Ayah Yang Tak Pernah Menua

Ayah Yang Tak Pernah Menua
Belajar di Setiap Harinya


__ADS_3

Masih dengan Evan yang sudah menempati janjinya untuk menjadi seorang pelatih basket sementara. Ia harus melatih juniornya karena sebuah janjinya.


...Selesai melatih mereka ia ikut dalam bermain basket, lewat ajakan dari seorang adik kelasnya yang ia latih, yaitu Xiang Mo sang kapten....


...----------------...


Beberapa menit berlalu, score antara Evan dan tim musuh adalah 7:18 Tim Evan pun tertinggal jauh dari mereka.


Ryo berkata kepada Evan pada saat beriringan berlari menuju ke wilayah musuh. Ia berkata seakan berbisik.


"Untuk apa gunanya pelatih!, jika bermain basket saja tidak cukup hebat," pikir Ryo.


Mendengar ucapan Ryo Evan mala berpikir jika Ryo masih belum banyak belajar. Apalagi belajar menghargai seseorang, dan Evan memakluminya karena jiwa mudanya yang mendesak untuk melakukannya.


Meski sang kapten jago dalam hal menembak, tapi masih belum bisa untuk menyamakan skor.


Di tim Evan ada Xiang Mo, Felix, Ryo dan lainnya. Namun di timnya ada suatu kelemahan, Evan sempat menganalisa di jalannya pertandingan dan mereka ternyata tidak mengerti akan arti kerjasama yang sesungguhnya.


Ryo menurut Evan dia lumayan jago dalam mendribble bola dan mengumpan.


Felix dalam serangannya mengambil bola.


Xiang Mo kecepatan dan shooting-nya.


Namun semua itu tidak menjadi seimbang jika mereka belum mengerti akan kekompakan sebuah tim.


Beda dengan tim lawan mereka hanya memiliki dua pemain inti, di tambah mereka sangat kompak. Itulah yang membuat pertahanan mereka sulit di tembus.


Alih-alih menyampaikan saran kepada mereka, timnya. Evan lebih memilih untuk bungkam agar mereka menyadari akan kesalahannya.


Lalu di beberapa detik terakhir yang telah Evan tentukan.


Ia pun mendapatkan operan dari Felix lalu berlanjut mendribble-nya ke arah musuh. Tepat yang hanya beberapa langkah di depannya, terlihat tiga orang tim lawan menghadang. Evan lalu mendapatkan sebuah ide, ia pun meliuk ke kanan dan ke kiri berusaha mempertahankan bola dari musuh yang dengan begitu ia dapat melewati dengan mudah.


Ryo yang melihatnya pun agak terkesiap ketika Evan menghindari musuh dengan sangat mudahnya.


Ia hanya bisa berkata dalam hatinya, dan belajar dari yang ia lihat.


Lalu Evan mengoper bola ke arah Yan su timnya. Menggunakan operan pantulan atau disebut Bounce pas, dan dengan alihan Evan akhirnya kapten dapat operan yang pas dari Yan su sehingga poin sementara berubah.

__ADS_1


Aksi Evan membuat gambaran kepada mereka tentang artinya sebuah kekompakan.


Pritt


Evan meniupkan peluit terakhir, pertanda pertandingan telah selesai, sembari ia berjalan menuju tempatnya menaruh jaket.


Meski di timnya kalah Evan tetap memberikan dukungan bagi kedua tim.


Hingga cahaya matahari mulai meredup Evan pulang dengan senangnya. Ia senang karena dapat membantu orang lain, menyelamatkan Airin maupun menempati janjinya kepada Erik, sebagai seorang pelatih sementara di klub basket.


Evan berdiri di gerbang Sekolah, ia sepertinya sedang menunggu Sein datang untuk menjemputnya. Melalui smartphonenya Evan mencoba mengirimkan pesan singkat kepada Sein.


Di tengah waktu menunggunya, Evan mencoba untuk membalas pesan masuk yang Rahel kirimkan kepadanya.


Bukan hanya satu atau dua tetapi melebihinya. Di pesannya Rahel berkata kepada Evan jika ia sedang berkunjung ke rumahnya.


Lantas Evan agak terkejut, kedati ia yang tidak ada disana sewaktu Rahel datang kerumahnya.


Selain SMS ada juga panggilan tak terjawab dari Rahel sebanyak 10 kali, kiranya dia sangat ingin menghubungi Evan.


Alasan Evan tidak membalas SMS dan juga telpon dari Rahel karena kesibukannya di hari ini. Dan Evan menyetel mode diam sehingga suara dari pesan dan juga panggilan agak terganggu.


...----------------...


Ada juga ekspresi lelah yang terlukis di wajahnya.


Sein hanya berkata satu kali pada saat sampai di tempat Evan, ia sekarang fokus berkendara dengan tidak mengajaknya mengobrol karena memberi waktu bagi Evan untuk dapat beristirahat.


"Sein sangat memahami ku ternyata.., dia tidak mengajakku ngobrol karena tau aku sedang kelelahan. huh lagian aku melakukannya sembari belajar, sehingga ada nilai atau pesan yang aku dapat," ucap Evan dalam hatinya.


Evan lalu memejamkan matanya untuk sesaat, berharap lelahnya dapat berkurang.


Pada jam 14:00 Rahel datang kerumah Evan ia datang bersama seorang supir pribadinya. Lalu ia keluar dari mobil setelah si sopir membukakannya pintu, setelah keluar Rahel terlihat sangat cantik mengenakan baju kesehariannya. Apa lagi pada saat ia turun dari mobil namfak ia yang begitu anggunnya bagaikan daun yang jatuh di musim gugur.


Sambil membawa cemilan yang ia beli di supermarket. Rahel membawanya dengan senyum yang sangat menawan.


Dalam pikirannya ia bersiap pada saat akan bertemu dengan Evan.


Di depan rumah Evan, ia pun mengetuk pintu yang hanya dengan sekali ketuk pintu pun terbuka.

__ADS_1


Lalu Lili menyapa kehadiran Rahel dengan senyuman manis darinya.


"Hallo Kak..," menatap seolah penasaran dengan Rahel.


"Iya hallo juga, hm.. kamu sangat imut sekali, apa kamu adiknya Evan?" tanya Rahel kepadanya.


"Makasih.., mm iya aku adiknya. Kakak kesini nyari siapa ya?" jawab Lili dengan polosnya.


Hingga Rahel menjelaskan maksud kedatangannya. Lili pun mengerti dan memberi tahu kepada Rahel jika Evan sedang tidak ada di rumah.


Padahal Rahel datang untuk belajar bersama dan memberikan kisi-kisi yang belum Evan dapat.


Rahel sempat bertanya.


"Kalau boleh tau kemana Evan main?" dengan mimik penasaran.


"Maaf Kak aku ngk tau.. dia kemana!" ucap merendah Lili karena menyampaikan jawaban tersebut.


"Mmm, ya udah ngk papa nanti Kakak coba menghubunginya," ujar Rahel.


Belakangan ini Evan melewatikan waktu belajarnya demi sebuah percobaan Sainsnya.


Waktu itu ia juga mengatakan hal tersebut kepada Rahel jika waktu belajarnya berkurang.


Bagi Evan, walaupun waktu belajarnya berkurang tidak berdampak sedikitpun kepadanya, karena tiap-tiap harinya Evan selalu belajar.


Rahel hanya bisa bersabar menunggu pesan yang ia kirim dapat di baca oleh Evan.


Sembari menunggu, Rahel mendengar Lili bercerita kepadanya tentang hari-harinya di sekolah.


Hingga keduanya sangat asyik bercengkrama satu sama lain.


...----------------...


Notif SMS bermunculan di handphone Evan ia mencoba membalas satu persatu pesan. Agar tidak ada pesan yang terlewat sedikitpun.


Ada juga nomor dari pesan yang tidak ia kenal. Evan mengabaikannya dan lanjut membalas pesan dari teman dan orang yang di kenalnya.


"Hey, rupanya pak polisi teman Ayah sedang mencari ku, dia berharap bahwa aku bisa berkunjung ke sana. 'hah memang ada apa," keluh Evan.

__ADS_1


"Mungkin ada sesuatu yang ingin dia bicarakan dengan anda tuan!" ujar Sein.


"Tapi tidak ada salahnya aku menolak teman Ayah karena aku butuh belajar sedikit menjelang ujian Sekolah. apalagi kisi-kisi, uhmm itu sangat penting bagiku," Ucap Evan dalam hatinya.


__ADS_2