
Awan mendung yang terlihat di kutub Utara membuat para pengunjung pantai was-was. Karena tak di sangka- sangka di hari yang sepanas ini, akan ada kemungkinan hujan turun.
Penjaga pantai mengamati dari atas penjagaannya dengan sebuah teleskop. Dia melihat awan abu-abu gelap dan tampak tebal mendekati wilayah pantai.
Walau jalannya pelan awan tersebut di prediksi menuju ke wilayah pantai dan bisa jadi hujan akan turun.
Terlihat juga seorang pengunjung yang kesal melihat kehadiran awan tersebut, dia pun sampai mengumpatnya.
Meski perkiraan cuaca hari ini memberikan kemungkinan secuil tidak hujan, tapi tetap saja sebuah kemungkinan kecil tidak akan menutup kemungkinan besar hujan akan turun.
Tak lama guntur pun menggelegar. Memberitahukan kembali agar pengunjung pantai segera pergi menjauh dari sana.
Evan yang sedang menyantap hidangan menunya jadi terhenti, sejak ia melihat awan tebal dari Utara.
"Sepertinya sebentar lagi akan turun hujan," kata Evan.
Pada saat itu Evan berbicara dengan Ken tentang sebuah penginapan di pantai.
Evan menaruh garpu dan sendok makan-nya, lalu berkata.
"Ken, apa disini ada sebuah tempat penginapan?' tanya Evan.
"Tempat penginapan.uhm ada, tapi untuk apa?" Ken mala bertanya balik setelah menjawab pertanyaan Evan.
"Ya ampun kau ini, tentu saja untuk kita semua, kau liat kan awan yang tebal itu. kukira kau akan faham," jelas Evan.
Ken lalu menengok awan mendung dan memandangnya agak lama.
"Benar juga. jika aku pikirkan.. kalau hari ini hujan lebat, maka perjalanan bus akan terganggu. hmm pantas saja Evan bertanya kepadaku tentang sebuah penginapan," ucap Ken dalam hatinya.
"Aku memprediksi, jika hari ini akan turun hujan yang sangat lebat disertai hujan es. alasannya sederhana karena umumnya udara pada malam hari hingga pagi hari terasa panas dan gerah sebelumnya!"jelas Evan.
"Uhmm iya, aku mengerti. kemarin malam aku juga merasa kegerahan!" ucap Ken sembari mengingat momen ia kegerahan di malam kemarin.
"Aku lanjutkan. udara yang panas dan gerah itu tak lain disebabkan adanya radiasi matahari yang cukup kuat, disertai dengan kelembaban yang cukup tinggi. lalu, sekitar biasanya akan terlihat awan cumulus yang mulai tumbuh, seperti yang kita lihat sekarang ini. sementara itu, pepohonan di sekitar juga akan bergoyang dengan cepat disertai hembusan udara dingin disekitar tempat kita!" imbuh Evan.
"Persis seperti yang kamu katakan Ev, liat? pohon kelapa bergemulai cepat karena hembusan angin dan payung yang tertinggal disana ada yang terlihat terbang. lalu bagaimana proses terakhir dari pertanda yang kau jelaskan?" Ken bertanya seputar penjelasan Evan tadi
"Ya, selanjutnya, hujan yang pertama kali turun adalah hujan deras secara tiba-tiba. di sisi lain, apabila hujan pertama yang turun sekadar gerimis, biasanya ada kejadian angin kencang yang lokasinya jauh dari tempat kita!" jelas Evan sambil memperagakannya dengan gerakan tangan.
"Wah, sudah lama aku tidak merasakan emosi yang bergejolak seperti ini, setelah mendengar penjelasan ilmiahnya mu Ev. baiklah aku akan segera mempersiapkan penginapan," ujar Ken yang lalu meninggalkan meja makan.
"Ya silahkan, lebih cepat lebih baik kan?" ucap Evan membalas ucapan akhir Ken.
"Pasti," Ken lalu beranjak bangun dan pergi.
Karena yang lain sedang membeli minuman dan ada pula yang pergi ke toilet. Evan jadi berdiam diri disana sambil menunggu teman-temannya.
__ADS_1
Ada Rafael yang masih bersama Evan dan Ken, tapi dia tidur sehabis kekenyangan makan.
"Aku jadi kepikiran lagi, sewaktu berada di hutan Dark forest. pada saat itu.. aku terjebak di wilayah anomali," ucap Evan dalam hatinya.
Baru saja Evan di tinggal pergi oleh Ken, Rahel langsung menghampiri Evan sambil tangannya memegang sebuah smartphone.
Sampai di meja tempat ngumpul Evan dan temannya, Rahel menyuruh Evan untuk berpose di depan kamera smartphonenya.
"Evan, mau nggak poto bareng?, soalnya buat kenang-kenangan gitu," ucap Rahel dia memainkan jarinya ketika berucap.
"Boleh kok hel, asal satu kali saja,"
Rahel membalasnya dengan anggukan dan senyuman.
"Untuk kali ini saja aku mau berfoto lagi," ucap Evan dalam hatinya.
Evan pun agak berpose menarik agar terlihat tidak mati gaya.
Awalnya Airi memberikan saran kepada Rahel agar dia dapat berfoto bersama dengan Evan untuk kenangan-kenangan. Airi waktu itu berbicara manis didepan Rahel sehingga Rahel jadi tertarik dengan ucapannya.
Kini para perempuan yang melihatnya pun merasa iri dengan mereka berdua.
Evan agak melirik ke samping tempat meja perempuan. Terlihat mereka yang sedang memperhatikan Evan dan Rahel secara seksama. Namun Rahel tidak mengetahuinya, ia hanya fokus dengan tujuannya.
"Rasanya seperti mengalami perasaan Dejavu saja," ucap Evan dalam hatinya.
Tak...tak...tak...
Adapun suara tersebut berasal dari butiran es yang jatuh di atap resto dan kendaraan diluar.
Pengurus parkir lalu dengan sigap menutupi kaca mobil dan memindahkan beberapa kendaraan.
Bahkan ada salah satu pengunjung yang mengabadikan momen peristiwa hujan lebat disertai es tersebut. Baik melalui foto maupun video.
Fenomena hujan es atau hail merupakan fenomena cuaca alamiah yang biasa terjadi dan termasuk dalam kejadian cuaca ekstrim.
Apalagi di musim pancaroba seperti ini yang mengakibatkan kerap kali cuaca dapat berubah-ubah dan bertransisi secara cepat.
"Liat diluar hel, mereka pada sibuknya mengabadikan momen tersebut?" seru Evan.
"Hm, iya mereka kayak gimana gitu he~," tertawa kecil Rahel.
...****************...
Di tempat Bas dan Hyouga membeli minuman bersoda, Bas sempat melihat orang berjaket berjalan di tengah derasnya hujan. Dia seakan tidak perduli jika di luar sedang terjadi hujan lebat disertai es.
Bas melongo melihatnya, sampai ia berpikiran.
__ADS_1
"Masih saja ada orang yang tidak mementingkan keselamatan dirinya sendiri.apa mungkin dia terpaksa melakukannya," ucapnya dalam hatinya.
Hyouga masih melihat ke dalam mesin minuman untuk memilih rasa minumanya sesuai selera.
"Haruskah aku membantumu membawakan minuman ini Hyouga?" sambil bertanya dan melihat orang tadi yang semakin jauh.
"Boleh juga, kebetulan sekali kau bertanya!" jawabannya yang masih melihat ke dalam mesin.
...****************...
Sementara Erik berada di dalam toilet sekarang, dia sakit perut karena kebanyakan makan sambal tadi.
Flashback ON.
"Serius kau akan memakan hidangan tersebut dengan sambal yang amat banyak?" ucap Ken yang melihat Erik bersiap menyantap hidangan menu pedasnya.
"Yapp!, ini karena kebetulan sekali aku menemukan menu makanan pedas. dan aku pasti akan menghabiskan hidangan ini,"
"Aku jadi tak habis pikir dengan mu kapten,"
"Erik, bukanya aku melarang. tapi kau tahu kan efek setelah memakannya!" ucap Evan memperingati Erik.
"Aku sudah terbiasa Ev. jadi kau tenang saja," gumam Erik.
"Halah, palingan kau akan sakit perut!" ucap Rafael yang membuat yang lain melirik kearahnya.
Flashback OFF.
"Sial, ini gara-gara omongan Rafael!" ucap Erik.
Di saat itu dirinya mendengar dari luar orang yang sedang berbincang, mengenai sebuah kasus percobaan bom bunuh diri yang kini ramai di perbincangkan.
Dari percakapan mereka terdengar.
"Kamu taukan, katanya ada basis perkumpulan rahasia yang menyuruh anggotanya untuk melakukan percobaan bom diri!"
"Ah, masa!"
"Beneran, kamu awalnya pasti tidak percaya. tapi menurut berita yang aku dengar targetnya adalah tempat terbengkalai!" imbuhnya.
"Jadi, apa pihak kepolisian sedang mengurusnya?"
"Kayaknya," sambil berjalan pergi.
Mereka lalu pergi sambil melanjutkan obrolannya, namun suara mereka berdua terlalu kecil. Sehingga Erik tidak dapat mendengarnya.
"Apalagi sekarang. kemarin-kemarin pembunuhan berantai, lalu pembunuhan berencana dan sekarang percobaan bunuh diri dengan menggunakan bom," ucap Erik.
__ADS_1
"Sebenarnya, seberapa gila mereka-mereka itu. aku berharap polisi dapat bertindak cepat setelah mendengar kabar simpang siur itu," ucap Erik.