Antara Kutub Utara Dan Selatan (You & Me)

Antara Kutub Utara Dan Selatan (You & Me)
BAB 12. PENOLONG _ YOU & ME


__ADS_3

"Ya sudah, kalau ada di antara kalian pada yang tertarik kepada Larissa, mending usaha dari sekarang."ucap Gavin tanpa memberikan jawaban yang diinginkan teman-temannya.


"Masalahnya Bagaimana mau usaha Kalau dianya maunya sama kamu."bantah salah satu dari temannya. Gavin memutar bola matanya. "Kenapa semua orang pada ngomong gitu, sih? Larissa saja tidak pernah bilang suka sama aku."


"Ya gengsi lah, dia kan cewek. nggak mungkin dong cewek yang nembak duluan."sahut temannya yang lain.


"Lagian, Vin, ini juga Mami aku yang ngomong. ngapain cewek muda dan gaul seperti Larissa gabung di perkumpulan ibu-ibu? dia kan bisa main sama seumuran seperti dia.


Dan Mami aku juga menebak supaya Larissa bisa dekatin tante Aurora. seperti nyuri hati orang tuanya dulu baru anaknya. begitu kira-kira."ucap Galio


"Aku kira Mami kamu itu tahunya cuman bahas barang branded melulu, Lio."ucap Matteo seraya tertawa.


Ternyata Mami kamu pintar juga ya ngorek-ngorek info.


"Makanya kamu kerja, biar nggak diajak gosip terus sama Mami kamu," ledek Gavin membuat mereka tertawa cengengesan.


Tawa semakin kencang di antara para pria itu, Tak lama kemudian Larissa kembali dari lapangan dan menyapa semuanya.


"Masih belum selesai? Tanyanya


"Kita nungguin kamu pelarisa,"jawab galio tanpa merasa gengsi.


Larissa hanya tersenyum."makanya lain kali kalau mau main basket ajak aku juga, dong."


"Oh ya Gavin, pas sampai di sini mobil aku mogok. tadi aku sudah menghubungi bengkel langgananku. katanya besok mobilnya baru bisa dijemput. "kamu bisa nganterin aku pulang, ngak?"tanya Larissa


Matteo mengulang senyum saat melihat ketiga temannya mendesah. mereka bahkan tidak berusaha menyembunyikan kecewa dari wajah mereka.


Gavin memandang ketiga temannya sebelum menjawab pertanyaan Larissa.


"Mungkin kamu bisa sama galio atau Rio, larissa, salah satu dari mereka pasti bisa dan mau nganterin kamu."


Ketiga pria itu kembali sumringah. Gavin benar-benar tahu apa yang diinginkan oleh mereka. Gavin memang teman yang baik dan paham situasi. Larissa tersenyum, kemudian tertawa pelan. Dia menggeleng. mungkin tidak ada yang menyadari, tetapi selama beberapa detik, Gavin bisa melihat raut tidak senang muncul di wajah cantik wanita itu saat melirik ketiga temannya.


****


Jalanan kota Manila mulai tampak lengan. waktu sudah menunjukkan pukul 10.00 malam. Gavin menyetir dengan tenang seraya mendengarkan lantunan musik flash disk yang tersambung ke mobilnya.

__ADS_1


"Akhirnya, Gavin harus terjebak di mobil berdua saja dengan Larissa.


Gavin menghela nafas saat mengingat perdebatan singkat di lapangan basket tadi. dia benar-benar malas mengantar Larissa, Jujur Saja. Namun, mau tak mau dia harus melakukannya jika tak ingin diadukan ke ibunya.


Dia tidak suka melihat wanita yang paling disayangi itu kesal.


"Mampir dulu, Gavin."


"Nggak, Larissa. aku langsung balik aja."


"Ayolah, sebentar saja."


Gavin pun menurut. 10 menit saja, jangan lama-lama. Dia berjalan mengikuti Larissa yang sudah lebih dulu menunggu di dalam lift. wanita itu tinggal di sebuah apartemen di pusat ibukota Manila. sudah dapat dibayangkan betapa mahalnya harga apartemen miliknya. Terlihat apartemen milik Larissa terletak di kawasan elit.


Sebenarnya sejak di mobil tadi Larissa sudah mengocehkan banyak. Begitu juga saat ada di lift. Gavin heran dari mana dia mendapatkan tenaga sebanyak.


"Mau minum apa?


"Air mineral saja?


"Yakin, cuma air mineral? Aku punya koleksi blue label dan juga red label loh


Larissa tertawa mendengar jawaban Gavin. "itu sebabnya kamu nggak pernah pacaran? Karena hati kamu lemah, jadi kamu takut Untuk patah Hati?


Gavin tertawa hambar. Padahal dia tidak ada niat untuk bercanda. lagi pula levernya memang tidak bersahabat untuk meneguk segala jenis minuman keras. Setidaknya itu yang dikatakan oleh dokter pribadinya saat cek kesehatan. Gavin tidak ingin membantah perkataan dokter. Karena itu juga dapat merugikan dirinya sendiri.


"Kamu mau mandi dulu, nggak? tadi nggak sempat mandi karena mau nganterin aku, kan?


"Banyak banget alasan wanita ular ini. kalau tahu begini aku tidak akan mengantarnya tadi. menyesal deh "


"Aku bisa mandi di rumah. Aku balik ya."


Larissa bergerak cepat untuk mencegah Gavin."cepat banget, sih? besok kan hari libur. Kamu nggak kerja juga, kan?


baru saja Gavin ingin menjawab terasa getaran yang berasal dari ponselnya. Dia melihat notifikasi pesan dari sekretaris dadakannya. "Bos, Saya sudah paham tentang upgrade kualitas fisik yang dimaksud. saya akan coba mulai besok. Tapi, aku minta tolong pakai wi-fi kantor ya. jadi saya mau minta izin sama bos untuk ke kantor besok. boleh, Bos?" pesan itu yang dikirimkan oleh Mischa ke layar ponsel milik Gavin


Gavin menaikkan alis. Kenapa karyawan baru ini lugu sekali?

__ADS_1


"Siapa?"tanya Larissa penasaran.


Mendadak, Gavin mendapat ide. karyawan baru ini bisa menyelamatkan dirinya dari situasi ini.


"Sekretaris aku bilang besok padahal yang harus dikerjain. Jadi aku mesti pulang untuk istirahat." jawab Gavin berbohong.


Gavin berjalan saja melewati Larissa yang kali ini hanya terdiam. Wanita itu memandangi punggung sampai pria itu keluar tanpa berpamitan.


Rencananya malam ini gagal total. Padahal dia sudah mempersiapkan diri sejak mendapat info dari Nyonya Aurora kalau bermain basket dengan teman-temannya malam ini. Semuanya sia-sia. alasan mobil mogok dan mengajak mampir puncak mempan juga.


"Kita lihat saja, Gavin . Sampai kapan kamu bakal nolak aku."


Gavin menghela nafas lega saat tiba di tempat parkir. apalagi Larissa tampaknya percaya saja dengan kebohongannya. sepatunya dia berterima kasih kepada Mischa yang menolongnya dalam keadaan genting ini.


"Untung karyawan baru mengirim pesan tengah malam begini. Harusnya aku jengkel, tapi dia malah nolongin aku. hampir saja aku masuk ke kandang singa."Davin bermonolog sendiri. Pria itu pun cepat-cepat menyalakan mesin mobil miliknya, menjalankan mobilnya ke arah jalan raya menuju rumah utama keluarga Gavin.


"Kenapa sih, Larissa ini nggak nikah saja sama orang lain? biar aman hidup aku.Ngak diikutin dia terus."


Gavin ingin sekali bercerita tentang hal ini. namun, kepada siapa? jika berbicara pada orang tuanya, yang ada dia akan dicermati karena tidak mau dengan Larissa. cerita kepada Matteo kurang lebih akan mendapat tanggapan yang sama.


apa tidak ada yang bisa mengerti Kalau dia tak suka dengan Larissa?


****


Mischa tidak kunjung mendapat balasan dari bosnya meski pesan yang dia kirim sudah dibaca sejak tadi.


"Boleh nggak ya? kalau pakai internet sendiri, belum akhir bulan pasti sudah habis."


Mischa melihat bungkusan berisi peralatan merias yang dibelikan oleh Irma. wanita itu tidak ingin dibayar, tetapi Miska memaksa bahwa itu adalah hutang. Dia akan membayarnya saat menerima gaji nanti.


Menurut Irma, mungkin bos menyuruhnya untuk belajar merias diri. Sebab mischa memang tidak pernah menggunakan riasan apapun untuk pergi ke kantor. Hanya bedak baby dan lip gloss saja yang dia gunakan.


Mischa berbaring di atas tilam. suara berisik kipas angin mendominasi ruangan itu. matanya hampir terpejam saat suara ponsel mengejutkannya. Dia bergegas bangkit saat melihat nama sang bos yang muncul di layar.


Bersambung.....


hai hai redears dukung terus karya author agar outhor lebih semangat untuk berkarya trimakasih 🙏💓🙏

__ADS_1


JANGAN LUPA TEKAN, FAVORIT, LIKE, COMMENT, VOTE, DAN HADIAHNYA YA TRIMAKASIH 🙏💓


__ADS_2