Antara Kutub Utara Dan Selatan (You & Me)

Antara Kutub Utara Dan Selatan (You & Me)
BAB 43. DI BUTIK _YOU & ME


__ADS_3

Begitu sampai di butik, Gavin terlihat takjub dengan isi yang estetik dan memanjakan mata. Pakaian yang ada di sana juga sangat bagus dan berkelas.


"Tahu gini aku beli baju di sini saja tadi." gumamnya.


Gavin kemudian melihat gaun yang dipajang di sebuah patung. Dia berani Jamin jika. Mischa memakainya, maka dia akan terlihat setara dengan Larissa.


"Ngeliatin apa? tanya Larissa menghampiri Gavin setelah menyiapkan menu yang akan disajikan untuk teman-temannya di cafe.


Kalau kamu punya butik sebagus ini, harusnya kamu larang aku beli baju di mall. Apalagi tadi kamu sempat mikir baju itu mau aku belikan buat kamu. Bukannya menjawab, Gavin malah mengkonfrontasi Larissa.


"Iya, aku kan nggak mungkin banyak protes di hari pertama kita jalan." balas Larissa


"Aku suka sama cewek penurut, tapi nggak menutup kemungkinan Aku mau mendengar saran yang lebih okey. Buktinya Aku tadi mau ikut ke toko baju yang kamu tunjukkan kan.


Larissa terdiam. Kecerdasannya memang selalu mendadak tumpul, jika berada di dekat Gavin.


"Aku mau tur boleh?" tanya Gavin karena Larissa hanya diam saja.


"Boleh yuk, aku antar." tawar Larissa


nggak perlu. Bentar lagi teman-teman kamu datang. Dan kamu harus menyambut mereka nanti aku naik sendiri ke cafe." janji Gavin.


"Hmmm, Ya sudah deh, have fun." ucap Larissa.


Gavin mulai mengelilingi butik Larissa yang cukup besar itu. Beberapa pelanggan wanita memperhatikannya. Tetapi dia cuek saja tujuannya kemari hanya ingin menghindar selama mungkin dari Larissa, sebelum teman-temannya datang.


Apa aku beli aja lagi beberapa baju di sini untuk Mischa ya? gumamnya.


Gavin melihat-lihat beberapa model pakaian. namun kemudian menghentikan kegiatannya itu. Kenapa dia kerajinan beli pakaian begini? padahal Mischa itu cuman berstatus sebagai karyawannya, tidak lebih.


"CK, aku kayak laki-laki yang sedang beli hadiah untuk pacarnya.


Gavin meninggalkan butik dan naik ke lantai 2 tempat cafe berada. Itu artinya salon berada di lantai tiga mungkin akan seru kalau dia membawa Mischa ke sini.


"Hai Gavin sini!" panggil Larissa begitu Gavin memasuki Cafe.


Total ada delapan wanita di meja yang sedang dituju oleh Gavin. Mereka semua Sepertinya begitu senang melihatnya. Dia jadi merasa aneh sendiri sebagai laki-laki sendiri di sini.

__ADS_1


"Hai semua." sapa Gavin


"Hai...!!! jawab semua wanita berbarengan.


Mereka kemudian saling berkenalan. Ternyata orang tua beberapa dari mereka adalah kenalan Dari Ayah Dan Ibu Gavin. lingkaran pertemanan orang kaya semacam berputar di situ saja.


"Jadi kalian sudah pacaran?" tanya salah satu teman Larissa menunjuk Gavin dan Larissa.


kita baru jalan sekali loh." jawab Larissa.


"Mungkin nanti mau langsung menyebar undangan." ucap teman yang satunya


"Sudah sudah, mending kita makan dulu. Kamu semua sudah pada makan belum?" tanya Larissa


"Belum Larissa, belum disuruh makan sama ayang." jawab Ina.


semua wanita di meja tertawa sedangkan Gavin hanya mengulas senyum saja.


"Ya sudah, kita makan saja dulu kalau begitu.


Larissa bertepuk tangan ke arah meja kasir. Tak lama kemudian beberapa pramusaji mengantarkan banyak jenis makanan dan minuman kemeja mereka. Para wanita berdesak kagum tampilan semua makanan tampak begitu menggoda.


Gavin terdiam. Dia sudah memikirkan Mischa lebih dari yang seharusnya. Lihat butik ingin membeli baju untuk mischa. Lihat salon ingin mengajak Mischa. Lihat Cafe ingin membawa makanan untuk Mischa


"Gavin Kok diam saja, nggak makan?" tanya Larissa membuyarkan lamunan Gavin.


"Cie....cie romantis banget sih pakai acara diingatkan segala." goda Ina.


"Sorry lagi banyak pikiran." ucap Gavin


"Mikirin apa sih? Larissa kan ada di sini. Fitri juga ikut menggoda.


Larissa menyenggol lengan Ina.


"Mikirin kerjaan dong. Gavin kan sibuk banget.


"Aku mau take away dua porsi makanan bisa?" tanya Gavin

__ADS_1


"Buat om dan tante? Larissa bertanya balik.


"Bukan, buat orang lain." jawab Gavin.


Larissa tahu pasti yang dimaksud oleh Gavin adalah si Mischa. Mischa itu dia benar-benar penasaran. Siapa gadis itu, apa mungkin gadis yang dijumpainya di restoran waktu itu?


"Mau take away yang mana? kasih tahu saja. Nanti aku bilang ke waitress untuk nyiapin." Larissa tidak mungkin berdebat dengan Gavin di depan teman-temannya. Dia tetap harus menunjukkan kebaikan hatinya meski sedang kesal.


"Wow Larissa udah dikasih makan di sini, boleh bawa pulang juga?" Tanya temannya yang lain.


Larissa tersenyum. "Boleh dong, aku emang hari ini aku mau traktir kamu semua. Tapi sebagai gantinya, bantu promosikan Cafe dan salon aku ya."


"Sip gampang." balas Ina.


Gavin kemudian bangkit dari duduk memancing rasa ingin tahu semua orang.


"Mau ke mana Gavin? tanya Larissa.


"Mau nelepon sebentar." jawab Gavin


Larissa penasaran Siapa yang ingin ditelepon Gavin. Dia pun izin pada teman-temannya, lalu mengikuti diam-diam.


Hallo Mischa. Kamu sudah makan siang?


wajah Larissa bertepuk kesal ternyata benar Gavin menghubungi gadis bernama Mischa itu.


"Oh sudah makan ya. Tidak apa-apa, saya ingin membawakan kamu makanan.


Larissa melihat senyuman di wajah Gavin sejak SMP. pria itu sudah terkenal sangat dingin. Dia bahkan sering dijuluki kulkas berjalan.


Namun yang Larissa lihat sekarang bukanlah Gavin yang dia kenal sejak SMP. pria itu seperti orang lain, apa mungkin Gavin berubah karena sedang jatuh cinta?


Larissa merasa cemburu. Sangat cemburu. Dia sudah mengejar Cinta Gavin sejak dulu. segala cara sudah diupayakan demi mendapatkan perhatian Gavin. Akan tetapi dia bahkan tidak bisa mendapat senyuman tulus. apalagi hatinya. Rasanya seperti jauh panggang dari api.


Bersambung.....


hai hai redears dukung terus karya author agar outhor lebih semangat untuk berkarya trimakasih 🙏💓🙏

__ADS_1


JANGAN LUPA TEKAN, FAVORIT, LIKE, COMMENT, VOTE, DAN HADIAHNYA YA TRIMAKASIH 🙏💓


__ADS_2