Antara Kutub Utara Dan Selatan (You & Me)

Antara Kutub Utara Dan Selatan (You & Me)
BAB 61. PULANG KAMPUNG _ YOU & ME


__ADS_3

Mischa tersenyum. Gavin memaksa ingin makan di sini. Karena tampaknya bakso yang ramai pengunjung ini enak rasanya. Dia pun jadi penasaran.


"Ini Kuya, Ate, 2 mangkok baksonya." penjual bakso menyerahkan mangkok berisi bakso ke tangan Gavin dan Mischa masing-masing.


"Terima kasih Kuya." jawab keduanya berbarengan.


Mischa menyeruput pelan kuah bakso yang masih panas. Dan kaldunya segera menyapa indra pengecap Mischa. "Enak sekali!


"Nggak salah kan Kuya, ajak makan di sini.


"Iya, Kuya, enak banget. Ternyata


mereka makan dengan lahap sambil mengobrol santai.


"Entar sampai di kampung kita harus naik kendaraan umum 3 kali Kuya, soalnya kendaraan itu cuman nganter dekat-dekat aja. nggak ada yang langsung sampai ke rumah. Kuya apa nggak apa-apa? tanya Mischa kembali merasa khawatir Gavin akan kerepotan.


"Kuya sudah punya rencana yang lebih bagus." sahut Gavin seraya menyendok bakso ke mulutnya.


"Apa itu?"


"Anak perusahaan NINE MEDIA COPERATION GROUP, juga ada di Antipolo. Kuya suruh saja salah satu karyawannya buat jemput, dan ngantar kita." jawab Gavin santai.


Mischa melongok. Dia sampai benar-benar kepikiran harus menaiki transportasi apa yang bisa membuat Gavin merasa nyaman. Tak menyangka kalau Gavin punya ide yang lebih sederhana.


"Pokoknya kamu urus barang kamu sendiri saja. Soal transportasi ongkos segala macam, biar Kuya yang handle.Tenang saja." ucap Gavin yang sudah menandaskan isi mangkoknya.


Entah kenapa Mischa sering lupa kalau Gavin itu super kaya. Mungkin karena Sampai detik ini, dia masih merasa kalau semua ini adalah mimpi. Mimpi indah di mana seorang pria kaya raya mencintai Gadis miskin. Namun semua ini bukanlah mimpi.


"Kalau begitu, nanti Kuya tidur di hotel dong. jarak dari rumah ke hotel terdekat itu satu jam, apa enggak apa-apa?


Gavin menggeleng. "Kuya Ini kan mau jumpa calon mertua masa tidurnya di hotel."


"Nah terus mau tidur di mana? tanya Mischa bingung.


"Iya di rumah kamu lah." jawab Gavin santai.


Mischa mendadak murung. Mana mungkin Gavin bisa tidur dengan nyaman di rumah yang sangat-sangat sederhana.


"Kamu takut tetangga yang julid ya?" kalau gitu, Kuya menginap di salah satu rumah saudara kamu saja." Gavin memberi solusi.


Sebenarnya bukan itu alasan utamanya. namun Gavin memang memberikan ide pada Mischa.


"Oh iya, Kuya nanti nginap di rumah adik bapak yang petani kopi aja. Kebetulan anaknya laki-laki semua. Tapi Kuya beneran nggak mau nginap di hotel aja."tanya Mischa memastikan


"Gak sopan dong kalau Kuya nginep di hotel. Lagian jauh juga kan sama kamu jaraknya, sampai 1 jam gitu." tolak Kevin


"Iya sih,"


"Sudah, nggak apa-apa Kuya ini beneran udah berubah. Bukan Gavin yang kayak pertama kamu kenal dulu. Gavin meyakinkan.

__ADS_1


Mischa kembali tersenyum. "Iya kuya, aku percaya kok.


"Waktu keberangkatan ke Antipolo pun akhirnya tiba. Gavin berangkat ke kantor sejenak untuk menyerahkan kepemimpinan sementara kepada Matteo.


"Mau ke mana?" Matteo heran melihat Gavin ke kantor dengan pakaian kasual.


"Mau ke kampung Mischa." jawab Gavin.


"Oh pantesan aja Mischa ngajuin cuti. Aku juga heran biasanya tuh anak workaholic."


"Aku titip kantor ya." pinta Gavin.


"Aman lah pokoknya, setiap hari aku bakalan hubungin kamu.


"Nanti akan aku bawain oleh-oleh dari sana buat semua karyawan juga."


Matteo melongo. "Apa dia tidak salah dengar?


kamu mau bawain oleh-oleh untuk semua karyawan, kesurupan jin Apa kamu?


Gavin tertawa. "Kenapa sih aku mau berbuat baik malah nggak ada yang percaya.


"Memang nggak percaya aku,


"Ya sudah, nanti kamu lihat saja sendiri. Aku jalan dulu ya, mau jemput Mischa." pamit Gavin.


"Okey bro, hati-hati ya. kabari aku kalau sudah sampai.


Matteo mengantar Gavin sampai ke lift kemudian dihampiri oleh Irma.


"Bos ikut ke kampung Mischa, kan?"


"Iya kan? tebak Irma.


"Iya benar, Yang lain udah pada tahu."tanya Matteo menunjuk pada Andika Valen.


"Belum, Aku mah mana berani bilang. Harus Mischa yang ngasih tahu mereka Langsung.


"Aku rasa gitu balik dari kampung Mischa langsung mempersiapkan nikah soalnya. Gavin nggak pernah kelihatan saya serius ini.


"Bagus dong!"


Matteo bukan mengkhawatirkan soal itu. Tapi ibunya Gavin.


Wanita itu sedang marah-marah pada semua orang di rumah.


"Kenapa kalian kasih Gavin pergi? tanyanya lantang.


"Semua asisten rumah tangga dan penjaga keamanan menunduk dan terdiam.

__ADS_1


Nyonya Aurora berusaha menghubungi Gavin. dia bangun kesiangan dan mendapati bahwa putranya akan pergi menemui orang tua Mischa tanpa seizinnya. Amarah dengan segera meletup-letup di ubun-ubunnya.


"Mana sih, kok nggak diangkat." ucapnya kesal. "Ayo Pak, antar saya ke bandara sekarang. Saya nggak mau Gavin berangkat ke sana. Dia nggak boleh nikah sama orang miskin itu.


"Salah seorang penjaga keamanan yang juga merangkap sopir pun mengangguk dengan takut."


"Baik nyonya." sahutnya tanpa mandi, tanpa berdandan dan masih memakai pakaian tidur, Nyonya Aurora pun berangkat menuju bandara.


"Kok nggak diangkat Kuya? tanya Mischa saat melihat Gavin hanya mendiamkan ibunya menghubunginya.


"Kuya nggak bilang ke mama mau pergi." jawab Gavin.


Mischa terkejut. "Kenapa Kuya?"


Gavin menghembuskan nafas merasa tidak enak harus jujur pada Mischa.


"Mama pasti nggak ngasih Kuya pergi, jadi Kuya pergi diam-diam."


Mischa mengerti Gavin pasti merasa dilema akan keputusannya ini. Sejujurnya dia sudah pernah meminta putus dari Gavin. Dia bilang akan pulang ke kampungnya saja, dan mencari pekerjaan yang lain.


Namun Gavin malah bilang kalau dirinya akan menyusul Mischa dan membawanya kembali ke Manila. Dia benar-benar tak ingin Mischa pergi.


"Aku jadi nggak enak buat hubungan Kuya, sama Tante jadi renggang begini." lirih Mischa.


"Sudah jangan sedih, kamu kan mau ketemu sama bapak dan ibu? kalau kamu sedih begini, mereka juga pasti bakalan sedih."bujuk Gavin


"Benar juga," pikir Mischa senyuman pun terkembang di wajahnya.


"Panggilan kepada para penumpang pesawat Cambodia Angkor air dengan nomor penerbangan CA Boeing 727 tujuan Antipolo provinsi Rizal dipersilakan untuk naik ke pesawat."


"Tuh kita sudah dipanggil." ucap Gavin.


pria itu berdiri mengulurkan tangan pada mischa. Lalu keduanya berjalan berdampingan memasuki pesawat. Mereka tidak mendengar Nyonya Aurora yang berteriak dari luar ruang tunggu.


"Gavin! balik,Gavin!! Mama nggak kasih kamu pergi! Gavin....!"


Beberapa petugas keamanan pun menghampiri dan menarik Nyonya Aurora.


"Lepas!!! Saya mau masuk memanggil anak saya. Gavin.....!!!"


Nyonya Aurora berteriak sekencang yang dia bisa. Namun Gavin sama sekali tidak bisa mendengar karena sudah menuju ke pesawat.


"Maaf Bu, Anda harus ikut dengan kami." ucap seorang petugas keamanan.


"Jangan sentuh saya, orang miskin kaya kalian gak pantas memegang-megang saya!"


Bersambung.....


hai hai redears dukung terus karya author agar outhor lebih semangat untuk berkarya trimakasih 🙏💓🙏

__ADS_1


JANGAN LUPA TEKAN, FAVORIT, LIKE, COMMENT, VOTE, DAN HADIAHNYA YA TRIMAKASIH 🙏💓


JANGAN LUPA MAMPIR KE KARYA MORATA YANG BARU TERBIT." MENJANDAKAN ISTRI DEMI JANDA"


__ADS_2