Ayah Yang Tak Pernah Menua

Ayah Yang Tak Pernah Menua
Mimpi buruk


__ADS_3

Sein menatap tajam kearah pria yang tengah berdiri di gerbang bangunan megah nan besar itu. Sein sendiri berada di semak-semak, dan sedang bersembunyi.


Kelihatannya ada 4 orang yang sedang berjaga di area depan yang memungkinkan mereka di khususkan untuk menjaga area tersebut, karena gerak-gerik mereka dari tadi di batasi. Mereka yang sedang mengawasi terlihat dengan sungguh-sungguh, matanya pun seperti sedang melototi apa yang mereka lihat.


Tampangnya pun ada yang garang dan juga datar tanpa ekspresi.


Mereka juga di bekali dengan persenjataan yang lengkap bisa dilihat dari pakaian yang mereka kenakan. Seperti halnya prajurit elit.


"Sepertinya akan sangat sulit jika aku langsung menghajar mereka dari depan," gumam Sein.


"Sekarang ini aku juga tidak tahu apa yang harus aku lakukan, banyak sekali sanksi mata yang dapat membuatku ketahuan di sana," ucap Sein yang melihat ke arah CCTV yang letaknya tersembunyi.


Ponselnya sudah di mode diam dan di mode pesawat, Sein mengetik layar ponsel lalu menuliskan kata-kata untuk sebuah pesan singkatnya. Melalui sebuah aplikasi rahasia yang di buat oleh Ken.


Setelah itu dia memikirkan kembali cara yang tepat agar dapat masuk ke sana tanpa diketahui.


...****************...


Kembali kepada Evan yang dalam kebingungannya menatap tempatnya sekarang ini. Pasalnya ekspetasinya salah yang menganggap dia akan di bawa ke suatu tempat misterius ataupun tempat terbengkalai, namun angannya terlalu jauh.


Tak diam di sana. Evan dengan berani berusaha membuka ikatan tali yang mengikat kedua lengannya tanpa memperdulikan si penghuni rumah, akan datang atau tidak. Kakinya pun sama tetapi bukan tali yang mengikat.


Pernah belajar seni tali sewaktu kecil, membuat rasa kekhawatiran Evan jadi berkurang dan lebih memikirkan langkah selanjutnya.


Tiba-tiba terdengar suara pintu yang akan di buka, mata Evan pun mengarah liar ke arah sumber suara. Lalu masuklah seseorang.


Yang rupanya adalah seorang wanita dengan pakaian seksi yang ia kenakan. Dengan mengenakan gaun tidur yang terbuka.


Mata Evan terbelalak, bukan karena ia melihat


wanita itu yang seksi dengan gaunnya yang terbuka, melainkan wajah wanita itu. Kulit putih bersih dan lekukan tubuh yang begitu menggoda mala dia mengabaikannya.


"Syria!!"


"A..pa yang kamu lakukan disini?" spontan mulut Evan langsung berbicara.


Ya. Wanita tersebut adalah Syria orang yang di kenal Evan sebagai rekan setimnya dalam misi penyelamatan, sewaktu ia berada hutan Dark forest.


Pertanyaan barusan tidak dia jawab, dia hanya diam dan mala tersenyum ke arah Evan, sambil meletakkan salah satu telapak tangannya di pipi dengan ekspresi panas.


"Aku tidak tahu apa yang terjadi kepada Syria selama ini, dengan melihatnya saja aku tahu, bahwa dia sudah berubah!" ucap Evan dalam hatinya.


"Baiklah. bukan saatnya aku mengamatinya," tegas Evan dalam hatinya.


Kemudian dengan cepat dia melemparkan sesuatu ke arah Evan. Dan Evan melihatnya. Membuatnya matanya terbuka lebar.


Sesuatu itu ternyata adalah sebuah jarum yang berjumlah tiga buah.


"Jarum ini.., tidak mungkin dia akan membuatku... " ucap Evan dalam hatinya.


Jarum yang dapat membuat orang mabuk diri.


"Sebenarnya ada apa denganmu? mengapa kamu berubah tidak sama seperti saat terakhir kali kita bertemu?"


Tetap saja omongan Evan diabaikan. Yang tentu saja membuat Evan berpikir lebih dalam lagi.


Kemudian Syria membawa Evan ke atas kasur dan langsung menciumnya.


"Dia sangat nekat sekali," kata Evan.


Ciumannya sangat menekan di mulut Evan, meski Evan sendiri berusaha untuk menolaknya.


"Hn...." suara Syria dengan nafasnya yang panas.

__ADS_1


Nafas Evan tersengal akibat ulah Syria tersebut.


Mulut Evan sempat menghindari bibirnya.


"Berhenti Syria!!"


Namun Syria begitu menikmati momen hangat tersebut dan tidak perduli omongan Evan.


"Sial!!, ciuman pertama ku," ucapnya dalam hatinya.


"Haa..."


Setelah ciuman mesra Syria beralih ke bawah dan langsung mencumbu bagian leher Evan. Evan berusaha menolaknya dengan sekuat tenaga, namun sayang usahanya tidak membuahkan hasil.


Sehingga Syria lebih kuat lagi dalam menahannya.


"Tenaga Syria terlalu besar, sampai aku tidak dapat bergerak argh!" ucap Evan dalam hatinya.


"Tenangkan pikiran!, bayangkan dirimu seperti sebuah air yang mengalir tenang dan tentram."


Evan mengingat kembali perkataan Kakeknya sewaktu dia berada di villa.


Evan memejamkan mata membayangkan secercah air, lalu gambaran sebuah sungai dengan pemandangannya indah di dalamnya. Airnya begitu jernih dan tenang. Hingga sampai di titik di mana jiwanya menjadi tenang tanpa beban sekalipun.


Evan membuka matanya lalu menghempaskan Syria dengan tenaga dari tubuhnya, sehingga Syria terdorong menjauh dari Evan.


Kedua kaki Evan terlihat menekan kasur dorongannya di manfaatkan Evan untuk berdiri dengan kedua kaki, lalu Evan meluncur dengan dorongan ke arah kepalanya hingga membuatnya keluar dari kasur dan mendarat agak jauh dari tempat awalnya.


Sesuatu yang mengikat kakinya pun ia lepas paksa dengan tekanan dari kakinya.


Jelas Syria termangu setelah melihat Evan dengan aksinya tersebut.


Senyum mengembang terlihat dari bibir Syria yang lalu ia menerkam Evan dari kasur.


Evan pun mencoba menghindarinya saat Syria sudah benar-benar dekat dengannya.


Yang akhirnya Evan berhasil, menghindar dan juga membalikkan keadaan.


Membuat Syria terjatuh dalam dekapan Evan. Karena tadi ia menepuk bagian belakang leher Syria, sehingga membuatnya mendadak pingsan.


"Aku akan memberimu pelajaran nanti, tapi setelah aku membereskan mereka semua!, yang telah mengubah mu menjadi seperti ini," ucap Evan, yang lalu pergi setelah membaringkan tubuh Syria di kasur.


Pertama-tama Evan memastikan keadaan, lalu ia keluar dari sana. Sampai di ruang yang Evan kira adalah ruang tamu.


Tiba-tiba ada segerombolan orang yang datang, dan keliatannya akan mencegah Evan kabur. Tanpa mengatakan sepatah kata mereka langsung saja menyerang Evan begitu saja.


Perkelahian pun akhirnya terjadi, Evan melawan segerombolan penjaga itu. Hingga terdengar suara di saat perkelahian mereka terjadi, seperti vas bunga yang pecah, meja yang terdorong, dan suara barang-barang lain yang pecah maupun yang bersuara akibat perkelahian mereka.


...****************...


"Ah, itu kayaknya suara keributan yang di timbulkan oleh Evan, sepertinya aku akan langsung saja membantunya."


Sein pun keluar dari tempat persembunyiannya dan langsung menuju gerbang bangunan tersebut.


Menghajar setiap penjaga, bahkan yang muncul setelah penjaga depan ambruk.


...****************...


15 menit kemudian.


Mereka semuanya yang berjumlah 20 orang telah di kalahkan oleh Evan, namun mereka hanya pingsan saja.


...****************...

__ADS_1


Evan saat ini terkepung oleh orang-orang yang membawa senjata.


Lalu muncullah sosok orang berjas dengan tatapan santai karena ia sempat senyum ke arah Evan.


"Bunuh dia," ucapnya sambil tersenyum.


Evan pun pasrah.


Dor.


Satu tembakan melesat, namun ternyata bukan Evan yang kena, melainkan Rose. Dia memaksa menyerobot masuk tadi.


"Eh?, apa?" ucap Evan kedua matanya terbuka lebar karena terkejut.


Evan lalu melihat Rose yang terjatuh sehabis tertembak.


Keadaan pun menjadi sunyi dan terdengar suara .


Gingg....., telinga Evan berdenging seperti menggambarkan suatu keadaan.


Tapak Evan membekas setelah ia melesat maju ke depan.


Penjaga lalu menembakinya, namun tidak satupun yang mengenai Evan. Sampai rekan penjaga mala terbunuh oleh kawannya sendiri.


Dor...Dor...Dor...


Bag..wosh..Bug..


Kelincahan Evan membuat penjaga tidak bisa membidik dan menargetkan Evan. Mereka Bahkan tidak bisa berkutik sama sekali.


Posisi Evan sekarang agak jauh dari tempat Rose berada karena serangan tembakan para penjaga. Evan berusaha menghindar dan mencari momen untuk menyerang balik mereka lagi.


Tak di sangka Rose masih bernafas dan salah satu tangannya mengarah ke arah Evan. Namun sayangnya...


Crash...


Tangan Rose tersebut di potong oleh orang berjas dengan sekali tebas. Kemudian orang tersebut berlanjut dengan memotong salah satu kaki Rose.


Rose pun berteriak kesakitan sampai matanya mengeluarkan air mata, sedangkan orang berjas tersebut hanya girang dan tertawa.


"Hahahahahah..."


Membuat mata Evan kosong, melihat Rose yang kesakitan dengan satu lengannya lagi yang terlihat memegang kakinya yang sudah putus.


Jiwa Evan masih terkontrol sehingga ia tetap tenang dan mencari momen yang tepat. Meski hati kecil terdalamnya merasa sangat sakit sekali.


Meskipun begitu Evan semakin melemah seiring waktu tanpa ia sadari, karena mereka terus bermunculan.


Dengan gerakannya yang atletis dalam menyerang, satu persatu mereka tumbang. Dan Evan mengambil sebuah pistol dari salah satu penjaga.


"Hehe..kau masih mau bangun juga!"


Rose mencoba untuk bangun barusan tapi...


Setelah Evan berbalik dan menembakkan pistol ke arah orang berjas, mereka sama-sama melakukan serangan.


Dor...


Crash...


"Aaaaaaahhh..."


Tembakan Evan tepat mengenai sasaran, yaitu mengenai lengan orang berjas yang memegang katana. Namun orang tersebut tetap berhasil menyerang Rose.

__ADS_1


Kaki sebelah Rose terpotong untuk yang kedua kalinya, dan menyisakan satu lengannya saja.


__ADS_2