
Selesai mengikuti kegiatan OSIS di Sekolah, Rahel pulang bersama dengan temannya. Kegiatan OSIS hari ini di lakukan untuk menambah minat anggota supaya dapat membangun ekstrakurikuler dalam berbagai aspek. Rahel sudah lama menjadi anggota OSIS, bahkan dari kelas satu sampai kelas tiga. Selain OSIS Rahel juga sangat aktif di berbagai ekstrakurikuler lain, seperti PMR dan Paskibra. Di tambah lagi dengan klub yang dia minati.
Sinar matahari yang terpancar terasa membakar teriknya pun sangat panas.Terasa oleh seseorang jika menerima teriknya di bawah cahaya matahari untuk beberapa saat.
Karena hari ini cuaca agak terik Rahel jadi memutuskan untuk dapat cepat-cepat pulang ke rumah, sayangnya hari ini ia di tidak di jemput oleh supir pribadinya, melainkan hari ini mau tidak mau harus pulang sendiri. Rahel bisa saja pulang dengan temannya, karena sebelumnya sempat ada yang menawarkannya tumpangan. Namun Rahel menolak secara halus dengan alasan ia sangat takut menaiki motor, walaupun dia hanya membonceng.
Ayahnya memang sengaja agar supir pribadi yang biasa menjemput Rahel untuk tidak datang atau menjemputnya, Sebab Ayah Rahel memutuskan untuk membuat anaknya menjadi sosok pemimpin Perusahaan masa depan. Melalui perjalanan karier dia juga harus bersikap mandiri dan disiplin, menurutnya itu yang utama.
Di waktu Rahel bersama dengan temannya pulang, ada anak dengan memakai topeng yang memberikan sepucuk surat kepada Rahel.
Lampirannya tertulis surat cinta, saat itu Rahel agak terkejut, karena dia sambil memastikan dari siapa surat ini datangnya. Temannya juga merespon kedatangan surat tersebut, dengan mengatakan hal menarik seputar cinta kepada Rahel yang membuat hatinya makin terguncang.
Beberapa menit kemudian, Rahel berpisah dengan temannya tepat di depan gerbang Sekolah dan memutuskan untuk memenuhi apa yang ada di dalam surat. Dikatakan orang yang menulis surat tersebut sangat ingin bertemu sekali dengan Rahel, pada saat Rahel membacanya dia seakan terbuai dengan isi surat di dalamnya yang berisi surat cinta dari si pengirim dengan kata-kata indah menggambar akan perasaannya.
Rahel menuju ke tempat yang di katakan, bertempat di sebuah gang. Anehnya di sana sangat sepi Rahel tidak terpikirkan untuk menggambarkan kondisi tersebut, karena surat itu yang membuatnya lalai atau bisa saja lengah. Bukan karena isinya yang membuatnya bersemangat namun tulisannya, Rahel mencirikan tulisan tangan tersebut adalah tulisan tangan milik Evan.
Tak lama dia menunggu kedatangan Evan dengan perasaan campur aduk saking senangnya.
Tapi bukan Evan yang datang, melainkan para pria berjumlah 5 orang yang sudah di sekitarnya. Semua pria itu seperti mengepung Rahel dari depan, samping maupun belakang.
Perasaan senang hilang sekejap melihat para pria dengan tatapan tajam kearahnya. Semakin lama mereka semakin menjadi mereka memegang tangan Rahel sambil mengodanya
Pada saat itu Rahel merasa dirinya sedang dalam bahaya dan berusaha untuk menghindari atau kabur dari bahaya tersebut. Rahel ingin lari tapi apa daya tenaganya tidak setara dengan pria yang menahannya
"Kenapa sih kalian ini, lepaskan aku atau aku akan melaporkan kalian kepada polisi!"Sebuah ancaman yang di lontarkan Rahel kepada mereka.
Mereka mala menertawai Rahel
"Percuma memanggil polisi, jika kamu sendiri sudah kelingan..."Mereka tertawa licik di akhir katanya.
Rahel berharap jika saat ini ada yang dapat menolongnya, dia sendiri sangat ketakutan.
__ADS_1
[ Beberapa menit yang lalu ]
Evan saat itu masih ada di Sekolah lebih tepatnya di ruang klubnya, klub menulis bersama dengan anggota lain. Mereka sedang membuat komik dan novel untuk pameran hasil klub besok.
Ken dan Hyouga terlihat sangat antusias menulis dan menggambar di kertas yang disediakan. Karena Ken jago dalam menggambar maka dia membuat komik berdasarkan judul ceritanya, sedangkan Hyouga berusaha menulis novel sekurang-kurangnya 30 ribu kata.
Sharashi juga menulis cerpen-cerpen menarik karangannya yang nantinya akan di perbanyak untuk sekedar di jual di Sekolahnya. Sama halnya dengan karya Evan, Ken, dan Hyouga.
Beberapa saat setelah Rahel berpisah dengan temannya.
Ada dari mereka yang kembali masuk ke Sekolah untuk sekedar mengambil barang yang tertinggal di kelas.
Dia bernama Airi cewe pirang berambut panjang kelas 12 E dia sekelas dengan Hyouga.
Saat itu ia kembali menuju kelas tak di sangka ia berpapasan dengan Evan, saat itu Evan menyapanya sambil melambaikan tangan lalu Airi pun menyapa balik Evan dengan sedikit senyumannya, namun Airi berhenti karena mengingat akan sesuatu. Sontak ia tersentak setelah mengingatnya kembali tentang sebuah surat yang di terima Rahel, dari seseorang.
Airi juga mengetahui akan tulisan yang tertera di dalam surat jika tulisan tersebut adalah tulisan tangan Evan dia mengetahui dari, karena pernah sekelas dengan Evan pada saat kelas 11 dan tulisan yang dia lihat dari lampiran menguatkan ingatannya.
"Evan.., tunggu ada yang ingin aku bicarakan?"Ucap Airi dengan suara agak meninggi untuk memanggil Evan.
Evan pun berhenti, lalu Airi menceritakan semuanya kepada Evan secara detail dan jelas.
Mendengar hal itu Evan dengan cepat lari menuju ke tempat Rahel sekarang, tak di sangka Evan langsung loncat dari dari lantai kelasnya, tetapi tidak diketahui Airi.
Evan mendarat dengan selamat tanpa cidera dan langsung lari setelahnya, sambil ia berkata.
"Rahel.. tidak boleh ada hal buruk yang terjadi dengan mu!"Ucap Evan.
Sementara Rahel terus menolak pria yang membawanya ke tempat yang lebih sepi atau tersembunyi.
Rahel di paksa sampai ia terpojok di area yang sepi, pria itu sebenarnya berjumlah 5 salah satu ada yang mengawasi.
__ADS_1
Saat di bawah paksa oleh mereka Rahel mengeluarkan air matanya, sambil berupaya meloloskan diri dari mereka.
Tenaga Rahel habis untuk setiap perlawanan dari mereka yang membuatnya kini terperangkap dan tak ada cara lagi untuk kabur dari mereka.
Ada yang berkata dari mereka.
"Cewe ini sangat cantik sekali, bahkan lebih sebelum dia menunjukkan ekspresi wajahnya saat ini, aku rasa ini pertama kalinya untuk..."
Saat pria itu berkata Evan tiba-tiba datang dari atas mereka, tepatnya sebelum itu Evan melewati tembok dari sampingnya.
Evan langsung menghajar pria tadi yang masih belum menyelesaikan perkataannya, dengan sekali pukul dia langsung tersungkur ke tanah.
Melihat Evan yang datang secara tiba-tiba dan mengangetkannya, membuat Rahel tak menyangka jika Evan tepat di depannya.
"Aku rasa ini untuk yang pertama kalinya dia tersungkur ke tanah!"Ucap Evan dengan menyeringainya.
Ada dari salah satu mereka yang gelisah setelah melihat hal secara tiba-tiba tadi, namun sebagian mala menatap tajam Evan seperti layaknya harimau yang sudah siap menerkam mangsanya.
Evan menoleh ke arah Rahel yang terlihat masih meneteskan air matanya, ada perasaan yang amat membara dalam diri Evan, ketika melihat Rahel dalam kondisi tersebut.
Genggaman di tangannya makin kuat, seperti halnya parameter tingkat emosi.
Evan merenung dalam hatinya sambil membayangkan apa yang terjadi kepada Rahel.
Semakin membayangkan hal-hal yang terlintas di pikirannya Evan makin emosi di buatnya. Tangannya sudah bersiap untuk menghajar para pria yang membuat Rahel menangis.
Swosh....
Kemudian para pria itu bergerak dengan cepat ke arah Evan, Evan merasakan hawa kehadirannya.
Mata Evan pun melebar.
__ADS_1