
Beberapa menit telah berlalu, Evan dari tadi masih menunggu kedatangan mobil ambulans yang sampai saat ini masih belum datang ke tempatnya.
Evan dan Sein terus menunggu, sambil berusaha mencari ketenangan agar Rose tidak terlalu banyak mengeluarkan darah.
Di menit sebelumnya, Evan sempat mengajak Sein untuk berbicara dengannya. Yang lalu terdengar perkataan Evan yang penuh penekanan kepada Sein, namun hebatnya. Evan menyampaikannya dengan hati yang dingin dan sikap yang wajar tanpa emosi.
Sein pun meminta maaf kepada Evan karena dia datang di saat waktu yang tidak tepat.
Pasalnya lawan Sein saat itu lumayan banyak dan agak sulit untuk ia dihadapi, untungnya Sein dapat mengalahkan mereka berkat kemampuannya selama 4 tahun menjadi seorang tentara.
Selang beberapa waktu, akhirnya mobil ambulans pun datang. Beserta para bodyguard Evan dan juga mobil polisi yang berada paling depan.
Ketika polisi sampai di sana.
Polisi pun langsung mengamankan para penjaga yang tergeletak, baik yang ada di luar maupun di dalam. Mereka semua terlihat pingsan, adapun yang masih terjaga mereka hanya bisa membuka matanya dan melirik keadaan.
Rupanya Evan mulai menggila saat Rose pertama kali di tebas separuh lengannya oleh orang berjas, yang membawa katana secara tiba-tiba lalu menyerangnya.
Sehingga Evan melampiaskan amarahnya kepada seluruh penjaga yang menyerangnya, meskipun saat itu Evan dalam kondisi tenang karena meditasi.
Melihat kondisi Rose yang semakin kritis membuat tenaga medis disana segera membawanya masuk kedalam mobil ambulans, dan bergegas pergi meninggalkan tempat tersebut untuk menuju ke rumah sakit.
Supaya Rose dapat secepatnya mendapatkan penanganan dan perawatan yang intensif.
Untuk bagian tangan dan kaki Rose yang terpotong, kini di ambil dan di masukkan kedalam wadah bersuhu dingin.
Evan pun sama, ia ikut pergi meninggalkan tempatnya sekarang dengan sebuah mobil dari salah satu bodyguardnya.
Sementara Sein menjelaskan kronologi kejadian kepada polisi di sana.
...****************...
Di dalam perjalanan, Evan sempat menghubungi keluarga Rose untuk mengabari berita tentang putrinya yang sekarang ini sedang di bawa ke rumah sakit.
Sedangkan para bodyguard Evan yang lain sedang berusaha membantu mobil ambulans dalam perjalanannya. Seperti mengatur lalu lintas dan memilihkan rute yang tercepat, sehingga mobil ambulans yang membawa Rose cepat sampai tujuan.
Dalam sambungan seluler Evan menjelaskan secara pelan-pelan kepada Ibu Rose, yang kebetulan beliau yang mengangkatnya.
Dugaan Evan dari awal memang terbukti, jika Ibu Rose pasti akan syok mendengar kabar putrinya yang sedang di larikan ke rumah sakit.
Namun dalam pembicaraannya, Evan sebisa mungkin mencoba untuk menenangkan Ibu Rose. Dalam panggilan tersebut, Evan mendengar suara tangisan.
__ADS_1
Hingga Mobil ambulans yang membawa Rose sampai ke tempat tujuan dengan selamat, cepat dan tanpa ada gangguan sedikit pun.
Rose segera di bawa masuk ke tempat IGD di sebuah rumah sakit besar. Hingga dia langsung mendapatkan penanganan dari dokter sampai kondisinya membaik.
...***************...
Sementara di lokasi kejadian, polisi sudah selesai menangani para penjaga yang di diduga sebagai pelaku di balik bom bunuh diri.
Sekaligus organisasi misterius yang di kenal masyarakat sebagai organisasi sesat.
Dan untuk mereka yang babak belur dan membutuhkan perawatan, polisi sudah siap siaga dengan membangun tenda disana.
Jalan yang menghubungkan kota ini memang terpencil, karena pengaruh wabah beberapa tahun yang lalu. Berbeda pada saat masanya yang ramai di lewati para pengemudi kendaraan.
Hingga sekarang jalanan tersebut tertutup oleh pepohonan yang dibiarkan tumbuh di sepanjang jalan.
"Kenapa mereka semua bisa di hajar habis-habisan? padahal mereka sendiri membawa senjata," ucap salah satu polisi yang tak percaya melihat apa yang dilihatnya, dia juga membuat yang lain ikut dalam mengomentari hal ini.
"Sepertinya, orang yang mengalahkan mereka adalah orang yang jago beladiri. mungkin saja!" ucapnya yang fokus memperhatikan para penjaga yang tergeletak.
"Hehe, kau salah!, dia adalah seorang remaja."
"Sangat disayangkan, tempat yang megah dan bagus ini di jadikan sebagai pusat kejahatan mereka!"
"Orang baiklah yang membuat tempat baik, begitu pun sebaliknya."
"Ya. kau benar," ucapnya sambil melirik rekannya.
Selesai menjelaskan kronologi kejadian kepada penyidik dan juga polisi, sein langsung menghubungi kedua orang tua Evan. Lalu setelah itu ia berlanjut menghubungi kakeknya.
Kedua orang tua Evan sangat kaget setelah mendengar kabar tersebut dari Sein.
Ayah Evan bahkan menunda pertemuan penting dengan para klien di Perusahaannya.
Dan di satu sisi, Ibu Evan yang sekarang ini sedang ada di luar kota, jadi cepat-cepat mengurus kepulangannya segera. Ia bahkan harus memesan tiket pesawat melalui sebuah aplikasi.
Sedangkan di kediaman Kakek Evan, kakeknya terlihat terburu-buru bergegas pergi untuk menemui cucunya dan Rose yang di larikan ke rumah sakit.
Beliau merasa menyesal karena secara tak langsung telah membuat cucunya terlibat dalam misi berbahaya, meski saat itu ia sudah melarangnya.
Evan sebenarnya terlalu gegabah dengan berpura-pura pingsan yang membuatnya di bawa oleh mereka. Padahal dalam situasi awal ketika ia masih berada di hotel, ia masih sempat menghajar mereka di tempat. Dan memungkinkan Rose selamat dari perbuatan kejam mereka.
__ADS_1
Serta tanpa melibatkan Rose terlalu jauh, sehingga Rose akan selamat dan tidak mengalami kejadian yang mengubah hidupnya.
Yang mungkin saja kejadian tersebut bakal dia ingat seumur hidup.
Saat ini Rose sedang menjalani operasi, setelah di lakukan penanganan oleh dokter.
Di ruang tunggu Isak tangis membasahi pipi Ibu Rose.
Ia menangis sejadinya, mengetahui kabar anaknya mengalami hal buruk yang membuatnya harus menjalani operasi. Tangisnya mulai pecah, ketika Evan menceritakan kronologi kejadian dan akibat dari semuanya itu.
Suster maupun dokter spesialis yang sebentar lagi akan memasuki ruang operasi turut ikut membantu menenangkan Ibu Rose.
Kini pihak rumah sakit sedang berusaha dan berjuang semaksimal mungkin dalam melakukan operasi.
Evan saat itu pergi sebentar, karena ia sedang berbicara dengan Ken dan juga Hyouga di dalam sambungan seluler secara bersamaan.
Hyouga mengatakan.
"Ev, kau tau.. jika takdir itu tidak dapat di ketahui dan bersifat acak! seperti halnya mata dadu yang sudah di kocok dari awal."
"Berbagai macam kemungkinan bisa terjadi, meski kau sendiri sudah berharap akan baik nantinya. aku hanya ingin memberi mu saran, sebaiknya kau fokus untuk apa yang akan kau lakukan selanjutnya!"
Evan masih diam, sampai Ken akhirnya menyahut saran Hyouga tadi.
"Benar apa yang dikatakan Hyouga Ev!, dan juga kamu harus kuat menghadapi ujian ini, meski kamu bukanlah korban satu-satunya."
"Iya-iya, aku mendengar ya tadi. kalian memang teman yang baik ya.."
"Aku serius Ev!, kau jangan terlalu menyesali apa yang telah kau perbuat. aku tau saat ini kau pasti menyalakan dirimu."
"Ya. semua itu salah ku, akulah pemicu utamanya."
"Hey.., di luaran sana masih banyak sekali orang yang lebih menderita dari pada kau!, ingat kata-kata ini."
Saat ini Ken dalam perjalanan menuju rumah sakit.
"Hyouga sebenarnya memberikan saran atau marah-marah sih.., aneh dia itu."
Evan menangkap makna dari perkataan Hyouga tadi, sehingga membuatnya kembali percaya diri dan bangkit dari keterpurukannya
Operasi tersebut sudah dilakukan berjam-jam, namun tidak ada kabar dari dalam. Yang ada hanyalah suster yang memberikan motivasi dan semangat kepada keluarga pasien.
__ADS_1