
Di hari Minggu seperti biasa Evan melakukan aktivitasnya yaitu jalan pagi, dia sendiri tidak bersama dengan teman-temannya. Dan dia sudah berjoging menyusuri area pepohonan yang ada di jalan setapak Rin Flower menuju Perbatasan kota Haman yang di tandai oleh jembatan yang panjang menghubungkan kedua kota.
Pada jam 06:40 Evan duduk di bangku yang mengarah langsung ke sungai Santela.
Dengan Minuman yang di bawahnya dan juga sebuah roti. Evan meminum minumanya itu terlebih dahulu, lalu di lanjutkan dengan memakan rotinya.
Dia juga sempat berpikir akan hal yang kemarin dia lakukan, terutama pada misi penyelamatan di hutan Dark forest. Banyak berbagai hal yang masih ia pikirkan sampai sekarang, seperti Anomali aneh yang terjadi pada malam itu dan juga bangunan lama yang dijadikan sebuah markas rahasia oleh seseorang.
Yang pasti Evan sudah memahami setengah dari misteri tersebut.
...****************...
Di kejadian kemarin Vin yang melihat Ayahnya tewas tertembak, merasa sangat sedih. Sampai dia menangis dihadapan jasad Ayahnya. Karena mereka memang sudah lama tidak bertemu lagi untuk yang terakhir kalinya. Ayahnya hanya berpesan supaya Vin dapat membantunya keluar dari sini(markas di hutan Dark forest). Vin sendiri mengerti akan masalah yang dihadapi oleh Ayahnya hingga sekarang dia bekerja di bawah kendali Franlate seorang pembisnis yang luar biasa, namun sayangnya bisnis tersebut adalah bisnis gelap dengan uang kotor yang dia dapat.
Kemarin malam Evan dan Lili mencoba untuk menenangkan Sheila, dia menangis meratapi kepergian Ayahnya. Karena dia selama ini mengira bahwa Ayahnya adalah orang yang jahat. Meskipun begitu tetap saja Patansaa juga masuk dalam organisasi mafia yang melibatkan para pembisnis gelap lokal maupun mancanegara.
Evan merasakan angin sejuk yang berhembus kearahnya, dia pun bersandar di bangku itu, sambil menghirup udara segar secara perlahan seperti melakukan meditasi.
...****************...
Keesokan harinya, di hari Senin Evan berangkat pagi-pagi sekali untuk dapat membaca buku di perpustakaan dan seperti biasa dia diantar oleh Sein.
"Tuan muda kamu sama sekali tidak berubah, kau masih saja seperti biasanya!" ucap Sein dengan senyum simpulnya.
"Mungkin sekarang!, bukan berarti nanti juga sama," ucap Evan yang terlihat membalas omong Sein dengan wajah melamun.
"Tuan bukanya hari Kamis akan ada penelitian sebuah Sainsi Sekolah ya?" ucap Sein sambil menjalankan mobil.
"Yap, benar sekali. penelitian itu merujuk ke sarana dan prasarana Sekolah, walaupun begitu aku sempat saja berpikir bahwa penelitian itu terdapat maksud lain!" pikir Evan.
__ADS_1
"Penelitian sarana dan prasarana?, hmm keliatannya menarik untuk kamu selidiki tuan," ucap Sein.
"Kurasa aku sedang tidak mood untuk sekarang ini!, itu karena kejadian misi kemarin yang banyak hal yang masih terlintas di pikiranku terutama yang berhubungan dengan sejarah!" ucap Evan yang menyadarkan badannya di tempat duduk mobil.
"Biasanya kamu sendiri supaya dapat menghilangkan mood jelek mu itu..., kamu membaca buku-buku maupun jalan-jalan ke Taman?" ucap Sein yang sedikit menoleh kebelakang.
"Itulah alasan aku untuk berangkat pagi-pagi sekali, karena aku sangat rindu dengan kumpulan buku-buku di perpustakaan Sekolah, dan juga baunya yang sangat khas!" ucap Evan yang membayangkan suasana di perpustakaan waktu itu.
"Padahal tuan mempunyai ruang buku yang besar, tuan bisa mereplika tempat tersebut mirip seperti suasana di Sekolah dan juga bisa membuat ruangan perpustakaan tuan seperti bau yang khas yang ada di perpustakaan Sekolah?" ucap Sein dengan saran yang dia kemukakan.
"Aku sendiri sudah memikirkan itu sejak lama tapi..., aku lebih memilih untuk melakukan hal seperti ini, karena aku bisa merasakan esensi yang berbeda!" ucap Evan.
"Hehehe, tuan memang menarik."
...****************...
Mereka pun berbincang-bincang selama perjalanan menuju ke Sekolah.
Keluar dari mobil Evan dilewati oleh seorang perempuan dengan rambut hitam dan panjang. Dia juga terlihat memegang sebuah buku.
Evan pun berjalan ke arahnya, sementara Sein mengamatinya dari kaca mobil.
Evan menyapanya.
"Hai, bisa aku bantu untuk membawakan buku itu?" ucap Evan dengan senyum manisnya.
Perempuan itu menoleh ke arah Evan dan menatapnya. Tak disangka perempuan tersebut adalah Sherly teman Evan yang suka sekali berkunjung ke perpustakaan.
Mereka berdua pun saling menatap, Evan pun mulai menyapanya dengan eskpresi tampak pangling.
__ADS_1
Itu karena Sherly tidak mengikat rambutnya menjadi pendek, sekarang dia tampil berbeda dari yang sebelumnya. Dengan rambut hitam panjangnya dia jadi terlihat sangat cantik.
Evan berkata.
"Sherly, kau terlihat berbeda sekarang!, penampilanmu berubah total dan aku tidak menyangka kalau kau..."
Sherly memotong perkataan Evan lalu ia berkata.
"Hmm, aku cuma ingin tampil beda Evan!, soalnya aku merasa agak gimana gitu, sama penampilan aku yang seperti biasanya." ucap Sherly yang agak blak-blakkan.
"Kurasa kau sekarang mala tambah cantik Sherly dengan penampilanmu yang sekarang ini!" ucap Evan dengan senyum diwajahnya.
Pipi Sherly memerah karena ucapan Evan barusan. Tak lama Evan mengajaknya untuk melanjutkan pergi menuju perpustakaan.
Sambil berjalan kaki menuju ke perpustakaan, Evan terlihat menyangakan kepala dengan kedua lengannya. Terlintas di dalam pikirannya waktu bersama dengan Syria, ketika melakukan misi penyelamatan kemarin. Setelah menyelesaikan misi penyelamatan itu, Syria kembali ke kotanya. Namun ada kata-kata yang Syria ucapkan di akhir perpisahan mereka disana( Di hutan Dark forest), ia berkata kepada Evan Ketika ia hendak pergi mengunakan helicopter, dia sendiri dalam keadaan berbaring saat itu.
"Terimakasih untuk semuanya Evan!, selain pintar kamu juga adalah seorang remaja yang sangat baik. aku belajar banyak darimu, untuk itulah aku ingin sekali menjadi salah satu temanmu. 'huh... ternyata misi kali lebih bermakna di bandingkan dengan misi-misi sebelumnya yang aku selesaikan dan banyak sekali hal menarik yang membuat aku berpikir seperti barusan. oh ya!, dan untuk yang lain aku minta maaf karena tidak sempat untuk mengucapkan selamat tinggal kepada mereka!"
Beberapa saat kemudian Syria pun pergi meninggalkan hutan Dark forest terlebih dahulu
dia juga memberi Evan sebuah kertas berisi kontak nomor teleponnya.
Evan melambaikan tangannya kepada helicopter yang akan lepas landas. Meski Syria tidak melihatnya Evan tetap terus melambaikan tangannya hingga helicopter pertama yang berangkat pergi tidak terlihat lagi.
Evan hanyut dalam lamunannya sehingga Sherly melambaikan tangannya ke arah Evan dan berkata.
"Evan kamu sedang memikirkan sesuatu ya"?ucap Sherly dengan suara lembut.
Evan lalu tersadar saat itu pun dia meminta maaf kepada Sherly sambil membungkukkan badannya. Sherly yang melihatnya Evan melakukan hal tersebut jadi tertawa kecil di hadapan Evan, sementara Evan yang masih merasakan efek dari lamunannya hanya mengelus kepalanya.
__ADS_1
Untuk Ken dia tidak berangkat ke Sekolah karena membantu Ayahnya menjalankan sebuah bisnis. Semestinya lebih baik Ken berangkat ke Sekolah, namun karena Ayahnya akan mengajarkan sesuatu kepada Ken akan bisnis Ayahnya itu, dia sendiri jadi bersemangat
setelah mendengarnya, namun... Tunggu di bab selanjutnya.