
Gavin duduk bersila di atas tilam. Yang dia tebak sebagai tempat Mischa biasa tidur. Matanya menjelajah ruangan sempit yang hanya cukup untuk tidur dan sedikit kegiatan itu.
Ada kamar mandi kecil, di sudut ruangan. Seluruh kamar kos ini tidak lebih besar. Bahkan jauh ukurannya dari kamar mandi, di kamarnya. Sedangkan Mischa menggunakan kamar mandi di kamarnya. Sedangkan Mischa menggunakan kamar ini untuk seluruh kegiatannya.
Gavin Harus banyak bersyukur dengan seluruh kelebihan yang dia punya.
Mischa masih berbicara dengan ibu kost di luar. Gavin bisa mendengar samar-samar suara keduanya. Kalau saja Gadis itu tidak keluar kamar tepat waktu, mungkin Gavin sudah habis dipukul dengan sapu lidi. Dia tidak membaca isi pamflet di pagar. Bahwa laki-laki tidak boleh masuk. Salahnya juga karena masuk begitu saja.
"Maaf Bos, lama menunggu." ucap Mischa saat kembali memasuki kamar, Dia kemudian ikut duduk bersila di depan bos-nya.
Gavin berdehem. "Kata Kayla Kamu sakit?
"Iya Bos."
Kenapa tidak mengabari saya?
"Saya kira mengabari Ate Kayla saja sudah cukup Bos." jawab Miska.
Gavin menghembuskan nafas. "Sakit apa?
"Demam sama kecapean saja bos."
"Sudah ke dokter?"
Mischa menggeleng. "Belum bos, paling besok sudah sembuh.
"Mana ada penyakit yang bisa sembuh begitu saja. Ayo saya antar ke dokter." ajak Gavin.
"Tidak usah Bos, saya cukup istirahat saja. Mischa melihat Bos melotot padanya. "Baik Bos, saya ganti pakaian dulu.
Mischa mencari sebuah cardigan lusuh dan celana panjang, lalu mengganti pakaiannya di kamar mandi. Saat keluar, Bos sudah menunggu di depan pintu. Bosnya itu pasti tak betah berlama-lama di kamarnya. Sudah sempit, panas pula.
"Sudah selesai Bos."
"Ayo."
Gavin berjalan lebih dulu. Sementara Mischa mengunci pintu kamar, Mereka kemudian berjalan ke depan gang. Di mana mobil Gavin di parkir.
"Ibu kos bilang apa? tanya Gavin tanpa menoleh ke belakang.
Cuman bilang, Lain kali minta izin dulu Bos. setelah itu basa-basi biasa." jawab Mischa dengan suara lemas.
"Oh ya sudah,
Gavin masuk ke mobil dan menunggu Mischa dengan sabar. Akan tetapi Gadis itu tak kunjung memasuki mobil. Dia memperhatikan sekitar, dan bingung kenapa tiba-tiba menjadi ramai. Dia keluar dan melihat ternyata Mischa sudah pingsan di atas jalan.
"Waduh gimana ini, Ayo bantu angkat." seru seorang ibu-ibu kepada orang-orang yang juga ada di sana.
"Tidak perlu Bu, biar saya yang bawa ke rumah sakit. Ini saudara saya." ucap Gavin terpaksa berbohong, agar warga tidak mencurigainya.
__ADS_1
"Butuh bantuan Kuya?" tanya ibu tersebut.
"Tolong bantu bukakan pintu belakang mobil saya bu, gadis ini saya gendong sendiri." jawab Gavin
"Baik Kuya."
Gavin menggendong Mischa. Yang ternyata ringan sekali. Sepertinya Gadis itu memang tidak bohong, saat bilang dirinya jarang makan malam. Sudah capek kerja, jarang makan pula. Bagaimana Tidak kurus dan jatuh sakit."
Rasanya Gavin ingin sekali mengomel. Tetapi percuma, toh Mischa memang bukan siapa-siapanya yang ada nanti. Gadis itu akan merasa risih karena tindakannya.
Gavin tiba di rumah sakit. Dan meminta para perawat pembantunya segera dibawa Mischa ke UGD untuk diperiksa. Untungnya dia memang tidak apa-apa, hanya perlu diberi infus dan istirahat saja. Akan tetapi Gadis itu masih pingsan dan Gavin harus menunggunya di ruang.
"Hello Matteo, aku kayaknya masih lama di luar." sapa Gavin saat menghubungi Matteo.
"Kau di mana memangnya?" tanya Matteo dari ujung telepon.
"Di rumah sakit bawa Mischa."
"Hah.... parah sakitnya?" tanya Matteo khawatir.
"Syukurnya cuma kecapean aja, tapi dia masih pingsan.
"Ya ampun, Ya sudah Gavin amanlah. Biar aku yang urus di sini."
"Okey thanks ya."
Gavin mematikan sambungan telepon selulernya, dan melihat Mischa sudah sadar. dia sepertinya heran kenapa tiba-tiba berada di rumah sakit.
"Oh..., saya kira punya kekuatan teleportasi Bos." canda Mischa
Gavin tidak tahu harus tertawa atau merasa kesal. Bisa-bisanya gadis ini masih sempat bercanda setelah pingsan di tengah jalan.
Mischa mencoba untuk bangkit dan duduk bersila menghadap Gavin.
"Bos tidak perlu menunggu saya. Nanti kalau kata dokter sudah boleh pulang, saya akan pergi sendiri." ucap Mischa, kali ini serius.
"Oh ya, Mau bayar pakai apa?" tanya Gavin
"Kartu pemerintah bos." ucap Mischa mengambil dompet tipis dari saku celana, lalu mengeluarkan sebuah kartu dari sana.
Gavin benar-benar tidak menduga bahwa Mischa sudah mempersiapkan diri dari rumah.
"Terima kasih bos, sudah mengantar saya." ucapkan Mischa karena Gavin hanya diam saja.
"Jangan pulang sendiri, Saya akan minta dokter untuk menghubungi saya. Kalau kamu sudah diperbolehkan pulang, saya balik ke pameran dulu.
Gavin bangkit, lalu berjalan ke arah pintu. Tidak berani menolak tawaran Bosnya. Jadi dia memilih kembali berbaring dan melanjutkan istirahat.
Gavin sampai di NINE MEDIA COPERATION GROUP dan pameran masih berlangsung dengan meriah. langkahnya berhenti ketika melihat Larissa datang bersama Nyonya Aurora.
__ADS_1
Mereka sedang menikmati alunan musik dan suara merdu para artis ternama yang diundang oleh pihak manajemen di acara itu.
Dengan malas dia melangkah mendekati keduanya dan duduk di kursi kosong, sebelah Nyonya Aurora.
"Sudah lama ma?" tanya Gavin
"Eh Gavin, Mama nyariin kamu dari tadi. Dari mana saja?" Nyonya Aurora bertanya balik
"Ada urusan sebentar di luar tadi ma, Larissa datang sama mama? tanya Gavin lagi.
"Hai, Gavin sapa Larissa yang kemudian bertepuk tangan untuk para penyanyi
"Hai, jawab Gavin malas
"Mama sengaja nyuruh Larissa datang, karena kamu dan Papa pasti sibuk kan? jadi biar mama punya teman." jelas Nyonya Aurora.
"Oh..., respon Gavin bingung harus berkata apa.
"Kamu balik kerja saja, nggak apa-apa mama bisa sama Larissa kok.
Gavin mengangguk. " Ya sudah ma, kalau begitu Gavin tinggal ya.
Gavin menghembuskan napas, setidaknya dia punya alasan kerja untuk menghindari Larissa.
"Yuk Larissa, kita keliling. biasanya ada beberapa istri dari kenalan, Om Carlos yang datang istri orang-orang penting. Bagus buat kamu untuk bisa kenal juga sama mereka." ajak Nyonya Aurora.
"Oh iya tante, mau dong. Larissa menyukai ide itu. Keduanya pun bangkit dan berjalan ke sana kemari menyapa orang-orang.
"Hello Jeng udah lama? tanya Nyonya Aurora pada seorang istri pengusaha bernama Vira yang turut hadir disana.
Dengan anggun nyonya Vira mengangguk dan tersenyum. "Sekalian mengunjungi anak aku yang magang di sini jeng."
"loh anak Jeng Vira magang di sini? Kenapa nggak di perusahaan papanya saja?" tanya Nyonya Aurora penasaran.
Papanya Mau anaknya mandiri, kalau di sini kan nggak banyak yang kenal sama dia. Jadi dia bisa kerja lebih profesional. Biar dapat pengalaman beneran." kata papanya jelas nyonya Vira.
"Oh benar juga ya Jeng." respon Nyonya Aurora.
"Panjang umur, yang lagi diomongin itu dia lagi jalan ke sini." tunjuk Nyonya Vira pada seorang gadis yang merupakan karyawan magang di NINE MEDIA COPERATION GROUP, "Valerie....! ini Mama.
Gadis yang dipanggil Valeri itu tersenyum, lalu berlari-lari kecil menghampiri sang mama "Mama jadi datang ternyata?"
"Jadi dong, kan mama mau lihat anak Mama juga. Jawab nyonya Vira.
"Oh iya, kenalin ini istrinya Tuan Carlos Antonio, bos kamu di sini,temannya Papa juga."
Bersambung.....
hai hai redears dukung terus karya author agar outhor lebih semangat untuk berkarya trimakasih 🙏💓🙏
__ADS_1
JANGAN LUPA TEKAN, FAVORIT, LIKE, COMMENT, VOTE, DAN HADIAHNYA YA TRIMAKASIH 🙏💓
sambil menunggu karya ini up kembali, yuk mampir ke karya baru emak " PERJUANGAN CINTA ABIMAYU"