Antara Kutub Utara Dan Selatan (You & Me)

Antara Kutub Utara Dan Selatan (You & Me)
BAB 57. DI JEBAK_YOU &ME


__ADS_3

"Selamat pagi semua," sapa Mischa pada rekan-rekan kerjanya.


"Buset dah, ini bocah hari Senin kok happy benar. Aku sumpahin hari kamu Senin Terus." umpet Andika memancing tawa rekan kerjanya termasuk Mischa.


"Weekend kamu suram banget apa gimana sih, Andika? tanya Irma dengan sisa tawa.


"Hah..., Andika menghela napas pasrah. Seandainya waktu kerja cuma dua hari dan weekend ada lima hari, pasti lebih menyenangkan.


"Bukannya yang ada malah makin stress ya? aku baca penelitian gitu soalnya. Manusia yang otaknya udah biasa dipakai kerja, sekalinya nganggur, tuh kayak ada yang hilang gitu, Jadi hampa." Valen beropini.


"Astaga, sayangnya memang benar, selain stress karena nggak ada duit gak tau juga mau ngapain Kalau kelamaan libur." sahut Andika mengiyakan


"Biasanya weekend Kuya Wahyu pakai buat apa?" tanya Mischa


Andika tampak berpikir. " Paling memperbanyak tidur doang sih." Soalnya kalau nongkrong atau nonton, seringnya pulang kerja.


"Oh gitu, Mischa mengangguk paham, seraya mengikat rambut.


Valen tanpa sengaja melihat cincin yang melingkar di jari manis Mischa. Wanita itu segera berdiri dan menghampiri Mischa dengan cepat. Saat tangan kirinya ditarik oleh Valen.


"Cantik banget cincin kamu, Kamu beli di mana Mischa?


Mischa terkejut. Tak menyangka Valen akan berlaku ekstrem gini.


"Iya sih, kayaknya mahal kamu beli nyicil? tanya Andika lagi, seraya memperhatikan cincin secara.


Irma dan Andika yang ikut penasaran pun sama-sama menghampiri meja Mischa membuat Gadis itu gugup.


"Ini menang giveaway Ate, " jawab Mischa bohong sesuai arahan Gavin.


"Hah...giveaway di mana ngasih hadiah sebagus ini, aku juga mau dong." rengek Valen.


"Sudah habis periodenya Ate." Mischa kembali berbohong.


"Yahhh..... Valen mendesah kecewa


"Kamu juga terlihat beda banget sekarang. nggak kayak waktu pertama kerja dulu. Baju kamu makin bagus. Terus rambut kamu juga makin keren,kamu perawatan ya?" tanya Valen.


"Ngak sering sih Ate, Tapi kemarin emang barusan nyalon. kali ini Mischa menjawab jujur.


"Oh ya, Di mana? cuman berapa kali, tapi hasilnya sudah sebagus ini?" tanya Valen lagi.


"Biasalah Mbak di salon yang harganya terjangkau, tidak mungkin juga kita ke salon MUA kan ?" ucap Mischa sambil terkekeh.

__ADS_1


Keempat orang itu masih mengobrol sebelum jam kerja benar-benar dimulai. Gavin mengintip dari ruangannya. Tersenyum melihat Bagaimana sikap Mischa sama sekali tidak berubah kepada rekan-rekannya.


Gadis itu tidak langsung merasa tinggi hati, meski sebentar lagi akan bersuamikan dirinya. Mischa tetap tertawa dengan ramah dan renyah.


Ponsel Gavin bergetar. Dia melihat notifikasi pesan dari ibunya.


"Mama : Sore nanti bisa jemput mama di apartemen Larissa,nggak? Mama sama teman yang lain diundang minum teh."


Perkumpulan Nyonya Aurora memang sering berkeliling setiap bulan dari rumah yang satu ke rumah yang lain. Tampaknya hari ini apartemen Larissa yang mendapat giliran. Gavin pun mengetikkan pesan balasan bahwa dia akan menjemput ibunya.


sekarang, waktunya bekerja.


****


Jam makan siang tiba, dan Mischa sempat melirik ke ruang Gavin. Dia mengirim pesan, meminta izin pada calon suaminya untuk makan siang bersama rekan yang lain.


Irma yang sudah berdiri dan bersiap-siap menatap tingkah laku Mischa. Dugaannya pasti benar Mischa sudah memiliki hubungan khusus dengan bos mereka.


Mischa Manggarai rambut dan melihat balasan pesan dari Gavin mengatakan oke. dia tersenyum, kemudian berjalan mengikuti rekannya yang lain.


Seperti biasanya Valen, Wahyu jalan bersama. Mischa dan Irma jalan berdua. Irma sengaja membuat sedikit jarak agar rekannya yang lain tidak dapat mendengar obrolannya dengan Mischa.


"Kamu sudah jadian sama bos?


Mischa teringat Pesan dari Gavin tempo lalu. dia harus merahasiakan hubungan mereka untuk sementara. Namun, dia boleh bercerita pada Irma, jika mau.


"Ate benar. Ati pasti sudah bisa nebak, Karena Ate, sudah aku anggap kayak saudara. Pasti Ate bisa ngerasain kalau ada yang beda, kan?


Irma semakin melebar, kini memperlihatkan dua gigi depan yang seperti gigi kelinci.


"Bos ternyata perhatian banget ya. Kamu benar-benar diperlakukan dengan baik. dibeliin baju bagus, dikasih cincin berlian, dibayari perawatan di salon. Jadi kamu benar-benar sudah yakin sama bos?"tanya Irma penasaran.


Mischa mengangguk mantap. "Kuya Gavin bahkan sudah ngenalin aku ke orang tuanya Ate."


Irma merasa aneh mendengar Mischa menyebut Kuya Gavin. Akan tetapi di sisi lain dia merasa ikut bahagia.


"Aku harap semuanya lancar dan baik-baik saja ya, Mischa. Kamu orang baik, pantas mendapatkan yang baik-baik juga,"doa Irma


Kalau saja tidak ada rekan mereka yang lain di sini, pasti Mischa sudah memeluk Irma. sebagai gantinya kedua orang itu saling bergandengan tangan dengan riang.


***


Mobil mewah Gavin tiba di depan gang kos Mischa. Sebenarnya dia sudah memikirkan Untuk memindahkan Mischa ke apartemen. Namun, tampaknya belum bisa dalam waktu dekat ini.

__ADS_1


"Kuya langsung jalan ya, Mau jemput mama lagi."pamit Gavin


Mischa tersenyum. "Iya Kuya. Hati-hati di jalan, ya."


Mischa turun dari mobil dan berjalan memasuki gang. Dia melihat ke belakang dan Gavin melambaikan tangannya. Mischa balas melambaikan tangan dan kembali menatap ke depan. Gavin pun melanjutkan perjalanan ke apartemen Larissa. Macet memang selalu tak bisa berkompromi. Meski begitu, Nyonya Aurora bilang tetap akan menunggunya dengan sabar.


Pukul 08.00 malam, mobil Gavin memasuki parkiran rubanah apartemen. Dengan cepat dia memasuki lift menuju lantai tempat apartemen Larissa berada. Memencet bel, seorang wanita cantik menyambut kedatangannya.


"Hai, Gavin! yuk masuk dulu!"ajak Larissa


"βˆ†anggilin aja Mama aku Larissa biar langsung balik,"tolak Gavin.


"Tante lagi di toilet, barusan saja sakit perut. kamu nggak mungkin nunggu selama itu di depan pintu, kan?"


Betul juga. bisa-bisa Gavin malah disangka pengawal. Dia pun masuk dan dipersilakan duduk.


"Anggap saja rumah sendiri." Larissa berbasa-basi.


Gavin melihat tas ibunya berada di atas meja tamu. Dia pun menunggu dengan sabar karena ibunya juga sudah melakukan demikian.


"Minum dulu."


Larissa meletakkan sebuah cangkir berisi minuman hangat. Tenggorokannya memang kering sejak tadi. Tampa ragu, dia pun menyeruput isinya. Rasanya segar sekali tak terasa Dia menghabiskan separuh gelas dalam beberapa teguk.


Gavin melirik jarum jam. Udah lebih dari 15 menit, Ibunya belum keluar dari toilet. Lalu tiba-tiba saja matanya terasa berat. Sepertinya dia kelelahan dan mengantuk. Bagaimana ini, apa dia minta saja ibunya untuk menyetir?


"Larissa, coba tanya Mama aku masih lama nggak?" pinta Gavin kemudian menguap.


sumpah dia benar-benar mengantuk! rasanya lebih parah dari mabuk. Dia tidak mungkin berkendara dalam keadaan seperti ini.


Larissa? Panggil Gavin karena suara wanita itu tidak menyahut.


"Gavin ingin bangkit tetapi saat ini juga. kembali terduduk. Bukan Hanya Mata kini tubuhnya juga terasa berat.


tangannya terkulai lemas Dia kemudian berbaring di sofa lalu memejamkan mata.


Larissa yang tadinya bersembunyi mendekati Gavin dan mencoba membangunkannya.


Bersambung.....


hai hai redears dukung terus karya author agar outhor lebih semangat untuk berkarya trimakasih πŸ™πŸ’“πŸ™


JANGAN LUPA TEKAN, FAVORIT, LIKE, COMMENT, VOTE, DAN HADIAHNYA YA TRIMAKASIH πŸ™πŸ’“

__ADS_1


JANGAN LUPA MAMPIR KE KARYA MORATA YANG BARU TERBIT." MENJANDAKAN ISTRI DEMI JANDA"


__ADS_2