Antara Kutub Utara Dan Selatan (You & Me)

Antara Kutub Utara Dan Selatan (You & Me)
BAB 119.MERASA TERANCAM _ YOU & ME


__ADS_3

"Kita mau ke mana sih Kuya?"


Mischa tak bisa melihat apa-apa, karena Kedua telapak tangan besar milik Gavin menutup matanya.


"Bentar ya, sayang. Dikit lagi sampai kok." jawab gabin.


Pria itu berjalan di belakang istrinya sambil menuntunnya.


Mischa hanya tahu mereka berhenti di depan sebuah gedung di mana terdapat restoran tempat Gavin sering menyendiri dulu. Mungkin mereka ingin ke sana lagi. Namun, Kenapa pula Mischa tidak boleh melihat apa-apa seperti ini?


"Okey, kita sudah sampai."


Gavin menurunkan kedua tangan dan membiarkan Mischa melihat sesuatu di depannya.


Mischa terperangah, terpukau dan terpesona.


seorang pemain biola mengalunkan lagu saat Mischa berjalan di atas tumpukan kelopak bunga mawar merah, menuju satu-satunya meja yang ada di sana.


Sama seperti saat bulan madu di hotel kemarin, Gavin menyewa seluruh restoran untuk mereka berdua saja.


"Kejutan buat apa ini kuya?" tanya Mischa Seraya berbalik. Benar-benar tak menduga akan mendapati ini.


Gavin tampak berpikir. lalu mengedipkan bahu. "Enggak tahu, kepengen aja.


Mischa hanya bisa tersenyum lucu, melihat kelakuan suaminya. Dia kembali melihat ke depan dan merasa begitu senang.


"Silakan Tuan dan nyonya, Gavin siapa seorang pramusaji yang mempersilahkan keduanya untuk duduk.


Gavin berjalan lebih dulu untuk menarik kursi yang akan diduduki oleh Mischa.


"Silakan sayang."


Mischa pun menduduki kursi itu, Seraya Gavin mendorongnya.


"Sudah nyaman?" tanya Gavin


Mischa mengangguk, tanpa melepas senyum dari wajah. "Sudah kuya."


Gavin kemudian ikut duduk dan kini mereka berhadapan.


Mischa melihat sekeliling, lalu bertanya


"Nggak dikasih menu?


Gavin tertawa pelan. "Nggak, makanannya udah Kuya pesan sekalian jadi tinggal diantar saja."


"Oh gitu." Mischa manggut-manggut.


"Benar saja, Tak lama kemudian pramusaji menghampiri Seraya membawakan makanan pembuka .


"Ini apa?" namanya tanya Gavin menguji pengetahuan istrinya.


"Appetizer,"jawab Mischa cepat


"Pintar." Puji Gavin


Mereka pun menikmati tiga potong makanan pembuka tersebut sambil berbincang santai.


"Dulu ada klien NINE MEDIA COPERATION GROUP datang ke kantor. Jadinya kami sediain makanan untuk beliau. Waktu dihidangkan Appetizer, beliau marah-marah katanya, saya datang jauh-jauh ke sini cuman dikasih cemilan? mana kenyang saya?

__ADS_1


"Serius Kuya? tanya Mischa hampir tersentak.


"Iya, ternyata setelah ditelusuri dia cuman asisten Bos. Tapi laganya berlagu kayak dia bosnya. Gaya selangit naik mobil sport mewah, tahunya nggak bisa bedain mana Appetizer dan main course."


Mischa tertawa terbahak-bahak. "Ya ampun malu banget nggak sih dia."


"Ya itu, jadinya kami cepat-cepat menghidangkan main course dan ngejelasin kalau yang sebelumnya itu makanan pembuka. Ya udah, terus dia kayak malu banget gitu. Apalagi setelah kami tahu dia cuman asisten


Mischa menggeleng-geleng. "Ada-ada saja sih orang."


"Di dunia ini memang banyak orang yang nggak tahu apa-apa, tapi merasa tahu segalanya." ucap Gavin.


Mischa mengangguk setuju. "Ada juga yang tahu banyak hal, punya banyak prestasi. Tapi nggak mau nunjukin ke orang lain, kayak ceo-nya Bima digital marketing, Kuya."


"Oh ya?" Gavin tampak tertarik.


"Beliau punya prestasi apa saja?"


"Jadi beliau tuh baru kali ini kerja di Manila. sebelumnya selalu di luar negeri. Pertama sekali Malaysia, Australia, Kanada ,California dan juga new Zealand. Tapi Kuya, beliau nggak pernah pamer. Medsos aja nggak punya." jelas Miska


"Serius nggak punya medsos?" tanya Gavin tak percaya.


"Iya, pas aku tanya kenapa? beliau bilang nggak mau kehidupan pribadinya dilihat orang-orang. Padahal bisa saja kan beliau punya akun private? Tapi beliau sama sekali nggak mau.


Gavin jadi penasaran dengan pimpinan baru perusahaan pemasaran Bima digital marketing itu. Sebab pimpinan sebelumnya saja cukup aktif di media sosial meski terkesan kolot.


Main course kemudian diantar. Daging sapi kualitas terbaik disajikan dengan kuah lada hitam yang harum.


"Kamu makan pakai nasi nggak? tanya Gavin


"Gak mesti kok Kuya, tadi siang kan, udah makan nasi." Mischa menjawab sambil cengengesan.


"Manis, tapi misterius."


"Misterius?tanya Gavin tak paham.


"Iya, kayak bukannya orangnya manis, perlakuannya juga manis. Tapi sangat misterius." jawab Mischa.


"Kamu kayaknya ngefans ya sama beliau, dari tadi bahas beliau terus."


Mischa pun bingung, kenapa dirinya begitu menyukai sosok wanita bernama Kasih itu. Dia merasa begitu nyaman saat berada di dekat wanita tersebut. Seperti sudah kenal lama dan punya hubungan istimewa.


"Kalau kuya ketemu langsung sama beliau, pasti paham deh kenapa aku kayak gini."


Mungkin nanti bakalan ketemu kalau ada event-event digital marketing


Mischa mengangguk ku ya harus coba ngobrol sama orangnya.


Saat semua piring telah diangkat, Mischa kira mereka akan segera pergi setelah Gavin membayar semua tagihan.


"Sebentar." ucap Gavin


"Mau ada makanan lagi?" tanya Mischa membuat Gavin tak bisa menahan tawa.


"Kamu belum kenyang?


"Aku kenyang banget Kuya, Makanya kalau ada makanan lagi gimana mau habisnya lagi?


Gavin kembali tertawa. Mischa tetaplah Mischa, meski sudah memakai seluruh barang bermerek di tubuhnya dia tetap jenaka ala gadis kampung yang polos.

__ADS_1


"Kamu duduk saja di situ ya,"


Mischa tampak bingung. "Kuya mau ke mana?"


"Sudah, lihat aja ke depan. Gavin memutar tubuh Mischa agar membelakanginya. Kini dia berdiri di balik tubuh sang istri.


Mischa menanti dengan sabar, meski mereka merasa kebingungan. Tak lama kemudian sesuatu menyentuh bagian bawah lehernya. Dia terkejut, tetapi segera mengetahui bahwa itu adalah sebuah kalung.


"Mischa meraba bentuknya dan terkejut.


Berlian ." gumamnya


seorang pramusaji kemudian mengantarkan cermin duduk dan meletakkannya di hadapan Mischa.


Miska sangat terpesona saat melihat bentuknya.


"Bagus banget Kuya." pujinya tak mampu mencari kata lain untuk mendeskripsikan keindahan kalung tersebut.


"Kamu suka?"


dengan mata berkaca-kaca mischa menggangguk. "Suka banget, terima kasih kuya."


Gavin mengecup puncak kepala istrinya. "Sama-sama Sayang, kalau ini kamu pakai untuk acara-acara resmi ya."


"Baik Kuya."


Gavin kemudian mengulurkan tangan yang disambut oleh Mischa. Mereka berjalan menjauhi meja untuk mendekati permainan biola dan berdansa di sana. Awalnya merasa canggung, tetapi akhirnya terbiasa.Dia sedang berada di dalam satu fase yang paling membahagiakan dalam hidupnya.


****


Nyonya Aurora melamun di belakang rumah saat Tuan Carlos pulang.


"Kamu Kenapa sering banget di sini belakangan ini?" tanya Carlos.


Aurora bergeming.


"Kalau ada masalah, cerita sama kuya." lanjut tuan Carlos


Aurora masih bergeming.


Carlos menghela napas. Ia ikut Duduk di salah satu kursi, kemudian meluruskan kakinya.


"Menurut kuya, kalau Gavin tahu aku bukan ibu kandungnya, respon dia bakalan gimana ya?" tanya Aurora setelah hening yang cukup lama.


Carlos mengernyit heran. "Kenapa tiba-tiba nanya itu? kita kan nggak pernah sekalipun bahasa ini."


Aurora kembali diam membuat Carlos bingung bukan kepalang.


"Karena kamu tiba-tiba bahas itu, Kuya tadi kayak lihat orang yang mirip sama Kasih di jalan." ucap Tuan carlos


Tubuh Aurora seketika menegang. "Tapi itu nggak mungkin Kasih, iya kan Aurora."


Bersambung.....


hai hai redears dukung terus karya author agar outhor lebih semangat untuk berkarya trimakasih 🙏💓🙏


JANGAN LUPA TEKAN, FAVORIT, LIKE, COMMENT, VOTE, DAN HADIAHNYA YA TRIMAKASIH 🙏💓


JANGAN LUPA MAMPIR KE KARYA EMAK YANG LAIN

__ADS_1


__ADS_2