa
"Iya begitulah Ate." jawab Mischa sebenarnya membuat Tamara tertawa keras
"Kok gitu?" tanya Gavin
Mischa dan Tamara tertawa melihat ekspresi tidak terima di wajah Gavin.
Di sisi lain rumah. Nyonya Aurora sedang berkumpul dengan para wanita yang merupakan ipar iparnya.
Gavin mau nikah pekan depan, apa nggak buru-buru nih Aurora?" tanya kakak iparnya.
Nyonya Aurora menghela nafas. Gavin udah nggak sabar mau cepat-cepat.
"Pantasan kamu diam aja, kalau Gavin mau nikah ternyata calonnya begitu. Pasti kamu nggak bisa pamer." ucap sang kakak ipar.
Nyonya Aurora merasa terpojok. Dia tidak pernah merasa minder seperti ini di keluarga besar Antonio. Semua ini terjadi karena Gavin memilih orang miskin untuk menjadi istrinya.
"Tapi mama kayaknya suka deh sama dia. feeling Mama itu jarang meleset loh." komentar yang lainnya
"Iya Mama kan, pernah jadi psikolog terkemuka. Jadi kurang lebih bisa baca kepribadian orang lain, hanya dengan sekali lihat." ucap Nyonya Sinta menyetujui.
"Kamu itu harusnya lebih mengkhawatirkan opini Mama tentang kamu yang masih belum berubah Aurora, ketimbang ngurusin calonnya Gavin. Nyonya Sinta memberi nasehat.
"Iya, nggak perlu sampai jadi menantu kesayangan kok, cukup dapatin hatinya Mama saja." tambah Rinjani
Nyonya Aurora kembali menghela nafas. sudah lama sekali mereka tidak menyindir seperti ini. Semuanya memang bermula dari anak kampung itu. Seandainya saja Gavin memilih wanita yang lebih baik, pasti tidak akan ada kejadian seperti ini. Entah sudah berapa kali Nyonya Aurora harus merasa malu di depan orang lain.
Gavin baru saja menyelesaikan makan. ketika mendapat pesan bahwa para sepupu laki-laki sedang bermain biliar di lantai dua
"Kuya mau kumpul sama sepupu Kuya yang lainnya di atas,kamu di sini aja dulu sama Tamara."
Mischa mengangguk. "Okey Kuya."
Bersambung.....
hai hai redears dukung terus karya author agar outhor lebih semangat untuk berkarya trimakasih 🙏💓🙏
__ADS_1
JANGAN LUPA TEKAN, FAVORIT, LIKE, COMMENT, VOTE, DAN HADIAHNYA YA TRIMAKASIH 🙏💓
JANGAN LUPA MAMPIR KE KARYA MORATA YANG BARU TERBIT." MENJANDAKAN ISTRI DEMI JANDA"