Ayah Yang Tak Pernah Menua

Ayah Yang Tak Pernah Menua
Dibawa ke Suatu Tempat


__ADS_3

Evan saat ini tergeletak di lantai, ia cuma berpura-pura untuk memastikan keadaan.


Dan benar dugaan Evan, ternyata ada orang lain selain Rose di kamar.


Terdengarlah perbincangan antara Rose dan orang tersebut.


"Hmm, kerja bagus, kamu pantas menjadi seorang aktris."


"Siapa wanita itu.., dan kenapa dia seperti orang yang menyuruh Rose untuk melakukan perintahnya?" ucap bertanya-tanya dalam hatinya.


Rose terdiam untuk sesaat lalu berkata.


"Tapi... kamu janjikan, tidak melakukan sesuatu kepada Evan?" ucap Rose sambil memelas dan menatap perempuan itu.


"Tenang saja, aku hanya akan membawanya menghadap kepada seseorang!"


Perempuan itu lalu memastikan Evan kembali, takutnya Evan masih belum pingsan. Dengan cara mengecek mata Evan dan berusaha menggelitik tubuh Evan.


Lalu setelah di pastikan aman dan berjalan sesuai rencana ia pun langsung pergi meninggalkan kamar hotel tersebut.


Evan saat ini di bawa oleh dua orang, saat itu juga Evan di pakaian kan kacamata dan rambutnya agak di acak-acak.

__ADS_1


Dua orang tersebut adalah pria berbaju hitam dengan wajah datar dan dingin.


Sampai akhirnya mereka berdua berhasil mengelabui pihak keamanan hotel, dengan menggunakan triknya tersebut.


Tubuh Evan di seret atau bisa di katakan disanggakan diantara kedua punggung pria tersebut, saat dalam perjalanan keluar dari hotel.


Kemudian Evan di masukkan ke dalam mobil, tanpa ada yang curiga sama sekali di sekeliling mereka.


Mobil pun melaju dengan kecepatan yang lumayan tinggi, seperti halnya mereka berdua sedang terburu-buru. Evan yang saat ini terikat dengan tali di kedua tangannya pun membuka matanya, mengamati sekitar walaupun hanya dengan lirikan kecil matanya.


Posisi Evan berada di belakang mereka berdua. Salah satu dari mereka ada yang menyetir, dan yang satunya memperhatikan Evan di beberapa menit di sepanjang perjalanan.


"Kurasa orang ini akan membawaku kepada seseorang yang kenal," ucap Evan dalam hatinya.


Mobil berhenti di depan sebuah bangunan megah dan besar. Terlihat di sana ada beberapa orang yang keliatannya sedang berjaga.


Ada dari mereka yang menyambut kedatangan pria tersebut dengan membantunya memarkirkan mobil.


Kedua pria itu lalu membawa Evan masuk kedalam bangunan tersebut.


...****************...

__ADS_1


Sebelumnya, Sein mengikuti mobil yang di kendarai oleh seorang wanita, ia juga melihat Rose di sana.


Hingga Sein berhenti, beberapa menit setelah mobil yang diikutinya agak jauh.


Sein lalu keluar dari mobil dan berlari untuk mengikuti mobil tersebut, sementara mobil yang di kendarai nya di parkiran di tempat yang menurutnya lumayan aman.


Karena Sein tau area ini sangatlah berbahaya dan dilarang oleh otoritas kota.


"Entah kenapa.. laju mobilnya jadi bertambah cepat seiring waktu. apa karena si pengendara menambah kecepatannya atau aku yang memang terlalu lamban dalam mengejarnya," ucap Sein dalam hatinya.


...****************...


Evan kemudian di bawah di ruangan khusus. Dengan tempat penerangannya bergaya clasik.


Lalu kedua pria tersebut menguncinya dari dalam dan pergi begitu saja meninggalkan Evan.


Evan membuka matanya sekali lagi dan melirik keadaan sekitar, karena bisa saja ada alat penyadap atau CCTV di sana. Mengingat perkataan kedua pria tersebut tentang CCTV yang rusak sewaktu di perjalanan.


Tali yang mengikat Evan begitu kencang, sampai ia agak kesusahan untuk mencoba membukanya.


Evan sekarang dalam kondisi duduk dan memperhatikan tempatnya sekarang. Dia ternyata berada di dalam sebuah kamar yang tempatnya sangat bersih dan rapi.

__ADS_1


"Tunggu?, bukannya ini kamar perempuan ya.."


__ADS_2