
Gavin menarik nafas dalam dan mengeluarkan perlahan. Udara di sini benar-benar membuat segar. Pikiran detak jantungnya sudah kembali normal, meskipun orang tua mischa belum memberikan jawaban. Tetapi Gavin merasa lega karena telah menyampaikan maksudnya.
"Ibu lagi masak buat makan malam Kuya." Mischa menghampiri Gavin dan memberitahunya.
"Tapi, Ibu lagi sakit, Kuya minta sama Daniel aja untuk beli makanan nggak?" tanya Gavin
"Ibu sakitnya nggak baring gitu Kuya, masih bisa aktivitas. Cuman kalau lagi kambuh, baru nggak bisa ngapa-ngapain." jelas Mischa
"Oh gitu?" Gavin mengangguk paham
"Ibu ngomel-ngomel tuh, katanya Kenapa nggak ngabarin mau datang. tau gitu tadi Ibu ke pasar beli bahan makanan."
"Ngak masalah, apa aja jadi kok."
"Ya sudah, Aku bantuin ibu masak dulu ya Kuya, nanti masuk aja sama Pak Daniel." ucap Mischa.
Gavin mengangguk oke.
tak lama setelah Mischa memasuki rumah Daniel keluar dari mobil dan menghampiri Gavin
"Sudah mendingan Pak Daniel." tanya Gavin.
Daniel mengangguk seraya tersenyum.
"Sudah Pak, tadi sempat tidur sebentar. Ini sudah segar lagi."
Keduanya kemudian membahas beberapa hal tentang NINE MEDIA COPERATION GROUP".
"Saya kira tadi rumahnya gubuk, tahunya rumah permanen sederhana. Tapi bagus halamannya, luas banyak pohon-pohon rindang juga." ucap Daniel.
"Iya Pak, ternyata nyaman banget di sini beda sama di kota Manila." Gavin menyetujui.
"Tuan nggak Berapa lama di sini, nanti saya jemput lagi."
"Iya Pak, nanti saya kabari kalau mau pulang. yang pasti nggak mendadak, biar Pak Daniel juga bisa atur jadwal.
"Okey siap pak,"
Malam Menjelang, Gavin dan Daniel pun kembali masuk ke rumah. Mereka mengobrol santai dengan Pak Komo. Selama mengobrol, Gavin tidak merasa sedang berbicara dengan seorang petani. Sepertinya kecerdasan Mischa memang diturunkan dari orang tuanya.
Setelah makanan tersaji di atas meja, semuanya menuju ruang makan dan mengambil piring masing-masing.Mischa mengambilkan nasi untuk Gavin. Pria itu belum pernah makan makanan rumahan
seperti itu sebelumnya.
Ibu gupita menyediakan makanan khas Antipolo, untuk disuguhkan kepada Gavin. Kare-kare disuguhkan di sana Dan juga sayur lalapan, ada juga ayam Inasal. Kare-kare memang sedap untuk disantap. Sop buntut dan babat sapi, dengan kuah yang terbuat dari kacang tanah goreng, yang ditumbuk. bumbu tradisional Bagong yang terbuat dari fermentasi, udang perasan jeruk kalamansi, dan berbagai bumbu ini memiliki rasa yang kuat. Sekaligus menyegarkan, disantap dengan sepiring nasi hangat. Kuliner khas Antipolo ini, siap mengenyangkan perut sekaligus memanjakan lidah.
__ADS_1
Mischa pun mengambilkan lauk sekaligus, lalu meletakkan piring dengan makanan lengkap tersebut dihadapan Gavin.
"Nggak pakai sendok?" tanya Gavin heran karena Mischa tak kunjung mengangsurkan alat makan tersebut.
Mischa justru meletakkan sebuah mangkuk berisi air di sebelah piring Gavin.
Makan begini enaknya pakai tangan kuya." jelas Miska.
Gavin memandangi tangan kanannya. Selama ini dia tidak pernah makan berat, tanpa menggunakan sendok. " Bagaimana caranya makan dengan menggunakan tangan."
Gavin kemudian melihat cara Mischa makan, lalu mengikutinya. Dia terdiam sejenak, saat suapan pertama masuk ke dalam mulut. "Enak sekali, benar-benar tidak menyangka bahwa masakan sederhana seperti ini bisa seenak itu.
"Nggak enak ya Kuya?" tanya Ibu Bu Gupita. rasanya masih belum bisa memanggil Gavin begitu saja.
"Enak banget ini Bu, Mama saya nggak bisa masak. Jadi baru kali ini saya makan masakan seorang ibu." jawab Gavin dengan mata berbinar.
Pria itu kemudian makan dengan lahap, seakan-akan lupa bahwa tadinya dia mengkhawatirkan cara makan dengan tangan. Mischa tersenyum melihatnya, juga ketika melihat Daniel yang sudah menambah nasib lagi ke piringnya.
Kalau tau Mischa mau bawa tamu, pasti ibu masak yang lebih dari ini." ucap ibu gupita.
Gavin menggeleng nggak apa-apa Bu ini aja sudah enak kok.
Pak Komo dan ibu gupita saling bertatapan namun mereka masih urung membahas lamaran yang telah dilakukan Gavin sore tadi.
Setelah makan Mischa dan Pak Komo, mengantarkan Gavin dan Daniel ke rumah saudara, untuk menumpang tidur. Rumah yang mereka datangi kali ini sedikit lebih bagus. Dan besar seperti secara finansial adik dari Pak Komo, ini lebih baik ketimbang sendiri.
"Tidur saja, masak tamunya nggak dikasih makan?" balas Om pare
"Tadi sudah makan kok, pak Sahut Gavin.?
"Kuya ini nggak suka lapar tengah malam Pare, kayak istri saya." canda Om pare yang mendapat pukulan ringan dari istrinya. Semua orang di ruangan itu tertawa.
Pare pun menunjukkan dua buah kamar yang bisa dipakai oleh Gavin dan Daniel untuk tidur.
"Anak-anak saya laki-laki semua masih kecil-kecil jadi nggak papa kamarnya pakai sajak mereka bisa tidur bareng nanti jelas pare.
"Terima kasih banyak ya pak." ucap Gavin tulus.
"iya di enakin saja Kuya. Mischa Ini juga udah kayak anak saya sendiri jadi nggak usah sungkan balas pare.
Daniel pun memasukkan barang-barang keperluan Gavin ke dalam kamar yang akan ditempati oleh Gavin selama berada di kampung Mischa.
Pak Daniel menginap semalam saja Pak soalnya nggak mungkin balik ke kotak malam-malam gini izin Kevin
"Oh iya paham-paham nggak masalah jawab pare
__ADS_1
Ya sudah kalau gitu Kuya istirahat ya, aku sama bapak pulang dulu pamit Mischa.
iya hati-hati ya Gavin kemudian menatap Pak Komo Bapak juga hati-hati ya pak
iya Kuya jawab Pak Komo
kedua anak dan ayah itu pun meninggalkan kediaman Om pare dengan diantar oleh Daniel Selama perjalanan keduanya tidak banyak bicara barulah setelah sampai di rumah dan Daniel kembali ke rumah Om pare Pak Komo dan ibu gupita mengajak bicara Putri semata wayang mereka.
"Nak belum mau tidur kan?" tanya Bu gupita
"Belum Bu, Ibu nggak tidur? kan lagi sakit." jawab Mischa.
Bu gupita ter batuk-batuk beberapa saat membuat Mischa khawatir dan segera menghampiri sang ibu.
"Minum dulu." Pak Komo memberikan segelas air yang baru saja diambil di dapur
Setelah meminum beberapa teguk, batuk Bu gupita mereda. Mischa pun akhirnya merasa lega.
"Ibu istirahat saja bu, sudah malam."pinta Mischa
Bu Narsih tak menjawab. Justru bertatapan dengan Pak Komo. Mischa memahami maksud dari gerak-gerik orang tuanya.
"Kalau mau bahas tentang Kuya Gavin, masih bisa besok kok Bu."usul Mischa yang lebih mengkhawatirkan kondisi ibunya
Ibu gupita menggeleng. Jujur Ibu nggak nyangka bakalan kaya gini. Mischa mendengarkan dengan seksama. Setelah diskusi, ketika ingin berangkat ke Manila, Baru kali ini mereka duduk bersama lagi membicarakan sesuatu secara serius.
Banyak yang marah-marah ke bapak dan ibu, karena membiarkan Kamu kuliah di luar kota. Mereka bilang kamu cuman buang-buang waktu saja. Belum lagi waktu kamu mau berangkat ke Manila. Pak kades malah mau nyeret kamu ke KUA mau dinikahin.
Entah sama siapa, tapi Ibu nggak peduli. mereka ngomong apa, karena Ibu sama Bapak mau anaknya maju. nggak berakhir kayak ibu sama bapak di sini cuman bisa jadi petani.
"Ibu marah sama Mischa, karena ternyata akhirnya Mischa mau nikah kayak yang lain juga?" Tanya Mischa sedih
Bu gupita menggeleng. "bukan itu nak, Ibu malah senang banget waktu tahu kamu mau nikah. tapi Ibu nggak nyangka aja sama calon kamu.
"Dari yang bapak lihat dia orang kaya ya nak? kaya banget malah." tanya Pak Komo
Mischa mengangguk betul Pak.
Kamu kenapa bisa pacaran sama bos kamu, kamu nggak ada ngelakuin yang aneh-aneh kan tanya ibuku Vita curiga.
Mischa baik bekerja di sana bu, sumpah mischa kerja betul-betul di Manila. Tapi Kuya Gavin memang baik banget sama Mischa bahkan dari pertama Mischa bekerja.
Bersambung.....
hai hai redears dukung terus karya author agar outhor lebih semangat untuk berkarya trimakasih 🙏💓🙏
__ADS_1
JANGAN LUPA TEKAN, FAVORIT, LIKE, COMMENT, VOTE, DAN HADIAHNYA YA TRIMAKASIH 🙏💓
JANGAN LUPA MAMPIR KE KARYA MORATA YANG BARU TERBIT." MENJANDAKAN ISTRI DEMI JANDA"