Ayah Yang Tak Pernah Menua

Ayah Yang Tak Pernah Menua
Akhirnya Selesai Sudah Perlombaan Di Sekolah


__ADS_3

Dengan yang wajah berseri-seri Evan menuju ke belakang panggung, dalam hatinya ia ingin sekali mengucapkan selamat kepada Rahel yang sudah menjadi juara di lomba piano.


Tepat di hadapannya Evan melihat Rahel yang menunggunya, dia tampak malu-malu. Dengan nada lembut Evan berkata.


"Hel, selamat atas kemenangan mu di perlombaan piano, aku sangat senang kau bisa menjadi juaranya," ujar Evan.


Rahel yang mendengarnya merasa jika ia sangat bahagia mendengar apa yang barusan Evan ucapkan. Ia pun menatap Evan agak lama setelahnya, dan memeluknya sambil berkata.


"Terimakasih Evan, aku sangat senang kamu ada disini untuk melihatku. dan aku berterimakasih karena kamu sudah mau mendukungku, bahkan kamu mau kesini untuk mengucapkan aku selamat," sambil memeluk Evan lebih erat lagi.


Timbullah perasaan canggung saat Evan berkata.


"A..ku hanya menempati janjiku saja padamu hel, kamu tahukan aku adalah orang yang akan selalu menempati janji?" ucap Evan.


"Mmm, aku percaya padamu Evan," ucap Rahel yang masih memeluk Evan dan sekali-kali tersenyum ke arahnya.


Evan pun melepaskan pelukan Rahel perlahan, sembari mengelus-gelus kepalanya.


"Kamu seperti kucing kecil yang lucu saja hel!, hampir saja aku tergoda," ucap Evan yang gemas melihat Rahel.


"Sesekali saja aku memanjakannya," ucap Evan dalam hatinya.


Rahel pun memegang tangan Evan yang sedang mengelus kepalanya lagi.


"Aku bukan anak kecil tahu!" ucap Rahel yang menunjukkan wajah cemberut serta membulatkan pipinya sambil memalingkan wajahnya.


"Bukannya.., kamu yang seperti ini terlihat sangat imut ya!" ujar Evan sambil menunjukkan senyumanya kearah Rahel yang memalingkan wajahnya.


Mendengar ucapan barusan membuat pipi Rahel berubah memerah. Dalam pikirannya Rahel berpikir bahwa Evan menyukainya yang terlihat imut.


Rahel pun terdiam dalam lamunannya hingga Evan menepuk pundaknya dan berkata.


"Hey, kamu tidak apa-apa?, sebaiknya kamu beristirahat hel," ujar Evan yang seketika wajahmu berubah ekspresi.


"Aah, maaf aku tidak fokus tadi. hmm aku tidak apa-apa kok!" ucap Rahel yang salah tingkah.


Teman Rahel maupun orang lain yang mendengar Rahel berteriak, seketika tertuju pandangan mereka ke arah mereka berdua. Terutama tatapan tajam yang mengarah langsung kepada Evan.


Dalam hati Evan berkata.


"Tunggu-tunggu, kenapa mereka melihat ku dengan seperti itu. apa meraka salah paham kepadaku,"


Evan menjawab pembicaraannya yang tadi.


"Syukurlah, kalau kamu baik-baik saja, oh ya aku pergi bersiap pulang dulu ya hel. lagi pula hadiah perlombaan akan di berikan besok!"


Rahel mencoba mengajak Evan untuk berfoto-foto dulu sebelum Evan pulang dari Sekolah.


\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*


Di waktu lain Hyouga bertemu dengan Ken yang hendak pergi ke kelas untuk mengambil tas Sekolahnya, mereka berhenti untuk membicarakan sesuatu.


"Hai, Ken kau sangat terburu-buru, apa kau ada kencan nanti malam?" ucap Hyouga asal celetuk.


Ken mengabaikan celetukan darinya. Dan berkata.


"Hahaha aku sudah lama tidak melihat mu dari pagi Hyouga. tak terasa sekarang sudah pukul 14:30 ya, ngomong-ngomong kau sudah tau kan Hyouga, Evan mengajak kita ke cafe nanti malam?" ucap Ken sambil mengingatkan Hyouga kembali.


"Tentu saja!, kebetulan tadi pagi aku ada urusan jadi tidak bisa berangkat lebih awal," terang Hyouga.

__ADS_1


"Baiklah, kita sudahi dulu bicaranya. aku memang sedang terburu-buru (sambil tersenyum), oh ya ngomong-ngomong kamu pagi ini berangkat pakai sepeda ya!" ucap Ken yang beranjak naik ke tangga.


Ken pun sudah pergi duluan ke lantai atas.


"Dasar ken dia selalu ikut campur saja, lain kali aku harus lewat jalan yang tidak ada CCTVnya," pikir Hyouga.


...****************...


Para siswa dan siswi pun pulang dari Sekolah. Perlombaan yang diadakan di Sekolah hari ini berjalan dengan sempurna, hingga tadi jam 14:00 semua lomba sudah selesai. Hadiah kemenangan lomba akan di umumkan besok.


Evan pulang dengan di jemput oleh Sein yang dari tadi menunggunya, ia pun menanyakan beberapa hal kepada Evan. Evan pun menceritakan semuanya kepada Sein.


Dalam perjalanan pulang mereka terus mengobrol, tak kala merasa lelah Evan terus membicarakan berbagai topik kepada Sein. Dengan keakraban tersebut membuat mereka berdua seperti halnya kakak dan adik.


Sesampainya di rumah Evan bergegas menuju ke kamar mandi, karena ia tidak membuang waktunya setelah sampai.


Jam menunjukkan pukul 15:00 Evan mengirimkan beberapa pesan ke teman-temannya untuk menanyakan akan sesuatu ketika tadi di Sekolah.


Selesai mengirimkan pesan kepada teman-temannya Evan menyempatkan waktunya untuk belajar.


Walaupun Evan tidak ikut sama sekali di perlombaan Sekolah sebelumnya(karena tidak tertarik), ia sempat-sempatnya membantu seseorang yang sedang memerlukan bantuan.


Evan memang memiliki sifat berbelas kasih seperti ibunya serta optimis seperti ayahnya.


...*************...


Malam hari di sebuah cafe. Evan dan teman dekatnya Hyouga maupun Ken berkumpul di sana.


Evan memulai pembicaraan


"Bagaimana dengan perlombaan di Sekolah tadi menurutmu Ken?" sambil sedikit melirik ke arah Hyouga yang lahap menyantap makanannya.


"Hmm, maksudmu lomba kali ini berjalan dengan baik karena para siswa dapat tertib mengikutinya?" ucap Evan seperti mengimbuhkan ucapan Ken.


Sesudah menelan makanannya, Ken pun berkata.


"Tepat sekali!, lomba besar-besaran di SMA kita juga baru yang pertama kalinya. jadi jika ada kesalahan dalam teknisnya bisa kita maklumi!" ucap Ken dengan tatapan serius.


"Benar juga sih, btw club mu bisa menang hingga akhir sampai menjadi juara, bisa kau ceritakan lawan-lawan lainnya?" tanya Evan yang ingin tau kelanjutan permainan tim Erik setalah ia pergi meninggalkannya.


"Dengan senang hati kawan. setelah kau pergi waktu itu, tim kami seakan kehilangan peluang untuk menang. tapi..," ucap Ken.


"Tunggu apakah aku sepenting itukah?"


"Bagi club kami kedatanganmu adalah berkah tersendiri. makanya anggota lain bersih keras supaya kau harus tetap ikut, tapi apa daya kau sedang dalam urusan lain!" ucap Ken sembari memakan kentang pesanannya.


"Terus terang saja, sebenarnya tim mu sangat hebat hanya saja kurang akrab satu sama lain. buktinya setelah aku pergi pun club mu(Club basket Erik) bisa melawan tim-tim lainnya, terutama ketika melawan tim jetman, kamu pasti agak kewalahan ketika melawannya kan?" ucap Evan.


"Apa yang kamu katakan itu benar Ev!, itulah mengapa aku menyuruh Erik ketuaku untuk kembali membangkitkan semangat mereka. alhasil mereka jadi percaya bahwa kemenangan bisa diraih dengan adanya kerjasama, soal melawan tim club Jetman terus terang saja mereka adalah lawan yang tangguh, ya tapi untung saja ada Prestan yang membantu tim dengan strateginya!" ucap Ken.


"Wah cerita yang menarik!, lalu bagaimana denganmu Hyouga, kabarnya kau menang juga di perlombaan karate?" tanya Evan yang penasaran pada saat momen Hyouga berada di arena.


Sambil mengunyah makanan yang di makanya. Hyouga berkata sambil meminum es yang ada di depannya.


"Tunggu...,aaa enaknya. kabar yang sangat bagus Ev dari si penguntit Ken!" ucap Hyouga sambil melihat Ken dengan tatapan tajam, karena tau perbuatannya.


"Hahaha, aku hanya ingin tau saja sungguh,"Jawab Ken yang membalasnya.


"Ya, aku mendapat lawan yang kuat juga, bahkan ada beberapa lawan tadi yang menunjukkan kecepatannya dalam bergerak. kalau tidak salah namanya Max dari kelas 12 C , tidak hanya kecepatannya saja dia bahkan sudah banyak menguasai teknik dalam karate!" jelas Hyouga kepada Evan.

__ADS_1


"Max ya, hmm aku tau dia. sebelumnya aku pernah melawannya dulu!" ucap Evan.


Hyouga dan Ken pun terkejut.


"Apa sungguh!!" ucap Ken.


"Kau pernah melawannya"? Hyouga memastikan lagi perkataan Evan barusan.


"Ya, ketika aku kelas 1. hmm jadi begini ceritanya, sepulang dari pergi belanja dan membeli berbagai buku di toko. aku pulang dengan jalan kaki karena lelah jalan kaki sangat melelahkan aku pun beristirahat di bangku dekat pohon yang rimbun. waktu itu sangat sepi karena orang-orang menonton festival!" ucap Evan.


Di sela Evan bicara Ken berkata.


"Ya benar sekali, waktu itu di jalan sakura sangat sepi!"


Hyouga pun ikut mengucapkan kelu kesahnya.


"Pantas saja aku mencari mu waktu itu dirumah


tidak ada, ternyata kau pulang lama karena bertarung dengannya, kau mala membuat alasan bahwa antrean di sana sangatlah panjang!" ujar Hyouga.


"Ah, maaf. soal itu aku telah membuatmu menunggu lama. tapi aku lama memang karena sedang antre. ya aku anjutkan ceritaku tadi, ketika aku duduk, aku melihat seseorang yang sedang berlatih disana. aku melihat hingga selesai, tak di sangka dia melihatku seraya mendekat dan berkata," jelas Evan panjang lebar.


"Kebetulan sekali aku sedang mencari orang untuk menunjukkan seberapa kuat diriku!" ucap Max.


"Tunggu dulu, kau mencari orang, bukanya di sini sangat sepi jangan bilang kalau kau?"


"Benar aku akan melawanmu!"


Max dengan cepat melakukan pukulan ke arah Evan, hanya saja di tahan dengan satu pukulan olehnya.


"Apa!!, kau menahannya dengan satu tangan,"


"Sudah kubilang, aku sedang tidak mood dan bisakah aku pergi. ini sudah waktunya aku belajar!" ucap Evan.


"Tidak akan aku lepaskan lawan yang tangguh sepertimu!" ucap Max sembari melepas pukulannya.


Hingga ia muncul dari arah belakang dan hendak menyerang Evan dengan cara yang curang.


Evan yang bersiap akan meninjunya. Sudah di prediksi olehnya, alhasil Max terkejut. Yang akhirnya Evan menggunakan kesempatan tersebut untuk menyerang balik Max dengan pukulannya.


Seketika Max terlempar ke depan, kemudian dia menunjukkan ekspresi marahnya sambil berdiri dan memulai serangan yang kedua kalinya.


Tak lama Max tumbang karena menerima tendangan dari Evan. Saat itu Max terlihat pingsan. Melihat hal itu Evan langsung menelpon bodyguardnya untuk membawa Max yang pingsan tersebut.


\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*


"Begitulah ceritanya. mungkin tadi adalah cerita yang tidak menarik sama sekali?" pikir Evan.


Hyouga dan Ken pun terdiam dengan seribu bahasa.


Tak lama ken berkata.


"Aku tidak tau lagi harus berkata apa, jujur saja pasti kamu memiliki rahasia yang lain bukan?"U


ucap Ken.


"Tentu saja, tetapi sebuah rahasia yang di sudah ceritakan itu bukan lagi di sebut sebagai rahasia lagi!" ucap Evan sambil memakan pizza nya.


Mereka pun terus berbincang-bincang hingga selesai.

__ADS_1


__ADS_2