
Senyum bahagia Gavin adalah alasan nekat datang ke sini. Dua puluh tahun lebih lamanya dia menghindar dan mulai hidup baru. Namun, info pesta pernikahan putranya membawanya untuk terbang kembali.
Wanita itu berjalan mendekat ke panggung pelaminan dengan hati-hati. Dia bahkan sampai mengganti baju dan memakaikan selendang ke kepala untuk menutupi rupanya. Tak lupa sebuah masker pun menutupi separuh wajahnya. Kasih tersenyum ikut merasakan kebahagiaan yang dipancarkan oleh Sang putra. Tanpa sadar dia menurunkan masker untuk mengatakan sesuatu.
Gavin memperhatikan sekeliling dan tanpa sengaja bertatapan dengan seorang tamu wanita itu menggumamkan sesuatu
"Ganteng banget putra aku, istrinya juga cantik."
Gavin tidak bisa membaca gerak bibir wanita itu, juga tidak bisa mendengar apa yang wanita itu ucapkan, karena suasana yang bising.
Kasih kemudian tersadar dengan apa yang dia lakukan dan cepat-cepat mengenakan maskernya kembali. Menatap dengan Gavin dan Mischa. Wanita itu beranjak pergi begitu saja tanpa memberikan selamat.
Sang ibu kandung yang hampir pergi kembali mengintip dari kejauhan. Dia hanya bisa menangis sesungguhkan
****
Hahhh.... capek banget!"
Gavin segera membanting tubuh ke kasur begitu kembali ke kamar setelah seluruh rangkaian acara resepsi selesai.
"Kayaknya lebih capek dari acara di kampung ya?" tanya Mischa
"Iya mungkin karena yang datang banyak banget jadi terasa capek."
__ADS_1
Sepatu dan gaun dibuka oleh Mischa dengan hati-hati. Dia pun memakai piyama sebelum kembali menghampiri sang suami yang hampir terlelap. Perlahan Mischa melepas sepatu dan kaos kaki yang dikenakan Gavin. Gavin hanya sempat melepas jas saja tadi. Suara dengkuran pelan pun mulai terdengar. sepertinya Gavin memang tak bercanda kalau dia sedang lelah.
Mischa membiarkan Gavin tidur.
Sementara dirinya berkunjung ke kamar orang tuanya di sebelah. Pak Komo tampak sedang berkemas-kemas menggantikan peran ibu Gupita yang berbaring di ranjang.
"ibu sama bapak beneran mau langsung balik besok? nggak mau jalan-jalan keliling Manila dulu ?" tanya Mischa.
"Ngak bisa nak, dokter yang sekarang menangani rawat jalan nyuruh ibu datang lusa." jawab Ibu Gupita
Mischa mengangguk paham. Ya sudah Bu, mudah-mudahan Ibu cepat sembuh biar bisa bawa jalan-jalan. Ibu gupita tersenyum hangat putrinya itu sungguh berhati baik.
"Gavin di mana nak?" tanya Pak Komo serah yang dimasukkan baju-baju ke dalam koper.
"Kamu nggak istirahat nak? kan, pasti capek juga." tanya Bu gupita
"Iya Bu, ini mischa mau istirahat. Mischa mau ngecek Bapak sama Ibu dulu." jawab Mischa.
"Tenang aja Nak, kalau memang ada perlu apa-apa kan, bisa Bapak Panggil." ucap pak Komo.
"Iya Pak, kalau gitu Mischa balik ke kamar dulu ya.
Mischa keluar dari kamar orang tuanya, dan berniat kembali ke kamar. Gavin masih tidur dengan lelap, dia pun naik keranjang dan ikut terbuai ke alam mimpi.
__ADS_1
Sementara itu kasih baru saja menghapus air mata dan bersikap kembali tegar saat ponselnya berdering. Dia sudah kembali ke kamar setelah meninggalkan atap hotel di mana resepsi Gavin diselenggarakan. Nomor yang dia kenal, tetapi tidak menyangka akan menelepon pada saat seperti ini.
"Halo." sapanya
"Halo selamat sore Ibu, saya mendapat kabar Kalau Ibu sedang berada di kota Manila ya, Saya cuman ingin memastikan Apakah kedatangan ibu untuk memenuhi posisi jabatan yang kami tawarkan?
Kasih terdiam sejenak, dia sampai lupa kalau tawaran kerja yang masuk itu berkantor di kota Manila.
"Sebenarnya saya ada urusan di manila dan jujur saya belum punya jawaban atas tawaran itu." jawab kasih.
"Oh iya bu, kalau begitu Kami tetap akan menunggu keputusan dari ibu ya. Semoga ibu bisa mempertimbangkan untuk bergabung di perusahaan kami. Selamat beristirahat dan terima kasih Bu."
"Baik sama-sama."
Sambungan telepon diputus. Sudah enam bulan berlalu sejak perusahaan pemasaran digital itu menghubunginya dan menawarkan posisi pimpinan ilmu marketing miliknya, yang sudah tak perlu diragukan lagi, membuatnya dan lirik oleh banyak perusahaan besar. Namun, mereka semua Harus bersaing. Tak peduli perusahaan besar atau kecil, sebab dirinya lebih mementingkan lingkungan kerja yang baik dan menyenangkan ketimbang gaji besar.
Kasih terduduk di sofa dan bertanya ke diri sendiri apakah dia harus kembali ke Manila atau tidak. Dia lahir dan besar di ibukota negara Filipina ini, akan tetapi tak mudah untuk mulai setelah puluhan tahun lamanya pergi.
Bersambung.....
hai hai redears dukung terus karya author agar outhor lebih semangat untuk berkarya trimakasih 🙏💓🙏
JANGAN LUPA TEKAN, FAVORIT, LIKE, COMMENT, VOTE, DAN HADIAHNYA YA TRIMAKASIH 🙏💓
__ADS_1
JANGAN LUPA MAMPIR KE KARYA EMAK YANG LAIN