Ayah Yang Tak Pernah Menua

Ayah Yang Tak Pernah Menua
Melanjutkan Analisa


__ADS_3

Di dalam Perpustakaan rumah sakit, milik Dokter Ji. Evan tengah duduk santai di kursi dan sedang membaca sebuah buku. Buku yang di bacanya berjudul 'ragam pengetahuan mimpi' buku ini memang mempelajari sesuatu yang berkaitan tentang mimpi, yang di dasari oleh Sains sebagai patokannya.


Di sana hanya ada Evan seorang diri ditemani secangkir kopi dan biskuit. Sebelumnya, Dokter Ji mengajak Evan untuk berkunjung ke ruangan tempat istirahatnya yang cukup besar.


Karena beberapa hari lalu Evan sempat mengobrol bersama Dokter Ji, dan sewaktu itu Evan membahas tentang dirinya yang suka membaca buku.


Gambaran ruang istirahat Dokter Ji seperti halnya rumah dengan 7 kamar besar di dalamnya.


Awalnya Evan juga kaget setelah Dokter Ji mengatakan kepadanya. Tapi bukan secara spesifik, Evan menghitung dan menganalisa ukuran dan luasnya sendiri, sehingga di ketahuilah jawabannya.


Adapun untuk ukuran dari ruang Perpustakaan tersebut ialah 3x3 di dalamnya. Dan banyak sekali buku-buku koleksi Dokter Ji yang terpajang di rak buku bertema clasik. Dengan semua furniture yang identik dengan kayu dan beberapa sentuhan artistik yang memperkuat karakter ruangan.


Ada juga gantungan lukisan di dinding atau di rak buku yang Evan lihat.


Bahkan Evan yang di dalamnya merasakan sekali arti nilai seni dan kenyamanannya yang sangat patut di acungi jempol.


Dan karena kebetulan Evan sedang senggang, ia berinisiatif untuk melanjutkan analisanya yang sudah lama tertunda, sekitar 2 Minggu yang lalu.


Karena agak susah membalikkan halaman buku, Evan jadi mengunakan trik lama sebagai cara penyelesaiannya.


Lalu ia pun membaca.


Sejak lama orang-orang telah bertanya-tanya tentang darimana datangnya mimpi.


Sejujurnya, para ilmuwan masih belum sepenuhnya memahami dari mana mimpi berasal, tapi dalam buku tersebut terdapat beberapa dugaan.


Mimpi itu seperti membayangkan sesuatu saat kita tidur, sehingga kita bisa mengatakan mimpi datang dari imajinasi kita.


Seperti yang Evan ketahui, imajinasi seseorang bisa sangat kuat - kalau orang tersebut mencoba membayangkan lagu favorit, mungkin saja akan mempengaruhi jiwa dan kondisinya.


Ketika seseorang tidur otak tidak mati, tetap bekerja, namun tidak sekeras saat bangun. Tapi bagian otak yang membantu orang tersebut mengambil keputusan ketika ia terjaga akan beristirahat. Saat itulah imajinasi orang tersebut bisa menjadi liar.


Serta menjelaskan kenapa ada mimpi buruk dan mimpi biasa.


Sudah 13 menit Evan membaca dan sudah 21 halaman yang ia baca.


"Hmm, luas sekali pengetahuan tentang mimpi di dalam buku ini! meskipun begitu aku dari tadi belum menemukan salah satu fakta ilmiah yang aku cari. btw buku ini ada 500 halaman, gila banyak sekali!"

__ADS_1


Seperti biasa, Evan mencatat yang sekiranya penting sebaliknya ia hanya memahaminya saja.


"Mungkin mimpi buruk adalah otak yang mencoba memutar ulang pengalaman menakutkan dalam upaya untuk memahaminya, hmm, mungkin saja sih."


"Sebenarnya ada ingatan masa sebelum aku tertidur, dan itupun lewat mimpi juga. banyak bukti yang mengarah aku bermimpi tapi belum bisa aku pastikan!, bahwa aku benar-benar sedang bermimpi."


"Kenyataannya, aku sendiri benar-benar tidak tahu pasti kenapa aku bermimpi. Mungkin jawabannya akan datang kepadaku saat aku dalam mimpi. rumit.., rumit..."


Setengah jam lamanya Evan membaca buku, namun sama sekali belum ada yang berhubungan dengan analisanya.


Hanya lucid dream yang ia tangkap sebagai pedoman di salah satu dugaan yang ada dalam buku analisanya.


Tak lama Dokter Ji datang, terlihat di lehernya ada stetoskop. Mungkin dia sehabis mengecek pasien.


"Bagaimana?, apa kamu menikmati waktu membacamu?"


"Jujur!, saya sangat menikmatinya sekali Pak, apalagi sama lukisan yang ada dinding."


"Oh..., iya kah?"


"Apa itu?"


"Aroma ruangan perpustakaan bapak, entah kenapa bisa cocok sekali dengan tema gaya Perpustakaan ini. apalagi ini lho pak!, cemilannya..."


"Hehehe."


Dokter Ji hanya tersenyum simpul mendengarnya. Saat Evan menunjuk ke arah meja yang ada biskuit dan teh.


Sebenarnya Evan tau jika biskuit yang ia makan dan teh yang ia minum adalah produk mahal dan berkualitas.


Mencari pendapat orang lain, Evan mengajak Dokter Ji dalam pembicaraan seputar lucid dream. Lalu Dokter Ji menjelaskan awal terjadinya yang di sebut Sleep paralyzed.


"Sleep paralyzed ini sering dianggap sebagai gerbang awal menuju lucid dream. ketika seseorang dalam kondisi hampir terlelap namun kerja otak sebenarnya masih terjaga dan aktif, seseorang itu akan sadar namun tubuhnya tidak dapat digerakkan kemudian kita seakan-akan ditarik sedalam-dalamnya atau seperti sensasi kita dijatuhkan sekuat-kuatnya dan tersedot ke dalam sebuah spiral yang semakin lama semakin sempit dan meruncing!" jelas panjang lebar Dokter Ji.


"Jika begitu orang yang mengalami sleep paralyzed ini umumnya terjadi berulang-ulang sampai dia benar-benar masuk ke alam bawah sadar atau terbangun?" tanya Evan.


"Tepat sekali!, dan dalam banyak kasus, sleep paralyzed ini juga kerap terjadi setelah kita terbangun dari lucy dream."

__ADS_1


"Hmm, tapi kenapa ya? aku yang sadar jika aku ini bermimpi tapi tidak mengalami sleep paralyzed. apa aku ini tidak sedang bermimpi?" ucap Evan dalam hatinya, dia seakan bertanya-tanya pada dirinya dan berpikir.


"Ada salah satu manfaat luar biasa yang kita dapatkan saat mengalami lucy dream, yaitu mengendalikan mimpi!"


"Jadi gini!, hal ini secara tidak sadar terjadi atau bisa karena sudah di pelajari.."


"Apakah sepenuhnya kita dapat mengendalikannya?"


"Kemungkinan bisa!, karena faktor utamanya adalah otak seseorang itu sendiri."


"Hmm.." dehem Evan sambil mengangguk.


"Dan itulah mengapa kebanyakan orang yang mengalaminya merasakan lelah dan takut untuk tidur, maupun tidur lagi setelah terjaga!"


"Bahkan pada level tertentu, kita seperti kesulitan dalam membedakan mimpi yang realistis dan kenyataan yang tak terduga!"


"Apa saat seperti kita bermimpi buang air kecil Dok!, terus kenyataannya kita sedang mengompol?"


"Ya, itu masuk akal," balas Dokter Ji.


"Karena dapat menyadari ketika sedang bermimpi, maka "dunia nyata" bisa saja berubah menjadi ilusi atau memang ilusi sehingga meskipun sedang bermimpi, kejadian tertentu dapat mempengaruhi kita di kenyataan!"


Ucapan Evan membuat Dokter Ji terpukau.


"Kamu seperti halnya mengalaminya. bapak bahkan salut kepadamu."


"Tenang saja, kejadian seperti ini jarang sekali, tapi bukan tidak mungkin!"


"Itu berarti orang yang mengalaminya memiliki otak yang luar biasa..., apalagi misalnya sampai tidak.." ucap Evan dalam hatinya namun terpotong karena suara ketukan suster.


Tok...tok...


Rupanya suster yang hendak menyampaikan sesuatu kepada Evan kalau dia sedang di cari oleh seseorang.


Evan pun langsung meninggalkan ruangan Dokter Ji setelah berkata sepatah kata lagi dengannya.


"Lho kok suster tau ya aku ada di ruangan Dokter Ji? ucap Evan dalam hatinya.

__ADS_1


__ADS_2