Ayah Yang Tak Pernah Menua

Ayah Yang Tak Pernah Menua
Memainkan Peran


__ADS_3

Berbicara dengan tenang adalah keharusan yang harus orang itu lakukan, karena Evan terus menatap tajam kepadanya.


"Sebenarnya... Aku di suruh oleh seseorang!" perkataannya berhenti cukup sampai disitu.


"Hey, lanjutkan omongan mu hingga selesai, kalau ngak jangan salah kan aku bertindak berlebihan!" gertak Evan kepada orang itu.


"Baik! Baik! Aku akan jelaskan. Orang itu adalah nyonya muda, tunangan anda tuan muda."


"Maksudku Rose?" tanya Evan menegaskan kembali.


"Iya."


"Apa maksud dari Rose yang mengirim stalker di Sekolahku? Apa dia... Memang berniat untuk lebih tau soal kehidupanku? Ya ampun... Kalau benar aku akan menanyakannya nanti," ucap Evan dalam hatinya bermonolog.


"Aku mohon tuan muda jangan jebloskan aku ke penjara karena masalah tadi, maafkan aku soal anak buah ku yang bertindak ceroboh sampai hampir melukaimu tuan muda," ucap orang itu memohon kepada Evan, berharap Evan dapat berwelas asih agar tidak menjebloskannya ke penjara, padahal Evan belum mengatakan kalau ia akan memenjarakannya.

__ADS_1


"Baiklah, asal kamu mau berkerja sama denganku!" sahut Evan.


"Apapun itu aku mau tuan muda," senyum mulai terbit dari bibir orang itu.


"Tolong jaga rahasia aku yang menangkap kalian ini, aku ingin kalian tidak memberi tahukan tentang hal ini kepada Rose, mengerti!!" ujar Evan sembari memberikan perintah kepada orang itu.


"Tuan muda tenang saja, aku akan menjaga rahasia ini dengan baik."


"Baguslah, kamu harus berjanji untuk itu. Tapi misal kalau tidak menempati janji! Jangan salahkan aku, keluarga kalian yang akan aku cari!" tegas Evan dengan ekspresi tajam bagai harimau di depan mangsanya, membuat orang itu dan rekannya yang lain yang mendengarnya jadi terkejut.


"Aku janji.. tu..an muda," jawab orang itu terbata-bata.


"Hmm, aku merasa baikan kembali ketika memainkan peran karakter utama dalam film yang aku tonton waktu itu. Sungguh rasanya seperti obat gundah gulana," ucap Evan dalam hatinya karena senang.


•••

__ADS_1


Sebelumnya di ruang klub menulis.


"Kamu mau minum teh nggak?" tanya Sharashi, tingkah dan pribadinya sudah mulai berubah semenjak gabung di klub menulis.


"Boleh-boleh, tapi jangan pakai gula ya!"


"Lho, kok ngak pake gula Kak. Nanti pahit dong rasanya?" ucap Sharashi memberanikan diri berkomentar terhadap teh yang akan ia buatnya untuk Ken, karena teh itu adalah teh pahit.


"Gapapa, walaupun tidak pakai gula tapi ada kamu disini dan hanya menatapmu saja, tehnya akan berasa manis semanis wajahnya mu itu Sharashi," ucapan Ken disertai gombalan manis kepada Sharashi, membuatnya yang mendengarnya dan memandangi wajah Ken serasa ia akan di lamar olehnya.


"Kamu bisa aja, tapi aku tidak suka cowok yang seperti itu!" balas Sharashi yang berhenti dari melamunnya dan kembali ke sifat aslinya.


"Kenapa? Apa kamu memang tidak suka di gombalin kayak gitu sama aku?"


"Bukan begitu maksudku! Tapi... Kalau kamu pengecualian!"

__ADS_1


"Berarti kamu mau di gombalin seperti ini setiap hari...?"


Meteran dalam hati Sharashi semakin tinggi dan semakin naik, hingga penuh gara-gara kelebihan rasa. Sehingga akhirnya ia memberanikan diri untuk berbicara jujur apa yang ada dalam isi hatinya, sekaligus yang selama ini ia pendam.


__ADS_2