Ayah Yang Tak Pernah Menua

Ayah Yang Tak Pernah Menua
Mempelajari Tentang Mimpi


__ADS_3

Sesudah menyantap makanan Evan dan Lili berpisah dengan Bas dan cewe yang bersamanya. Lalu setelahnya, Evan menanyakan lagi kepada Lili kemana dia akan membawanya pergi, sembari mengingatkan Lili sesuatu.


"Kita mau kemana lagi?, kayaknya kita belum membeli barang belanjaan deh."


"Ouh iya ya, kak. hmm, selanjutnya kita ke pergi ke tempat belanjaan aja deh. aku mau membeli sayur segar dan daging!" ujar Lili.


"Hmm, bukannya di rumah ada cukup bahan untuk di masak, kenapa kamu repot-repot..?" tanya Evan.


"Aku mau terbiasa membeli barang kebutuhan, serta aku mau memasak di rumah nanti. soalnya suatu hari nanti aku akan jadi seorang istri!" jawab sambil menjelaskannya kepada Evan.


"Benar juga sih, baguslah kalau begitu!, btw... kamu sedang berpacaran ya?" tanya Evan yang sedikit penasaran.


"Eh, bukan itu maksudku, aku ngak punya pacar sama sekali kok!" ucap Lili sambil tangannya kesana kemari menandakan maksudnya bukan seperti yang Evan katakan, wajahnya pun memerah.


"Terus maksud perkataan mu tadi?"


"Mmm, aku belum bisa mengatakannya sekarang."


"???"


Evan pun memilih tidak melanjutkan obrolan, soalnya ekspresi Lili berubah. Dia tampak malu dan canggung.


...****************...


Di tempat barang belanjaan Lili asyik mengambil kesana kemari produk kemasan dan bahan makanan. Dia juga mengambil berbagai produk kebutuhan lain seperti kebutuhannya sendiri serfa membantu Kakaknya.


Evan yang melihatnya pun agak kaget, jika Lili sudah cukup dewasa untuk mengurus dirinya sendiri.


"Sepertinya Lili sudah hampir berada di depan ku, hanya saja butuh sedikit waktu lagi untuknya. tak ku sangka jika pendewasaan bisa secepat ini!" ucap Evan dalam hatinya.


Lili melihat kakaknya yang melamun sehingga ia menggubrisnya. Dengan salah satu lengannya yang tepat di depan wajah Evan seperti akan menggelengkannya.


"Kak...?, hmm, apa kakak baik-baik saja," ucap Lili mendekat dan memandangi wajah kakaknya.


Evan yang sadar jika dirinya tadi melamun, membuatnya langsung saja mengalihkan pandangannya.


...****************...


Mereka menaruh semua barang belanjaan di troli yang sudah disediakan dan mendorongnya bersama untuk menuju tempat pembayaran atau kasir.


Menuju tempat kasir, orang-orang yang melihat mereka berdua seperti halnya melihat sepasang kekasih yang sedang di mabuk asmara. Lebih tepatnya begitu pikir mereka.


Evan hanya melirik mereka dan tidak memperdulikannya, sementara Lili yang mendengar dari salah satu dari mereka yang sedang membicarakannya, membuat dirinya senang sekaligus malu malu kucing.


Karena mereka membicarakan.


"Cocok sekali mereka. aku jadi iri," ucap Ibu rumah tangga dalam hatinya.


"Anak jaman sekarang, bucin bisa di mana saja!," ucap Kakek tua yang melihatnya, sambil menggelengkan kepalanya.


"Ya ampun..., pasangan itu sangat romantis sekali. bersama-sama menarik troli. hmm, jadi mengingatkan masa mudaku saja," ucap seorang guru.

__ADS_1


Untungnya kondisi di kasir sekarang ini sedang tidak ramai. Sehingga Evan bisa cepat-cepat menuju ke sana.


Evan membayarnya dengan uang elektronik.


Senyum ramah di berikan oleh kasir ketika menyerahkan barang belanjaan mereka.


Tapi ada sesuatu yang membuat Lili penasaran.


Dia melihat sesuatu seperti permen yang terselip di belakang kasir.


Lili pun menanyakannya. Dan ternyata itu adalah..., ya kalian tau sendirilah.


Lili yang mengetahuinya pun malu seraya lengannya berusaha menyentuh pipinya. Suasana kembali memanas setelah kasir mengatakan kepada mereka.


"Kalian mau melakukannya?"


Pertanyaan itu sontak membuat Evan melongo dengan seribu bahasa.


Lalu mereka pulang dengan mengunakan taksi. Dan sebelum mereka naik, Evan lah yang sebelumnya membawakan barang belanjaan. Dan sekali lagi membuatnya menjadi pusat perhatian beberapa orang.


...****************...


Di perjalanan, ada seseorang yang menelpon Evan. Dan Rupanya dari Rose, yang sekarang ini dia masih di hotel, karena dia bekerja di sana.


"Apa ada sesuatu yang mau kamu bicarakan denganku Rose?" ucap Evan memelankan suaranya.


Lili yang di sebelahnya pun penasaran, ia sedikit lebih dekat lagi dengan Evan. Yang seolah-olah mau mendengarkan pembicaraan kakaknya.


"Iya. terus terang saja setelah kamu pergi aku jadi kepikiran terus, dan aku tidak bisa tidur sampai sekarang!"


"Mmm!"


"Apa mungkin malam itu secara tak sengaja aku melakukan sesuatu yang tak senonoh kepada Rose?" ucap Evan bertanya dalam hatinya.


"Serius?, emang aku melakukan apa."


"Eh, kamu memikirkan sesuatu yang aneh-aneh ya?"


"Nggak lah, aku cuma penasaran aja."


"Iya aku percaya!, hmm, aku cuma menunggu jawaban dari pengakuanku waktu itu. aku tau kok alasan kamu kemarin tapi...aku cuma mau mendengarkan isi hatimu."


"Baik-baik, aku akan katakan!"


"Sungguh?"


"Iya!"


"Gini, sebenarnya aku sudah menyukai seseorang. jadi maaf, jika aku tidak bisa membalas perasaan mu!"


Evan saat itu berbohong kepada Rose.

__ADS_1


"Eh, bukannya kamu janji tidak akan berpacaran sampai menikah?" di sana Rose terkaget dan cepat-cepat berbicara.


"Ya, aku memang berkata begitu. tapi sekarang aku belum berpacaran dengannya!"


Beberapa saat tidak terdengar suara dari Rose, hingga akhirnya.


"Evan!, sebenarnya...malam itu kamu melakukan sesuatu kepadaku!" ucap Rose suaranya berubah agak mengecil.


"Tunggu, kamu tidak bercanda kan?, mana mungkin aku..."


"Aku serius hiks..., kalau kamu nggak percaya kita ketemuan jam 19:00!" terdengar Rose yang menangis.


Karena Evan melihat Lili dengan tatapan ingin mendengar percakapannya barusan. Membuatnya jadi mengiyakan perkataan Rose. Dan setelah itu panggilan pun berakhir.


...****************...


Sampai di rumah Evan dan Lili di sambut oleh pengurus rumah dan beberapa orang yang akan membantu membawakan barang belanjaan mereka.


Tampaknya Lili masih kesal dengan sikap Evan tadi.


Evan lalu mandi dan berniat untuk menuju ke ruangan baca setelahnya.


Hingga ia akhirnya selesai mandi, dan sekarang sedang berada di ruang baca. Evan mencari buku dan mempelajari konsep dasar serta sesuatu yang berhubungan dengan mimpi.


Evan melanjutkan membaca buku berjudul 'Analisis mimpi' lanjutan dari kemarin.


Hendak membuka buku, Evan menyempatkan waktunya untuk membalas pesan dari teman-temannya di Ichat. Dan banyak sekali notifikasi pesan ketika Evan menghidupkan data selulernya.


Seperti biasa, Rahel yang selalu berada paling atas karena dia mengirimkan pesan lebih dari satu.


Serta pesan dari Rose, yang keliatannya dia mengirimkannya pesan tersebut setelah Evan mengobrol dengannya tadi.


Adapun pesan dari Hyouga, pesannya sangat singkat dan ia berkata akan mengunjungi rumah Evan kembali.


Dan banyak lagi pesan-pesan dari teman Evan yang lain.


...****************...


Obrolannya dengan Rose waktu di perjalanan pulang tidak membuatnya bersedih atau mentalnya down. Evan mala semakin bersemangat mempelajari seluk-beluk mimpi dari yang sudah di cetuskan atau pun yang belum.


Serta mencatat hal-hal penting berkenaan dengan anggapan, bahwa dirinya sedang bermimpi. Tapi itu belum di pastikan nya secara mendalam olehnya. Yang artinya Evan masih belum percaya jika dirinya sedang bermimpi.


...****************...


Ruang membaca tersebut sangatlah nyaman, sehingga Evan dapat dengan cepat menulis setiap hal berhubungan dengan mimpinya.


Evan menulisnya di sebuah catatan khusus. Kata pertama bertuliskan "Kapan aku bermimpi" di lanjutkan dengan titik-titik yang belum diisi oleh kata-kata.


Waktu Evan menulis ia sempat berkata.


"Kurasa ini adalah hal yang rumit, dibandingkan dengan aku mempelajari berbagai rumus matematika."

__ADS_1


Evan juga berusaha menyingkirkan pikiran tentang misi yang sedang di lakukan oleh orang -orang bawaan Kakeknya.


Selayaknya seseorang yang sungguh-sungguh dalam belajar, Evan memahami arti mimpi seperti dia melawan hukum alam yang benar-benar dialami olehnya.


__ADS_2