Ayah Yang Tak Pernah Menua

Ayah Yang Tak Pernah Menua
Memperbaiki Kesalahan


__ADS_3

Di kamarnya, Rose saat itu terkejut melihat jahitan di lengan dan kedua kakinya.


Dirinya seperti tersadar jika ia sudah mengalami hari yang buruk dalam hidupnya, yang bahkan melukiskan kenangan pahit.


Iyumi pun dengan sigap menenangkan Rose serta memanggil suster.


Dokter lalu datang dan memeriksa Rose.


Sejak saat itu, Rose jadi sering melamun. Tatapannya juga sering kosong dan selalu merasa gelisah.


Berbeda ketika Evan disisinya, Rose seakan merasa nyaman. Mala ia pernah memaksa Evan untuk selalu di dekatnya, dia yang mengatakannya sendiri.


"Evan..., kamu selalu bersamaku kan?, ngak akan ninggalin aku lagi.." ucap Rose lirih dan matanya mengeluarkan air mata.


Mendengarnya Evan terdiam dan enggan meninggalkan Rose di rumah sakit.


"Rose, aku pulang dulu ya.., besok aku pasti kesini lagi!"


"Jangan... jangan pergi hiks..."


"Aku ngak mau mimpi buruk lagi..."


"Sepertinya Rose sedang dalam proses penyembuhan. dia sudah mengenal apa yang membuatnya gelisah, artinya dia selangkah melalui masa kegelisahannya!" ucap Evan dalam hatinya.


Bagi Evan Rose adalah sahabatnya yang sempurna, tidak peduli Rose dalam kondisi apapun.


"Baiklah, aku akan menemanimu!"

__ADS_1


"Mmm," senyum Rose mengembang.


Sekali lagi Evan melihat senyum diwajah Rose.


Memang lengan Rose masih belum bisa di gerakan terlalu banyak, tapi melihat tangan Rose yang bergerak sedikit, sepertinya dia sedang berusaha meraih tangan Evan.


Evan jadi berpikiran Rose memang ingin merangkul atau mungkin saja memeluknya.


Dua hari setelah berita penangkapan pelaku bom bunuh diri. Evan setiap hari pergi ke rumah sakit untuk mengunjungi Rose.


Berita penangkapan tersebut memang sudah tersebar beberapa hari yang lalu, namun peredaran sudah di batasi oleh orang dalam. Kakek Evan lah yang sudah melakukan semua itu demi menjaga kerahasian kedua belah pihak.


Beberapa hari ini Rose juga keliatan sudah membaik dari segi psikologinya. Diajak berbicara pun Rose menyahut.


Di rumah sakit Evan sedang berada di kamar tempat Rose, lalu sesaat kemudian ada yang menelponnya.


Panggilan tersebut rupanya dari Rahel.


"Iya hel, boleh kok!"


"Hmm, kamu lagi ada dimana?"


"Aku di rumah sakit hel, seperti biasa menjenguk Rose!"


"Tiap hari?"


"Iya."

__ADS_1


Lalu Rahel mendengar suara perempuan dalam panggilannya, dan entah mengapa ekspresi Rahel berubah.


"Sebenernya aku mau ngajak kamu ketemuan Ev!, tapi..., kamu pasti sibuk sekarang.. sama proses penyembuhan Rose?"


"Eh iya sih, aku memang sibuk! gini saja, kalau ada sesuatu yang perlu di omongin dan itu penting kamu bisa langsung bahas saja hel."


"Enggak ada kok!, aku cuma mau kamu temenin aku aja."


Di sela obrolan Rose menanyakan lagi kepada Evan siapa yang menelponnya.


"Sama siapa Ev?, ngak dari cewe kan.."


"Dari cewe sih!, dia Rahel teman sekelasku."


"Pacar kamu bukan?, soalnya aku udah lama ngak perhatiin kamu."


"Rahel temen aku kok, dia adalah teman terbaikku dan akan selalu menjadi sahabat terbaik!"


Tut...Tut...


Rahel memutuskan panggilannya.


...****************...


Beberapa hari ini Evan tidak mencari bukti lagi tentang dirinya yang bermimpi. Evan saat ini masih fokus dengan proses pemulihan Rose.


Karena setiap malam Rose selalu bermimpi buruk dan terjaga di dalam hari.

__ADS_1


Demi mempercepat proses penyembuhannya, Evan beberapa hari ini melakukan percobaan ala psikiater kepada Rose.


Menyenangkan sekali karena beberapa hari ini Evan bersama dengan Rose, bukan hanya di kamarnya saja tapi di tempat-tempat yang sekiranya nyaman.


__ADS_2