
Para petugas keamanan tidak mengacuhkan umpatan darinya.
"Maaf, sekali lagi tapi anda sendiri juga terlihat seperti orang gila." ucap petugas keamanan yang satunya lagi.
Sangking paniknya, Nyonya Aurora sampai tidak sadar masih memakai pakaian tidur. berkaca pada sebuah cermin di dekat ruang tunggu. Dia terkejut melihat tampilan dirinya sendiri
"Ikut dengan kami."
Nyonya Aurora masih memberontak dan merancu tidak jelas saat digiring keruangan keamanan bandara. Dia pun diinterogasi habis-habisan. Niat mencegah Gavin, malah berakhir kesialan untuknya. Untung saja Tuan Carlos Antonio segera tiba dan menjemputnya. Pria itu meminta-minta maaf pada pihak bandara, sedangkan Nyonya Aurora masih saja memasang wajah angkuhnya.
"Kamu ini apa-apaan sih Aurora! bikin Malu Kuya saja." gerutu Tuan Carlos Antonio.
Nyonya Aurora tak menjawab. Dia hanya diam seraya menatap keluar jendela mobil.
"Kalau ada media yang meliput kelakuan kamu ini, pengaruh ke perusahaan pasar saham kita Kamu paham nggak? Tuan Carlos Antonio sudah berusaha untuk tidak marah. Tetapi tidak bisa. Efek perbuatan Nyonya Aurora sungguhlah besar.
"Kuya marahin juga anak Kuya itu, jangan aku doang." balas Nyonya Aurora tidak terima.
"Dia itu sudah besar Aurora, udah dewasa dia mau ke mana saja? nggak perlu lagi izin dari kita. Kamu mau Gavin pindah dari rumah, karena nggak betah lihat kelakuan kamu begini! ancam Tuan Carlos Antonio.
Nyonya Aurora terdiam. Dia sangat takut sekali Jika Gavin hengkang dari kediaman mereka. Sebab putranya itu sudah lebih dari mampu untuk membeli hunian sendiri.
Kuya jangan aduin ini ke Gavin. Janji!" Nyonya Aurora ketakutan.
Tuan Carlos Antonio hanya bisa menghela nafas. Lama-lama lelah juga menghadapi istri yang seperti ini. Mendadak dia rindu dengan masa lalu. Seandainya saja tidak ada masalah di waktu dulu, pasti bukan Nyonya Aurora yang berada di mobil bersamanya kini.
Akan tetapi semua sudah terjadi berdasarkan kehendak takdir.
"Kuya antar kamu pulang! habis itu mandi, makan Kalau perlu istirahat lagi. Biarin Gavin liburan di kampung halaman calon istrinya.
Nyonya Aurora tak membantah. Akhirnya dia sadar, satu hal Gavin akan pindah ke rumah baru bersama istrinya. Jika dia terus berusaha menolak pernikahan mereka. Maka dari itu, dia harus menerima Si Gadis miskin untuk masuk ke keluarga mereka.
Biarlah dia mengalah sekali ini, asal Gavin tetap berada di sisinya.
***
Gavin dan Mischa akhirnya tiba di Antipolo provinsi Rizal. di mana Mischa lahir dan dibesarkan di desa pao-pao. Ini bukan pertama kalinya Gavin kemari. Tetapi kali ini rasanya berbeda.
Penerbangan berlangsung lancar, dan mereka tiba dengan aman. Setelah mengambil semua koper yang dimasukkan ke bagasi Gavin dan Mischa keluar dari bandara yang segera disambut oleh salah seorang karyawan dari anak cabang nine media operation. Daniel namanya sopir yang sering mengantar jemput karyawan kantor.
__ADS_1
"Selamat datang di Antipolo Tuan Gavin." dan....
"Mischa Pak." sahut Mischa sambil tersenyum
"Baik Nona Mischa, mari masuk
ketiganya masuk ke dalam mobil yang segera melaju ke rumah Mischa butuh waktu sekitar tiga jam untuk tiba di sana.
Mischa tidak memberitahu ayah dan ibunya Kalau dia akan membawa seseorang bersamanya. Itu sebabnya kedua orang tuanya juga tidak menyiapkan apapun untuk menyambut tamu mereka. Mereka pun terlihat terkejut saat sebuah mobil mewah memasuki pekarangan rumah, lebih terkejutnya lagi melihat putri semata wayang turun dari mobil tersebut.
"Bapak, Ibu." Sapa Mischa. Dengan setengah berlari menghampiri kedua orang tuanya.
Gavin ikut turun dan melihat sekeliling udaranya benar-benar segar jauh sekali berbeda dengan di kota Manila. Dia kemudian melihat Mischa sedang memeluk ayah dan ibunya bergantian. Gadis itu terlihat bahagia sekali membuat senyuman tersinggung di wajahnya.
"Tolong turunin semua barang ya Pak. pintar Gavin kepada Daniel.
"Baik Tuan Gavin." Daniel pun melakukan permintaan Gavin untuk menurunkan semua koper dan membawanya ke rumah.
Pak Komo dan ibu gupita menatap heran pada banyak barang yang dibawa masuk ke rumah mereka.
"Apa ini nak? tanya Pak Komo bingung.
keduanya kemudian melihat pada Gavin mengangguk dan tersenyum sopan. Mereka tidak mengenal siapa pria berpakaian bagus itu.
Pak Komo segera bersikap sopan pula.
"Oh apa kabar Pak, anak saya kerja dengan baik kan?
Gavin menggeleng pelan. Jangan panggil Pak, Panggil Gavin saja Pak.
"Iya, nggak mungkin Saya manggil nama ke atasan anak saya." tolak Pak Komo.
"Pak, Bu, kita masuk dulu yuk, ada yang mau Mischa omongin. termasuk tujuan Bos Mischa ikut ke sini." kata Mischa.
Pak Komo dan ibu gupita saling bertatapan.
"Ayo masuk dulu." aja ibu gupita.
Ibu gupita memang sakit. Tetapi masih sanggup membuatkan minuman. Dia pun menyajikan teh untuk lima orang di dalam rumah.
__ADS_1
"Minum dulu Pak Daniel, perjalanan lumayan jauh kan, istirahat saja dulu." ucap Mischa
"Baik Nona Mischa, Daniel pun mengambil teh dan menyeruputnya.
Karena ada yang mau diomongin biar saya yang nunggu di mobil saja dulu ya.
Gavin mengangguk setuju. " Baik Pak Daniel."
Mischa menatap pada Gavin setelah Daniel meninggalkan mereka berempat. Keduanya sudah mendiskusikan saat di pesawat, siapa yang akan memberitahu orang tua Mischa tentang hubungan mereka.
"Izinkan saya perkenalkan diri saya dengan benar Pak, Bu," pinta Gavin
"Iya Pak, silakan." Pak Komo masih belum mau memanggil dengan nama. Lebih tepatnya merasa tidak pantas.
Gavin pun tidak mempermasalahkan. Dia menarik nafas dan mempersiapkan diri.
"Nama saya Gavin Menzies Antonio. dipanggil Gavin. Umur saya 29 tahun, tinggal di Manila bersama kedua orang tua. Saya adalah pimpinan dari ALC yang berada di bawah naungan NINE MEDIA COPERATION GROUP. salah satu perusahaan terkemuka di Manila.
Gavin Dan terlihat cukup gugup Mischa tidak menyangka kalau Gavin yang biasanya tegas dan berwibawa bisa merasa gugup juga.
Mischa bekerja di kantor milik saya Pak, Bu, Dia adalah karyawan teladan dan berbakat. hanya saja bakatnya mungkin tidak bisa sering-sering dipakai lagi.
"Anak saya ada bikin masalah ya Pak?" tanya Pak Komo cemas menyela omongan Gavin.
"Maksudnya bukan itu Pak." Gavin mencoba menenangkan, biar saya selesaikan dulu ya Pak nanti kita akan berdiskusi.
"Oh iya, maaf silakan lanjutkan Pak." Pak Komo mempersilakan.
Gavin berdehem dan melihat Mischa sekilas.
"Maksud kedatangan saya kemari, adalah untuk mengantar Mischa juga ada hal yang ingin saya sampaikan kepada bapak dan ibu."
Gavin kembali menarik nafas lalu membuangnya pelan-pelan.
"Saya ingin melamar anak bapak dan ibu, saya ingin mempersunting Mischa untuk menjadi istri saya."
Bersambung.....
hai hai redears dukung terus karya author agar outhor lebih semangat untuk berkarya trimakasih 🙏💓🙏
__ADS_1
JANGAN LUPA TEKAN, FAVORIT, LIKE, COMMENT, VOTE, DAN HADIAHNYA YA TRIMAKASIH 🙏💓
JANGAN LUPA MAMPIR KE KARYA MORATA YANG BARU TERBIT." MENJANDAKAN ISTRI DEMI JANDA"