Ayah Yang Tak Pernah Menua

Ayah Yang Tak Pernah Menua
Mimpi dalam Mimpi


__ADS_3

Panggilan yang Evan dapat mengatakansebuah kabar, dimana menjelaskan suatu kecelakaan maut yang terjadi di simpang jalan raya selatan.


"Lalu bagaimana dengan kondisi adikku dan Rose?" tanya Evan dalam sebuah panggilan dari pusat kepolisian.


"Yang saya tahu dari kabar rumah sakit bahwa... adikmu selamat dari kecelakaan, sementara gadis muda yang bersamanya mengalami... " perkataannya terputus karena gangguan jaringan.


"Adikku mengalami pendarahan atau bagaimana Pak!? Tolong jelaskan kepada saya secara rinci, dan untuk gadis yang Bapak sebutkan tadi, bagaimana dengan kondisinya sekarang?" tanya Evan khawatir.


"Baik, untuk adikmu mengalami luka kecil saja, hanya luka goresan seperti jatuh tersungkur di jalan beraspal. Hanya saja untuk gadis yang bersama dengannya mala sebaliknya, tulangnya kemungkinan patah. Maaf, bapak masih ada urusan lain sekarang ini. Bapak akan tutup teleponnya!"


"Ya."


Evan langsung saja menutup panggilan tersebut, matanya seakan terbuka selebar-lebarnya di kala mengingat perkataan atau kabar dari polisi kepadanya tadi.


"Apakah ini mimpi buruk lagi? Ataukah sebuah peringatan?" ucap Evan dalam hatinya bertanya-tanya, ia tidak terlalu khawatir, akan tetapi bingung dengan situasi ini.


Sebenarnya Evan melihat siluet mereka berdua saat kejadian tersebut berlangsung dan awal mula terjadinya.


"Aku harus bangun!" ucap Evan dalam hatinya.

__ADS_1


Di mobil ada sebuah kotak P3K yang di dalamnya terdapat silet kecil, guna untuk memotong perban. Namun sekarang ini Evan alihkan fungsi.


Perlahan Evan mencoba menggores kulit tangannya dengan silet tadi, hingga muncul darah segar secuil. Dan..


Dirinya lalu terbangun dan berada di mobil pribadi miliknya. Supir pun terlihat begitu tenang, mengendarai mobil seperti tidak pernah terjadi apa-apa sama sekali. Ataupun ia mengetahui kabar tentang sebuah kecelakaan.


Evan pun akhirnya bertanya.


"Pak, apa kita sedang menuju ke rumah sakit?" tanya Evan sedikit was-was.


"Iya, tuan muda."


Setelah beberapa saat. Panggilan tersebut sampai kepada yang di tuju dan diangkat olehnya.


"Evan, kamu menelepon aku a...da a...pa?"


"Tunggu, perkataan Rose terbata-bata, apa mungkin dia..?" tanya Evan dalam hati.


"Kamu sekarang ada dimana Rose?" tanya Evan agak sedikit gerogi dengan perasaan gusar.

__ADS_1


"Aku, aku sedang ada di rumah kamu!"


"Eh, beneran kah? Kamu serius?" tanya Evan karena tak percaya.


"Iyaa, aku ada di rumah kamu sekarang. Hmm, ini aku sedang buat kue untuk kamu Ev, aku buatnya bareng Lili."


Meski dirinya bingung Evan tetap mencoba semaksimal mungkin dalam berbicara melalui sambungan tersebut. Serta berusaha menenangkan diri.


"Oh, ya Rose. Kamu hari ini ada rawat jalan kan?"


"Iya, ada. Nih, bentaran lagi aku mau siap-siap mau berangkat!"


"Gini aja, aku pulang dulu baru kita bicarakan lagi, kamu juga harus ada di rumah sampai aku datang!" titah Evan kepada Rose, suaranya meninggi.


"Tapi... kamu kan sedang menikmati masa-masa perpisahan Sekolah? Aku tidak mau sampai menganggumu," ucap Rose dalam sambungan antara menolak dan mau juga dalam perasaannya, menolak Evan pulang ke rumah namun dia sendiri ingin sekali Evan datang.


Mereka berbincang agak lama hingga beberapa menit kemudian, pembicaraan mereka kini mengenai(membahas) rawat jalan Rose di rumah sakit. Evan lalu mengusulkan agar Rose menunda rawat jalannya sampai ia datang, karena Evan mempunyai ide dan usulan untuk berupaya lebih, ketika waktu rawat jalan Rose hari ini.


Setelah perkataan Evan selesai ia dengar, Rose merasa jika Evan saat ini menghawatirkan nya. Ia mala sampai senyum-senyum sendiri membayangkan Evan yang perhatian.

__ADS_1


__ADS_2